Namanya Tasya, mahasiswi jurusan sains murni di salah satu Universitas ternama di Jawa Tengah. Gadis yang merantau dari Bogor ini merupakan anak kedua dari orang tuanya, dia bukan anak presiden atau menteri jadi saya yang hanya rakyat jelata mampu merebut hatinya, terlebih dia juga cantik dan menarik jadi pastinya saya juga bangga bisa bersamanya saat ini.
Hari ini kita baru saja meresmikan hubungan yang tadinya hanya sebatas teman menjadi lebih saling mengikat, yup! benar sekali, saya adalah lelaki beruntung yang dapat merebut hatinya saat ini dan dia mengakui saya sebagai lelakinya, tidak tahu kalau besok apalagi minggu depan.
Oh iya, saya Nata. Pemuda tanggung yang saat ini sedang merayakan kemenangan atas hati yang berhasil saya taklukan, karena sejatinya laki-laki pasti mencari sesuatu untuk dimenangkan, termasuk hati wanita. Saya mahasiswa satu jurusan dengan Tasya, bedanya saya berasal dari Jakarta. Kota penuh sesak dengan berbagai kepala memikirkan bagaimana bertahan hidup di belantara kota, sudah menjadi hal umum tentang kerasnya Jakarta.
"Nat, ada satu hal yang harus kamu tahu tentang aku" dia tampak cemberut ketika mengatakan ini
saya memegang tangannya dan meyakinkannya untuk mengatakan hal tersebut "nggak apa-apa ngomong aja, aku akan terima itu walaupun sulit"
sejujurnya saya mengatakan ini karena sudah tidak ada pilihan lain, apalagi dia cantik dan benar-benar tipe saya. Kalau dicari artis yang memiliki kemiripan dengannya saya bisa katakan 85% wajahnya mirip dengan Putri Titian saat masih single.
"aku ini bisa melihat apa yang nggak bisa dilihat oleh orang lain, kadi terkadang ada hal aneh yang misal nggak bisa aku omongin jadi aku kaya orang aneh aja begitu keliatannya" Tasya bilang itu sambil menatap mata saya
saya agak terkejut mendengar hal itu, tetapi juga bukan hal yang menjadi kekhawatiran saya karena menurut saya itu adalah sebuah anugerah dari Yang Maha Kuasa dan sulit untuk ditutupi juga, terlebih itu bukanlah sebuah aib yang harus ditutupi. Tetapi dari pernyataan itu ada satu hal yang bisa disimpulkan
"Kenapa kamu harus bertingkah begitu Sya ?"
"Kadang bentuk mereka itu aneh dan membuat aku takut, aku masih kaget terkadang kalau mencium aroma yang aneh dari mereka" Tasya menggenggam tangan saya erat, mungkin takut saya meletus seperti balon hijau
"Sya, kan ada aku sekarang. Ada teman untuk kamu bercerita, dan aku janji akan jagain kamu" Saya berkata demikian padahal saya juga tidak yakin, tapi biar saya coba dulu kalau ketemu yang seperti itu bagaimana reaksinya
Tasya terlihat memperhatikan sekitar, seperti mencari sesuatu. Kami berada di rumah makan pinggir jalan dengan nuansa rumah makan Sunda, Tasya berada di depan saya.
"Tuh, lihat bangku sebelah situ. Disebelahnya ada cewek jelek lagi berdiri ngeliatin aku dari tadi" Tasya menunjuk ke arah sebelah kanan saya
"Kamu usil ya orangnya ? Harusnya kan biarin aja" saya berkata demikian karena memang Tasya dengan sengaja memancing, dan juga untuk menutupi rasa takut saya
"Iya deh maaf haha, lagi juga kan aku cuma bercanda itu. Nggak ada apa-apa kok itu beneran haha gitu aja ngambek" Tasya tampak senang karena berhasil membuat saya takut
Sepertinya Tasya menyadari kalau saya penakut dengan hal yang seperti itu.
"Nat, besok temenin aku yuk nyari kado untuk temen aku. dia ulang tahun besok"
"Boleh, mau beliin apa emangnya ?"
"yang lagi kekinian tuh apa yaa bagusnya ?"
"itu aja, kemarin aku jalan sama Lodi temen kosan aku tuh ngeliat lampu tidur gitu. bagus deh"
"bentuknya gimana ?"
"bisa custom deh kayaknya tergantung pesanan. emang ulang tahunnya kapan ?"
"masih 3 hari lagi sih kata anak-anak"
"yaudah, itu aja. Nanti cari yang ready stock aja kalau 3 hari belum jadi"
"Kamu beneran nggak keberatan dengan kemampuan aku itu ay ?" Tasya terlihat agak khawatir dengan hal itu
"Enggak, beneran deh. Lagi juga kan, aku harus bisa menerima kamu sebagaimana kamu nerima aku"
Dalam batin saya merasa pasrah tentang hal ini, kalau dipikir dari beberapa cerita teman atau cerita di internet, kehidupan anak seperti Tasya ini tidaklah mudah karena harus berurusan dengan hal yang kebanyakan orang tidak pahami.
...(keesokan harinya)...
"Hwaah, gile bener materi kuliah dasar bikin kepala aku muter begini"
Saya dan Tasya sedang berada di cafe setelah selesai kuliah, saat ini masih jam makan siang, tetapi karena merasa belum lapar dan kita berdua merasa dehidrasi jadi kami berdua mampir untuk sekedar minum jus
"Tapi tadi seru loh itu membahas materi yang sebenarnya kita sendiri juga berhadapan dengan itu sehari-hari" Tasya mengaduk jusnya dengan sedotan
"Sya, permasalahannya tuh tadi aku duduk di depan. Terus tiba-tiba aku jadi kepikiran kalo semisal di kelas ada yang aneh-aneh kaya makhluk apa begitu lagi godain dosennya haha, aku mau ketawa tadi ngebayangin itu"
"Dasar kamu tuh ngayal aja, enggak ada lah kalo di kelas mah. Kalo ada juga aku bakal diem sih, nggak lucu kalo heboh begitu kan haha yang ada malah disuruh dosen untuk keluar"
"Yaa kali aja ada begitu kan, mana aku duduk di depan tadi kan nggak bisa berkutik"
"Ay, ini langsung mau ke tempat beli lampu itu ?"
"Oh iya, langsung aja deh. Nanti dari sana aku mau makan bakso kayaknya"
"Boleh juga tuh, kayanya aku belum pernah deh makan bakso selama disini"
Saya dan Tasya langsung meninggalkan cafe itu untuk pergi ke tempat penjual lampu.
.......
"Mas, ini yang bentuk Doraemon kena berapa mas ?" Saya memegang lampu dengan bentuk Doraemon yang besarnya seperti kepala manusia, warnanya masih cokelat polos karena terlihat ini seperti dari benang rajut
"Oh ini mas, sembilan puluh ribu saja mas"
"Kalau ini bisa diwarnain enggak mas ?"
"Bisa, tapi proses pewarnaan sekitar dua hari, takutnya enggak kering kalau satu hari mas"
sementara itu Tasya masih berkeliling untuk melihat pernak-pernik yang ada di toko ini
"sebentar mas ya, saya tanya temen saya dulu"
"nggih mas"
saya kemudian menghampiri Tasya dengan membawa lampu berbentuk Doraemonnya
"gimana Sya ?"
"bagus, kalau diwarnain bisa nggak ?"
"memang temen kamu itu suka warna apa ?"
"hemm... pink kali ya ? soalnya aku liat sprei di kamar dia warna pink"
"boleh tuh, full warna pink ? atau ada putihnya begitu ?"
"campur deh biar enak dilihat juga. berapa katanya ay ?"
"sembilan puluh ribu, eh tapi belum sama warna deh itu juga, nanti bisa dinego kayanya"
Tasya tampak memperhatikan satu barang yang terlihat klasik dan nampak serius memperhatikannya
"jangan dilihat terus, aku ngerti yang kamu lihat tapi jangan seperti itu, jangan dipaksakan" saya paham apa yang dilihatnya tetapi saya juga tidak tahu mengapa saya bisa mengerti
Tasya melihat saya dengan heran karena perkataan saya barusan, dan dia langsung ikut dengan saya untuk nego dengan si penjual
...
"kamu tuh tadi ngomong begitu emang kamu lihat apa ay ?" Tasya nampak penasaran dengan hal tadi
"yuk naik, laper nih. kita makan bakso" saya mengalihkan pembicaraan agar tidak menyinggung ke arah sana
"yuk lah! aku juga udah laper nih. enak nggak baksonya ?
"Kata orang-orang sih enak tapi nggak tau sih, kan namanya juga nyobain"
Saya memacu motor ke tempat yang dimaksud, selama perjalanan, saya lihat Tasya hanya melihat ke sekitar tanpa ada yang dibicarakan.
(Sesampainya di tempat makan)
"Nat, kamu yakin mau makan disini ?" Tasya nampak melihat ke sekeliling
"Iya, emang kenapa ?"
"Enggak nyari tempat lain aja ?"
"Udah ayuk masuk, aku laper"
Saya mengajak Tasya masuk dengan menarik tangannya, sementara Tasya menutup mulut dan hidungnya. Kemudian saya memesan dua porsi bakso urat besar.
"Kamu kenapa sih Sya ?"
"Enggak kok"
"Baca do'a atuh makanya"
Saya lihat Tasya membaca do'a dan kemudian sikapnya menjadi biasa lagi, saya memakan satu mangkok habis tetapi menurut saya sebuah kebohongan jika mereka bilang bakso ini enak, setelah saya makan ini hanya biasa saja bahkan cenderung hambar.
Selesai makan, saya merasa kalau memang ada yang aneh dengan sikap Tasya. Bakso di mangkuknya tidak habis, padahal tadi dia bilang lapar. Ekspresi wajahnya seperti ingin muntah
"Ay, balik yuk!" Tasya nampak tergesa-gesa ingin segera meninggalkan tempat makan ini
"Iya, aku bayar dulu"
"Aku tunggu di luar aja ya"
Tasya langsung buru-buru keluar, tatapan dari pemilik tempat makan terhadap Tasya membuat saya menjadi sedikit kesal.
"Ada apa ya pak melihat temen saya gitu banget. Punya masalah apa ?"
"Nek ora suka ya aja mangan ngene mas" dengan nada yang naik
Seketika pandangan saya gelap, dan mulut saya berbicara sesuatu yang saya tidak kehendaki
"Ngomong tuh dijaga, saya bisa loh bikin warung ini sepi tidak terlihat dari luar" kata itu terucap dari mulut saya, tetapi nada yang saya keluarkan justru sangat rendah
"Jagoan kamu mas ? Macem-macem disini sampeyan ?" Bapak itu tampak sangat kesal
Sementara saya tidak bisa mengendalikan tubuh saya ini, badan saya tegap dengan tangan menyilang di depan dada saya.
Sementara si bapak pemilik warung ini entah apa yang dilakukannya, di mata saya saat ini dia hanya berdiam dan begitu pun dengan tubuh saya.
"Sudah ? Mau saya ratakan sampai semuanya ?" Mulut saya berkata seperti itu
Saya lihat si bapak dengan posisi duduk bersujud di bawah kaki saya, sampai dia memohon mohon untuk mengampuni perbuatannya
"Ampun mas, ampuni saya mas" ucapnya memohon
Saya kemudian terdorong sedikit dan tiba-tiba saya punya kendali atas diri saya
"Jadi berapa tadi mas ?"
Bapak ini terlihat heran dengan perlakuan saya dan ucapan saya yang berubah 180 derajat
"Tidak usah mas, gratis mas"
"Oh yasudah" saya tidak mau ada drama jadi kalau dibilang tidak usah, jadi yasudah
Saya kemudian menghampiri Tasya yang sudah ada di parkiran
"Kok lama ?" Tasya melihat ke arah warung makan
"Enggak, nggak apa-apa"
"Tadi kamu kenapa buru-buru begitu ?"
"Oh itu, warung makannya jorok. Jangan disini lagi ya" Tasya mengucapkan dengan santai
"Aku nggak ngerti"
"Udah, balik yuk. Disini banyak yang ganggu aku, mungkin karena aku cantik kali ya"
"Yaudah yuk! Paling yang ganggu cebol kuping panjang"
"Kok tau ?"
-Selesai-