Langkahku terhenti saat melihat dua orang yang aku kenal, duduk berdua di bangku taman.
"Ganessa! Cepat kita pergi sekarang!" Belum sempat aku menyapa mereka, Sakti, temanku sudah bergegas berdiri dari bangku taman.
"Eh, ada apa? Kalian mau kemana?"
"Tidak ada waktu lagi, kita harus bergegas!" Sakti sudah berjalan melewatiku. "Akan aku jelaskan di dalam mobil. Menuju parkiran. Sekarang!"
Aku menatap bingung Sakti yang sudah lima meter berjalan di depanku. Dia terlihat sangat terburu-buru.
"Ayo, Sa. Kau tidak mau membuat Sakti berteriak lagi, kan?" Elok, temanku yang duduk bersama Sakti, menepuk pundakku. Dia juga mulai berjalan menuju parkiran.
Tanpa banyak tanya lagi, aku segera mengikuti langkah mereka. Wajah Sakti terlihat khawatir. Berbeda dengan Elok yang tetap cengar-cengir.
"Sa, kau bawa mobilnya." Sakti melemparkan kunci mobilnya kepadaku.
Belum sempat aku bertanya arah perjalanan, Sakti sudah masuk duluan ke dalam mobil. Elok kembali cengar-cengir melihatku yang bingung. Aku hanya bisa mengeluarkan suara puh pelan.
"Museum, Sa. Kita pergi ke museum kota." Sakti sudah memberi perintah lagi.
"Baiklah. Tapi, hei, jelaskan dulu kepadaku. Ada apa? Kenapa kita ke museum? Lagian hari ini akhir pekan, museum akan sangat ramai. Jangan bilang kau hanya ingin liburan ke sana?"
Sakti melotot kepadaku. Elok menahan tawanya di bangku belakang. Mobil sudah bergerak menuju pusat kota yang ramai di akhir pekan.
"Kau ini. Apa kau tidak bisa membaca situasinya? Karena sekarang akhir pekan makanya semuanya malah tambah gawat." Sakti mengeluarkan laptop dari ranselnya.
"Lihat ini, aku berhasil memecahkan teka-tekinya. Teka-teki yang ditinggalkan Awan Putih dua minggu yang lalu di lokasi yang berhasil dia ledakkan. Astaga, aku masih tidak habis pikir, bagaimana mungkin seorang penjahat kelas kakap yang berhasil meledakkan tiga gedung penting di ibu kota menamai dirinya Awan Putih. Tidak keren sama sekali."
"Sakti, fokus. Jelaskan kepada Ganessa. Jangan membahas yang tidak-tidak." Elok yang dari tadi cengar-cengir mendadak menjitak kepala Sakti. Wajahnya cemberut.
"Maaf, El. Aku terbawa suasana." Sakti menggaruk kepalanya yang dijitak Elok. "Baiklah, kembali keteka-teki tadi. Seperti yang kita tahu pihak kepolisian mempercayakan kita, detektif swasta untuk memecahkan teka-teki ini. Betapa bodohnya aku sampai membutuhkan waktu dua minggu baru bisa memecahkan teka-teki ini. Padahal ini sangat gampang. Pola yang ditunjukkan Awan Putih sangat terlihat jelas. Kau ingat di mana ledakkan pertama kali, Sa?"
Aku mengangguk. Tentu saja aku ingat. Gedung pengadilan adalah lokasi ledakkan pertama.
"Gedung Pengadilan. Waktu itu Awan Putih tidak meninggalkan petunjuk kepada kita tentang lokasi pertama. Namun, setelah meledakkan Gedung Pengadilan, Awan Putih meninggalkan jejak yang cukup jelas. Tapi sayangnya kita terlambat memecahkannya. Dia mengirim kita gambar ikan terbang. Kita termakan umpannya dan langsung bergerak ke pelabuhan. Ternyata yang dia ledakkan adalah Stasiun Televisi Swasta yang memiliki logo ikan terbang. Cukup membingungkan.
"Setelah meledakkan Stasiun Televisi Swasta, dua hari kemudian kita mendapatkan kiriman batu bata. Lagi-lagi kita terlambat memecahkannya. Batu bata sangat identik dengan bangunan baru, namun kita tidak menyadarinya. Alhasil, Awan Putih berhasil meledakkan proyek Megamall yang sedang dibangun arah timur kota. Proyek itu benar-benar besar dan tentu saja mengeluarkan uang yang sangat banyak. Kita sekali lagi benar-benar kecolongan." Sakti mengusap wajahnya. Meminum air dari dalam tasnya dan lanjut menjelaskan kembali.
"Namun, sekarang aku yakin kalau Awan Putih akan meledakkan Museum Kota. Kenapa aku yakin? Seperti aku bilang tadi, pola yang di tinggalkan Awan Putih sangat jelas. Pertama dengan meledakkan Gedung Pengadilan di utara kota, lalu Stasiun Televisi Swasta di selatan kota, yang terakhir proyek Megamall di timur kota. Itu adalah petunjuk awalnya. Dan aku sangat berterima kasih kepada Awan Putih yang memberikan petunjuk kedua. Gambar dinosaurus. Hei, bahkan anak kecil tahu jika dinosaurus sudah punah. Namun semua orang ingin tetap melihat kerangkanya. Ya, walaupun di Museum Kota tidak ada fosil dinosaurus, tapi aku yakin, Museum Kota adalah target selanjutnya. Jangan lupakan fakta bahwa Museum Kota terletak di barat kota. Target Awan Putih adalah arah mata angin. Selesai sudah analisisku." Sakti menutup laptopnya.
Aku masih takjub dengan analisis yang dilakukan Sakti. Seorang diri dia berhasil memecahkan teka-teki ini. Bahkan pihak kepolisian tidak bisa memecahkannya.
"Tapi, kenapa kau yakin hari ini Awan Putih akan beraksi? Di akhir pekan yang indah ini?" Elok bertanya. Wajahnya muncul di tengah-tengah kami.
"Insting. Firasat. Apapun itu, El. Aku hanya yakin saja. Tidak ada alasan pasti. Tapi, ada masalah baru. Di mana dia sembunyikan bomnya? Dia tidak memberi petunjuk apa pun." Sakti terlihat berpikir. Ia sandarkan badannya, mencoba membantunya rileks.
°°°
Sepuluh menit berkendara, akhirnya kami sampai di satu-satunya museum di kota ini. Pengunjung terlihat ramai. Hilir mudik tidak tentu arah.
Setelah mencari lokasi kosong untuk memarkirkan mobil, kami langsung bergegas masuk ke dalam museum.
"Ramai sekali. Aku jadi bingung harus mencari dari mana." Elok menatap sekitar. Matanya awas mencari petunjuk tersembunyi.
"Ini benar-benar akan menjadi pekerjaan yang sulit." Aku juga kebingungan harus mulai mencari dari mana.
Tiba-tiba, seorang wanita berbaju putih datang menghampiri kami.
"Ada pesan." Wanita berbaju putih itu menyerahkan secarik kertas kepadaku. Setelah menyerahkan "pesan" yang dia maksud. Wanita berbaju putih itu bergegas pergi.
"Apa itu, Sa?" Elok bertanya kepadaku. Dia terlihat penasaran. Sakti masih menatap sekeliling.
"Astaga, ini semua angka yang tidak jelas. Apa maksudnya ini?" Aku berseru lumayan kencang. Para pengunjung menatapku bingung.
Sakti langsung mengambil kertas di tanganku. Membacanya, lalu mengangguk-angguk.
"Ini sangat mudah, Sa. 12, 21, 11, 9, 19, 1, 14. Angka-angka ini menunjukkan lokasi bomnya. Jika kita urut berdasarkan alphabet, 12 adalah huruf L, 21 adalah U, 11 adalah K, 9 adal--"
"LUKISAN." Elok berseru
"Betul sekali, LUKISAN. Awan putih menyembunyikan bomnya di dalam lukisan. Namun, sekali lagi ini akan menjadi susah. Lihatlah, ada tiga ribu lebih koleksi lukisan di museum ini. Kita tidak mungkin membongkar satu persatu." Sakti mengusap wajahnya.
"Tidak, Sakti. Malahan ini akan menjadi sangat mudah," Aku berkata yakin. "Analisismu sudah sangat tepat. Ingat yang kau bilang bahwa incaran Awan Putih adalah mata angin? Setelah aku tahu bahwa angka-angka itu merujuk kepada lukisan. Aku semakin yakin. Museum ini memang memiliki lebih kurang tiga ribu koleksi lukisan. Namun, dua bulan yang lalu, museum ini mendatangkan lukisan dari eropa. Lebih tepatnya adalah lukisan karya Picasso yang berjudul Garcon A La Pipe."
"Ganessa, itu sangat brilian! Tentu saja, arah barat. Ya, lukisan itu di datangkan dari eropa yang mana eropa adalah negara barat. Bagus sekali. Ternyata Awan Putih tidak sehebat seperti yang aku kira. Kita pergi ke sana sekarang!" Sakti lebih dulu berlari menembus kerumunan orang yang datang ke museum. Aku dan Elok segera menyusulnya.
°°°
Kami hanya membatu di depan lukisan karya Picasso. Lebih tepatnya bekas tempat lukisan Picasso.
Di depan kami kosong. Tidak ada apa-apa. Memang ada bekas bahwa lukisan itu pernah digantung di sana. Namun sekarang yang tersisa hanyalah dinding kosong. Di dinding itu menempel sebuah kerta kecil berisikan pesan.
"Hebat sekali kalian berhasil memecahkannya. Tapi, aku tidak sebodoh itu. Arah barat, lukisan, museum, semuanya adalah umpan. Kalian memakan umpanku. Dua kali malahan. Baiklah, aku punya sedikit rahasia kecil. Bomnya, bom yang kalian cari itu sekarang ada di Istana Presiden. Di bangku yang akan dia duduki untuk menyantap makan malam nanti. Nah, selamat berjuang!
Awan Putih."
Itulah pesan yang ditinggalkan Awan Putih. Kami telah ditipu. Sial, kami harus bergegas sekarang.
"Sakti, Elok, ayo!"