Dia Nathan. Nathaniel Sanjaya. Teman sabangku aku. Setiap hari aku selalu berada disampingnya, tetapi jarak diantara kami sangatlah besar. Dia adalah seseorang yang menjadi pusat perhatianku, sedangkan baginya aku hanyalah teman sebangku yang tak terlihat.
Inilah kisahku, menjadi pengagum rahasia sekaligus stalker dari sang idola sekolah. Nathan.
CAST
Yeonjun TXT as Nathaniel Sanjaya.
Zoa Weeekly as Liz.
-
-
-
Selamat Membaca💖
Burung berkicau menyambut hari yang baru. Aku berharap hari ini lebih indah dari kemarin.
Aku baru saja sampai di depan gerbang sekolah kami. SMA Citra Kasih. Aku merapikan rambut panjang bergelombangku, dan menaruhnya ke belakang telinga. Aneh memang, aku mengkhawatirkan penampilanku padahal tak seorang pun yang akan melihat ku apalagi memperhatikan ku. Hanya orang-orang yang memiliki kemampuan spesial yang dapat melihat ku.
Dari kejauhan, aku melihat Nathan keluar dari mobilnya. Ia berjalan menuju kelas dengan tas yang bertengger di salah satu bahunya. Dia terlihat sangat menawan. Dimana pun dan kapan pun, Nathan tetaplah Nathan. Pangeran sekolah ini.
Aku berlari cepat menghampirinya dan berjalan diam-diam di belakangnya. Kami memasuki kelas dan duduk di kursi paling belakang.
Aku melipat tangan, memangku dagu, dan menatap wajah Nathan yang tampan itu. Hampir setahun kami menjadi teman sebangku dan tak sehari pun aku bosan dengan pemandangan ini.
Nathan merebahkan kepalanya diatas meja, dan melipat tangannya untuk dijadikan alas ia tidur. Ia lalu menutup matanya dan tertidur dengan tenang. Sepertinya ia begadang semalam karena pertandingan basket yang diikuti timnya.
Tiba-tiba Nathan membalikkan wajahnya tepat menghadap kearahku. Seketika jantungku berdegup dua kali lebih cepat dan aku menjadi gugup karenanya. Padahal ia hanya tidur tetapi aku tetap saja merasa gugup. Bahkan disaat tidur pun ia masih terlihat tampan.
"Selamat pagi anak-anak"
"Selamat pagi Bu" gumam ku.
Seorang guru memasuki kelas kami, dan langsung melanjutkan pembelajarannya. Aku memperhatikan guru tersebut, menghafal setiap tulisan yang guru itu tuliskan di papan tulis dan penjelasan-penjelasan tambahan darinya.
"Yang mengerjakan soal nomor dua adalah...Nathan"
Aku refleks menoleh kearah pria itu, dan ia masih tertidur. Aku berusaha membangunkannya dengan memanggil-manggil namanya tetapi ia tidak juga bangun.
"Nathan!" panggil guru itu lagi.
"Nathan, Ibu Tina memanggilmu!" kataku lagi sambil menggoyangkan lengannya, tetapi seperti tak terjadi apa-apa pria itu malah semakin menenggelamkan wajahnya. Terhanyut dalam mimpi indahnya.
"Nathaniel Sanjaya!" pekik guru tersebut seraya melempar sebuah spidol kearah bangku kami. Aku refleks menunduk dan menutup kepalaku menghindari spidol tersebut.
Nathan terkejut dan seketika terbangun. Ia berdiri dari kursinya dan menatap sekitar seperti orang tersesat.
"Ya Bu?"
"Kau tidur?" tanya Ibu Tina marah.
"Maaf Bu" jawab Nathan jujur.
"Sekarang kerjakan soal nomor dua di papan tulis" perintah Ibu Tina.
Nathan kebingungan. Ia bertanya kepada siswa yang berada di depan kami, tetapi mereka juga tidak tau jawaban soal tersebut. Aku menjadi panik dan berusaha memberitahunya jawaban dari soal tersebut.
"Nathan jawabannya ada di buku" kataku pelan, tetapi ia tidak mendengarnya.
"Nathan halaman 264" kataku lagi sambil menunjuk buku cetak yang ada di hadapannya. But, dia menghiraukan ku.
Aku menjadi frustasi. Dan tiba-tiba sebuah ide cemerlang untuk memberitahukannya jawaban soal tersebut muncul di otakku. Aku menjatuhkan buku cetak fisikanya, dan ketika buku tersebut tergeletak di lantai aku buru-buru membuka halaman 264 dan membiarkannya terbuka keatas.
"Semoga saja dia melihatnya" doaku dalam hati.
Nathan berjongkok menyentuh buku cetak tersebut, ia lalu melihat kesana-kemari dengan kebingungan. Dan tiba-tiba pandangannya mengarah kearah ku. Ia menatap tepat di bola mataku. Selama beberapa detik kami saling bertatapan. Sebuah senyuman kecil terbentuk di wajahnya. Ia lalu mengambil buku tersebut dan berjalan menuju papan tulis.
Ia menuliskan jawaban soal nomor dua tanpa kendala bahkan terkesan cepat. Setelah selesai dan mendapatkan pengakuan dari Ibu Tina, ia pun kembali ke kursi kami dan memperhatikan guru tersebut mengajar dengan senyuman kecil yang tak lepas dari wajahnya.
***
Bell istirahat telah berbunyi. Nathan segera beranjak dari kursinya dan berjalan menuju entah kemana. Aku berlari mengejarnya dan mengikutinya secara sembunyi-sembunyi. Ternyata ia pergi ke rooftop sekolah kami.
Ia membuka pintu menuju rooftop dan membiarkannya terbuka. Aku mengikutinya dari belakang, dan bersembunyi di balik tembok.
"Keluarlah, aku tau kau ada disana" ujar Nathan sambil menghadap ke langit.
Aku menoleh kesana-kemari mencari keberadaan seseorang yang ia maksud. Tetapi tak ada siapapun disini, hanya ada kami berdua.
Jangan bilang yang dia maksud adalah...aku?
"Aku tau kau bersembunyi di balik tembok. Keluar lah, mari berbicara"
Aku terkejut dan kebingungan secara bersamaan. Aku keluar dari tempat persembunyian ku dan berjalan menghampirinya.
"Kau bisa melihat ku?" tanyaku bingung.
"Tentu saja" jawabnya.
"Bagaimana bisa? Sejak kapan?" tanyaku terkejut.
Aku sungguh sungguh sangat terkejut. Bagaimana bisa ia melihat ku, hanya orang yang memiliki kemampuan spesial dan orang yang berada diambang kematian yang dapat melihatku. Aku takut terjadi sesuatu buruk kepadanya.
"Entahlah. Sejak dulu aku bisa merasakan keberadaan mu, tetapi aku tidak bisa melihatmu" Nathan menarik napas dan menghembuskannya secara keras. "Sampai disaat buku fisika ku terjatuh tadi. Aku tau kau yang menjatuhkan buku itu. Terima kasih berkat dirimu aku tidak dihukum Ibu Tina" lanjut pria itu.
"Ohyah, siapa nama mu? Dan bagaimana bisa kau menjadi seperti ini?" tanya Nathan.
"Namaku Liz. Aku menjadi seperti ini karena kecerobohan ku," sebelah alis Nathan terangkat penasaran.
"Aku berjalan sambil membaca buku dan tidak menyadari jika sebuah mobil truk berjalan kearahku. Mobil truk itu menabrakku dan membuat aku terbaring koma di rumah sakit. Jika saja aku tidak terobsesi menjadi peringkat satu umum, saat ini aku pasti sudah lulus sekolah dan menjadi dokter. Oh yah sejak kecil cita-cita ku ingin menjadi dokter" ucapku menjelaskan apa yang terjadi kepada diriku dua tahun yang lalu.
Nathan tidak berkata apapun. Ia memandangku dengan pandangan simpati. Aku membalasnya dengan senyuman. Selama beberapa menit kami terdiam membisu.
Aku sudah menerima takdir ini. Tidak ada gunanya aku berlarut-larut dalam penyesalan yang akan membuat aku semakin bersedih.
"Kenapa kau menetap di sekolah ini bukannya di tempat lain?" tanya Nathan penasaran.
"Memangnya kenapa? ini juga sekolah ku. Aku mencintai sekolah. Aku sangat suka belajar. Karena hal ini juga aku menjadi seperti sekarang" jawabku percaya diri.
Tanpa aku duga Nathan tertawa cukup keras. Aku sangat terkejut melihatnya. Ini pertama kalinya aku melihat ia tertawa. Selama hampir setahun menjadi teman sebangkunya tak pernah sekali pun aku mendapatinya tertawa. Jangankan tertawa, tersenyum saja sangat jarang. Hanya raut datar dan dingin yang sering ia tampilkan. Ia adalah pemuda tenang yang sangat serius.
"Lalu kenapa kau masih disini? Apa yang menahanmu disini?"
"Mungkin karena keinginan terbesarku belum tercapai"
"Apa itu?"
"Menjadi peringkat satu umum"
"Ha?"
"Kenapa? Ada yang salah?" tanyaku bingung.
Nathan menggeleng cepat. "Tidak. Tidak ada. Tidak ada yang salah dari keinginan mu. Hanya saja itu bukan hal wajar buat ku"
"Aku tau"
Kami terdiam lagi.
"Nathan," panggilku.
"Ya?" Nathan mengangkat wajahnya sehingga kami saling bertatapan.
"Bolehkah aku meminta tolong kepadamu?" tanyaku hati-hati.
"Meminta tolong apa?"
"Buat keinginan aku tercapai" pintaku memohon.
"APA?!" pekik Nathan terkejut. "Jangan bercanda. Bagaimana bisa aku menjadi peringkat satu umum, nilai rapor ku saja tidak ada yang diatas KKM. Aku tidak mungkin bisa mendapatkan peringkat satu umum"
"Ayolah, aku mohon. Itu satu-satunya cara agar aku bisa pergi dengan tenang" aku melangkah semakin mendekatinya dan berusaha menyentuh tangannya. Walau aku tau aku tidak akan bisa menyentuhnya. Tanganku menembus tangannya.
"Aku akan membantumu untuk bisa menjadi peringkat satu umum"
Nathan menjadi bungkam sambil terus menatap ku. Ia terlihat berpikir keras.
"Baiklah, aku akan membantumu" sebuah senyuman lebar terukir di bibirku. Aku yakin saat ini mataku bersinar seterang matahari siang. "Tapi, aku tidak berjanji untuk bisa mendapatkan peringkat satu umum" tambah Nathan.
"Tidak masalah. Juara kelas saja sudah membuat ku puas" kata ku cepat.
"Juara kelas? Oke aku akan mengusahakannya" janji Nathan. Aku melompat-lompat gembira dan berputar-putar layaknya anak kecil. Aku bisa mendengar Nathan terkekeh pelan karena diriku.
END.