Di bawah gemerlap lampu sorot, aku akan bernyanyi. Sedikit lagi, hanya perlu sedikit lagi, aku akan menjadi idola yang sesungguhnya!
=•=•=
Hujan turun cukup deras di luar, memaksaku untuk menarik kembali niat untuk menjalankan wacana aktivitas hari ini. Karena tidak tahan dengan rasa bosan yang selalu menyelimutiku, aku pun berinisiatif mengambil remote televisi dan mulai mencari channel yang menurutku cocok.
Oh, ayolah. Apa semua saluran televisi hanya menayangkan berita?
"Eh?" Atensiku langsung tertarik saat melihat ke layar kaca. "Itu, Chiyoko-san?" gumamku bertanya pada diriku sendiri. Mulutku menganga kagum.
Ya, aku adalah penggemar berat Chiyoko-san. Emm, maksudku Chiyoko Miyazawa. Iya, dia sang idola dari sebuah label ternama. Memiliki paras cantik nan menawan, serta suara merdu dan kemampuan menari yang indah. Siapa yang tidak terpikat dengannya?
Ah, sebelumnya perkenalkan namaku adalah Hidemi Nakano. Tidak perlu banyak kata untuk mendeskripsikan diriku. Aku hanya gadis yang bermimpi untuk menjadi seorang idola. Haha, mimpi kecilku yang besar.
Aku tahu, aku pasti tidak bisa menggapainya.
=•=•=
Hari ini matahari bersinar cukup cerah. Aku bersiap memakai seragam sekolahku dan tidak lupa mengantongi sebuah kartu bergambar wajah Chiyoko.
Sungguh, aku sangat mengidolakannya.
Sambil berjalan, aku memasangkan sepatu di kaki kananku. Kulirik jam tanganku dan ternyata ini sudah masuk pukul 8 lebih. Hampir terlambat!
"Hei, Hidemi! Sarapan dulu!" teriak seorang wanita dengan apron merah muda. Dia ibuku, dia berteriak memintaku untuk sarapan dulu.
Aku menatapnya sembari menggelengkan kepala. "Ini sudah terlambat, Bu! Aku berangkat dulu, ya! Dah~" Setelah selesai memasangkan sepatu, aku langsung berlari ke arah halte bus. Mengabaikan reaksi ibu yang mungkin akan berbicara tentangku sekarang ini, tidak, ibu pasti melakukannya!
Abaikan itu!
Jarak rumahku dan sekolah bisa dibilang cukup jauh. Jadi, setiap hari aku terpaksa menaiki bus umum agar bisa sampai.
Sesampainya di sana, aku mendapati antrian panjang dari para pekerja kantor dan beberapa murid sekolah. Tanpa menunggu lama, aku bergegas menyatu dengan barisan manusia ini.
Harus cepat, aku tidak boleh terhempas dari kapasitas bus. Sambil menunggu kedatangan bus yang akan menjemput, aku menatap ke depan. Kuhitung jumlah orang yang ada di depanku.
Empat puluh orang adalah kapasitas maksimum dari bus kota, itulah kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Untuk menjaga kenyamanan penumpang katanya.
Maka dari itu, aku harus menjadi salah satunya.
Yes!
Jika hitunganku benar, maka harusnya aku adalah orang ke-37 yang ada di barisan ini. Anak kecil tidak termasuk hitungan.
Bus telah tiba, awalnya aku hendak melangkahkan kaki ke dalam angkutan publik ini. Namun, rengekan seorang anak kecil menarik rasa empatiku.
"Nenek, Kakak ...! Kanna mau cepat-cepat bertemu kakek! Kanna nggak mau menunggu lagi huwaaa ...." Anak kecil yang kira-kira berusia lima tahun itu menangis sambil meremas rok seorang perempuan bermasker hitam. Menurutku, dia adalah kakaknya.
Sementara itu, seorang wanita tua berkeriput memegang ujung rambut pendek anak tersebut. "Iya, Kanna. Kita akan segera bertemu kakek, tapi tunggu bus selanjutnya dulu, ya?" tanggapnya dengan suara parau.
Anak kecil tadi menggelengkan kepalanya beriringan dengan gerak tubuh. Dia berteriak semakin keras, membuat ketiga orang itu menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya.
"Ssttt ... jangan menangis, nanti orang dengar ...," lirih perempuan bermasker, akhirnya ikut menenangkan adiknya.
Melihat situasi seperti ini, aku tidak boleh tinggal diam. Kulangkahkan kaki, memangkas jarak antara aku dan mereka.
"Permisi. Ah, apa Anda sedang buru-buru?" tanyaku dengan sopan tentunya, etika adalah yang utama.
Tatapan mereka langsung terarah kepadaku. Eh, kenapa aku malah merasa aneh begini?
"Ahaha ... tidak, kok, Nak. Kami hanya ingin mengunjungi makam suamiku saja," jawab si nenek sambil tersenyum kepadaku.
Sedangkan si anak masih menangis.
Aku paham rasanya.
"Nenek ingin lebih dulu? Kupikir, adik ini tidak bisa bertahan lebih lama." Aku menawarkan bantuan kepadanya. Walau hanya bantuan kecil.
Dia sedikit terkejut saat mendengar ucapanku barusan. "Eh? Kamu itu anak sekolah, Nak. Kalau kau tidak naik bus ini, maka mungkin kau akan terlambat," ujarnya menolak halus.
Sejujurnya, aku juga tidak yakin. Tapi, menolong orang juga tidak ada salahnya, kan?
Aku tertawa renyah sebagai tanggapan. "Ngg ... saya bisa menggunakan taksi nanti. Lagi pula, urusan Nenek dan Kakak lebih penting ketimbang urusanku," bujukku sekali lagi.
Nenek dan perempuan itu saling bertatapan. Yah, aku tahu mereka sedang saling berkomunikasi melalui gerak-gerik mata. Mereka ingin membuat kesepakatan.
Akhirnya, mereka berdua menganggukkan kepala. "Baiklah kalau memang kau tidak masalah, Nak. Terima kasih, ya ...." Masih dengan senyum yang sama, wanita tua itu berterima kasih kepadaku.
Aku membalas senyumannya dengan senyuman yang sama. Entah kenapa, aku merasa senang karena bisa membantu mereka. Padahal, sekarang aku sedang dikejar waktu sekolah.
Si nenek menggandeng tangan cucunya dan masuk ke dalam bus secara hati-hati. Sementara perempuan muda bermasker datang menghampiriku.
Ia mencondongkan badan agak sedikit ke depan, seraya mengucapkan, "Terima kasih banyak, aku akan membalas kebaikanmu suatu saat nanti." Dia kembali ke posisi semula.
Aku hanya dapat tersenyum kikuk. Suaranya mengingatkanku kepada seseorang. Mungkin cuma perasaanku saja.
Perempuan itu berjalan masuk ke dalam bus. Meninggalkan aku dengan gelombang dua antrian panjang di sini. Kutatap analog jam tanganku. Dan, ini sudah masuk pukul 9 tepat.
Sudahlah, lebih baik aku terlambat sekalian, lagi pula, bus selanjutnya akan datang dalam 15 menit.
Aku berdiri di barisan paling depan antrian sambil menatap ponselku.
=•=•=
Keesokan harinya, aku bangun menyambut hari ini. Aku tidak tahu kenapa, otakku langsung memberi gambaran tentang kejadian kemarin.
Kejadian tentang aku yang dihukum oleh guru.
Deg!
Bagai disetrum listrik bertegangan tinggi, mataku langsung memekak.
Pagi-pagi begini, kenapa aku sudah sial, sih?
Tling!
Notifikasi ponsel membuat kepalaku bergerak lincah ke arah suara.
Ah, apa lagi ini?
Kuraih benda persegi panjang tersebut, mengenggamnya dan lalu mengecek bar notifikasi. Kesialan apa yang akan kudapatkan hari ini?
'You Are An Idol! Audisi pencarian bakat-bakat idola oleh label MN Entertaiment akan segera dimulai. Cek informasi lengkapnya dalam tautan berikut'.
Rahangku ternganga hingga nyaris turun ke bawah.
Tunggu, apa aku sedang bermimpi sekarang?
Hmm ...
Aku menaruh ponselku di meja, kemudian bangkit dari ranjang dan berdiri tegak. Untuk sesaat aku hanya diam, tapi setelah beberapa saat ...
"YAATTA! Aku jadi idola! Aku jadi idola! Wooopiee! Aye! Aye! Tututuutut ...!" Spontan, aku berteriak-teriak untuk mengungkapkan seluruh kebahagiaanku. Tapi, tanpa arti yang jelas.
Brak!
Pintu kamar digeser sekencang-kencangnya, menyisakan ibu dengan mimik wajah paniknya. "Hidemi! Hidemi! Kamu nggak papa ka–" Ibu hendak bertanya, tapi dia berhenti saat menatapku.
"Akh–" Masih memertahankan pose selebrasi yang sama, aku menatap ibu dengan tatapan canggung. "Umm ... engg ... aku ... aku baik-baik saja, kok, Bu. Eheheheee ...," sambungku dengan salah satu tangan menggaruk-garuk bagian belakang kepala.
Astaga, rasa maluku, plis ....
Ibu menggelengkan kepalanya. "Hadeh, aneh kamu ini." Ia lalu menutup lagi pintu kamarku.
Sementara aku yang masih dalam lingkup kebahagiaan ini hanya bisa memendam dan segera menekan tautan yang ada di sana.
Ah, aku paham. Ternyata, syarat menjadi idola itu seperti ini? Aku akan meraihnya, apapun yang terjadi!
Karena aku ingin membuat orang lain tersenyum.
Sudah kuputuskan!
=•=•=
Beberapa hari kemudian, ini adalah hari audisi. Terasa cepat kurasa, tapi aku telah berlatih selama beberapa hari ini. Aku yakin, aku akan bisa menjadi idola.
Di dalam ruang tunggu, aku duduk di bangku logam panjang ini. Terlihat, banyak sekali orang-orang di sini. Mereka mengenakan nomor di dada, sepertiku. Yah, mereka adalah sainganku nantinya.
Tampak sangat keren, tapi aku juga keren.
Tidak perlu hiraukan mereka! Aku hanya fokus pada diriku! Semangat, Hidemi!
"Peserta selanjutnya, Hidemi Nakano!" ucap seorang wanita berbaju serba hitam.
Aku sontak terpaku dalam satu waktu. Detak jantungku berpacu lebih kencang dari sebelumnya. Perasaan gugup membayang-bayangiku sekarang ini.
Ah, tidak tidak! Ini hanya audisi, kenapa aku harus takut?
Ehm, ayolah!
Yosh!
Aku bangkit dari bangkuku, berjalan menuju wanita yang memanggilku. Ia menuntunku masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup besar.
Keempat orang dengan penampilan serasi adalah objek yang kutangkap pertama kali. Eh, tidak. Ada lima orang di sini. Tiga orang adalah pria dan dua wanita.
Tapi, salah satu juri wanita tampak sedang sibuk sendiri dengan tasnya.
Lupakan, aku harus fokus pada audisiku.
Kutatap empat pasang mata yang menatap tajam itu. Mereka tidak sedang marah, tapi kenapa aku merasa sangat takut. Tanpa sadar, aku memejamkan mata.
"Jadi, namamu adalah Hidemi Nakano, iya, kan?" celetuk salah satu dari mereka memaksaku untuk mengesampingkan rasa takut dan menjawab.
"I-iya ...," jawabku masih sedikit ragu.
Eh? Di-Dia Chiyoko-san?!
"Kamu adalah siswi SMA Furano dan bercita-cita menjadi idola. Memiliki bakat menyanyi dan menari ... hmmm ... bagus! Menyanyi dan menari adalah kewajiban utama dari seorang idola," ujar Chiyoko-san kemudian beralih menatapku.
"Hah?!" Alis meninggi, ekspresi kaget terlukis di wajah gadis itu, saat ia menatapku. Ia seperti sedang melihat hantu atau apa.
Apa penampilanku kurang bagus? Kenapa dia menatapku seperti itu?
Aissh, membingungkan ...
"Ngg ... kau bisa memulainya, Hidemi! Mungkin perkenalan dulu lebih baik?" Dia memberi saran.
Benar, aku nyaris saja lupa tentang hal itu. Perkenalan adalah bagian penting dari idola.
Aku menganggukkan kepala disertai senyum tipis di bibir. Kutelan ludah dan menarik napas panjang. Meyakinkan diri dan mulai melakukannya.
"Horaaaaa! Maju? Mundur? Semuanya! Aku akan menguasai panggung! Akulah sang bintang terang di malam hari, aku ... HIDEMI NAKANO!" Dengan tangan kanan yang menunjuk ke atas, aku menggemakan wujud perkenalan yang telah kususun sejak lama. Helaan napas lega mengakhiri rasa gugupku.
Tak kusangka, respons juri begitu luar biasa.
"Perkenalan yang terkesan sangat excited, kamu cocok dengan kriteria member yang kami cari," tanggap Chiyoko-san seraya menciptakan sebuah garis lengkung di bibirnya.
Kalimat-kalimat itu membuatku semakin terdorong.
"Nilai keramahan adalah nilai yang positif."
"Kuat, tegas, dan ceria. Luar biasa."
"Kalimat yang inovatif dan tidak monoton."
Disusul oleh komentar-komentar para juri lainnya. Hal itu jelas membuatku semakin sumringah. Ini kali pertamanya aku dipuji oleh banyak orang.
Senyumku saat itu menjadi senyuman paling bahagia yang pernah kubuat.
Singkat cerita, audisi telah selesai. Cukup lama aku menunggu di ruangan ber-AC ini. Namun, akhirnya penantianku dan juga para peserta lain terbayarkan. Mereka lantas mendekat ke manager untuk mencari tahu tentang pengumuman.
Aku tidak berharap banyak, karena aku tahu kemampuanku masih belum maksimal.
"Baiklah, kelima juri telah berunding bersama dan telah menentukan siapa yang menang," ucap wanita itu dengan nada dingin. Ia menambahkan, "Selamat untuk Nakano ..."
Nakano? Itu!
" ... Tsukaru. Kami ucapkan sekali lagi kepada Nakano Tsukaru," lanjutnya.
Jadi, maksudnya? Ah, aku memang berharap terlalu banyak. Mencapai tingkat itu memang mustahil.
Ya sudahlah, setidaknya aku pulang dengan senyum senang.
Aku segera pulang setelahnya, antara sedih atau senang, aku bingung dengan perasaanku saat ini.
Bus berikutnya akan datang sebentar lagi, aku harus cepat-cepat pulang. Daripada ibu memarahiku nanti.
"Hidemi!" Namun, tiba-tiba terdengar suara lembut mengalun di udara. Suaranya memanggil namaku.
Aku berbalik badan. Menatap kepada insan yang memanggilku.
"Eh, Chiyoko-san?" Mataku berkedip berulang kali saat mengetahui bahwa yang memanggil adalah Chiyoko-san.
Ia berjalan mendekatiku sambil tertawa kecil. "Ahaha, iya ini aku, Hidemi."
Dia tertawa, di paras cantiknya itu. Senyuman serta lesung pipit membuatnya terlihat semakin cantik dan imut.
"Aku sedih kamu gagal dalam audisi ini. Padahal, tadi aku sudah memilihmu, lho! Cuma, juri-juri lain lebih memilih si pemenang. Maaf, ya," sambung Chiyoko meminta maaf padaku.
Ini, aku merasakan perasaan yang sama sebelumnya, tapi di mana, ya?
"Ah, nggak papa, kok, Chiyoko-san. Saya tahu, saya masih perlu banyak belajar lagi. Saya akan melakukan peningkatan!"
Chiyoko-san tertawa. Dia kemudian mengambil sesuatu dari tasnya dan kemudian memberikannya kepadaku.
Sebuah kartu nama?
"Eh, kartu nama?" tanyaku bingung. Aku membolak-balik kartu itu dan hanya bisa memahami satu tulisan 'Miko Kobayashi'.
"Lalu, siapa Miko Kobayashi ini?" Aku bertanya sekali lagi.
Dia tersenyum. "Miko Kobayashi adalah nama managermu."
Deg!
Mataku membola. Aku bingung. "Manager? Manager apa?"
Chiyoko-san lagi-lagi hanya memberikan senyuman sebagai jawaban awal. Dia melanjutkan, "Mulai sekarang, kamu adalah member baru dari MN Entertaiment. Haha, terima kasih, ya karena telah membantuku beberapa hari lalu. Aku mungkin akan kesulitan kalau kamu tidak memberi bantuan saat itu."
Eh?
"Waktu itu? Jadi, yang ada di bus itu? Chiyoko-san?!"
Chiyoko tertawa geli. "Iya itu aku. Aku memakai masker karena ya kau tahu lah ... idol harus menjaga image dan tetap menjaga privasi."
Aku menganggukkan kepala dua kali sebagai wujud memahami. "T-tapi, Chiyoko-san ... apa aku benar-benar telah menjadi member Girlband Sakura?"
"Iya. Anggap saja ini adalah balasan dari kebaikan yang telah kau lakukan."
Aku tersenyum senang. Tidak ada kata yang bisa mengutarakan betapa senangnya aku sekarang ini. "Terima kasih, Chiyoko-san!" teriakku senang seraya membungkukkan badan sedikit.
"Ah, Chiyoko saja, deh. Kita kan rekan satu grup."
"Eh? Ah, iya. Terima kasih banyak, Chiyoko!"
"Sama-sama, Hidemi! Mohon bantuannya, ya?" Chiyoko tertawa kecil.
"Haik!"
=•=•=
Di balik tirai merah, empat puluh tujuh orang telah melakukan persiapan. Mengenakan baju berenda merah muda seiras, mereka bersiap untuk membawakan lagu original Sakura Girlband. Judulnya, 'Anata wa Watashi no Hikari'.
Tentu, aku juga menjadi bagian dari mereka.
Setelah penyanyi lain turun dan pembawa acara menyebut nama kami, kami pun segera bergerombol membentuk sebuah lingkaran.
"Baiklah semua, kali ini Sakura Girlband memiliki anggota empat puluh tujuh orang. Dan ini adalah pertama kalinya kita membawakan lagu original kita bersama mereka!" teriak Chiyoko menyemangati para member.
"IYA!" jawab mereka penuh semangat juga.
Kami naik ke panggung secara bersamaan. Gemerlap cahaya lampu serta sorot kamera membuat suasana dari sudut pandangku terlihat meriah.
Samar-samar, aku juga melihat ibuku dan nenek serta adik Chiyoko.
Dan sekali lagi, Chiyoko membakar semangat kita. "Ikuzo, Minna! Kita tunjukkan pesona semerbak sakura milik kita!"
"IYA!" jawabku dan seluruh member penuh semangat.
Sedikit lagi, hanya perlu sedikit lagi, akan kulewati batasan dan menjadi idola yang bersinar terang!
~Tamat~
Ayo, guys. Apakabar nih para pens-pens Miku😗
Ciyaaah, pens katanya. Emang aku punya pens? Ya, yang penting aku kembali ges. Dan aku akan kembali bersinar kaya Hidemi.