Hanya angan-angan waktu remaja, tidak terpenuhi juga tidak apa.
=•=•=•=•=•
Suara musik menggelegar. Lampu sorot terus menyoroti ku yang berdiri di tengah tengah panggung megah. Ditemani gemerlapnya panggung dan sinar bintang, lautan manusia itu terus meneriaki namaku. Azumi.
Azumi Aikawa, itu namaku.
Ketika aku membuka mulutku untuk menyapa para penggemar ku, sebuah suara nyaring menusuk indra pendengaran ku.
"Hoi! Cepat bangun dasar pemalas! Kau ingin ke sekolah tidak?!" itulah suara yang ku dengar.
Past!
Aku membuka mataku. Rasa rasa kepalaku sedikit berdenyut, yang terlihat olehku adalah langit langit kamar yang berwarna putih itu. Detik berikutnya aku melihat seorang laki-laki yang menghalangi cahaya lampu kamar.
"Cepat mandi lalu sarapan. Kau ingin terlambat ke sekolah ya, nee-chan?" katanya menyindir. Adikku yang lebih muda dua tahun dari ku, Haru Aikawa.
Benar-benar posisi yang sangat memalukan. Kedua kakiku masih berada di atas kasus, sedangkan tubuhku ada di lantai dengan selimut biru muda yang melilit di pinggang ku.
"Nee-chan, apa kau bermimpi tentang menjadi idol lagi?" Haru menyipitkan kedua matanya. Benar, aku selalu bercerita tentang mimpiku kepada keluargaku.
"Itu adalah impianku, memangnya tidak boleh apa jika aku memimpikannya?" impianku adalah menjadi idol ternama. Seperti dalam anime anime idola yang aku tonton, sepertinya menjadi idol itu menyenangkan.
Haru berbalik badan dan meninggalkanku. "Jangan bermimpi terlalu tinggi, jatuh dari ketinggian itu menyakitkan." ucapnya ketika masih berada di abang pintu. Setelahnya ia benar-benar menghilang dari pandanganku, menghilang di balik pintu.
Aku bangun dari posisi ku yang sekarang. Mematikan lampu kemudian berjalan membuka gorden yang menghalangi cahaya matahari.
Apa salahnya jika aku mempunyai mimpi besar menjadi seorang idol? Memangnya mimpiku mengganggu ya? Aku hanya ingin tahu rasanya berdiri di atas panggung megah.
=•=•=•=•=•
Ku tatap selembar kertas kosong yang bersih dari noda. Hari ini Ayano sensei–wali kelasku– memberikan tugas tentang cita cita. Mendeskripsikan cita-cita yang kita impikan dan alasannya.
Aku sudah tahu jika impianku adalah menjadi seorang idol, tapi... untuk alasannya aku tidak tahu ingin menulis apa. Jika menulis hanya sekedar ingin saja karena terlihat menyenangkan, pasti Ayano sensei akan memarahiku karena alasan yang tidak jelas ini.
"Azumi! Azumi-san!"
Aku menoleh. Yang memanggilku adalah teman sekelasku, ia duduk tepat di sampingku. Namanya Hana Fukuhara.
"Ada apa, Hana?"
"Apa kau sudah menulisnya? Cita-citamu. Apa yang ingin kamu lakukan dimasa depan?" tanyanya berbisik diantara heningnya suasana kelas.
Aku hanya menggeleng sebagai jawaban. "Aku tidak tahu harus menulis apa. Impianku terlalu tinggi diraih, aku sedang memikirkan sesuatu yang mudah mudah saja."
"Jangan berbicara seperti itu! Menyerah sebelum memulai itu tidak baik! Memangnya apa cita-cita mu?" Hana memberikanku semangat, kurasa dia adalah orang satu satunya yang memberikanku semangat.
Kakak dan adikku sama sekali tidak mendukung impianku, mereka malah sering mengejekku, dasar laki-laki. Apalagi ibu. Ibu menginginkanku menjadi seorang dokter atau guru.
"Impianku menjadi seorang idola."
Hana terdiam mendengar jawabanku. Sudah pasti jika terdengar aneh. Aku adalah siswi biasa yang selalu melakukan semuanya secara diam diam, bahkan melakukan hobiku saja selalu diam-diam. Hobiku itu memalukan!
"Kalau begitu, berjuanglah!"
Benar-benar teman yang baik. Hana adalah satu-satunya orang yang mengajakku berbicara dikelas ini. Sebagian besar orang menatapku dengan aneh karena terkadang aku tanpa sadar melakukan hobiku. Di tambah lagi aku jarang bersosialisasi.
=•=•=•=•=•
"Cobalah ini. Ini diselenggarakan pada musim panas." Ayano sensei memberikan selembaran kertas. Iklan?
Aku menatap selembar kertas yang berisi tulisan tulisan besar dan kecil serta gambar seorang idol wanita muda. Yang paling menarik perhatian ku adalah sebuah tulisan.
"Idol Project"
Ini... diadakan musim panas tahun ini. Usia 15-17 tahun.
"Sensei, apa ini?"
"Bukankah kamu ingin menjadi seorang Idol? Jika kamu ingin mencobanya, coba saja, tidak ada ruginya. Bukankah kamu memiliki hobi menari dan bersenandung, Aikawa-chan?" Ayano sensei tersenyum kepadaku sambil mengedipkan sebelah matanya.
Ah, sensei memang guru terbaik! Eh... tunggu dulu! Bagaimana Ayano sensei bisa mengetahui hobiku yang memalukan itu.
"Sensei! Ayano sensei mengetahu–"
"Sensei sering melihatmu yang memutar musik lalu menari di ruang club, loh!"
Baiklah. Aku kalah. Mungkin ini adalah awalnya. Awal dari sebuah impian besar yang hanya menjadi angan-angan seorang gadis remaja.
=•=•=•=•=•
Aku menghabiskan waktu dengan berlatih. Dua bulan menuju audisi. Aku menjaga tubuhku. Pola makan, sering olahraga. Dengan sedikit bersosialisasi dengan bantuan Hana dan Ayano sensei.
Ibuku juga mengijinkan ku untuk ikut audisi "Idol Project" ini. Hanya mengijinkan, bukan mendukung. Bahkan ibu bilang, "kalau tidak lolos jangan menangis."
Lalu ayahku mendukung ku. Meskipun beliau di luar kota, ayah mendukungku lewat telpon dan pesan. Bahkan selalu spam pesan yang bertuliskan kata kata penyemangat.
Dan... kakak dan adikku yang keduanya adalah laki-laki, tertawa terbahak mendengar nya. Lalu diakhiri dengan kata "Gambatte, Azumi/Nee-chan!"
Aku tidak mau menjelaskan secara rinci tentang audisi "Idol project" ini, yang terpenting aku lolos. Karena ini juga aku mendapatkan teman baru. Perjalanan menuju menjadi seorang Idol itu tidak mudah. Semua adalah saingan disini. Dunia hiburan itu tidak sederhana.
Hingga... aku berhasil masuk ke duapuluh besar. Padahal dulu puluhan ribu orang mengikuti audisi ini.
=====
"Tu-tunggu dulu! Jika kamu dapat sampai ke duapuluh besar, bagaimana ceritanya kau bisa menjadi seorang model majalah?!"
Dasar orang ini. Aku belum selesai cerita sudaht dipotong duluan. Ini kan kisahku sembilan tahun yang lalu. Sekarang usiaku 25, profesi sebagai model majalah.
"Dengarkan dulu, bodoh!"
"Hahah, baik. Lalu, apa kelanjutannya?" tanya teman baikku yang berprofesi sama seperti ku. Namanya Airi Kanazawa.
"Ketika ayahku pulang dari luar kota, beliau mengalami kecelakaan hebat dan meninggalkan ku bersama ibu, kakak, dan adikku. Hari itu adalah dua hari sebelum aku tampil, dan ketika aku tampil aku sangat tidak fokus. Melakukan banyak kesalahan disana sini. Pada akhirnya aku tidak lolos ketahap selanjutnya. Dan sekarang, aku telah menjadi model."
"Lalu?"
"Lalu aku akan menjadi model ternama yang namanya dikenal oleh seluruh orang di Jepang!"
Airi menepuk bahuku. "Hahahahahhaha. Kau ini bisa saja! Bukankah terlalu berlebihan untuk seorang model majalah kecil seperti kita? Mimpimu terlalu tinggi, Azumi-chan!" Ia tertawa terbahak.
"Yah, semuanya hanyalah omong kosong belaka." aku menghela napas, memutar setiap memori yang ada di kepalaku. Kenangan kenangan ketika aku berjalan menuju puncak.
End~~~~~
Terima kasih telah membaca!