Di Sore ini hujan turun begitu deras.Miya dan Anna kebingunan mencari payung untuk kembali ke rumah.
"Miya,lihat disana ada kardus..hmm mau pakai itu saja?"
"Ahh jangan deh, takutnya hujan turun lebih deras nantinya malah sakit"
Tanpa berpikir panjang Anna mengenggam tangan Miya dan menariknya ke tengah-tengah hujan.Berselang beberapa waktu kemudian.Dengan pakaian basah,air yang terus mengucur dari baju mereka.Miya membawah Anna yang menggigil kedinginan pulang kerumahnya.
Sesampai dirumah Miya mengetuk pintu..
"Maaa,ma,maaa...bukain dong"
"Ya bentar",sahut ibunya..
Ketika ibunya keluar,ia melihat Anna yang menggigil dan mereka yang berpakaian basah..
Sembari menyiapkan teh hangat untuk Anna,Miya berkata "Udah di bilangin nanti sakit,gak mau dengerin,tuhkan akibatnya"
"Iyaaa maafin,aku juga gak tahu kalo jadinya kayak gini"
"Ehh tapi seru kan",sambung Anna
"Seru sih,tapi jadinya gak asik" balas Miya sambil tertawa
Miya selalu setia merawat Anna.Pulang sekolah menjaga dan membantu Anna belajar materi yang diajarkan di sekolah.
Dua hari kemudian Anna pulih,mereka kembali bersenang-senang dengan melihat-lihat keindahan taman dekat rumah Anna.
Hari-hari terus berlalu dengan penuh kegembiraan.
Hingga suatu saat Anna tidak lagi berkunjung ke rumah Miya dan selalu berpergian entah kemana.
Miya kebingungan mencari dan terus bertanya kepada teman-teman Anna.
"Hei,kamu lihat Anna gak?",kata Miya
"Emm beberapa hari ini sih Anna udah gak pernah masuk kelas lagi",jawab teman sekelas Anna
"Lah terus kemana itu anak,,oke makasi yah",balas Miya
Di jalan sepulang sekolah,tidak sengaja Miya melihat Anna sedang berjalan dengan pria yang nampaknya lebih dewasa dari Anna..Melihat itu Miya bergegas menghampiri Anna dan berteriak "Anna,Anna,,kamu kemana saja!!!",Anna yang mendengar itu sontak terdiam dan ketakutan.
"Hey kamu kemana saja,gak tau apa aku kangen banget"kata Miya sambil memeluk hangat Anna
"Apaan sih kamu",kata Anna dengan berpura-pura tidak mengenal Miya.
Anna bersama pria itu meninggalkan Miya dan melanjutkan perjalanannya.
"Kerja bagus Anna,awas saja kalau kamu bilang ke mereka",kata pria itu sembari mengeluarkan senyuman jahat.
"Aku ingin pulang" kata Anna terus menerus dengan air mata yang mengucur di wajahnya.
"Maafin aku Miya,bukannya mau ngejauhin kamu" lanjutnya dalam hati.
Sampai di suatu tempat,terdengar teriakan seorang wanita.Nampaknya dia sangat kesakitan,teriakan-teriakannya itu membuat Miya yang mengikutinya perlahan mulai penasaran.
Keadaan hening,Miya tidak sanggup menahan air mata,darah bercucuran kemana-mana meninggalkan Anna terbaring lemas tak berdaya dengan pisau berlumuran darah yang tergeletak tidak jauh dari tubuhnya.Miya menghampiri wanita itu.
"Anna,ayo bangun..katanya mau ngejar beasiswa sama-sama,katanya mau bangun mimpi sama-sama" ucap Miya.
Keadaan itu membuat Miya sangat shock,trauma,frustasi semua bercampur.Dia selalu berpikir kematian Anna karena dia yang tidak menjaganya.Siang malam Miya sendirian merenung dan terus memikirkan Anna,Miya selalu menyalahkan dirinya.
Trauma itu kian membekas hingga Miya masuk ke jenjang yang lebih tinggi yaitu sekolah menengah atas.
Suatu ketika Miya merenung..
"Musik,sepertinya sesuatu yang bisa menuangkan perasaan kedalamnya"
"Apa mungkin aku les musik aja,,ok dengan ini saya putuskan besok kita akan mendaftar ke sekolah musik"
Dengan perasaan yang lumayan membaik,Miya keluar kamar kemudian membicarakan hal itu kepada ibunya.Ibunya yang melihat Miya seperti itu,langsung menyetujui hal tersebut.
Hari-hari berlalu Miya mulai melupakan kejadian lama itu,yang meninggalkan kenangan pada hatinya.
Alunan melodi indah terdengar dari ruang sebelah.Keindahan melodi itu membuat Miya tanpa sadar terseret masuk kedalam ruangan.Dia melihat seorang pria memainkan piano,sentuhan ketulusan jiwanya terlihat saat dia menekan setiap nada.
Lagu berhenti,pria itu melihat Miya seolah-olah pernah bertemu sebelumnya.
Sambil menghadap Miya dia berkata "halo,kenapa,ada yang bisa saya bantu?"
Miya akhirnya tersadar,mendengar itu dia langsung pergi.
"Sepertinya kita pernah ketemu,tapi dimana yah?",ingatan samar yang ada di benak pria itu.
"Sudahlah,lupakan,nanti tanya dia lagi",sambungnya.
Wajar saja Miya baru mulai memainkan violin,tidak bisa berharap banyak padanya.Suara kacau dari violin,membuat pria itu merasa risih, Karena dia harus berlatih keras untuk mengikuti perlombaan tiga bulan kedepan.
"Siapa yah?,bisa jangan terlalu kuat memainkan violin,saya terganggu" kata pria itu.
Mendengar itu suasana kembali hening.Tidak ada jawaban terdengar.Rasa penasaran membuat pria itu melihat di balik pintu,siapa sebenarnya orang itu.
"Ohh kamu,bukannya tadi masuk keruangan aku yah?",tanya pria itu.
Miya tertunduk dan tidak bisa bicara.
"Santai aja.Sepertinya kamu orang baru,wajar sih suara violinmu sangat kacau,,ohiya aku bisa kok bermain violin,kalau butuh bantuan,panggil saja aku,, ngomong-ngomong namaku Ken..kamu?".
Miya mengambil kertas yang berisi partitur nada,lalu menuliskan namanya,sambil gemetaran.
"Miya"
"Oke salam kenal yah,semangat belajarnya",kata Ken kembali.Miya hanya menganggukan kepalanya.
Begitulah awal pertemuan kedua dari Ken dan Miya.Sebenarnya tiga tahun yang lalu sebelum kematian Anna.Sempat diadakan event yang berlaku selama seminggu,dimana saat itu Anna dan Miya juga berteman dengan seorang anak laki-laki yang terlihat kesepian.
Selang beberapa minggu.Ken mengunjungi tempat Miya berlatih.Tidak masuk kedalam ruangannya,tapi hanya mendengarkan dari luar.Kemajuan musik Miya,sangat jelas terdengar dari dalam ruangan.
"Miya kamu hebat sekali,tidak di sangka hanya memerlukan beberapa minggu saja,kamu sudah sejauh ini perkembangannya",Suara dari dalam ruangan,yah suara pelatih Miya.
"Tok,tok,tok",bunyi pintu.
"Siapa?",kata pelatih sambil membuka pintu,"ohh Ken masuk-masuk,gimana perkembangannya.Siapkan ikut perlombaan nanti?",sambungnya
Sambil tersenyum Ken berkata "siap".
"Dari luar terdengar sekali perkembangan violin Miya,tidak banyak loh orang yang berkembangnya secepat ini" kata Ken.Miya membalas perkataan itu dengan senyuman manis terpapar diwajahnya.
"Nanti kalo butuh bantuan ingat kan,panggil aku saja",ulang Ken yang berbicara pada Miya.
"Lohhh kalian pernah bertemu?",ucap pelatih yang kebingungan.
"Yahh begitulah",jawab Ken tidak jelas.
Ken akhirnya kembali berlatih.Lalu menutup pintu,kelihatannya senyuman Miya tadi tidak kunjung lepas dari wajah cantiknya.
Seperti biasa,Ken yang giat berlatih pulang pada pukul 22.00.Rasa capek,mengantuk dirasakan Ken saat itu.Tidak sadar ada mobil dari kejauhan berlaju sangat cepat hingga menabrak Ken.
Masuklah ia kerumah sakit,dan menjalankan hari-harinya tanpa berbicara dengan oksigen dipasangkan.Sudah jelas Ken koma.
Di tempat lain,Miya tidak mengetahui hal itu.Namun mental Miya sudah pulih.
"Akhirnya bisa mengenal orang sebaik dia..ohiya bukannya dia yang waktu itu di event",kata Miya pada dirinya sendiri
"Anna,maafin aku yah,gak bisa jaga kamu..ingat deh dulu waktu di event.Lucu yah,tapi mau gimana lagi.Yang udah berlalu mungkin harus dilupakan dan cukup di kenang saja..makasih udah jadi teman,udah jadi sahabat yang selalu ngertiin aku",Miya yang menangis sambil menulis pada buku hariannya.
Miya tertidur pulas malam itu.
"Miya bukan salah kamu kok,aku aja yang udah lupain kamu dan malah pergi dengan pria itu,aku lihat kamu sekarang udah bisa main violin yah..aku ikut senang,hmmm ingat yah,gak usah mikirin aku lagi.Ohiya kamu ketemu Ken lagi kan,jangan lupa jagain dia".Perkataan itu membuat Miya bangun dari tidur dan mengusap pipinya yang basah akibat air mata yang terus menetes.
Miya tersenyum dan kembali gembira menjalani hidupnya.
Keesokan harinya.Semua tidak ada yang salah,hanya Ken yang tidak kunjung datang untuk latihan.Hari itu Miya menganggap hal itu biasa saja,dan berpikir Ken mempunyai kesibukan lain.
Seminggu Ken juga tidak terlihat batang hidungnya.Miya mulai khawatir dan mengirim surat pada guru lesnya.
Malamnya ada jawaban dari surat itu.
Berjalan menghampiri Miya dan berkata "Miya,Ken sekarang sedang di rawat.Seminggu yang lalu dia kecelakan".
Miya kaget,kemudian bertanya tempat Ken berada sekarang.
Bergegaslah Miya kesana.Mendapati Ken tidak berdaya.
Setiap hari,Miya selalu mengunjungi Ken seusai latihan.Miya selalu merawat Ken dengan penuh kasih sayang.
Karena saat itu Miya sangat capek,Miya tidur di kursi lalu bersandar di kasur Ken.
Paginya,Ken yang melihat Miya tertidur sangat tergerak hatinya.Sambil mengelus kepala Miya,Ken mengutarakan perasaan yang di pendamnya.Miya terbangun dan melihat Ken sudah sadar,Ken yang salah tingkah tidak tau mau buat apa.Miya yang melihat hal itu segera menggenggam tangan Ken dengan halus,dan mulai bercerita tentang masa kecil mereka yang hanya seminggu itu sampai di awal pertemuan kedua mereka.
Pada akhirnya setelah sembuh mereka giat berlatih.Ken membantu mengajarkan Miya violin.Mereka mengikuti banyak perlombaan,hingga menjadi pasangan musisi yang sangat terkenal di kota itu,bahkan sampai pada akhirnya mereka mendunia.