"perihal rindu tak harus kamu ungkapkan secara gamblang, bunda tau itu sulit jendral" ujar bunda pada anak laki laki semata wayangnya yang tengah fokus menggambar di meja, dia tau anaknya mendengarkannya.
"bunda, jendral mencintai bunda...dan sherlina" ujar jendral menatap bundanya, berdiri lalu memeluk wanita hebat itu.
___________________________________________________
ini hanyalah kisah singkat soal Jendral Pratama, putra semata wayang dari bunda Riana dan bapak Wahyu, sayang pak Wahyu sudah meninggalkan mereka untuk selamanya, tidak apa karena itu kehendak tuhan..dan tugas bunda sama jendral hanya berusaha mengikhlaskan saja.
saat itu jendral tengah disebuah taman, tempat favoritnya untuk sekedar menggambar bunga disana, disana sejuk.., tiba tiba saat itu hujan deras.
"ahh, langit...jangan bercanda! kamu merusak gambar bunga melati milik saya!" ujar jendral menatap gambarnya yang luntur.
saat itu dia masih ditengah hujan, meratapi kesedihan ringan dan murni miliknya, hanya milik jendral, hingga sebuah payung memayungi nya, sebuah kaki berada didepannya, sejenak dia diam karena kaget, dia akhirnya mendongakkan kepalanya untuk melihat manusia baik itu.
"jangan disini, sedang hujan...kesehatanmu akan menurun" ujar seseorang itu, dia wanita dan akhirnya dia pergi meninggalkan jendral yang mematung, itu seperti sebuah laut yang sedang pasang, menerjang hati kecil milik laki laki biasa itu.
semenjak kejadian itu, jendral lebih sering ke taman...berharap dapat melihat seseorang yang membuat ombak dihatinya itu datang, meluruhkan semua rasa penasaran yang menggelora seperti lagu tidur
saat itu dia akhirnya dia melihat wanita itu, mengenakan gaun putih bersih dengan rambut digerai indah...terasa halus saat ditiup angin pelan.
saat itu dia menghampiri wanita itu, berbincang ringan dan akhirnya meminta izin menggambar nya.
ternyata wanita itu bernama sherlina, namanya cantik yah, dia menyuruh jendral memanggilnya Lina saja
saat dia selesai menggambar dia menunjukkan nya pada Lina, Lina tersenyum dengan kagum.
"wah keren, kamu hebat sekali jendral...itu bagus, boleh aku membawanya pulang? aku akan memajangnya didinding kamarku" ujar sherlina.
jendral tersenyum girang, dia mengiyakan itu dengan cepat, dan dengan cepat pula dia dekat dengan sherlina, selalu bertemu di taman lalu berbincang, kadang bahkan berjanjian untuk piknik.
hari itu jendral tak datang dengan buku sketsanya namun dengan sebuah bucket bunga dan sekotak coklat.
saat Lina datang dia dengan gugup menyembunyikan bunga dan coklat itu.
"eh, jendral?! ngapain?" ujar Lina saat mendekat ke arah jendral.
"eh eh...Lina, jendral suka kamu..Lina mau ga jadi pacar jendral?" ujar jendral gugup tak berani menatap mata sherlina.
sherlina diam lalu tersenyum lembut ke arah jendral yang menunduk, memasang bahunya lalu dengan ekpresi kesal berkata,
"lama banget sih, kamu tau ga saya nunggunya lamaaaaaa banget" ujar sherlina.
"ja jadi Lina mau?" ujar jendral masih gugup takut ditolak cintanya.
"yah pastinya mauuu" ujar sherlina memeluk laki laki baik didepannya, menyalurkan segala perasaannya pada laki laki itu, menutup mata nya menikmati perasaan pelukan itu.
"beneran?" ujar jendral bertanya lagi takut dia salah dengar.
"iyaaa" ujar sherlina lagi.
"YEAHHHHHH" jandral akhirnya tau bahwa dia diterima dengan yakin, dia memeluk erat sherlina lalu menggendongnya, berkeliling taman itu.
"eh eh jendral turunin hahaha entar jatohhh ihhh hahahah" ujar sherlina dengan tawanya itu.
setelah hari itu mereka menjadi sepasang kekasih bahagia yang bener benar tak bisa dipisahkan, setelah itu jendral fokus kuliah..meskipun begitu dia tetap ada untuk sherlina, menjadi batu sandaran terkuat yang ada untuk wanita rapuh itu.
beberapa hari ini sherlina bercerita tentang masalahnya, tentang bagaimana sulitnya dia mengerjakan skripsi, masalah keuangan dan keluarganya meletakkan semua ekspetasi nya di sherlina, jendral akhirnya memeluk kekasihnya itu, dan diam diam membantu sedikit demi sedikit, mulai dari mengerjakan skripsi nya, memberikan tabungannya ke rekening milik sherlina, lalu ke rumah sherlina saat dia sedang kuliah untuk mengatakan perasaan sherlina dan mencoba meyakinkan orang tua kekasihnya itu bagaimana lelahnya sherlina, itu berhasil.
setelah beberapa saat hubungan dan hidup sherlina baik baik saja, malahan rasanya semua beban itu hilang...sherlina tidak mengetahui soal jendral kekasih nya itu yang membantunya, dia hanya merasa ini waktunya untuk dia bahagia, ini bagiannya.
berbulan bulan berlalu begitu cepat, semua baik baik saja, jendral dan sherlina juga semakin baik...sering keluar bersama dan semua keluarga setuju dengan hubungan mereka, dengan sherlina yang menjadi orang yang dicintai jendral dan jendral yang menjadi menantu idaman dikeluarga sherlina.
semua baik baik saja, dan hari ini jendral mengajak sherlina ke Padang bunga tempat dia bermain waktu kecil, sherlina terlihat senang hingga sibuk berfoto foto.
saat itu jendral mendapat panggilan telepon dari teman satu jurusannya, Raven. Jendral akhirnya meminta izin pada Herlina untuk mengangkat panggilan itu, dan sherlina mengiyakan tanpa tau dia akan mengubah semua hal.
"Lina, jendral angkat telepon dulu yah" ujar jendral lembut.
"okayy, jangan lama-lama yah" ujar sherlina masih fokus ke kameranya.
"iya" jendral menjauh dari sana lalu mengangkat telepon itu.
in call-------
Jendral : halo
Raven : jendral, loh lagi sendirian kan?
Jendral : iya sekarang cuman jauh dari pacar beberapa meter aja, kenapa ven?
Raven : pacar loh selingkuh Jen.
Jandral : jangan bercanda
Raven : gue ada buktinya, bentar.
tiba tiba terlihat sebuah notifikasi dari Raven
“Raven sent a picture„
saat dibuka mata jendral berkedut, sudut hatinya diremuk remuk hingga tak berbentuk, itu seperti...lelah dia tak bisa mendefinisikan nya, itu..
sebuah foto bagaimana sherlina mencium seorang laki laki yang dulu dikenalkan sherlina sebagai temannya.
jendral menatap sherlina dengan tatapan yang sakit namun bagaimana mungkin, ini salahnya yang pasti membuat sherlina selingkuh..dia tidak luar biasa seperti laki laki diluar sana kan? makanya sherlina berselingkuh dengan orang lain.
setelahnya jendral bersikap biasa, seolah itu bukan apa apa, seolah dia tak tau apapun...karena dia berpikir bahwa harusnya dia yang memperbaikinya dirinya menjadi yang lebih baik untuk sherlina.
beberapa hari itu jendral tanpa kabar, sherlina khawatir..akhirnya dia kerumah jendral untuk menemuinya, saat dia dibukakan pintu...bunda jendral memiliki mata sembab yang parah.
dia dibiarkan masuk, bundanya jendral menyuruhnya duduk dan menunggu sebentar.
"tunggu sebentar" ujarnya lalu pergi ke kamar jendral.
saat ia kembali, dia membawa sebuah kotak biru langit, duduk disamping sherlina lalu memberi sebuah kertas bertuliskan.
" Ketika kamu selingkuh, saya kecewa, marah, sedih, pasti. Tapi saya tidak mengatakan kamu salah, salah atau benar bukan hak saya untuk menghakimi.
Barangkali, hal itu terjadi karena aku hanya mencoba menjadi yang terbaik, hingga lupa menjadi yang menyenangkan.
Barangkali juga, kamu belum bisa berdamai dengan kurangku, hingga lupa dengan beberapa lebihku.
Barangkali lagi, aku terlalu mengikat, hingga lupa mengulur tali-tali itu.
Dari tuhan, kita mendapat bagian sendiri-sendiri dalam pelajaran berharga, walaupun harga yang harus dibayar cukup mahal, dengan kehilangan.
Berhenti, semoga ini kali terakhir.
Berhenti, semoga cukup aku,
jangan ada lagi "
sherlina terdiam, dia menatap wajah sang bunda dari kekasihnya itu, dia diberikan lagi buku sketsa milik jendral...
bagian akhir dari buku itu tertulis dengan jelas,
" Tak usah umbar-umbar perihal rindumu itu. Simpan saja sebaik-baiknya dalam diam juga doa yang kamu bisa. Jangan biarkan aku mengetahuinya. Biar semesta yang sampaikan dengan cara yang paling baik.
Tak usah risau, rindu tidak akan pernah salah alamat. Sebab ia tahu kemana harus pulang, kemana harus beralamat meski jarak membentang atau meski pahitnya kini kamu tak lagi dalam genggamku.
Biarkan rindu meniti alam semesta, terbang ke langit luas, lalu tercatat abadi di sana, jangan takut bila rindumu tak berbalas. Mari kubisikan lewat telinga langit itu, aku juga rindu setiap saat. Pura-pura tidak tahu saja, aku tak mau mengusikmu lagi dengan hadirku juga rindu itu "
sherlina menangis, dia tak menyangka bahwa perselingkuhan nya diketahui oleh jendral namun laki laki itu tidak marah, malah justru berpikir bahwa dia yang kurang.
saat sherlina bertanya kepada bunda jendral, bunda jendral mengajaknya ke sebuah pemakaman yang tertera jelas nama kekasihnya itu, kata bunda riana dia meninggal karena tekanan dan stres berlebihan dan akhirnya bunuh diri...
meninggalkan sejuta sakit nya itu, meninggalkan teriakan protesnya pada langit waktu itu, menyatu dengan semesta dan menghilang bagai ombak.
sherlina menunduk, jatuh tersungkur tak tau harus apa, dia diam menahan sesak di dadanya, lalu tangisnya tak terbendung...
mengingat saat bahwa laki laki itu selalu menyemangati nya.
"Lina, kadang saya mendengar temanmu berkata “relakan saja, itu sudah berlalu”, tapi saya tau itu tidak semudah kata mereka...jadi jika kamu ingin menjadi ratu, datanglah kepada saya...saya akan terus menjadi budak yang mencintai kamu..."
sherlina sesak, dia menangis begitu hebat saat itu, membiarkan tubuhnya larut pada bumi, berharap dia bisa sekali lagi bertemu laki laki itu....
"itu mustahil, maafkan saya jendral" ujar lirih dari sherlina diantara tangisnya yang membuat badan bergetar.