Kisahku. Namaku Resya Andyan rainder. Aku adalah pegawai administrasi negara A, diumurku yang menginjak angka 22.
Suatu ketika dimana hari aku tak dapat lagi menopang tubuh, terbaring dengan menatap langit-langit kamar mewahku.
Cukup mewah namun tak bermakna. Aku sendiri, selalu sendiri menghadapi segala peristiwa yang terjadi.
Tanpa adanya keluarga, bahkan kekasih pun tak ada. Aku pernah berharap diakhir hidupku ada senyuman, namun semuanya hanya ilusi semata.
Aku menutup mata malam ini untuk selamanya, tanpa ada seorang pun yang tahu.
Namun kejadian yang tak pernah kuharapkan malah terjadi dengan sendirinya.
Reinkarnasi, hidup kembali namun dalam raga yang berbeda.
Disini, tidak ada namanya aparat negara, hukum undang-undang dan sebagainya.
Aku terlahir kembali menjadi seorang putri dari kerajaan Euro, aku adalah Princess Raule De Flawless.
Menjadi putri yang diharapkan banyak rakyat. Senang?, aku sama sekali tidak senang menurutku itu adalah beban.
Namun yang kuidam-idamkan kudapatkan didunia ini. Aku memiliki keluarga yang lengkap, namun kenapa harus ada selir ayah.
Yah, ini adalah kerajaan. Jika mau, mengapa tidak?.
Mereka menyayangiku, maka aku akan sekuat tenaga untuk tetap mempertahakan posisi ibunda dengan cara menjadi Putri Mahkota.
Sekian lama aku telah tinggal, kini aku berumur 15 Tahun. Dengan otak pintarku, aku diam-diam membuat cabang perdagangan, berlatih pedang, berlatih sastra dan sebagainya.
Tok... tok... tok...
"Hamba mohon undur diri untuk membuka pintu Yang Mulia putri" ujar dayangku membungkuk.
"Pergilah" jawabku tegas.
Dayangku mengangguk dan berlalu pergi, dan datanglah seorang lelaki paru baya.
"Hamba menghadap Yang Mulia Putri Raule De Flawless!" Seru lelaki parubaya itu sembari membungkuk.
"Berdiri" perintahku "sepertinya dia bawahan ayahanda" batinku menelisik penampilannya.
"Hamba ingin menyampaikan pesan dari Yang Mulia Raja"
Aku yang mendengarnya menegakkan badan dengan luwes "Katakan" ujarku memerintah.
"Yang Mulia Raja memanggil Putri Raule untuk ke ruangannya segera" aku mengangguk seakan mengerti.
Dia pun berpamitan yang hanya aku angguki dengan gaya yang elegan.
Aku bersiap-siap setelahnya "ada apa ayah memanggilku" pikirku amat ingin tahu.
Karena aku ingin cepat-cepat tahu, aku bergegas bersiap dan bejalan menuju ruangan Ayahanda.
"Putri mohon pelan-pelan" namun aku sama sekali tak menggubrisnya aku terus berjalan hingga sampai didepan pintu ruangan ayah.
Aku mengetuknya pelan, muncullah seorang lelaki berbeda dari yang tadi membukakan pintu untukku.
Aku masuk degan aura yang berwibawa, ku usahakan untuk menunjukkan bahwa aku adalah seorang Putri yang tangguh.
Seperti biasa, ayahku selalu tersenyum saat berhadapan dengan buah hati dari Baginda Ratu yaitu Ibu kandungku.
"Ada apa ayah memanggilku" ujarku santai sembari duduk didepannya.
"Sopan santunmu mana Putri Raule" aku menatpnya datar, bukankah aku selalu begini saat hanya bersamanya.
"Haha, maaf-maaf" aku memutar bola mataku malas.
"Keintinya Ayah"
***
Hari dimana penobatan Putri Mahkota pun dilaksanakan.
Disana terlihat Putri Mauren anak dari Selir Fenard.
Ada juga Putri Alin anak dari saudara ayah.
Disini beda dengan dicerita-cerita yang pernah aku baca. Bisa dikatakan Putri mahkota dapat diambil dari Putri Raja maupun Putri Pangeran, Pangeran yang dimaksud adalah saudara-saudara Raja.
Walaupun Ayahanda hanya memiliki dua Putri, namun kandidatnya tidak hanya kedua Putri tersebut.
Bisa dikatakan lumayan.
Beberapa hari lalu aku telah mendapat kepercayaan untuk mengelola keungan istana.
Bukan karena aku sang Putri sah, namun mendapat kepercayaan mengelola keuangan istana adalah keputusan para Mentri juga persetujuan dari Sang Raja.
Aku cukup percaya diri, selain telah memperbanyak toko, aku juga memiliki ladang, fasih mendokumentasi apapun itu dengan sekali lihat.
Sekalipun aku tak menjadi Putri Mahkota, aku tetap akan menerimanya. Lagipula aku disini pun sudah cukup dengan kasih sayang mereka, cinta, hidup nyaman dan damai.
Satu yang tak ku punya kekasih.
***
Dua Tahun berlalu
Hari itu aku dinobatkan menjadi Putri Mahkota. Aku bersyukur sekali, selain memperkukuh keluargaku, orang luar tak ada yang berani menyinggungku.
Hari ini aku berniat keluar dengan menyamar. Ntahlah, apa yang aku pikirkan. Aku hanya ingin.
"Siapkan pakaian biasa, lebih baik seperti rakyat saja" dayang-dayangku pun bergegas melakukan perintahku.
Setelahnya aku pergi meminta izin kepada Ayahanda dan Ibunda.
"Ulee mau keluar?" Itu kakak pertamaku yang bertanya.
Aku berdehem sembari mengangguk.
"Bersama saja, bagaimana?" Tanyanya lagi, aku mengerucutkan bibirku sebal.
"Kakak bisa pergi dengan kak Alex" debatku memberi saran.
"Bilang saja kau tak mau" ujarnya sinis aku hanya cengegesan seperti biasa.
Aku pun pamit kepadanya untuk pergi. Tujuanku sekarang adalah Pasar.
Kerata ku titipkan di tempat yang cukup jauh, sekarang aku hanya berjalan kaki sendiri.
Bruk...
Sepertinya ada yang menubrukku. Eh... dia akan jatuh. Aku segera menangkapnya, ku kira dia perempuan ternya lelaki.
Mataku terkunci pada bola mata hitam pekat miliknya.
"Apa nona bisa melepasku" hah... aku segera tersadar "apa kau baik-baik saja?" Tanyaku basa-basi.
Dia mengangguk.
Sebuah tangan terjulur dihadapanku, aku mendongak "Eden" aku menyambutnya dan ikut berujar "Ulee" dia tidak akan mengenaliku kan?.
Jabatan kami terlepas, saat ia akan pergi "aku menyukaimu nona" bisiknya halus ditelingaku lalu menghilang.
Deg
Aku tak memikirkannya lagi, aku segera bergegas untuk berkeliling hingga menjelang sore aku baru pulang.
Setibanya diistana, aku segera bersiap untuk makan malam.
Kali ini aku hanya membawa salah satu dayangku.
Saat memasuki ruang makan aku memekik "Malam semuanya" Ujarku sembari mencium pipi ibunda lalu duduk.
Cukup hening, argh... ada tamu ternyata. Aku menatap ibunda memelas, dan Kak alex malah tertawa walau dengan suara kecil.
"Maaf" pintaku sembari sedikit membungkuk.
Semuanya tersenyum sedangkan aku agak sedikit canggung.
Dan aku baru tau bahwa aku dijodohkan, takdir membawanya kepadaku.
Aku menyukai seseorang yang kutemui dipasar, dan ternyata seorang itu adalah Sang Duke termuda yang sekian lama baru kembali.
Cinta kasih telah terjalin diantara kami dalam waktu singkat.
Hidup bahagia dengan nyaman dan damai.