"Sudahlah aku pergi!!"
Yeni beranjak meninggalkan suami dan anaknya dengan membawa tas koper di tangan kirinya. Pernikahan yang telah mereka pertahankan sudah benar-benar di ujung tanduk.
Arman, suami Yeni sudah tidak bisa menahan kepergian istrinya itu. Sejak dua bulan yang lalu, Arman di PHk dari kantor tempatnya bekerja. Sedangkan Yeni, bekerja menjadi asisten rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dua bulan terakhir.
"Aku akan pergi, selama kamu belum mendapatkan pekerjaan lagi, aku tidak akan hidup bersama lagi denganmu. Aku lelah.. setiap hari mengurus rumah, masih mengurus kau dan anak kita. Dan lagi aku masih harus menggantikanmu mencari nafkah. Apa kau tak merasa malu dengan dirimu sendiri,mas???"
Yeni berucap panjang lebar pada Arman, suaminya. Arman hanya tertunduk diam. Dia bingung harus mencari pekerjaan kemana. Sekarang umurnya sudah tak bisa lagi mendapatkan pekerjaan seperti sebelumnya. Dia di PHK lantaran perusahaannya yang bergerak di bidang properti itu sudah tidak lagi menerima pesanan seperti sebelumnya. Dan terpaksa harus mengurangi beberapa karyawan mereka, dan Arman, salah satu dari karyawan-karyawan itu.
"Dik, aku tau.. tapi aku juga baru berusaha mencari pekerjaan yang layak, agar aku bisa menghidupimu lagi seperti sebelumnya.. ", Arman berusaha menjelaskan pada Yeni.
"Ah,, sudahlah.. aku akan pergi!!", teriak Yeni sambil menarik tas koper yang sudah disiapkankan kemarin," Jaga Dea untukku. Aku pergi sekarang." , lanjutnya melanjutkan langkah kakinya beranjak meninggalkan rumah mereka.
Arman tak bisa lagi memaksa Yeni untuk tinggal bersamanya.
"Besok, saat aku sudah mendapatkan pekerjaan itu, aku akan mendatangimu lagi, Yen. " , gumamnya lirih.
"Ibu pergi kemana, pak..? Kenapa ibu membawa tas besar seperti itu?" , anaknya yang sedaritadi di dalam kamar keluar setelah mendengar ibunya pergi keluar rumah.
"Ibu mau pulang sebentar ke rumah nenek, nak. Kamu sama ayah disini ya. Sekolah baik-baik, biar besok bisa jadi orang pinter. ", ujar Arman, ayah dari ank bernama Dea itu.
Dea mengangguk kecil. Dia terus menatap ke arah pintu sampai tak terlihat lagi punggung ibunya itu.
"Dea ke kamar dulu ya, pak.." , ucap Dea sambil berjalan kembali ke kamar meninggalkan ayahnya sendiri di ruangan itu.
###
1 bulan kemudian
"Nak, ayah diterima bekerja di kantor H. Sekarang kamu tak perlu khawatir lagi.."
Dea yang mendengarnya ikut senang mendengar berita ayahnya itu.
"Syukurlah, pak. Akhirnya bapak bisa menvari nafkah lagi. Dea ikut senang. Semoga kerjaan bapak lancar. Dan ibu. . . ", Dea menghentikan ucapannya itu.
"Tenang saja.. bapak besok akan menyusul ibumu kembali, nak. Agar dia mau tinggal lagi dengan kita. ", Arman memotong.
"Iya pak. Dea tunggu di rumah aja ya.."
Dea yang saat ini masih duduk di bangku SMP itu sudah bisa mengerti keadaan orang tua mereka. Dia sangat ingin orang tua mereka kembali bersama seperti sebelumnya, saat dia masih kecil.
Armanpun kembali menyalakan motornya, dia bergegas pergi ke rumah orang tua Yeni untuk menjemputnya kembali.
Brruuuummm...
Suara motor Arman semakin menjauh. Dea yang berada di rumah sendiri mengunci pintunya rapat-rapat. Dia kembali ke dalam kamarnya memainkan handphone yang di sakunya itu.
Tak alam kemudian, Arman sampai di rumah ibu mertuanya itu.
"(Tok.. tok.. tok...) Assalamualaikum..." , Arman mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.
Dari jauh terdengar suara seorang ibu tua yang menjawab salamnya, "Waalaikumsalam..".
Ceklek
Pintu terbuka. Arman meraih tangan ibu mertuanya itu sembari mencium tangannya. Yang disambut baik oleh ibu mertuanya itu.
"Assalamualaikum, bu. Arman datang. Bagaimana kabar ibu?", tanya Arman.
"Waalaikumsalam, nak. Baik. Ibu baik-baik saja. Ayo masuk dulu.. ", balas ibu Yeni sambil mempersilakannya masuk ke dalam rumah.
Arman mengangguk dan memapah ibu mertuanya masuk ke dalam.
"Yeni dimana bu..? ", ucap Arman sambil melihat ke dalam seluruh sudut ruangan di rumah itu.
"Yeni sedang ke pasar nak. Bagaimana dengan pekerjaanmu? Yeni sempat bercerita sebelumnya kamu sudah tidak bekerja, dan dia merasa lelah jadi dia disini untuk menghilangkan rasa lelahnya itu." ,ucap ibu Yeni.
"Assalamualaikum bu....", terdengar suara wanita yang lembut dari balik pintu. Yeni yang baru saja pulang, melihat ke arah kursi di ruang tamu itu. Dia menatap ke arah suaminya, Arman yang tengah duduk bersama ibunya itu.
"Untuk apa kamu kesini mas?", ucap Yeni kaku.
"Rupanya kamu masih marah padaku, dik. Aku kesini mau menjemput kamu pulang. Pulanglah bersamaku, dik. Dea sudah rindu denganmu. ." ,Arman mencoba membujuk istrinya itu.
"Haihh,, kamu mengajakku pulang, apa sudah mendapat pekerjaan lagi? Atau hanya mau supaya aku bisa bekerja jadi asisten rumah tangga lagi??, Ucapnya sinis.
"Yeni.. aku sudah berjanji dalam hatiku, aku akan datang padamu saat aku sudah mendapatkan pekerjaan kembali. Dan sekarang aku menepati janjiku. Aku ingin membawamu pulang kembali bersamaku. . Dik, pulanglah bersamaku.." , Arman kembali membujuk Yeni.
"Nak,, sudahlah.. suamimu sudah berusaha sangat keras. Cobalah kamu hargai usahanya.", ibu Yeni mencoba untuk mencairkan suasana.
Yeni terdiam sejenak. Dia anak yang berbakti pada orang tuanya, dan dia tidak pernah berani membantahnya.
"Baiklah, mas.. aku akan ikut bersamamu. Tunggu sebentar aku siap-siap dulu."
Yeni masuk membawa barang belanjaannya tadi. dan kembali mengemas barang-barangnya.
"Terimakasih, bu.. berkat bantuan ibu, Yeni mau ikut saya lagi. ", ucap Arman pada ibu mertuanya itu.
"Sama-sama nak. Ibu senang kalau kalian bisa rukun kembali. Kasian juga cucu nenek kalau harus berlama-lama pisah dengan ibunya. Ngomong-ngomong, dimana Dea? Kenapa dia tidak ikut bersamamu? ", tanya ibu Yeni.
"Dea tadi pulang sekolah sudah capek bu, katanya mau istirahat saja di rumah. Besok lain kali saya akan mengajaknya kemari.", sahut Arman.
"Baiklah.. ibu mengerti."
Sesaat kemudian, Yeni sudah keluar dengan tas besarnya yang dulu dibawanya dari rumah mereka.
"Ayo, mas. Kita pulang.." , ajak Yeni.
Arman berdiri dan kembali meraih tangan kanan ibu mertuanya itu, "Bu, Arman pamit ya.. Ibu jaga diri baik-baik. ", ucap Arman sembari mencium tangan ibu mertuanya itu. Diikuti dengan Yeni.
"Assalamualaikum bu..." , ucap Arman dan Yeni serentak sambil melangkah keluar rumah.
Mereka kembali ke rumah mereka. Anak kesayangan mereka sudah menunggu kedatangan mereka.
Akhirnya mereka hidup bersama lagi.
####
Terimakasih telah membaca