ini hanyalah tentang cerita aneh yang dialami oleh seorang dosen yang sangat tertutup, meskipun ini adalah tahun keempat ia mengajar di sebuah kampus yang cukup terkenal. Pagi itu memasuki kampus dengan pakaian seperti kebanyakan mahasiswa lainnya. tak lupa menggunakan masker, serta topi yang membuatnya seakan semakin tertutup.
Tahun ini, tahun pertama setelah sempat libur panjang karena wabah Corona. tahun ini tahun pertama mahasiswa tatap muka seperti biasanya. Saat ia memasuki gerbang kampus, ia tida sengaja berpas-pasan dengan tiga orang mahasiswa yang terlihat baru memasuki kampus ini.
"eh, eh, kok sendirian aja? baru masuk juga ya?" Mona merasa penasaran
"kelas mana bro? sama gak dengan kami? dari TI" Bobi yang sok akrab
"boleh kenalan gak sih? kok gitu amat penampilannya?"
"ahaha maaf, saya lagi buru-buru. maaf saya tidak bisa berlama-lama" ia jalan dengan langkah cepat meninggalkan mereka
"huuuuu sombong amat" Mona sedikit kesal
"awas aja lo, entar nyesal karena cuek pada kami" Bobi juga
"gak asyik, sok cuek, dasar aneh"
sepertinya mereka belum mengetahui dengan siapa mereka berbicara tadi. ya, hanya menunggu waktu saja yang akan menjawab.
orang yang tidak diketahui itu siapa, ia tidak menghiraukan apa yang mereka katakan walaupun ia masih mendengarnya.
Namun beda dengan Wina, mahasiswa semester tiga yang sangat mengenalinya. ia mengikuti orang itu menuju kantor dosen. Di koridor itu ia mencoba menyamai langkah dosen itu?
"duuuuh pak Remon. masih aja kaku gitu, terbuka sikit napa pak?" Wina melirik ke arah pak Remon? ya anggap aja itu namanya. Namun tidak ada tanggapan
"ish bapak ini, terbukalah. jangan sembunyi terus, terkenal sikit pak, jadi idola kek, biar yang lain tau kalau bapak itu jenius" belum sempat ia meneruskan kata-katanya, pak Remon masuk ke kantor, menutup pintu itu.
Wina terdiam sejenak, dan menggerutu dengan kesalnya. Kenapa dosen yang menjadi incarannya ini enggak peka sama sekali dengannya?
"aha, sabar win, nanti kamu kan jadi asistennya tuh, dalam memeriksa hasil praktikum pemrograman web dinamis, ihihi nanti juga bakalan ketemu lagi,,, asssheeeekq" setelah itu ia meninggalkan tempat, menuju kelasnya.
sedangkan pak Remon?. "gini amat punya mahasiswa yang keponya minta di timpuk pake bata semen" dalam hatinya merasa gelisah. ia tidak mau memperlihatkan wajahnya karena pengalamannya ketika SMA dulu yang menjadi rebutan banyak cewek, dan itu terasa meresahkan baginya.
Singkatnya
ia masuk ke kelas TI tingkat pertama. Saat ia masuk ke kelas, tidak ada yang menduga jika ia adalah dosen mereka semua?
"nama saya remon Ardiansyah, salam kenal. semoga di semester ini saya bisa mengajar kalian baik. saya tidak suka mahasiswa yang tidak menyimak apa yang saja jelaskan, saya akan mengusir mahasiswa yang tidur di kelas, juga mahasiswa yang ribut di kelas"
rasanya sangat membosankan mereka semua mendengarnya, termasuk mereka yang tadinya sempat bertemu dengannya di depan gerbang kampus tadi
"keqh, gak nyangka banget kalo dia itu dosen kita" bisik Mona
"benar tu, pantes aja gayanya ngebosenin" Bobi juga enggak nyangka
"bosen, pasti nyebelin nantinya" Yuni membayangkan kelasnya selama satu semester diajarkan dosen kaku seperti pak Remon?.
oke kita lihat saja.
"tetap patuhi protokol kesehatan, jangan lupa pakai masker" ia membuka kaca matanya, serta topinya. Namun entah mengapa sebagian cewek di kelas itu malah terpesona padanya meskipun masih mengenakan masker yang menutupi sebagian dari wajahnya itu?.
"baiklah, sebelum masuk praktek ini, saya mau kalian mengenali dasar-dasarnya terlebih dahulu, meskipun materinya nanti akan diajari oleh bu esti, saya hanya menjelaskan secara umum saja"
lama kelamaan mereka malah terpukau dengan suara dosen tersebut. seperti terhipnotis untuk terus mendengarnya. ia juga menjelaskan dengan cara yang sangat sederhana, namun mudah di mengerti oleh mereka semua.
Kesan hari pertama yang sangat luar biasa. tidak menyangka dosen yang bernama Pak Remon ini memiliki bakat yang luar biasa menjelaskan materinya.
Singkatnya
Pelajaran di kampus sudah selesai, namun pak Remon masih berada di labor praktikum untuk memeriksa tugas harian yang ia berikan tadi
"permisi, saya masuk ya pak" ternyata Wina yang masuk
"ya" balasnya
"tugas mana yang harus saya periksa pak?"
"di bagian sana saja" ia menunjuk ke meja barisan ke empat.
"apa enggak di samping bapak saja?"
"enggak boleh. ingat jaga jarak" ia masih fokus dengan apa yang ia kerjakan.
"baik pak" awalnya ia memang patuh dengan apa yang dikatakan oleh dosennya itu.
Setelah berhasil memeriksa dua tugas, rasanya sangat sepi karena tidak ada suara. Wina merasa sangat bosan yang luar biasa.
"kek mana tadi pak? lancar ngajarnya? mereka enggak ngantuk kan?" meskipun matanya teliti memeriksa satu persatu tugas itu, namun mulutnya tidak bisa ia tahan untuk bertanya
"lancar" hanya itu balasannya
"saya ragu, masalah bapak itu kaku banget, coba terbuka sedikit, bayangin aja deh kalau bapak jadi idola kampus. saya yakin mereka kenal dengan bapak, enggak menganggap mahasiswa sini"
Pak Remon mencerna sedikit dengan apa yang dikatakan oleh Wina.
"jika saya jadi idola kampus, kamu mau apa?"
Wina langsung bangkit dari tempat duduknya, menghampiri Pak Remon dengan wajah serius, membuatnya sedikit takut
Cukup lama dengan wajahnya yang serius itu, membuat pak Remon enggak nyaman.
"jika bapak jadi idola kampus" masih dengan wajah serius ia mengulangi pertanyaannya pak Remon
"apaan sih" meskipun sebagian wajahnya tertutup masker, wajah itu terlihat takut, terlihat dari kerutan keningnya
"saya akan menjadi fans bapak yang pertama" dengan wajah polos yang tidak berdosa itu, Wina berkata seperti itu?
"yeee, cuma itu doang" ia sangat terkejut dengan ucapan itu. Tapi Wina malah tertawa terbahak-bahak?
"itu enggak lucu sama sekali, cepat kerjakan semuanya, atau saya kasih kamu nilai D minus karena telah berani mengejek saya" ancamnya
"ini namanya pengancaman berencana pak" Wina menghentikan tawanya, berusaha untuk tidak tertawa
"emangnya saya ini pembunuh berencana?" sedikit kesal dengan ucapan itu
"ya iyalah, itu juga termasuk pembunuhan berencana, karena mengancam seseorang dengan mengatakan ancamannya. gimana kalau saya trauma, takut ke kampus lagi, hayoo" ia malah terkesan menggoda dosennya itu.
Tidak ada tanggapan, ia hanya diam saja
Namun ketika Wina mau kembali ke tempat ia memeriksa tugasnya, hp nya berbunyi, masuk sebuah notifikasi. ia memeriksanya.
Namun siapa sangka notif itu membuatnya terkejut, dan langsung memperlihatkan pada pak Remon.
"lah? inikan saya?" ia juga terkejut melihat itu.
"penontonnya banyak banget pak, udah seribu lebih, dan dishare delapan ratus orang" Wina tampak semangat melihat itu
Sedangkan Pak Remon? ia malah syok? tidak menyangka ia direkam secara diam-diam oleh mahasiswa ketika ia mengajar tadi?
"hehehe sudah saya katakan pada bapak. bayangin aja deh kalau bapak jadi idola kampus ini. lihat ni, baru dua jam yang lalu malah gini reaksi mereka ketika bapak menjelaskan materi kepada mereka" Wina malah tertawa geli melihat ekspresi pak Remon.
"ini namanya kejahatan berencana" dengan suara kecewa ia berkata seperti itu, sambil menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, menunduk di meja itu
Wina malah semakin tertawa, lah? kok ada ya yang seperti ini?
"kan bagus kalo jadi idola kampus pak, kapan lagi kan?" Wina masih tertawa, dan tangannya malah ikutan komentar di postingan panas berita kampus ini
"jika saya jadi idola kampus, itu sangat merepotkan. saya tidak suka, nanti malah di kerumuni mahasiswa lainnya" dengan posisi seperti itu ia mengatakan pada Wina tentang kemungkinan ia menjadi kampus
"lah? bukannya itu bagus pak? banyak yang kenal dengan bapak sebagai dosen keren dibalik masker? hehehe" Wina memasukkan hp nya ke kantongnya lagi
Pak Remon menatap ke arah Wina, mata itu terlihat serius, membuat Wina terpaku
"emangnya kamu enggak cemburu kalau saya dekat cewek lain? kamu enggak sakit hati saya digombalin cewek lain? kamu enggak marah-marah kalau saya nantinya dibawa jalan-jalan sama mereka?"
Wina semakin terpaku dengan apa yang ia dengar? tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Benarkah itu yang diucapkan pak Remon padanya?.
"jika saya jadi idola kampus, bayangin aja kek gitu. pasti sangat repot banget, dan saya tidak bisa lagi menjaga perasaan saya yang biasanya"
setelah berkata seperti itu, ia pergi dari sana. namun sebelum itu. "jangan buat saya berpaling dari apa yang saya simpan selama ini untuk kamu" bisiknya
"oke, saya duluan, karena saya ada janji untuk les privat dengan kelas lain, saya harap kamu enggak kemalaman pulangnya"
pak Remon mengambil tasnya, dan benar-benar meninggalkan tempat. Wina seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar tadi.
jadi selama ini? sikapnya itu?
hehehe sampai itu aja ya ceritanya 😘