Sudah lama nggak nulis cerpen, karena lagi ada ini dan itu hehe. oh iya, kali ini aku akan menceritakan cerpen tentang kereta yang mengantar ke surga dan neraka. Aku dapat ide cerita ini dari mimpi sih. Belum lama aku mimpi tentang seorang pengantar bagi mereka yang meninggal, menuju stasiun.
Uniknya, di mimpi. Aku gak ada, rasanya kayak nonton film. Mengikuti kisah seseorang.
yuk, dimulai aja cerpen ini.
***
Beyond, The Last Express
Seorang pemuda dengan kemeja dalam putih, mengenakan jas, celana panjang dan sepatu hitam mengkilap. Rambut hitam pendeknya disisir rapih dan terlihat licin. Ia berdiri seakan menunggu di balik pintu masuk sebuah stasiun diantara kekosongan putih di sekelilingnya. Tak jarang ia melihat arloji tangan dari saku jasnya. Hingga munculah seorang pria tua menghampirinya.
"Selamat datang, tuan," Sapa pemuda itu penuh hormat dan ramah, kepada pria tua yang baru saja datang. "Aku adalah seseorang pengantar yang akan menemani tuan, menunggu jemputan tuan ke tempat yang lebih baik."
sesungguhnya pria tua itu penuh dengan tanya di dalam benaknya, seakan sulit untuk menanyakan yang mana lebih dulu. Hingga ia mulai bertanya pertanyaan paling sederhana, "Kemana tepatnya aku akan pergi?"
Seakan mengalihkan pertanyaan dari jawaban, si pemuda memintanya untuk mengikutinya, "Silahkan ikuti aku, tuan."
Tanpa ragu, pria tua itu mengikuti pemuda itu, hingga mereka duduk di sebuah peron stasiun menunggu kereta. Terlihat ekspresi wajahnya masih penuh pertanyaan, pria tua itu. Meski melainkan ia hanya terdiam. Pemuda itu selalu memberikan cerita yang menyenangkan dan pujian ramah kepada pria tua itu.
Hingga kereta datang dengan suara alarm khasnya. Asap putih dari cerbongnya mulai menguap keatas dengan tebal. Pemuda itu berdiri dan mempersilahkan pria tua itu untuk segera berdiri juga. Pintu kereta mulai terbuka, si pemuda meminta pria tua itu lekas masuk kedalam kompartemen, berkata dengan senyum hangat, "Tuan, telah menjalani hidup yang baik selama ini, silahkan masuk."
Pria tua itu agak ragu untuk memasuki kompartemen kereta. Ia masih berdiri di stasiun dan menatap balik si pemuda, dengan kata yang meyakinkan. Pria tua itu lekas masuk ke dalam kereta.
Selama bertahun-tahun si pemuda, mulai banyak mengantar orang-orang masuk ke dalam kereta yang menuju surga ataupun neraka. Beragam juga karakteristik dan sikap setiap orang yang ia antar. Ada yang dengan mudah menaiki kereta kebanyakan. Ada juga yang tahu kemana tujuannya dan memberontak dengan mencoba lari dari stasiun. Meski begitu, pemuda itu tetap mengikuti prosedur kerjanya, bahwa ia harus ramah kepada semua orang yang ia antar.
Pemuda itu mulai tumbuh menjadi dewasa dan semakin tua. Hari dimana ia akan digantikan dengan pengantar yang baru pun datang.
Di lain hari, di stasiun yang sama. Seorang pengantar baru, pengantar pria yang terlihat usianya seperti masih 30 tahun, mengantar seorang pria tua yang ragu dan penuh ketakutan. Seperti biasa dengan ramah, sang pengantar berkata, "Selamat datang tuan, anda terlihat tidak nyaman. Biar aku bantu mencerahkan suasana hatimu, hari ini."
Dengan memejamkan mata, pria tua itu merasa dirinya lebih percaya diri dan terasa lebih menyenangkan. Bahkan saat ia melihat sebuah tiang penyanggah perak stasiun yang mengkilap, terlihat refleksi dirinya, ia melihat dirinya menjadi lebih muda, bahkan sangat muda sekali.
"Sekarang bagaimana? Sudah merasa lebih nyaman?" Tanya sang pengatar ramah.
Pria tua yang usianya terlihat seperti 20 tahun itu, menjawab dengan anggukan. Lalu mengikuti arahan sang pengatar menuju peron dimana mereka duduk menunggu kereta.
"Tidak perlu khawatir," Ucap sang pengatar, yang duduk bersampaingan dengan pria tua dengan penampilan lebih muda itu. "Kehidupanmu akan jauh lebih baik. Aku menjamin hal itu... Bagimana, jika aku bernyanyi untukmu sambil menunggu."
Sang pengantar mulai membuka mulutnya untuk bernyanyi. Tetapi, si pria tua dengan penampilan lebih muda di sampingnya tak bisa mendengar apa-apa. Tidak ada suara sama sekali. Bahkan meski ia telah berkata, "Aku tidak mendengar apapun." sang pengatar tetap bernyanyi.
Sang pengantar hanya terlihat seperti membuka dan menutup mulutnya tanpa suara sedikitpun.
Selesai bernyanyi, sang pengantar menatap pria tua dengan penampilan lebih muda yang duduk di sampingnya berkata, "Bagaimana? Oh ya, anda mendengar itu?"
Terdengar suara bising, seperti bunyi dengung.
"Itu irama, dari tekanan bumi." Jelasnya.
Aneh rasanya, bahwa sang pengantar itu mengingatkannya sesuatu, wajah yang tak asing terlihat seperti dirinya dengan versi usia yang berbeda. Saat tersadar, si pengantar telah menghilang. Ia mengerti bahwa yang mengantarnya pergi adalah dirinya sendiri dan ia ingat bahwa ia jugalah pernah menjadi seorang pengantar.
"Kereta anda belum datang?" Sapa seseorang. Pakaiannya berbeda dari seorang pengantar. Lebih terlihat seperti pakaian kondektur kereta, dengan seragam serba hitam. "Bagaimana kalau aku akan membawa anda berkeliling dulu, mungkin banyak hal yang belum pernah anda lihat selama masa bekerja anda. sepertinya juga, kereta anda akan datang cukup terlambat."
Dengan mudah, pria tua yang sekarang adalah pemuda itu mengikuti sang kondektur. berjalan-jalan menelusuri peron stasiun.
Sambil berjalan, kondektur itu berkata, "Kehidupan akan selalu berjalan pergi dan akan kembali pada waktunya, mungkin juga itu bisa sebagai pilihan atau sebagai hukuman. Tidakkah pernah anda bertanya kenapa kita bisa berada disini? Banyak dari kita berfikir bahwa kita adalah malaikat maut... Kurasa itu salah. Kita ada kita, manusia. Hanya saja kita sedikit berbeda?"
Mereka-pun tiba di ujung peron yang memperlihatkan peron lainnya diantara asap putih yang mulai memudar.
Kondektur itu menunjuk dengan telunjuk tangan kanannya, mengarah di sebuah peron yang agak jauh, terlihat disekitarnya di tumbuhi bunga putih, entah itu bunga jenis apa. Ia menjelaskan, "Disanalah, bagi mereka yang menaiki kereta langsung menuju surga. Kebanyakan adalah anak-anak yang tidak memiliki kesempatan melihat indahnya dunia, dimana seharusnya mereka terlahir dan mendapatkan kasih sayang."
Angin berhembus, menghempas wajah si pemuda, tercium aroma yang sangat sejuk dan wangi yang lembut.
"Anda merasakannya juga bukan, bahwa mereka sangat tak ternoda dan suci." Tanya kondektur yang mengantar pria tua dengan penampilan pemuda itu.
Tak lama terdengar suara alarm kereta yang memekakan telinga. Suhu di sekitar jadi terasa lebih panas bagai menusuk kulit. Sebuah kereta hitam dengan kepala ujungnya yang terbakar, asap hitam mucul dari cerobongnya, baunya seperti belerang dan mesiu. Berjalan cepat melewati peron dimana pria tua berpenampilan pemuda dan kondektur itu berdiri. Terdengar suara jeritan dan tangisan. Bahkan membawa sebuah perasaan takut yang amat mendalam hingga menusuk ke dalam hati. Hal itu menghilang hingga kereta itu pergi menjauh.
"Itulah kereta yang langsung menuju neraka paling bawah." Jelas Kondektur itu. Yang sekarang mengajak si pria tua dengan penampilan pemuda menyebrangi beberapa rel menuju peron lainnya.
Sampailah disebuah peron yang tak terurus, terlihat peron lainnya menghilang tertutup asap putih yang berubah menjadi kelabu. Di bawah peron itu diantara relnya. terdapat beberapa mawar merah yang tumbuh cukup berjarak, beberapa mawar terlihat nyaris layu. Tak lama beberapa pengatar yang lewat, menaruh biji cemara melingkari mawar yang layu tersebut. Mengejutkannya, mawar merah itu kembali tumbuh dan mekar dengan indah.
Kondektur itu menjelaskan, "Disinilah tempat yang paling spesial... Dimana bagi mereka, anak-anak yang terlahir ke dunia dan tumbuh dengan mandapatkan manupulasi duniawi, tidak dapat membedakan hal yang baik dan mana yang buruk. Hal yang baik bisa menjadi sangat baik, dan hal yang buruk bisa menjadi baik, karena mereka berfikir selama itu baik bagi mereka... Mereka adalah orang yang perlu di kasihani... Dan perlu mendapatkan bimbingan disini..."
Ada perasaan aneh yang menyelimuti pria tua dengan penampilan pemuda itu. Perasaan yang berkecambuk. Matanya mulai terasa panas hingga mengalirkan air mata. Tangisnya tak lagi bisa terbendung dan ia luapkan begitu saja. Membuat ia terjatuh menekukan lututnya.
"Kenapa anda menangis?" Tanya kondektur itu dengan ramah.
"Aku tidak tahu, aku juga tidak mengerti." Jelas pria tua dengan penampilan pemuda itu.
Kondektur itu ikut berlutut dan menepuk pundak pria tua dengan penampilan pemuda itu, ia mengatakan, "Menurutmu, kenapa. Kita selalu diajarkan untuk tersenyum dan menahan perasaan kita selama tumbuh dan bekerja disini? Membuat mereka yang kita antar tidak perlu merasa khawatir dan jauh dari perasaan takut. Itulah tugas kita, siapapun orang yang kita antar dan kereta mana yang akan mereka naiki, kita membuat mereka mengetahuinya bahwa mereka tidaklah sendirian. Hal itu, bukan hanya berlaku untuk kita, tetapi untuk mereka juga. Dengan begitu kita bisa memberikan cerminan baik kepada mereka, meski tiket kereta yang membawa mereka adalah cerminan mereka sendiri dan segala hal yang akan mereka pertanggung jawabkan. Meski mulut anda mengakatan tidak mengerti, sepertinya tubuh, jiwa dan perasaan anda mengatakan sebaliknya."
Kondektur itu membantu pria tua dengan penampilan pemuda itu berdiri dan kembali berjalan menuju peron dimana mereka seharusnya berada.
Kereta mulai datang, membukakan pintu masuk ke dalam kompartemen. Pria tua itu melihat kaca yang merefleksikan dirinya, bahwa ia telah kembali terlihat seperti pria tua. Saat menoleh, seorang pemuda di belakangnya, yang tak asing adalah dirinya sendiri berkata, "Tuan, telah menjalani hidup yang baik selama ini, silahkan masuk."
Kereta yang pria tua itu naiki lekas menutup pintunya, terdengar suara alarm kereta menandakan keberangkatannya. Dari balik jendela, ia melihat dirinya versi muda masih berdiri di peron tersenyum menatapnya. Kereta itupun perlahan berjalan pergi menjauh, hilang diantara panorama putih lenyap.
tamat.