Sinta mencintai Harry, sangat mencintai kekasihnya itu. Ia ingin membina rumah tangga dan membangun masa depan bersamanya. Tetapi, ada satu yang membuat ia ragu. Calon mertua. Sinta sangat takut dengan calon mertuanya. Ayah Harry terkenal dengan video ia memarahi seseorang di lapangan basket. Dan Ibu Harry adalah dosen Sinta di universitasnya.
Apa yang akan Sinta lakukan? Menghadapi kedua orang tua Harry, atau merelakan cintanya karena ketakutan yang melingkupi dirinya.
-
-
-
Selamat Membaca 💖
Di suatu malam yang bertabur bintang. Sepasang kekasih berdiri di depan sebuah restoran bintang lima. Sang wanita menolak masuk ke restoran tersebut, sedangkan si pria berusaha membujuk dan menenangkan kekasihnya itu.
"Bagaimana kalau mereka tidak menyukai ku? Dan menolak ku menjadi menantunya? Serius aku takut banget" rengek seorang wanita berpenampilan manis tersebut.
Ia memegang erat lengan berotot kekasihnya, menahannya agar tidak masuk ke dalam restoran bintang lima tersebut.
"Sayang, mereka tidak mungkin menolakmu. Cucu mereka sudah ada bersama mu" kata pria yang bernama Harry itu. "Tetapi untuk menyukaimu...aku tidak menjamin" lanjutnya dengan nada bercanda.
"Tuh kan kamu saja tidak bisa menjamin bagaimana dengan aku!" wanita itu merengek lebih kencang, bahkan air matanya telah menumpuk di pelupuk matanya.
"Sudah dong sayang jangan menangis. Kasihan adik bayinya kalau mommynya sedih" Harry menghapus air mata kekasihnya yang bernama Sinta itu. Kemudian ia membawanya ke dalam pelukannya.
Sinta langsung memeluk pinggang Harry erat, tak ingin melepaskan kekasih tercintanya.
"Jangan nangis lagi yah?" Harry menunduk menatap mata wanita itu.
Sinta mengangguk pelan.
Harry tersenyum dan ia pun mengecup puncak kepala Sinta.
"Kamu tidak usah mengkhawatirkan kedua orang tua ku. Aku yakin mereka pasti menyukaimu, masa mereka tidak menyukai wanita semanis dirimu. Hm" Sinta mengangguk sekali lagi sambil menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Harry.
"Kita masuk kapan pun kamu siap. Aku tidak akan memaksa mu" bisik Harry tepat di puncak kepala Sinta.
Mereka berpelukan selama beberapa menit. Dan ketika Sinta telah memantapkan hatinya, ia pun melepaskan pelukannya dari tubuh Harry dan menatap pria itu yakin.
"Aku sudah siap" ujarnya cukup yakin. Setidaknya untuk saat ini.
Harry tersenyum senang. Ia pun menggenggam sebelah tangan Sinta dan mereka berjalan memasuki restoran tersebut.
Keluarga Harry yang terdiri dari Ayah, Ibu, dan kakak laki-laki menunggu mereka di sebuah meja yang cukup besar. Meja yang dihiasi dengan lilin-lilin indah dan dekorasi yang tak kalah indahnya.
Ketika mereka tinggal beberapa langkah lagi mencapai meja keluarga Harry. Langkah Sinta terhenti dan tubuhnya sedikit bergetar.
Harry bingung. Ia menoleh kearah Sinta dan mengecek kekasihnya itu.
"Are you oke?" tanya Harry khawatir.
"Iya" perkataan dan bahasa tubuh Sinta tidak sinkron. Walau ia berkata 'Iya' tetapi tubuhnya tegang dan gemetar yang membuat Harry sangat khawatir.
"Sayang, kalau badan kamu terus bergetar seperti ini, aku akan segera membawa mu ke rumah sakit"
Mendengar perkataan Harry, Sinta langsung memegang lengan pria itu dan menatapnya serius.
"Aku baik-baik saja, serius, aku baik-baik saja" ujar wanita itu.
Harry terdiam selama beberapa detik. "Baiklah. Kalau begitu apa kita bisa menghampiri keluargaku?"
Sinta mengangguk pelan.
"Everything will be oke babe. Everything" tekan Harry.
Mereka pun melanjutkan langkah mereka dan akhirnya sampai di meja tempat keluarga Harry berada.
Sinta memasang senyuman terbaiknya walau ia sangat yakin senyumannya pasti terlihat kaku. Ia mengeratkan pegangannya di lengan Harry dan pria itu menenangkannya dengan mengelus lembut punggung tangannya.
Sinta menunduk pelan menyapa kedua orang tua Harry dan juga kakaknya. Dan ketika kedua orang tua Harry menyuruhnya duduk, ia segera duduk di samping Harry.
"Apa kabar Sinta? Sudah lama aku ingin bertemu dengan mu" sapa Ibu Harry, Gemma.
"Aku baik Mrs. Johnson" balas Sinta dengan terus tersenyum.
"Aku dengar dari Harry kalau kamu berkuliah di collage london jurusan hubungan internasional, betul begitu?"
"Iya Mrs. Johnson" jawab Sinta pelan.
"Tidak usah terlalu formal Sinta. Panggil aku Gemma saja, kedepannya kita akan sering bertemu kan jadi tidak usah formal kepadaku"
Sinta mengangguk dan tersenyum lebih lebar.
"Kalau kamu berkuliah di collage london, kenapa kita tidak pernah bertemu? Atau kamu sengaja menghindar dariku?"
"Tidak tidak. Bukan begitu Mrs. Aku bukan mahasiswa yang aktif, aku hanya pergi ke kampus untuk berkuliah dan pulang ketika kelas berakhir" jawab Sinta cepat.
Gemma tertawa kecil, "Aku hanya bercanda Sinta, kamu terlalu kaku sehingga aku tidak tahan untuk tidak menjahilimu"
Sinta tertawa canggung membalas perkataan Gemma.
"Jadi sudah berapa minggu kehamilan mu?" mata Sinta membulat. Kepalanya secara perlahan menoleh kearah Harry dan meminta penjelasan kepada pria itu.
Ia tidak menyangka orang tua Harry tau tentang kehamilannya. Ia kira malam inilah Harry akan memberitahu keluarganya. Tetapi, apa yang ia dapatkan malah keluarga Harry sudah tau tentang kehamilan Sinta. Ia semakin takut kedua orang tua Harry akan menolaknya, dan lebih parahnya membenci dirinya.
"Enam minggu" kata Sinta pelan. Suaranya teredam oleh kegugupan dan ketakutannya.
"Apa orang tua mu sudah tau?" kali ini ayah Harry bersuara.
Sinta tertunduk dan mengangguk.
"Harry sudah berbicara dengan orang tua ku" jawab Sinta.
"Apa yang mereka katakan?" tanya ayah Harry--Henry.
"Mereka menyuruh kita untuk menikah" jawab Sinta terbatah-batah karena sangat gugup.
Henry mengangguk sekali. "Baiklah, kalian akan menikah secepatnya"
Kepala Sinta seketika terangkat. Mata terbuka lebar. Ia sangat terkejut sampai-sampai mulutnya membentuk huruf 'O' Ia kemudian berbalik menatap Harry, dan pria itu tersenyum bahagia.
"Aku tidak ingin cucu ku lahir sebelum kalian menikah" tambah Henry yang membuat kebahagiaan Sinta merosot turun.
Dari bawah meja, tangan Harry bergerak menyentuh telapak tangan Sinta. Ia menggenggam sebelah tangan wanita itu dan mengelusnya lembut. Ia berusaha menenangkan kekasihnya yang selama hamil sering sekali overthinking. Ia tidak ingin kekasihnya itu terlalu banyak berfikir dan jatuh sakit.
"Kalian tidak perlu memikirkan pesta pernikahan kalian. Biar aku dan ayah yang mengurusnya. Kalian fokus saja kepada anak kalian" kata Gemma dengan nada serius.
"Iya Mom" balas Harry.
***
Pesta pernikahan Harry dan Sinta diadakan dua minggu setelah acara makan malam tersebut.
Saat ini pesta pernikahan mereka masih berlangsung tetapi Sinta lebih dulu mengundurkan diri. Ia merasa sangat lelah dan tak bisa berdiri terlalu lama, sehingga Gemma menyarankan agar Sinta kembali ke kamar hotel dan beristirahat.
Dan disinilah dia. Di atas tempat tidur dengan berbagai makanan bergizi di depannya dan televisi yang menayangkan film romantis kesukaannya.
Ceklek
Sinta refleks menoleh kearah pintu. Pintu kamar hotel tersebut terbuka dan menampilkan Harry yang memakai tuxedo berwarna putih. Ia benar-benar terlihat seperti pengantin pria.
"Are you oke?" tanya Harry khawatir.
Sinta menganggukkan kepalanya.
Kening Harry terangkat melihat banyaknya makanan di hadapan Sinta. Ia menatap Sinta meminta penjelasan.
"Ibumu yang menyuruh ku memakan ini semua. Katanya bagus untuk ibu hamil"
Harry menggeleng dan tertawa kecil. Ia lalu duduk di depan Sinta dan membereskan piring-piring di hadapannya. Setelah membereskan piring-piring tersebut, Harry pun membantu Sinta untuk berbaring di atas kasur dan menarik selimut untuk wanita itu.
"Good night my angel. Sleep tight" bisik Harry di puncak kepala Sinta lalu memberinya kecupan panjang.
Di pagi hari.
Sinta dan Harry berencana kembali ke apartemen mereka. Mereka officially tinggal bersama, setelah berlari kesana kemari jika orang tua Harry ataupun orang tuanya mengunjungi apartemen mereka.
"Harry?" panggil Sinta ketika mereka baru saja memasuki apartemen mereka.
"Yes babe?" Harry menoleh kearah Sinta dan memeluk wanita itu.
"Apa sebaiknya kita mendekor kamar untuk anak kita sekarang?"
"Mmm apa tidak terlalu cepat?"
"Tidak. Kalau nanti-nanti, kehamilan ku semakin tua, perutku semakin membesar, jadinya aku tidak bisa leluasa mendekor kamar anak kita" rengek Sinta.
Harry menghembuskan nafas pelan. "Baiklah baiklah. Kita akan mendekor kamar anak kita, setelah pertandingan musim panas ku berakhir"
Raut wajah Sinta seketika berubah masam. Ia sedih mengingat Harry akan meninggalkannya. Pertandingan basket musim panas tidak pernah terlewatkan dalam daftar perlombaan Harry dan ia tidak bisa bersikap egois dengan melarang Harry untuk tidak mengikuti lomba itu. Ayah mertuanya akan marah jika Harry tidak mengikuti lomba tersebut.
"Kamu akan meninggalkan ku" kata Sinta pelan seraya melepaskan pelukannya dari Harry.
"Hanya seminggu sayang. Kita bahkan pernah tidak bertemu selama sebulan. Seminggu tidak akan terasa sayang"
"Tapi sekarang berbeda. Kita sudah menikah. Rasanya sangat...menyedihkan"
Harry gemas dengan kelakuan istrinya. Istrinya menjadi lebih manja dan cengeng selama kehamilannya. Tetapi Harry menyukai Sinta yang seperti itu, seakan-akan tak bisa hidup tanpa dirinya.
"Aku akan pulang secepat mungkin. Kamu bahkan tidak akan menyadari jika aku pergi" janji Harry. Pria itu membawa istrinya untuk duduk di sofa dan menyuruh wanita itu untuk meluruskan kakinya.
"Jadi aku akan sendirian disini selama kamu pergi?" tanya Sinta yang terus bersandar di dada Harry.
"Tidak, Mom menyuruh ku untuk membawa mu ke rumahnya"
Sinta seketika menoleh kearah Harry dengan mata membulat.
"Tidak bisakah aku tinggal disini sendirian saja?" Sinta berusaha membujuk Harry. Akan menjadi malam petaka baginya untuk tinggal di rumah mertuanya tanpa suaminya. Membayangkan saja Sinta sudah gemetar ketakutan.
"Aku khawatir meninggalkan mu sendirian" tolak Harry.
"Kamu tidak khawatir meninggalkan ku di rumah orang tua mu?"
Harry tertawa terbahak. "Kenapa mesti khawatir. Mereka pasti menjagamu dengan baik"
"Bagaimana kalau Dad memarahi ku karena melakukan pelanggaran?"
"Pelanggaran apa yang akan kamu lakukan?" tanya Harry seraya berusaha menahan tawanya.
"Apapun itu" jawab Sinta cepat.
"Sayang, kamu bukan atlet yang akan melakukan pelanggaran. Dan Dad tidak akan memarahi mu. Daddy tidak semenyeramkan penampilannya, dia pria yang pengertian" Sinta menyipitkan matanya, ragu dengan ucapan Harry.
"Percaya sama aku. Kamu akan baik-baik saja bersama mereka.
"Baiklah aku percaya dengan mu" kata Sinta pasrah.
Harry tersenyum lembut.
"Sebelum berangkat. Bisakah kita bermesraan sepanjang hari?" bisik Harry tepat di lekukan leher Sinta. Sinta hanya membalasnya dengan tertawa geli.
***
Sinta dan Harry telah sampai di rumah orang tua Harry. Harry menekan bell dan terbuka lah pintu rumah tersebut. Gemma menyambut mereka dengan senyuman khas di wajahnya.
"Ayo masuk" ajak Gemma sambil membantu Sinta menaiki tangga.
Mereka duduk di ruang tamu, dimana Henry telah berada disana. Tak lama pembantu di rumah mereka datang sambil membawa dua gelas minuman. Segelas adalah smooties buah dan sayuran, dan segelas lainnya adalah minuman protein.
"Minum sampai habis, kau butuh tenaga untuk bermain di pertandingan itu" perinta Henry kepada anaknya.
Harry mengangguk patuh dan dengan sekali tarikan nafas ia menghabiskan minuman protein tersebut.
"Sinta minum smooties ini. Ini bagus untuk kesehatanmu" pinta Gemma.
Sinta menerima gelas tersebut seraya memaksakan senyumannya. Ia lalu mengambil sedotan dari dalam tasnya dan meminum perlahan smooties tersebut.
"Aku akan berangkat sekarang" ujar Harry.
Sinta seketika berhenti meminum smootiesnya dan menatap Harry sedih. Harry memberi kode lewat wajahnya memberitahunya jika semua akan baik-baik saja. Setelah itu ia berpamitan kepada ayahnya yang tentu saja memberinya masukan-masukan untuk mengalahkan lawannya.
Setelah berpamitan kepada orang tuanya. Harry pun menghampiri Sinta dan memeluk wanita itu.
"Jangan sampai terluka. Jaga baik-baik tubuh ini. Tubuh ini milikku" ancam Sinta dengan nada menggemaskan.
"Sering-sering menelfon ku" pinta Sinta lagi.
"Iya" balas Harry.
"Jangan pergi terlalu lama"
"Iya"
"Cepat pulang"
"Iya sayang. Sudah merengeknya?" Harry menatap lekat wajah Sinta. Dan wanita itu mengangguk pelan.
"Good girl. Aku pergi sekarang yah" pamit Harry. Sinta mengangguk dan ia pun mengantar Harry hingga ke depan pintu.
Ia melambaikan tangan kepada Harry hingga mobil pria itu tak terlihat lagi. Ia kemudian berbalik dan langsung bertatapan dengan ayah Harry.
"Tidak perlu khawatir, dia akan baik-baik saja. Dia akan menang" ujar pria paruh bawa tersebut.
"Hehe iya. Aku percaya kepada Harry" balas Sinta. Henry mengangguk sekali lalu berjalan memasuki ruang kerjanya.
"Sinta" panggil Gemma dari depan tangga. Sinta berbalik menghadap ibu mertuanya tersebut.
"Pergilah beristirahat di kamar Harry" Sinta mengangguk dan Gemma pun membawa Sinta menuju kamar Harry yang berada di lantai dua.
Di sore hari. Sinta merasa bosan terus berada di kamar. Ia pun memutuskan untuk keluar dan bersosialisasi dengan keluarga suaminya.
Ia berjalan menuju ruang tengah dan disana ada kedua mertunya. Gemma menyuruh Sinta untuk duduk di dekat mereka dan dengan patuh Sinta mengikuti perintahnya.
Tak lama Gemma datang membawa sebuah piring berisi waffle buah-buahan. Ia memberikannya kepada Sinta dan duduk di samping wanita itu.
"Harry memberitahu ku kalau selama hamil kamu menyukai makanan manis" kata Gemma lembut.
"Iya Mom"
"Makan lah"
Sinta mengangguk dan mengambil sepotong waffle tersebut. Setelah menghabiskan potongan pertama wafflenya Sinta tanpa sengaja bertatapan dengan Henry yang sedari tadi memperhatikannya.
"Apa wafflenya enak?" tanya Henry.
Sinta mengangguk pelan. "Daddy mau?" tawar Sinta.
"Tidak usah, kau saja yang makan" tolak Henry. Sinta mengangguk sekali dan melanjutkan makannya.
Tidak terasa sudah hampir seminggu Sinta berada di rumah mertuanya. Sinta menyadari jika perkataan Harry tempo hari benar adanya. Ayahnya tidak semenyeramkan penampilannya. Pria itu memang berwajah datar, jarang tersenyum, dan berbicara seadanya, tetapi pria paruh baya itu berhati lembut. Ia memperhatikan Sinta layaknya anak perempuannya sendiri.
Begitupun dengan ibu mertuanya. Di kampus, wanita paruh baya itu terkenal tegas dan ditakuti oleh mahasiswa. Tetapi, ketika di rumah ia berbeda 180 derajat. Ia menjadi ibu rumah tangga yang sangat perhatian. Ia memperhatikan Sinta hingga ke detail-detailnya. Perlahan-lahan Sinta mulai terbiasa dengan kedua orang tua suaminya tersebut.
Sinta tengah bersantai dengan kedua mertuanya di taman belakang rumah mereka. Sinta merendam kakinya di dalam kolam renang sambil memikirkan nama anaknya nanti.
Tiba-tiba seseorang menutup mata Sinta dan berbisik, "Coba tebak siapa aku?"
Mendengar suara tersebut Sinta langsung melepaskan tangan orang tersebut dan memeluknya.
"Aku merindukan mu" ujar Sinta manja. Harry tertawa kecil sambil menyambut pelukan istrinya tersebut.
"Kamu baik-baik saja kan disini?" tanya Harry.
Sinta mengangguk cepat. "Ayah dan Ibu merawatku dengan sangat baik. Bahkan lebih baik darimu" jawab Sinta dengan menyombongkan mertuanya.
Harry terkekeh pelan. "Aku senang mendengarnya" ujar Harry lega.
"Bagaimana pertandingan mu? Apa kamu menang?" tanya Sinta bersemangat.
"Mmm..." Harry menggoda Sinta.
"Ayolah cepat beritahu aku" rengek Sinta.
"Tentu saja aku menang. Juara satu" Harry mengeluarkan mendali dari dalam kantongnya dan memberikannya kepada Sinta.
Sinta mengambilnya cepat dan langsung memeluk suaminya. "I'm so proud of you" puji Sinta tulus.
Harry merasa bahagia mendengar perkataan Sinta tersebut.
Malam harinya, Gemma dan Henry merayakan kemenangan Harry. Gemma membuat banyak makanan dan mereka makan malam dengan khidmat.
Setelah makan malam, Sinta dan Harry menuju kamar mereka untuk beristirahat. Harry yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang menggantung di pinggangnya. Sinta yang berada di atas tempat tidur tak dapat melepaskan pandangannya dari Harry.
Harry menggunakan pakaian secepat kilat dan menghampiri Sinta. Ia duduk di samping istrinya dan memeluk wanita itu.
"Kamu semakin seksi selama hamil" kata Harry dengan suara rendah.
"I know" balas Sinta yang membuat Harry terkekeh.
Harry merebahkan tubuh Sinta dan memeluk wanita itu dari belakang. Tangannya berjalan memasuki baju tidur Sinta dan mengelus perut Sinta yang perlahan mulai membesar.
"Babe, not in here" bisik Sinta.
"But i miss you" kata Harry terdengar seperti merengek.
"Mom dan Dad bisa mendengar kita. Aku malu"
"It's oke. Kita sudah menikah" bujuk Harry.
"Tetap saja aku akan malu" gumam Sinta.
***
Tidak terasa kehamilan Sinta telah memasuki bulan ke delapan. Tidak lama lagi ia akan melahirkan. Perkiraan dokter, ia akan melahirkan sekitar dua minggu lagi. Dan selagi menunggu kelahirannya, Harry selalu membawanya berjalan-jalan untuk melepas stress. Wanita itu semakin overthinking ketika kehamilannya semakin membesar.
"Aku ingin memakai kacamata hitam" pinta Sinta kepada Harry. Harry mengangguk sekali dan bergegas mengambil kacamata mereka di dalam kamar.
Setelah itu, ia memberikannya kepada Sinta dan mereka pun berjalan keluar dari apartemen menuju lift. Harry memencet tombol parkiran dan menunggu selama beberapa detik.
"Kamu membawa semuanya kan? Tidak ada terlupakan kan?" tanya Sinta memastikan sekali lagi, sebab suaminya itu tipe pelupa dan ceroboh sehingga ia harus terus mengingatkannya.
"Sudah semuanya sayang. Tidak perlu khawatir. Kali ini kamu bisa mengandalkan ku" ujar Harry.
"Baiklah. Aku percaya kepadamu"
Harry pun mulai menjalankan mobilnya. Mereka keluar dari apartemen dan menuju central park yang terletak setengah jam dari rumah mereka.
Sesampai di taman. Harry membantu Sinta keluar dari mobil dan menuntun Sinta untuk berjalan memasuki taman. Mereka memilih tempat di bawah pohon dan menghadap kolam ikan.
Harry menggelar karpet piknik mereka dan menaruh keranjang piknik di tengah-tengah karpet tersebut. Setelahnya, ia membantu Sinta untuk duduk di atas karpet tersebut.
Setelah duduk, Sinta mengatur kotak makan mereka dan membuka satu persatu tutup kotak makan tersebut.
"Aku sudah memilih nama untuk anak kita. Aku ingin mendengar pendapatmu" ucap Sinta sambil menyuapkan sebuah anggur kepada Harry.
"Aku ingin mendengarnya" balas Harry.
"Jika anak kita perempuan namanya adalah Helena kita bisa memanggilnya Helen. Dan jika dia adalah laki-laki maka namanya adalah Hugo. Bagaimana?"
"Helena dan Hugo? Terdengar lucu"
"Lucu kan? Makanya aku memilih nama tersebut"
"Kenapa mesti berawalan H?" tanya Harry bingung.
"Bukannya itu adalah peraturan tak tertulis di keluarga kalian? Nama Dad berawalan huruf H, kakakmu juga H, begitu pun dengan nama kamu. Jadi aku menyimpulkan jika nama anak kita juga harus berawalan dari huruf H" jawab Sinta. "Dan Helena--Hugo adalah pilihan terbaik" tambahnya.
Harry senang melihat wajah berbinar Sinta. Tak lama lagi mereka akan bertemu dengan buah hati mereka. Mereka sengaja tak ingin tau jenis kelamin anaknya sebelum dilahirkan. Kata Harry biar itu menjadi kejutan untuk mereka.
"Babe" panggil Sinta. Harry mengangkat wajahnya menatap wanita itu.
"Ibu ku menginginkan kita untuk tinggal bersamanya setelah aku melahirkan" kata Sinta pelan, menunggu balasan Harry.
"Apa kita akan tinggal di rumahnya?" tanya Harry memastika.
"Sepertinya begitu" jawab Sinta.
"Tidak bisakah jika Ibu saja yang tinggal di rumah kita? Kamu tau kan rumah Ibu jauh dari rumah sakit. Aku takut terjadi apa-apa kepadamu dan jarak rumah Ibu dari rumah sakit terdekat lebih dari dua jam" ucap Harry hati-hati. Ia tidak ingin sampai Sinta merasa tersinggung.
"Kamu benar. Akan lebih baik jika Ibu yang tinggal di rumah kita" balas Sinta. Harry mengangguk dan menghembuskan nafas lega.
"Mom dan Dad tidak apa-apakan kalau Ibu tinggal bersama kita?" tanya Sinta mengkhawatirkan mertuanya.
"Aku akan berbicara dengan Mom. Aku yakin dia akan mengerti" jawab Harry.
Sinta mengangguk pelan.
Tiba-tiba ponsel Harry berbunyi, terdapat panggilan video dari Gemma. Harry langsung mengangkat panggilan video tersebut dan menyapa Ibunya.
"Hai Mom!"
"Kamu dimana?" tanya Gemma di seberang sana.
"Di taman, piknik bersama Sinta" Harry mengarahkan kamera ponselnya ke wajah Sinta.
"Halo Mom" sapa Sinta sambil melambaikan tangan.
"Bagaimana kabarmu Sinta? Apa baik-baik saja?" tanya Gemma.
"Iya Mom. Aku baik-baik saja" jawab Sinta.
"Bagaimana kata dokter, kapan persalinan mu?"
"Sekitar dua minggu kedepan"
"Kamu sudah mempersiapkan segala kebutuhanmu?"
"Iya Mom. Semuanya telah tersusun di kamar anak kami"
"Good. Jika terjadi kontraksi segera hubungi aku yah"
"Iya Mom"
Harry mengarahkan kamera ke wajahnya kembali. "Mom sudah dulu yah, aku mau berpacaran dengan istriku, jangan mengganggu kami. Bye!" Harry segera mematika panggilan video mereka dan menyimpan ponselnya di dalam kantong celana.
"Cepat lahir anakku, Daddy tak sabar bertemu denganmu" ucap Harry di depan perut buncit Sinta seraya mengelus lembut perut tersebut.
Setelah dari taman, malam harinya mereka memutuskan untuk makan malam di salah satu restoran langganan mereka. Restoran yang terletak beberapa blok dari rumah orang tua Harry.
Ketika makanan mereka datang, tiba-tiba saja Sinta merasakan sakit luar biasa di perut dan belakangnya. Ia mencengkram erat lengan Harry dan menangis keras.
"Harry sakit!" pekik Sinta seseguhan.
Harry pun menjadi panik. Ia meminta tolong kepada orang di sekitarnya dan mereka pun merebahkan Sinta di atas lantai.
"Sepertinya dia mau melahirkan Sir" ujar salah satu pengunjung restoran tersebut.
Mendengar perkataan wanita paruh baya itu. Harry semakin panik, bahkan tangannya bergetar saat menekan nomor ponsel ayahnya.
"Ya Harry?" sapa Henry.
"Dad Sinta mau melahirkan! Cepat kesini, kami berada di restoran La Pasta!" pekik Harry panik.
Diseberang sana, Henry sangat terkejut. Ia tak bisa berkata-kata dan hanya berjalan memutar. Setelah beberapa kali dipanggil oleh istrinya, ia pun memberitahu Gemma jika Sinta mengalami kontraksi.
Mereka segera memasuki mobil dan menuju restoran tersebut. Sesampai di restoran, ia dan Harry mengangkat Sinta memasuki mobil dan Henry berlari memasuki mobil, menjalankan dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit terdekat.
Sesampai di rumah sakit. Sinta langsung di bawa ke ruang persalinan dan Harry berada di sisinya, mendampingi istrinya selama proses persalinan.
Hingga terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang persalinan. Henry, Gemma dan kedua orang tua Sinta menangis terharu. Mereka bahagia ketika sang dokter keluar dari ruangan tersebut dan memberi mereka kabar jika persalinannya berjalan lancar. Ibu dan anaknya selamat dan anaknya terlahir sempurna dengan jenis kelamin laki-laki.
Setelah di bersihkan, dan Sinta pun telah sadar dari obat biusnya. Orang tua Harry memasuki kamar rawat mereka. Ia tersenyum melihat Sinta yang tengah menggendong anaknya.
"Terima kasih telah menghadirkan malaikat kecil di keluarga kami Sinta. Kami menyayangimu" ujar Gemma sambil menitikkan air mata. Disampingnya, Henry tersenyum kearahnya dan mengelus kepala Sinta lembut.
Pilihan Sinta untuk menikah dengan Harry adalah pilihan terbaik yang pernah ia ambil semasa hidupnya. Ia mendapatkan cinta sejatinya dan ketakutan yang selama ini menghantuinya menghilang secara perlahan.
Saat ini dan seterusnya Sinta hanya merasakan cinta dan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya.
END.