[ Romantis ] GUARDIAN ANGEL
Author: Avaya 0627
“ putri Raja akhirnya jadi putri yang pemberani. Karena Tuhan mengirimkan dia seorang guardian angel. ” Seorang ibu menyelesaikan ceritanya kepada anak berusia enam tahun.
“ ma, apa Vio juga memiliki guardian angel? ” anak bernama Viona bertanya kepada ibunya. " pasti sayang. Tuhan sudah memilih satu guardian angel untuk menjagai setiap kita yang lahir di bumi ini. Supaya kita bisa kuat menjalani apapun yang akan kita alami. Vio juga harus berani. Vio harus percaya sama Tuhan kalau Tuhan menjaga Vio lewat guardian angel. ”
Seseorang terbangun karena jatuh dari tempat tidur. “ mimpi itu datang lagi ” Viona yang sudah berusia lima belas tahun memegang tangan dan kepalanya yang sakit akibat jatuh dari tempat tidur. “ pagi pa ” Viona menyapa orang tuanya. “ itu kepala kenapa merah begitu? ”
Anton bertanya.
“ papa, cerita mama masih saja nempel di kepala Vio. Viokan sudah bukan
anak kecil lagi yang percaya sama cerita dongeng tentang guardian angel. ” Mendengar itu ayahnya hanya tertawa.
“ sudah sekarang sarapan! Nanti telat ke sekolah. ” perintah Anton ayahnya.
Ibu Viona meninggal lima tahun yang lalu karena sebuah kecelakaan.
***
Di sekolah ada dua orang bersaudara yang sangat dikagumi oleh siswa perempuan dan menjadi saingan buat para siswa laki-laki. Mereka adalah Arsen dan Albert.
Arsen sudah kelas XII sementara Albert kelas X sekelas dengan Viona. Meskipun bersaudara mereka memiliki kebiasaan yang berbeda. Albert lebih terlihat dingin, keren, pilih-pilih dalam berteman, pintar, dan berpenampilan menarik. Dia sangat misterius.
Hal itu membuat banyak yang penasaran.
Tidak hanya teman seangkatan bahkan kakak tingkatpun banyak yang penasaran.
Viona adalah temannya dari SMP. Semenjak SMP Viona sangat mengagumi Albert.
Kepribadian albert berbanding terbalik dengan Arsen. Arsen memiliki kepribadian yang santai. Dia lebih cuek dengan keadaan, gampang bergaul, cuek dengan penampilan, otak tidak sepintar adiknya.
Tetapi dia memiliki banyak teman. Jika Albert banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan dan laboratorium, maka Arsen lebih banyak menghabiskan waktunya di lapangan basket.
Viona salah satu siswa perempuan yang terpilih jadi tim basket sekolah.
Sebagai ketua tim basket sekolah Arsen bertanggung jawab untuk melatih tim.
Arsen memperhatikan Viona bermain
basket.
“ hei, nama kamu siapa? ” Arsen menanyakan nama Viona.
“ Viona kak ” Viona menjawab dengan menyebutkan namanya.
“ permainan kamu buruk sekali. Kamu harus banyak berlatih! ” Arsen menasehati Viona. Dia selalu berbicara apa adanya.
“ siap kak. ” Viona tidak tahu kalau laki - laki itu adalah kakaknya Albert.
Dia dan Albert baru lulus SMP dan langsung lulus tes untuk masuk SMA tersebut.
“ keren banget ” salah satu temannya memuji Arsen yang sudah pergi ke anak-anak yang lain.
“ gantengsih. Tapi aku sudah punya tipe sendiri. ” Viona menjawab temannya.
“ siapa yang perduli dia bukan tipe kamu atau bukan. Kan yang naksir dia itu aku bukan kamu. ” Mawar membantah ucapannya.
“ latihan hari ini cukup sampai di sini! Besok ketemu lagi. ” Arsen memberi aba-aba. Viona dan Mawar masuk ke sebuah ruangan untuk berganti baju.
“ Vio, kamu mau langsung pulang atau bagaimana? ” Mawar menanyakan rencana Viona. “ aku mau ke perpustakaan dulu. Ada buku yang harus aku cari. ” Viona menjawab pertanyaan sahabatnya.
“ mau cari buku atau mau lihat pangeran berkuda putih kamu. ” Mawar langsung
bisa menebak jika tujuan sahabatnya hanya untuk melihat Albert. Mendengar itu mereka
berdua tertawa.
Ketika Viona berjalan dari lapangan basket menuju perpustakaan, dia tidak
menyadari jika sebuah buku berwarna biru muda jatuh dari tasnya.
***
Di kamar, Viona sibuk membongkar laci, tas, dan mengacak acak tempat tidurnya. Dia
mencari buku hariannya tetapi tidak ketemu juga. Dia berpikir keras mencoba mengingat di mana terakhir dia meletakkannya. Semakin besar usahanya mengingat semakin dia tidak bisa mengingat apa-apa.
***
Keesokan harinya
Viona memperhatikan Albert yang sedang serius membaca buku. Ada yang membawakannya makanan, ada yang membawakannya hadiah, dsb.
Sebagai siswa baru Albert sangat cepat
mendapatkan perhatian. “ di sini ada peraturan tidak boleh bawa makanan. Kenapa bawa makanan ke perpustakaan? ”
staff yang bertugas di perpustakaan memberi peringatan.
“ rasain! Berani-beraninyasih cari perhatian Albert. ” Viona merasa senang karena para siswa perempuan yang mendekati pangerannya mendapat peringatan dari staff perpustakaan.
Albert justru meninggalkan mereka yang sedang mendapat peringatan.
Viona mengikuti Albert dari belakang. Albert menuju kantin Viona juga ke kantin.
Suasana kantin jadi heboh karena
kehadiran Albert. Tiba-tiba saja banyak yang menawarkan Albert traktiran. Melihat ada
beberapa yang mau traktir membuat Albert bingung,
“ maaf ya bukannya aku menolak. Tetapi aku masih bisa bayar kok. ” Albert menolak semua tawaran yang membuat mereka kecewa.
Ada juga yang menggunakan tugas sebagai alasan hanya untuk sekedar berbicara dengannya.
***
Viona bersiap-siap untuk pulang. Biasanya dia menggunakan bis layanan transportasi umum.
Viona duduk sambil termenung di halte bis.
“ jangan banyak melamun! Nanti ayam tetangga mati ” sebuah suara membuat khayalannya buyar.
Dia melihat laki-laki yang bertemu
dengannya tadi pagi.
“ kamu anak baru yang masuk di tim basket sekolahkan? ” Arsen bertanya dan Viona mengangguk.
“ yuk naik! Daripada nunggu bis sendirian. ” Viona berjalan ke arahnya.
“ nama aku Arsen. Aku bantu melatih anak-anak baru bermain basket. Tadi pagi
kita sudah bertemu. Kamu Vionakan yang permainannya jelek banget. ” Arsen tertawa dan memberi helm. Viona menjawab “ kakak mau ngantar pulang atau ngeledek? ” Viona tidak terima dengan bercandaan Arsen.
“ dua-duanya.” Arsen menjawab santai dan menawarkan helm untuk kedua kalinya. Vania menerima helm tersebut. Dia juga bosan jika harus menunggu bis sendirian.
***
Jam pelajaran sedang berlangsung. Guru serius menjelaskan pelajaran. Sementara ada murid yang bermain handphone di laci meja, ada yang pura-pura mendengar tetapi tidak mengerti.
Sementara Viona asyik memperhatikan Albert yang sedang mendengarkan guru.
“ okei, sekarang waktunya mengerjakan soal latihan di depan. ” Suara guru tiba-tiba
menghipnotis semua murid yang membuat mereka melihat ke papan tulis.
Ada yang jantungnya tiba-tiba berdetak kencang, ada yang mulai keringat keluar, ada yang kakinya gemetaran, ada juga yang berlagak tegar.
Guru kimia yang dikenal sebagai guru yang tidak punya toleransi sama murid memperhatikan ke semua murid.
“ Viona! Coba kerjakan soal yang ada di depan! ” pilihan jatuh kepada Viona yang masih tersenyum sendiri sambil melihat Albert.
“ saya bu? ” Viona menunjuk ke dirinya sendiri.
“ iya kamu! ” Viona maju ke depan
sambil melihat ke teman satu mejanya yaitu Mawar. Tatapan Viona sangat mengisyaratkan jika dia butuh bantuan sahabatnya.
Mawar memang jauh lebih pintar daripada dirinya. Mawar hanya mengangkat tangan dan menggelengkan kepala. Bukan tidak mau membantu tetapi Mawar tidak bisa membantu sama sekali. Ketika dia maju dia mengambil board marker sembari berpikir apa yang akan dia tulis di papan tulis.
“ kali ini mati aku! ” Viona berucap
dalam hati.
Tiba-tiba bel pertanda jam istirahat berbunyi. Viona menarik nafas lega dan
melihat ke arah gurunya.
“ bu, bunyi bel istirahat. ” Dengan tersenyum dia memberitahu gurunya.
“ saya juga tahu itu bunyi bel. Sekarang kamu kembali ke tempat duduk kamu! Okei
anak-anak. Jangan lupa kerjakan PR halaman 52 sampai ketemu minggu depan.
“ selamat ”
Viona menarik nafas panjang.
“ makanya kalau lagi belajar itu serius. Jangan senyum-senyum sendiri! Lama-lama bisa jadi gila ” Mawar mengoceh sambil membereskan bukunya.
Viona mengabaikan perkataan sahabatnya dengan merangkul. Dia melihat Albert sedang membereskan buku-bukunya.
***
Untuk menuju ke halte bis Viona harus berjalan dari sekolah. Ketika dia berjalan tiba-tiba dia melihat ada tawuran antara murid sekolahnya dengan sekolah lain. Dia panik antara meneruskan perjalanan atau dia balik ke sekolah. “ Tuhan, bagaimana ini? Kalau aku maju aku bisa kena celaka ”
tiba-tiba ada tangan yang memegang tangannya dan menariknya untuk
berlari. Berlari membuat nafas terputus-putus. Akhirnya mereka berhenti.
“ kak Arsen! ”
Viona baru sadar jika yang menolongnya adalah Arsen seorang siswa kelas XII yang dikenal karena bakatnya bermain basket.
“ kalau kamu kebanyakan mikir kayak tadi kamu itu sudah jadi korban. Kamu bisa saja kena lemparan batu atau sesuatu yang melukai kamu. ” Arsen
mengusap kepalanya.
“ kakak kok bisa tahusih Viona ada di sini? ” Viona bertanya namun diabaikan oleh Arsen “ lupakan saja! Sekarang kita pulang naik bis saja. Motor aku ketinggalan di sekolah. ” penjelasan Arsen membuat Viona bertanya
“ yakin kakak mau naik bis? ” Viona meragukan Arsen yang terlihat anak orang kaya. “ ya iyalah! Sekarang kamu mau
kemana? ” Arsen balik bertanya kepada Viona yang masih melihatnya. “ aku mau ke toko roti Papa. ” Ayah Viona memiliki toko roti dan kue. Jawaban Vania membuat Arsen bertanya.
“ papa kamu punya toko roti? ” Viona hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Orang tua Viona memang terbilang sukses di bidang usaha makanan.
“ Kebetulan banget aku suka makan
roti. Mama aku juga suka. Tetapi adik aku nggak terlalu sukasih ” Arsen menceritakan
keluarganya.
“ memangnya kakak punya adik? ” tanya Vania sambil melihat ke wajah Arsen.
“ kamu sekelas kok dengan adikku. Albert itu adik kandungku. ” hal itu membuat Viona
terkejut. Namun dia berusaha menutupinya
“ what!! kamu kakaknya Albert? ” bertanya
dalam hatinya seakan tidak percaya.
***
Untuk menarik perhatian Albert, Viona rela mengubah penampilannya. Mulai dari cara
berpakaian, rambut mulai panjang, melakukan perawatan wajah.
Karena menggunakan masker Anton hampir pingsan karena menyangkanya hantu.
***
Dua tahun kemudian
Tidak terasa Viona dan Albert sudah kelas XII. Tidak terasa sebentar lagi mereka akan lulus dan masuk ke perguruan tinggi. Viona tidak yakin jika otaknya yang pas-pasan bisa membantunya untuk masuk ke perguruan tinggi.
“ Mawar, kamu itu pintar pasti bisa masuk perguruan tinggi. Kalau aku bagaimana? Mungkin aku hanya akan nerusin usaha Papa di toko roti. ” Viona
membandingkan dirinya dengan Mawar sahabatnya.
“ bagus dong. Ingat! Toko Roti RASA TAK
TERLUPAKAN sudah berjasa banyak buat keluarga kamu. Apalagi sekarang toko rotinya sudah punya cabang. ” Mawar seperti mendukung perkataan Viona.
“ iyasih. Keahlian aku ya hanya
membuat roti. ”
Dari SMP Viona belum berubah. Dia masih mengagumi Albert. Viona selalu optimis jika dia bisa mendapatkan cintanya. Menurut dia Albert adalah pasangan yang tepat karena Albert sangat pintar sementara dia IQnya pas-pasan.
“ hai Bert, ini aku bawa roti buat kamu. Aku yang bikin sendiri lho. ” Viona memberikan paperbag yang berisi roti kepada Albert. “ okei. Thanks ya ”
Albert mengambil dari tangannya dan langsung pergi.
Melihat itu Mawar beberapa kali menggelengkan kepalanya.
“ Vio, sudahlah! Kenapa kamu tidak move on saja sih. Itu orang sama sekali tidak menganggab kamu. ” Mawar sahabatnya memberi saran. Dia mengabaikan
perkataan sahabatnya.
“ namanya juga cinta, ya harus diperjuangkan. Semangat…! " Viona
mengepal tangannya dan membuat Mawar menggelengkan kepala.
***
“ Bert, ini roti siapa? ” ibunya bertanya setelah membuka paperbag yang ada di atas meja.
“ dari teman ma. Kalau mama mau boleh kok dimakan. Albert nggak mau soalnya. Bosan makan roti terus. ”
Pada dasarnya Albert tidak terlalu suka roti. “ aku mau! ” Arsen yang sedang
menonton langsung melompat dari sofa untuk mendekati ibunya yang sedang membuka rotinya.
“ yang satu sangat doyan roti, yang satunya nggak suka sama sekali. " Ibunya hanya
bisa tersenyum melihat kedua anaknya yang sangat berbeda.
“ bert, ini rotinya enak. Teman
kamu beli di mana? ” sambil menikmati roti yang tersisa di tangan ibunya melihat ke arah Albert.
“ Mama mau? “ Arsen bertanya kepada Mamanya.
“ Kalau lihat paperbagnya sih sepertinya Arsen tahu ini di mana. ”
Arsen menggantikan adiknya untuk menjawab pertanyaan Mamanya.
Arsen sudah kuliah semester empat jurusan bisnis.
Ayah mereka tiba di rumah.
“ tumben papa pulang kerja semua lagi ngumpul? ” Papanya memuji sekaligus bertanya ketika melihat anak istrinya berkumpul bersama. Biasanya kedua anaknya itu sudah sibuk dengan kegiatan masing – masing.
“ lagi malas keluar pa. ” Albert menjawab pertanyaan ayahnya.
“ bert, Papa ada job nih buat kamu. Bayarannya lumayan. ”
“ job apaan pa? ” Albert
menjawab Papanya dengan pertanyaan.
“ tadi siang sekretaris papa bilang kalau dia ingin cari guru les untuk keponakannya. Kamukan pintar dan selalu jadi andalan sekolah. Nah bagaimana kalau kamu saja yang ngajarin anaknya. ” Papanya kembali menawarkan pekerjaan tersebut.
“ SD, SMP, SMA? ” Albert memastikan calon muridnya. Kepintaran yang dia punya memang dia mamfaatkan untuk mencari uang.
***
“ eh ada pelanggan setia ” Anton menyapa Arsen pelanggan setia yang tidak pernah bosan datang ke toko rotinya.
“ iya om. Mama saya mau beli kue sama rotinya. Mama saya sangat
suka. ” Arsen memuji roti dan kue yang ada di toko roti yang bernama TOKO ROTI RASA TAK TERLUPAKAN.
“ om rasanya memang tak terlupakan om .” Arsen mengambil satu cookis dan memakannya.
“ kamu bisa saja. Ini om kasi bonus. Kemaren om sama Viona baru mencoba
resep baru. ” Anton memasukkan sebuah roti tambahan ke dalam paperbagnya.
“ tapi om dari tadi Arsen di sini kok nggak lihat Viona ya? ” mata Arsen melihat ke segala arah.
“ kamu kangen rotinya atau kangen Vionanya? ”
“ roti dong om. Kan rasa tak terlupakan. Tumben saja Vio nggak ada. Lagi sakit? ” Arsen menanyakan kondisi Vio.
Tidak biasanya Viona lupa untuk datang ke
tokonya. Prinsipnya adalah tiada hari tanpa ke toko kue.
“ Vio sehat sehat saja kok. Hanya
mulai hari ini dia les. Karena dia sudah kelas XII. Dia harus fokus belajar biar dia lulus. ” Anton menjawab pertanyaan dari pelanggannya yang setia.
“ sampaikan salam buat Vio saja ya om.
Kalau ada waktu aku mau ketemu dia. Ada hal yang mau aku sampaikan. ” Arsen menitip pesan kepada ayah dari temannya itu.
“ mau menyatakan cinta ya? ” Anton mencoba menebak.
“ nggak mungkinlah om. Vio itu sudah seperti adik sendiri. Kita dekat karena dulu aku sempat jadi ketua tim basket sekolah. ” Arsen mengelak dari pertanyaan Anton.
***
Vio berjalan ke taman sekolah. Dia sangat tahu jika jam istirahat sekolah pangerannya pasti membaca buku di sana.. “ hai Bert. ” Dia menyapa pangeran yang sudah dikaguminya selama kurang lebih empat tahun.
Tiba-tiba seseorang melambaikan tangan ke arah mereka. Orang tersebut berjalan ke arah mereka dan langsung memberikan kotak makanan kepada Albert.
“ kak, ini aku bawakan makanan buat kakak. Thanks karena kakak kemaren sudah ajarin Chaca belajar. ”
Chaca adalah anak kelas XI. Dia pindahan dari luar kota. Dia dikenal sebagai siswa
yang sangat pintar dan berpenampilan menarik. “ nggak usah repot-repot. Kakak bantu kamu karena kakak memang senang melihat orang-orang yang pintar. Semangat kamu belajar membuat kakak semakin semangat belajar. Lagian kakak dibayar untuk itu. Yang paling kakak benci adalah orang bodoh dan malas belajar. ”
Mendengar itu Viona merasa disindir dan
dibanding-bandingkan. Dia menggagalkan niatnya untuk memberikan bekal makan siang kepada pujaan hatinya.
***
Seperti kebiasaan yang sudah dilakukannya selama hampir tiga tahun. Dia berjalan dari sekolah ke halte bis. Wajahnya sangat sedih dan merasa sangat bodoh.
“ Vio, Albert itu terlalu sempurna buat kamu. Kamu jangan bodoh! Sudah empat tahun kamu memperhatikannya tetapi sedetikpun dia nggak pernah menyukai kamu. ”
Tanpa melihat kanan kiri dia duduk di
bangku yang sudah disiapkan di halte.
“ kalau cemberut terus nanti cantiknya hilang lho. ”
Sebuah suara membuatnya harus mengangkat kepala.
“ kamu ngapain sih bersedih terus?
Jangan bilang kalau ini karena Albert lagi. ” Arsen langsung bisa menebak hal apa yang
membuat Viona sedih. Viona mengeluarkan sebuah kotak makan.
“ hari ini dia lebih milih bekal makan siang yang dibawakan oleh orang lain. ” Wajahnya masih sangat sedih.
Arsen duduk di sampingnya dan mengambil kotak makanan itu dari tangannya. Dia membukanya dan langsung memakannya.
“ kenapa dimakan? ” Viona memberi protes. “ aku lapar. Pulang dari kampus langsung ke sini. Daripada makanannya mubazir lebih baik aku makan kan? ”
melihat tingkah Arsen Viona tertawa dan sesaat bisa melupakan rasa sedihnya.
“ hari ini kakak mau ajak kamu ke suatu tempat. ”
Setelah menghabiskan makanannya, Arsen menarik tangan Viona.
Mereka berjalan menuju mobil Arsen. Peraturan di keluarga Arsen adalah yang bisa membawa mobil hanya mereka yang sudah duduk di bangku kuliah.
Motor sebelumnya menjadi warisan
buat Albert. Peraturan itu dibuat supaya mereka memiliki tanggung jawab sampai akhirnya mereka bisa membeli kenderaan sendiri.
“ mau ajak aku ke mana? ” Arsen hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaannya. Tidak lama kemudian mereka berhenti di sebuah kampus.
“ ini kampus aku. ” mereka turun dari mobil. Viona memperhatikan bangunan kampus
tersebut. Arsen membawanya ke lapangan basket.
“ kenapa kita ke sini? ” kedua kalinya Viona
bertanya sebanyak itu juga Arsen tidak menjawab.
Arsen mengambil bola dan memberikannya
pada Viona. “ sekarang yuk kita main basket. Kalau kamu kalah kamu kena hukuman.
Masukin bolanya sebanyak lima kali ya! ” Arsen memberi peraturan.
“ okei ” Viona sedikit ragu karena dia tahu tidak mungkin bisa mengalahkan Arsen. Mereka berdua bermain tanpa
ada orang lain. Badan mereka sudah berkeringat dan Arsen sudah tiga kali memasukkan bola.
Arsen tersenyum ke arah Viona yang mulai putus asa. “ Vio, semangat! Masa segitu saja sudah menyerah. ” Viona menjawab dengan senyuman paksa.
Di akhir pertandingan bisa ditebak
bahwa Arsenlah yang menang. Arsen mendekati Viona yang sedang mengatur nafas karena kelelahan.
“ kakak sengaja ngajak Vio tanding? Kakak tahu sendiri aku pasti kalah. ”
Arsen mengabaikan kalimat Viona dan dia memberikan air minum kemasan ke Viona dengan tersenyum. “ duduk yuk. ”
Mereka duduk di sebuah bangku.
“ sekalipun kita tahu kita akan kalah tetapi kita harus tetap mencoba. Lebih baik kalah daripada tidak bertanding sama sekali.
Yang lari dari pertandingan itu hanya pengecut. Vio, hidup ini adalah pertandingan. Kita nggak akan tahu kita akan menang atau kalah kalau di garis start saja kita sudah menyerah. Atau mungkin di pertengahan pertandingan kita memutuskan untuk berhenti. Cinta, impian, harapan, itu semua ada dalam arena pertandingan hidup. Kamu mau selesaikan atau menyerah begitu saja itu adalah keputusan kamu. ”
Arsen memberi nasehat kepada mantan adik kelasnya itu.
***
Albert sedang makan di kantin bersama teman-temannya termasuk Chaca adik kelasnya. Albert memang sangat ketagihan bergaul dengan orang-orang yang dia anggab pintar secara akademis.
“ Bert sepertinya Viona belum nyerah untuk menarik perhatian kamu. ” Salah satu
temannya berkomentar.
“ guys, kalian tahu sendiri kalau aku itu tidak suka sama perempuan yang IQnya di bawah rata-rata. Aku hanya akan cari pacar yang pintar secara akademis dan bisa diandalkan di mana-mana. ”
Secara tidak sengaja Viona mendengar ucapan Albert. Mawar yang juga bersama dengan Viona mendengarnya. Sebagai sahabat Mawar tidak terima mendengar penghinaan itu.
“ kamu jadi orang jangan terlalu angkuh. Siapa yang jamin kalau kepintaran kamu itu akan membawa kebahagiaan buat kamu. ” Mawar mengatakan hal tersebut setelah dia menyiram wajah Albert dengan air yang ada di tangannya.
“ Mawar sudah! Dia nggak salah kok. Ini salah aku yang nggak tahu diri. ” Viona menyalahkan dirinya.
“ sampaikan ke teman kamu ya! Aku akan jadi pacarnya kalau dia bisa lulus ujian akhir dan bisa masuk sebuah universitas. ” Albert sengaja menyampaikan pesan kepada Mawar di depan Viona.
***
“ tumben anak papa rajin belajar begini? ” Anton melihat Viona yang masih duduk di kursi belajarnya.
“ iya pa. Vio harus buktikan kalau Vio juga bisa jadi orang pintar dan masuk di sebuah universitas. Kalau perlu Vio bisa les setiap hari. ” Viona ingin membuktikan bahwa
dirinya tidak serendah yang Albert katakann “ hal apa yang membuat anak papa tiba-tiba
bersemangat seperti ini? ” Anton bertanya dan tangannya mengusap kepala putrinya
“ karena Vio akan segera masuk perguruan tinggi pa. Vio mulai memikirkan masa depan Vio. ” Viona tidak berbicara terus terang kepada ayahnya.
“ nak, dengarin papa! Buat Papa bukan hasilnya yang terpenting. Buat papa kamu harus melakukan semaksimal yang kamu bisa. Tanpa menyerah dan tanpa menyesali diri. Kamu harus temukan di mana letak kebahagiaan kamu dan apa yang akan kamu lakukan untuk masa depan kamu ”
Sejak awal Anton sudah mengetahui batas kemampuan anaknya. Namun dia tahu jika putrinya ini punya harta terpendam di dalam dirinya. Jika Viona menerima harta terpendamnya maka hal itu akan
membawa perubahan drastis dalam dirinya. Masalahnya Viona masih ragu jika harta
terpendam di dalam dirinya adalah bakatnya dalam memasak, membuat roti, dan kue.
“ makasih pa ” merasa dapat dukungan dari Anton, Viona memeluk ayahnya.
***
Viona berubah drastis. Dia belajar keras, les setiap hari, membaca buku di perpustakaan,
membeli buku untuk menjawab soal-soal yang mungkin akan menjadi pertanyaan saat ujian. Bahkan kesibukan belajarnya membuat perhatiannya kepada Albert berkurang.
“ om, Vio ada di mana? ” Arsen menanyakan Viona yang sudah sangat jarang datang ke toko roti.
“ Vio ada di rumah. Setiap hari dia belajar keras, les setiap hari, bahkan tidur sampai larut malam. Om kuatir dia terlalu memaksakan dirinya. ” Anton menjawab pertanyaan Arsen.
“ bagaimana kalau Arsen bantu om di toko. Kalau Vio nggak ada pasti om kewalahan mengurus sendiri. ” Arsen menawarkan bantuan. “ tenang saja Sen, masih ada pegawai. ” Anton tidak mau merepotkan anak itu.
“ nggak apa-apa om. Anggab saja Arsen sedang magang di sini ” Anton hanya bisa tersenyum dengan penawaran Arsen. Dia melihat keseriusan Arsen. Dia merasa
bahwa alasan apapun tidak akan membuat Arsen menyerah untuk membujuknya.
***
Viona mengangkat handphonenya yang berbunyi.
“ kamu temui aku di lapangan basket! ”
setelah mendapat perintah itu Viona langsung bergegas berangkat ke kampus tempat Arsen belajar. Dia melihat Arsen sedang duduk di bangku dan memperhatikan para mahasiwa bermain basket.
“ hai kak.” Dia menyapa Arsen.
“ kamu sudah sampai. ” Arsen memberikan
kotak makanan dan sebuah botol vitamin.
“ akhir-akhir ini kamu belajar sangat keras. Bahkan kamu tidak teratur makan. Ini aku bawakan makanan yang bagus buat tubuh kamu. Aku masak sendiri. Belum pernah aku masak untuk perempuan lain kecuali mama. Kamu harus berbangga atas itu. Kamu juga harus minum vitamin! ” Mendengar itu Viona tertawa.
“ kenapa tertawa? Ada yang lucu? ” Arsen menanyakan apa arti dari ekspresi itu. dia menaruh curiga atas tertawanya Viona.
“ kalau kakak bersikap sombong seperti ini kelihatan jelas kalau kakak itu saudara Albert. ” Viona melihat kesamaan di antara kedua orang yang memiliki hubungan
darah tersebut.
“ jangan cerewet! Sekarang makan! ” ingin sekali Arsen menutup mulut Viona dengan tangannya.
“ siap bos! ” .
Viona memberi hormat dan langsung membuka kotak makanannya.
***
Pagi-pagi Arsen sudah menunggu Viona di depan rumah.
“ kak Arsen? ” Viona keget melihatnya.
“ iya, kenapa? ( tanpa mendengar jawaban Viona ) Sekarang masuk! Kamu sudah
terlalu lelah belajar setiap hari. Mulai sekarang kakak akan mengantar dan menjemput kamu dari sekolah.” Arsen memmberi perintah.
“ tapi, ” Viona berusahan membantah
“ nggak ada tapi-tapian! Sekarang kamu nurut saja! Aku sudah dapat ijin dari om Anton untuk melakukan ini. ” nama Anton seperti memiliki kuasa. Tanpa membantah, Viona masuk ke mobil. Di tengah
perjalanan Arsen melihat beberapa buku yang ada di tangannya.
“ Vio, kakak masih penasaran.
Kenapa tiba-tiba kamu sangat rajin belajar dan ingin masuk universitas? Selama ini kamu selalu bilang bahwa impian kamu itu adalah mengembangkan toko roti dan kue keluarga kamu. ”
Arsen tahu mimpi dari gadis yang duduk di sebelahnya. “ tanyakan sendiri pada adik kakak yang pintar itu! Kakak sendiri yang bilang bahwa aku nggak boleh menyerah dengan setiap pertandingan hidup. ” Viona mengingatkan nasehat yang diberikan oleh Arsen.
.
***
Ujian akhir akhirnya tiba. Terlihat para siswa mengerjakan soal dengan serius. Ada yang stress, mengeluarkan keringat, bahkan ada yang hampir menangis karena tidak bisa menjawab. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah untuk Albert. Bahkan sebelum ujian akhir diadakan sebuah universitas sudah menawarkannya beasiswa. Setelah beberapa hari akhirnya ujian selesai.
“ akhirnya selesai juga. ” Viona menarik nafas panjang.
“ jangan lupa! Kamu harus masuk
universitas favorite dulu baru kita pacaran. ” Albert melewatinya dengan mengingatkan syarat untuk menjadi pacarnya.
Ketika dia keluar gerbang sekolah bersama Mawar, dia melihat ada sebuah mobil. Dia langsung disambut oleh sebuah senyuman Arsen. “ Mawar, sorry aku pulang duluan. ” Dia melambaikan tangan pada Mawar dan langsung berlari menghampiri Arsen.
“ bagaimana ujiannya? ” Arsen langsung menanyakan ujiannya. Tujuannya jelas bukan ingin tahu hasilnya. Dia hanya ingin mengetahui keadaan Viona.
“ ujiannya susah. Tetapi Vio yakin
kok bakal lulus. Karena Vio sudah berusaha keras. ” Dia dengan yakin menjawab pertanyaan mantan kakak kelasnya itu. Arsen membawanya ke Toko Roti RASA TAK TERLUPAKAN.
“ kenapa bawa Vio ke sini? ” Viona penasaran.
“ kamu sadar nggak kalau beberapa bulan ini kamu nggak pernah ke sini. Aku sekarang magang di sini. ” Arsen memberitahu kegiatannya.
“ magang? ” Viona bertanya dan masih belum mengerti.
“ anggab saja begitu. ” Mereka
masuk dan melihat Anton sedang duduk dan memikirkan sesuatu.
“ hai pa. ” Viona menyapa Papanya dan disambung oleh Arsen. “ hai om ” Anton tersadar dari lamunannya dan langsung
menjawab sapaan mereka.
“ om, Arsen ingin mengajari Viona resep kue yang baru. ” Arsen meminta ijin untuk meminjam dapur.
“ silahkan! ” Anton mempersilahkan dengan tersenyum. Arsen menyiapkan semua bahan-bahan.
“ kak, sejak kapan kakak magang di sini? ” Viona penasaran dengan adanya Arsen di toko.
“ semenjak kamu sibuk belajar dan melupakan toko ini. ” Arsen menjawab dengan tersenyum. Mereka mulai membuat kue. Tepung, telur, gula, dan bahan pelengkap yang lain sudah ada di meja. Mereka membuat beberapa. Ada yang gagal ada juga yang berhasil. Mereka menghias kue dengan cream.
Setelah jadi mereka membawakannya kepada Anton.
“ tada… ” mereka memamerkan hasilnya kepada pemilik toko. Anton memotong dan memakannya.
“ enak. ” Anton memuji hasil kerja keras mereka dan lanjut menikmati kue yang ada di tangannya.
***
“ bert, ini ada titipan dari Vio. ” Arsen memberikan kue kepada adiknya.
“ kan kakak tahu sendiri kalau aku nggak suka kue. ” Albert menolak pemberian kakaknya.
“ bert, setidaknya kamu hargailah usaha Vio. Dia menyukai kamu dari SMP dan perasaannya tidak berubah sampai sekarang. ”
Arsen meletakkannya di atas meja dan langsung menuju kamar.
Albert memperhatikan bungkusan yang ada di atas meja. Dia membukanya dan mencoba mencicipinya.
“ rasanya lumayan kok. ” Albert memberi penilaian.
***
Usaha Viona untuk belajar belum berhenti karena dia juga harus berjuang untuk masuk sebuah universitas favorite yang diinginkan oleh Albert. Tidak jarang dia harusbergadang dan lupa makan hanya karena belajar terlalu keras. Tes untuk masuk universitas akan diadakan dua hari lagi.
“ Vio, wajah kamu pucat banget. ”
Mawar memperhatikan wajah sahabatnya.
“ nggak apa-apa. Hanya kelelahan saja. Nanti juga pulih kalau aku istirahat. Kamu tidak usah kuatir. ” Viona menjelaskan kepada sahabatnya tanpa kuatir dengan keadaannya.
“ kamu yakin? ” Mawar memastikan apakah Viona baik-baik saja atau tidak. Viona memaksakan senyum dan mengangguk.
Viona naik taxi menuju toko milik keluarganya. Setelah tiba di Toko Roti RASA
TAK TERLUPAKAN dia keluar dari taxi. Tiba-tiba dia merasa sangat pusing dan kakinya seakan - akan tidak bisa menopang badannya. Penglihatannya mulai tidak jelas dan semakin gelap.
“ Vio! ” salah satu pegawai toko berteriak karena melihat anak bosnya jatuh pingsan. Arsen yang melihatnya langsung berlari dan mengangkatnya ke mobil. Tanpa pikir panjang Arsen membawanya ke Rumah Sakit.
Viona langsung ditangani dokter dan perawat. Arsen dengan sigab langsung menghubungi Anton ayah Viona. Anton langsung bergegas ke Rumah Sakit.
setelah mendapat perawatan dokter keluar.
“ bagaimana keadaan anak saya dok? Dia sakit spa? ” Anton tidak sabar meminta jawaban dari dokter yang baru saja memeriksa anaknya.
“ anak Anda sudah mendapat perawatan. Anda boleh ikut ke ruangan saya sebentar! ”
***
Albert kaget karena tiba-tiba mendapat sebuah pukulan dari kakaknya. Buku yang sedang dibacanya terlempar ke lantai.
“ kakak apa-apaan sih? Baru pulang langsung mukul adik sendiri? ” Albert protes dengan kelakuan kakaknya. “ sekarang kamu puas melihat Viona
menderita karena keangkuhan kamu? ” pertanyaan Arsen membuat adiknya bingung “ maksud kakak apasih? ” Albert menatap kakaknya.
“ sekarang dia dirawat di Rumah Sakit. Dia tidak akan bisa masuk universitas seperti kemauan kamu. Kakak masih bingung apasih yang kamu inginkan dari dia? Kalau kamu tidak suka sama dia jangan menyiksanya seperti ini. ” Arsen belum bisa meredam kemarahannya.
“ maksud kakak apa? ” Albert bertanya.
“ Viona masuk Rumah Sakit. Dia mengalami trauma otak. Sewaktu kecil dia mengalami kecelakaan bersama ibunya. Ibunya meninggal dan Viona mengalami benturan yang sangat keras di kepala. Benturan itu menyebabkan trauma otak. Menurut penjelasan dokter trauma otak sedang atau
berat dapat mengakibatkan sakit kepala yang parah, muntah, mual, kejang, tidak dapat bangun, mydriasis, dan kesulitan berbicara. Di samping itu, kelelahan yang parah, kelumpuhan, kehilangan koordinasi, kebingungan, kegelisahan, atau agitasi juga dapat terjadi. ” Arsen menceritakan apa yang dijelaskan oleh Anton ayah Viona.
“ kamu puas sekarang? Dia harus stres, nggak bisa makan teratur, nggak bisa tidur hanya karena memaksakan diri untuk masuk sebuah universitas. Apa ini yang kamu inginkan? ” Arsen tidak bisa mengontrol dirinya dan memukul adiknya lagi.
***
Albert melihat Viona yang sedang terbaring di tempat tidur yang disediakan Rumah Sakit. dia duduk di samping Viona dan memperhatikan wajah Viona.
“ jangan ganggu dia! ”
suara teriakan seorang anak laki-laki yang masih SMP membuat beberapa murid lain takut. Mereka sedang membulli seorang siswa perempuan yang tidak pandai bergaul. Anak itu selalu menjadi bahan bullian teman-temannya. Dia adalah Viona sewaktu SMP. Viona menjadi anak yang pendiam dan tidak pandai bergaul. Dia merasa bersalah karena ibunya meninggal tepat di hadapannya. Trauma itu membuatnya bertumbuh
sebagai remaja yang tidak disukai teman-temannya. Emosinya tidak stabil. Dia gampang bersedih dan gampang marah. Dan dia tidak pintar dalam akademis. Hal itu membuatnya tidak memiliki teman kecuali Mawar. Alasan kenapa dia sangat menyukai Albert adalah karena Albert menolongnya dari bullian anak-anak di sekolahnya.
“ nak Albert dari kapan di sini? ”
suara Anton membuat Albert kaget dan tersadar dari lamunannya.
“ iya om. Albert dapat kabar kalau Vio masuk Rumah Sakit. ” Albert menjawab
pertanyaan Anton.
“ terima kasih karena sudah menjenguknya. Dia nggak apa-apa. Hanya ada
penyakit kecil saja. ” Anton tidak mau teman – teman putrinya mengetahu hal yang dialami oleh putrinya.
“ sebenarnya ada apa om? ” Albert sangat penasaran.
“ Viona hanya kecapean saja kok ” Anton tidak menjelaskan lebih detail.
“ Om sepertinya capek. Bagaimana kalau
malam ini Albert saja yang menjaga Viona. Om harus istirahat! ” Albert menawarkan bantuan
“ om tidak mau merepotkan nak Albert. ” Anton menolak kebaikan Albert.
“ nggak apa-apa om. Viona itu teman sekelas Albert. ” Albert sedikit memaksa.
“ Baiklah kalau begitu. Kalau ada apa-apa jangan lupa menghubungi om. ” Kamu juga harus menghubungi orangg tua kamu
supaya mereka tidak kuatir. ” Albert tersenyum dan mengangguk.
***
Arsen membeli bunga dan coklat kesukaan Viona. Dia langsung berangkat ke Rumah Sakit. dia berniat untuk menjaga Viona di Rumah Sakit dan menunggunya sampai sadar. Ketika tiba di kamar dia melihat Albert yang ketiduran di sofa yang disediakan di kamar Rumah Sakit. dia memperhatikan Viona yang dari siang belum sadar juga. Arsen meletakkan bunga dan coklat di
atas meja. Dia membatalkan niatnya untuk menginap karena melihat keberadaan Albert di sana. Melihat adiknya dia tersenyum dan merasa lega. Arsen meninggalkan Rumah Sakit dalam keadaan Viona belum sadar dan Albert yang sedang tidur.
Keesokan paginya matahari
bersinar sangat cerah. Viona perlahan-lahan membuka matanya. Dia melihat Albert yang
masih tidur di sofa. Dia memperhatikan Albert dengan tersenyum. Ada perasaan bahagia di hatinya karena merasa dia diperhatikan oleh Albert. Perawat masuk ke ruangan itu untuk memastikan kondisi pasien. Melihat Viona yang sudah bangun perawat hendak menyapa.
“ sttt… ” Viona memberi isyarat supaya perawat tidak mengeluarkan suara yang keras yang bisa mengakibatkan Albert bangun. Perawat membuka gordin jendela. Matahari pagi masuk ke kamar dan membuat Albert terbangun dari tidurnya. Dia mengusap-usap matanya dan
menguap.
“ masih ngantuk? ” suara itu membuat Albert tersadar jika dia sedang ada di
Rumah Sakit.
“ Vio kamu sudah sadar? Aku kuatir banget sama kamu. ” Albert mendekat ke
ranjang.
“ kamu kuatir sama aku? ” Viona meyakinkan dirinya dengan sebuah pertanyaan. Dia takut jika dia hanya salah dengar.
“ iya. Aku kuatir sama kamu. Kemaren kak Arsen kasi kabar kalau kamu masuk Rumah Sakit. ” Albert menjawab dan menjelaskan penyebab dia ada di ruangan itu.
“ kak Arsennya mana? ” Viona mencari Arsen.
“ kak Arsen belum ke sini. ”
Mendengar jawaban Albert dia hanya menarik nafas seperti kurang bersemangat.
“ bert ”
“ iya ” Albert menjawab panggilan Viona yang masih berbaring.
“ maafin aku. ” Viona terlihat
sedih dan meminta maaf.
“ maaf untuk? ” Albert menanyakan alasan permintaan maaf tersebut.
“ beberapa hari ini aku pasti menginap di Rumah Sakit. Aku nggak akan bisa ikut tes
masuk ke universitas seperti permintaan kamu. ” Viona merasa bersalah.
“ Vio.. ” Albert memegang tangannya.
“ untuk saat ini kamu lupakan dulu soal universitas. Kamu harus fokus untuk sembuh. Aku nggak mau kuatir hanya karena kamu di Rumah Sakit berlama-lama. Doain
aku saja ya! Lusa aku akan ikut tes itu. ” Viona tersenyum dan masih belum percaya jika Albert bersikap semanis itu.
“ kamu nggak mau berangkat sekolah? ” Viona menanyakannya.
“ Vio ini hari Sabtu. Sekolah libur. Aku akan pulang setelah Papa kamu datang. ” Tidak lama kemudian Anton datang membawa rantang makanan. “ hai Vio. Maaf papa datang telat. Ini ada titipan makanan dari salah satu pegawai toko. ” Anton sengaja tidak menyebutkan namanya di depan Albert. Viona membukanya dan langsung bisa menebak siapa yang menyiapkannya.
“ biar aku suapin! ” Albert mengambil sendok.
“ Bert, aku sudah bukan anak
kecil lagi. Malu ada papa. ” Mendengar itu Anton berbatuk. “ papa urus administrasinya dulu. Papa juga harus tebus obat. ” Anton pergi meninggalkan mereka.
***
Albert pulang ke rumah. Akhir-akhir ini dia jarang melihat Arsen di rumah. Dia berpikir
mungkin kakaknya sibuk di kampus.
“ bagaimana keadaan anak teman papa? ” Papanya menanyakan keadaan Viona.
“ dia sudah sadar pa. Kata dokter dia harus banyak istirahat. ”
“ nanti kalau kamu ke sana lagi tolong sampaikan salam dari papa dan mama. Kalau ada waktu kita akan ke sana. ” Ternyata kedua orang tuanya bersahabat baik dengan Anton ketika masih kuliah.
“ pa, kak Arsen kok jarang di rumah ya? ” Albert menanyakan kakaknya.
“ katanya dia lagi sibuk di kampus. Dia akan ada pertandingan basket. Dia harus banyak berlatih. Sekarang dia juga lagi kerja part time. Katanya untuk memperdalam hobbinya. ” Albert mengerti dengan
penjelasan orang tuanya.
“ ohhh. Albert pikir dia sudah punya pacar tetapi tidak cerita.” Mendengar itu ayahnya berkomentar
“ kalau dia punya pacar pasti dia cerita. Itu peraturan di rumah ini. ”
***
Viona berniat mengambil buku yang ada di meja. Dia melihat bunga dan coklat. Melihat itu dia tersenyum karena berpikir itu adalah pemberian Albert. Viona mengambil handphonenya. Dia berniat untuk menghubungi Arsen. Arsen sedang sibuk membuat adonan roti di dapur dan
mengabaikan handphonenya yang berbunyi. “ dia kemana ya? Dia sama sekali nggak
menanyakan kabarku. ”
perawat masuk untuk memberi minum obat. “ sudah makan? ”
perawat menyapanya dengan senyum yang ramah.
“ sudah sus ” perawat melihatnya
memegang bunga dan coklat.
“ kemarin malam ada seorang laki-laki yang membawakan itu ke mbak. Pacarnya ya? ” perawat tersebut iseng bertanya.
“ belum pacar sus. Masih calon pacar. " Perawat tersenyum mendengar jawabannya. Setelah minum obat perawat pergi.
Viona mengambil lagi handphonenya dan menghubungi Anton. “ pa, kak Arsen hari ini ada di toko roti? ” Viona menanyakan Arsen. “ iya. Dari tadi dia sibuk di dapur karena banyak pesanan roti dan kue. Semua pegawai kewalahan. Nanti akan Papa sampaikan kalau kamu mencarinya. ”
***
Handphone Viona berbunyi. Dia melihat siapa yang menghubunginya.
“ kak kemana saja? ”
Viona menanyakan Arsen yang belum datang ke Rumah Sakit.
“ tadi di toko lagi sibuk. Ini kakak juga harus ke kampus ada kelas. Setelah kelas kakak harus latihan basket karena akan
ada perlombaan. ” Arsen menjelaskan kesibukannya.
“ ohhh…semangat ya kak latihannya! ”
Viona memberi dukungan.
“ thanks. Sudah dulu ya! Kakak harus buru-buru ke kampus. ” Arsen menutup pembicaraan.
***
Viona mendapat kabar jika Albert harus ikut ujian untuk masuk ke universitas impiannya.
“ maaf ya aku nggak bisa menjemput kamu dari Rumah Sakit. ” Viona mendapat pesan di handphonenya.
“ nggak apa-apa. Aku doakan yang terbaik. Pasti kamu lulus. ” Viona memberi dukungan kepada Albert melalui handphone miliknya.
Anton dan Arsen datang menjemputnya.
“ waktunya pulang. Pasti kamu sudah bosan di sini. ” Viona melihat Arsen yang berdiri di samping Anton.
“ kakak kemana saja? ” pertanyaan pertama yang diajukan setelah bertemu.
“ maaf Vio. Kakak akhir-akhir ini sangat sibuk. ”
***
Dua tahun telah berlalu
Hari ini Viona merayakan ulang tahunnya yang ke dua puluh tahun. Pacarnya berjanji akan makan malam bersama di ulang tahunnya yang kedua puluh. Viona yang sudah berdandan cantik akhirnya duduk sendirian di sebuah restoran. Tiba-tiba ada yang menutup matanya. Dia tersenyum dan menebak jika itu adalah pacarnya.
“ kak Arsen? ” ekspresi kecewa terlihat di
wajahnya.
“ tadi Albert telpon kakak. Katanya mendadak dia harus ada tugas kelompok
bersama teman-temannya. Dia meminta kakak datang ke sini. ” Arsen menjelaskan tujuan kedatangannya.
“ ohhh ” Viona hanya menjawab singkat.
“ ada titipan dari Albert. ” Arsen memberi bunga dan coklat kesukaan Viona.
“ jangan sedih lagi! Kamu kecewa karena yang ada di depan kamu sekarang bukan dia? ” Arsen bertanya ketika dia melihat perubahan raut wajah Viona. “
Sudah biasa kak. Dua tahun aku pacaran sama dia tetapi aku tidak pernah melihatnya mengutamakan aku. Aku hanya prioritas kesekian setelah kampus dan semua kesibukannya. Aku bukan menuntut harus dimanjain. Tetapi setidaknya dia meluangkan waktu buat aku. ” Viona mengeluh.
“ sudah jangan sedih! Kakak mau ajak kamu ke satu tempat. ” Arsen mengajaknya ke sebuah taman bermain. Mereka mencoba beberapa permainan, mereka
makan ice cream, dan membeli jajanan pasar. Viona melihat anak-anak yang sedang main ayunan. Viona memperhatikannya.
“ kamu mau naik? ” Arsen bertanya.
“ kak, hari ini Vio sudah dua puluh tahun. Ayunan itu untuk anak kecil doang. Coba kakak lihat yang naik ayunan hanya anak kecil. ” Arsen menarik tangannya dan mengajaknya ke sebuah ayunan yang kosong. Viona duduk di ayunan. Perlahan-lahan Arsen mendorongnya.
“ kak, sudah lama aku ingin menghabiskan malam seperti ini. Semenjak mama meninggal, aku dan papa nggak pernah
datang ke tempat ini lagi. Ini adalah tempat terakhir kali aku bersama dengan mama. Malam itu aku dan mama bermain bersama. Kita sengaja tidak mengajak papa karena malam itu aku sedang merajuk sama papa. Ketika pulang kami mengalami kecelakan. ” Viona sedih mengingat kejadian itu.
“ Vio, dengan kamu merajuk kamu sudah membiarkan Papa kamu hidup sampai
sekarang. Itu caranya Tuhan untuk menolong Papa kamu. Tuhan ingin bertemu dengan mama kamu. Tetapi Tuhan nggak mau kamu sendirian. Dengan rajukan anak kecil papa kamu selamat dari maut. ”
Tidak sadar Viona meneteskan air mata.
“ aku kangen sama mama. ” Mendengar
itu Arsen memeluknya.
***
“ sayang, kamu yakin mau ikut dan ketemu dengan teman-temanku? kita mau belajar lho bukan mau hang out. ” Albert menanyakan kembali permintaan Viona. “ aku yakin kok. Aku janji nggak akan ganggu. ” Viona sengaja ikut hanya untuk menghabiskan waktu bersama Albert.
Viona tidak kuliah karena akhirnya dia memutuskan untuk mengembangkan usaha keluarga. Albert juga tidak menuntutnya untuk masuk universitas lagi karena itu tidak baik buat kesehatan pacarnya.
Semenjak Albert tahu Viona mengalami trauma otak dia tidak lagi menuntut Viona seperti apa yang dia mau. Viona bertemu dengan teman-teman kampus Albert.
“ hai, maaf aku telat. Perkenalkan ini pacar aku. ” Untuk pertama kalinya Albert
memperkenalkan Viona kepada teman-temannya.
“ kuliah di mana? Jurusan apa? ” salah satu
temannya menanyakan Viona.
“ aku nggak kuliah. Aku hanya membantu toko roti dan kue milik keluarga ” Viona menjawab secara gamblang. Dia tidak malu untuk mengatakan yang sebenarnya.
“ lain kali kalian harus cobain kue atau roti buatannya. Enak banget. ” Albert
berusaha membanggakan Viona di depan teman-temannya.
“ bert, kamu tidak salah? Kamukan nggak suka makan kue atau roti. Dari mana kamu tahu kalau itu enak? ” temannya
bertanya.
“ aku memang nggak suka makan roti dan kue. Tetapi keluarga aku suka apapun
yang mereka jual di toko. ” Albert menjelaskan. Dia ingin membuktikan jika Viona bisa dibanggakan.
“ Albert… Albert… ekspektasi kita tentang pacar kamu jauh banget berbeda. Kita
pikir pacar kamu itu pasti pintar, cantik, dan kelak akan jadi wanita karir yang hebat yang akan mendukung karir kamu juga. ” temannya berkomentar lagi. Mereka seperti merendahkan Viona.
“ pacar aku ini juga pintar kok. Hanya saja dia lebih memilih untuk meneruskan usaha
keluarganya. ” Albert merangkul Viona di depan teman-temannya.
“ terus dia ke sini untuk apa? Apa dia bisa bantu kita menyelesaikan tugas kelompok? ” Tidak bisa dipungkiri bahwa kata-kata yang keluar dari mulut teman-teman Albert sangat menyakitinya. Dia melepaskan tangan Albert dari bahunya dan pergi keluar meninggalkan mereka.
Albert berusaha mengejarnya. Melihat pacarnya berjalan dengan cepat Albert tahu bahwa pacarnya tidak baik - baik saja. Albert berusaha mengejar dan menarik tangannya. Dia melihat Viona sedang menangis.
“ Vio, perkataan mereka nggak usah dimasukin ke hati. Kamu tahu sendiri kalau
semua teman-teman aku berpikir bahwa aku punya pacar yang berpendidikan tinggi. Aku
sudah tebak kalau kamu akan seperti ini ketika bertemu dengan mereka. ” Penghiburan Albert justru seperti menyalahkan Viona.
“ maaf bert, aku mau pulang duluan. Kamu bisa teruskan belajar kamu dengan teman-teman kamu yang berpendidikan tinggi itu. ”
Viona melihat taxi dan langsung menyetopnya. Dia masuk dalam keadaan hati yang sangat hancur.
***
Anton sangat kuatir karena tidak biasanya Viona belum pulang tanpa memberi kabar. Dia menghubungi handphonenya tetapi tidak aktif. Akhirnya dia menghubungi Arsen.
“ Arsen, Viona belum pulang. Om sangat kuatir. Katanya dia pergi sama Albert tetapi om menghubungi Albert ternyata dia lagi belajar sama teman-temannya. ”
***
Albert tidak konsen ketika belajar bersama teman-temannya.
“ bert, kamu kenapasih dari tadi seperti orang linglung? ” temannya bertanya.
“ pacar aku belum pulang. Papanya bilang
handphonenya mati. ” Albert menceritakan kekuatirannya.
“ terus mau kamu bagaimana? Ini tugas masih banyak. ” temannya ingin penjelasan dari Albert.
“ bisa dilanjut besokkan? Tugasnya dikumpulin minggu depankan? ”
dengan wajah kecewa teman-temannya menuruti permintaan Albert.
***
Arsen memperhatikan Viona yang sudah bercucuran keringat tetapi masih memaksakan untuk melempar bola basket yang ada di tangannya. Viona berpikir jika dengan melakukan itu dia bisa melupakan kesedihan hatinya.
Melihat Viona yang sudah sangat lelah Arsen menarik tangannya. Viona kaget karena ternyata perbuatannya itu disaksikan oleh Arsen yang dia tidak tahu kapan datangnya. Arsen memberikan sebuah botol yang berisi air mineral.
“ Vio, stop ya! Kakak nggak mau dengar kalau kamu sakit lagi hanya karena hal konyol! ”
tiba-tiba Viona memeluknya.
“ maafin aku kak! Aku selalu bertindak bodoh hanya karena cinta. ” Viona mempererat pelukannya.
“ Vio, sampai kapan kamu akan begini terus. Om Anton kuatir banget sama kamu. Sekarang kita pulang! ”
Arsen mengantar pacar adiknya pulang. Ketika mereka tiba di rumah mereka melihat Albert sedang menunggu di sebuah kursi yang ada di depan rumah Viona.
“ Vio, sekarang kamu masuk! ” Arsen memberi perintah dan Viona hanya
menurut saja. Albert menarik tangan Viona.
“ Vio, aku mau minta maaf ” Arsen melepaskan tangan adiknya dari Viona.
“ bert, biarkan dia istirahat! ” Viona masuk ke rumah.
“ aku nggak tahu apa yang menjadi masalah kalian. Tetapi please jangan selalu bersikap kekanak-kanakan. Kamu sendiri yang memilih Viona untuk jadi pacar kamu. Kamu harus bisa menjaga dia! Apalagi kamu tahu kalau dia nggak bisa stres. Besok aku harap kalian bisa menyelesaikan masalah kalian. ”
***
Viona bersama Mawar sedang makan siang bersama di sebuah cafe.
“ Vio, itu Albert bukan? ” Mawar menunjuk ke arah sebuah meja.
Mereka melihat Albert dan salah satu teman SMA mereka yaitu Chaca. Chaca setahun lebih muda dari mereka. Chaca adalah siswa yang paling pintar di angkatannya.
“ kak, aku tahu kalau kak Albert ragu sama Viona. Kenapa kak Albert nggak mencoba untuk berterus terang? ” Chaca memberi saran.
“ maksud kamu apa cha? Aku
sayang sama Viona. Hal itu yang membuat aku yakin untuk pacaran sama dia. ” Albert belum mengerti dengan perkataan Chaca.
“ terserah kakak deh. ”
Viona melihat mereka pergi.
“ kenapa kamu nggak menyapanya? ” Mawar bertanya kepada sahabatnya.
Viona hanya menggelengkan kepala. Viona melihat ada buku yang tertinggal di meja yang dipakai oleh Chaca dan Albert. Viona mengeceknya. Dia melihat ada dua buku
pelajaran dan satu buku catatan. Dia melihat namanya dan benar itu adalah kepunyaan Albert.
***
Di kamar Viona bersiap-siap untuk tidur. Dia juga berniat untuk mengembalikan buku dan sekaligus meminta maaf kepada Albert karena telah kekanak-kanakan.
Dia melihat buku yang ada di meja. Karena belum ngantuk dia memberanikan diri untuk membukanya.
“ pacar aku memang pintar. ” Viona tersenyum ketika membuka buku pelajaran Albert. Dia juga membuka buku catatannya. Ternyata itu bukan buku catatan tetapi buku harian.
Di buku itu Albert menulis semua impian, harapan, dan bahkan kriteria wanita impiannya. Di lembar terakhir dia
membaca.
“ aku sangat menginginkan wanita yang pintar, antusias, dan bisa diajak berdiskusi.
Tetapi aku juga sayang sama dia. Dia adalah Viona pacar aku. Yang sering membuat aku ragu adalah apakah aku benar-benar yakin akan membangun masa depan bersama dengan dia? Teman-teman selalu berpikir bahwa aku dan Chaca pacaran. Mereka bilang kami adalah pasangan serasi. Chaca memang kriteria wanita yang aku cari selama ini. Tetapi bagaimana dengan Viona? Aku nggak mau dia sakit seperti dulu. Aku akan sangat merasa bersalah kalau
terjadi apa-apa sama dia? ”
***
Albert bersiap-siap untuk berangkat karena dia ada janji makan siang bersama dengan Viona.
Dia mengeluarkan motornya dan langsung menuju rumah pacarnya. Viona sudah menunggu di depan rumah. Melihat Albert sudah sampai, dia langsung menghampirinya. “ langsung berangkat? ” Albert bertanya. “ iya. ” Viona menjawab singkat. Mereka pergi menuju ke
sebuah cafe.
“ yank, aku mau beli cotton candy yang itu. ” Di perjalanan Viona menunjuk ke
seorang pedagang yang menawarkan cotton candy. Albert mencari tempat parkir yang tepat buat motornya.
“ kamu di sini saja! Biar aku yang beli. ” Albert meminta Viona untuk menunggu karena harus menyeberang jalan. Viona memperhatikan Albert yang sedang
menyeberang dan akhirnya membeli sebuah cotton candy. Dia juga melihat Albert yang akan menyeberang jalan. Jalan yang dilaluinya bukanlah jalan raya di mana mobil dan motor banyak lalui. Dia menyeberang di sebuah jalan yang jarang dilalui kenderaan. Albert tidak memperhatikan jalan. Viona yang memperhatikannya langsung berlari dan berteriak.
Sebuah motor menabrak Viona, dan Albert terjatuh ke trotoar karena Viona mendorongnya. Albert mengalami cedera di lutut. Dia melihat Viona yang menahan sakit. Dia langsung membantu Viona menuju sebuah Rumah Sakit terdekat.
Perawat dan dokter langsung mengambil alih.
“ dok dia tidak akan kenapa-kenapa kan ya? ” Albert bertanya karena sangat panik.
“ anda tidak usah kuatir ya! Sekarang biar suster obatin dulu luka di lengan dan lutut Anda. ”
Dokter memanggil seorang perawat untuk mengobati lengan dan lututnya yang terluka. Setelah Albert mendapat pengobatan dia langsung menuju ruangan tempat Viona berbaring.
“ sepertinya kamu senang banget masuk Rumah Sakit ya? ” Albert melihat Viona yang tersenyum kepadanya.
“ kata dokter aku nggak apa-apa. Hanya luka kecil. Besok juga bisa pulang. ” Viona menghibur Albert dengan kondisinya yang tidak terlalu parah.
“ kamu itu sudah membahayakan diri kamu hanya untuk aku Vio. Harusnya aku yang melakukan itu. ”
Albert merasa bersalah dan tidak berguna.
“ Bert, apapun bisa kita lakukan untuk orang yang kita sayang. Aku harap kamu bisa merenungkan siapa orang yang benar-benar kamu sayang. ”
pernyataan Viona membuat Albert bertanya. “ maksud kamu? ” Albert tidak mengerti apa
maksud dari perkataan Viona.
“ sudah lupakan saja! Aku hanya ngelantur saja. ”
***
Arsen menemui Viona di Rumah Sakit.
“ kata dokter kamu sudah bisa pulang. Syukur pengendara motornya nggak ngebut. Kalau ngebut kamu bisa bahaya. ” Arsen mencemaskan Viona yang cenderung lebih ceroboh.
“ Vio nggak apa-apa kak. By the way Albert nggak datang? ” Viona menanyakan Albert.
“ hari ini dia lagi sibuk banget. Itu sebabnya dia minta kakak untuk jemput kamu. Om Anton juga lagi kewalahan karena ada pegawai yang nggak masuk. ” Pria itu menjawab pertanyaannya.
“ ohhh… memangnya kakak nggak ke kantor?" Viona bertanya lagi
“ kakak sengaja ambil cuti hari ini. Sekarang kita pulang. Tadi kakak sudah masak makanan kesukaan kamu. Kakak tahu kamu pasti nggak suka dengan masakan Rumah
Sakit. ” mendengar itu Viona tertawa.
“ kakak memang paling tahu apa yang ada di pikiran Vio ” Arsen membantu Viona masuk ke mobil. Di mobil Viona melihat cotton candy.
" kenapa ada cotton candy? ” Viona yang melihatnya langsung bertanya.
“ karena kakak dengar dari Albert hanya karena cotton candy kamu masuk Rumah Sakit. ” Arsen menjawab sambil memasang seat belt.
“ so, Vio boleh makan dong? ” Vio sudah tidak sabar ingin memakannya.
“ silahkan tuan putri! ” Seperti anak kecil yang bersemangat karena mendapat permen, Viona langsung membuka cotton candy dan memakannya.
Dia juga memberi suapan kepada Arsen
yang sedang menyetir.
“ kenapa kamu senang banget sama cotton candy? ” melihat semangat Viona Arsen hanya tersenyum dan bertanya.
“ Cotton candy itu manis, ringan, dan membuat anak-anak tertawa ketika memakannya. Harusnya kita seperti cotton candy. Walaupun dia harus ngalamin panasnya api, tetapi akhirnya dia memberi rasa manis kepada orang yang memakannya. ”
Arsen tersenyum mendengarnya.
“ ilustrasi yang bagus. ” Arsen memujinya.
Mereka akhirnya sampai di rumah. Arsen langsung membawa tas kepunyaan Viona dan mengajaknya ke meja makan.
“ wow..dari baunya saja Vio tahu kalau itu enak. ” Viona dan Arsen duduk. Arsen menyiapkan makanan untuk Viona dan untuk dia sendiri.
***
Viona dan Albert sedang memperhatikan anak-anak yang sedang bermain bubble di taman.
“ sayang, aku masih belum ngerti apa maksud perkataan kamu di Rumah Sakit. Kamu bilang bahwa aku harus merenungkan siapa sebenarnya orang yang aku sayang. ” Albert sangat penasaran dengan perkataan itu. Bagi Albert itu bukan hal yang biasa.
“ sepertinya memang sudah saatnya kita bahas ini. Karena aku nggak mau ke depannya akan ada penyesalan. ”
“ penyesalan apa ” Albert bertanya lagi.
“ thanks selama dua tahun kita pacaran kamu sudah kasi yang terbaik. Thanks karena sejak SMP kamu selalu bantu aku ketika aku harus dibuli anak-anak. You are my first love. Tetapi aku mau kita benar-benar merenungkan tujuan dari hubungan ini apa. Aku hanya ingin kamu bahagia. Aku ingin kamu meraih semua impian kamu. ” Viona mengembalikan bukunya. “ kalau kamu sudah ada jawaban kita bisa bahas ini lagi. Apapun keputusan kamu aku harap itu yang terbaik. ” Viona meninggalkan Albert yang masih terdiam dan melihat ke bukunya.
***
“ ma…mama… ” sepulang dari tempat kerja Arsen memanggil mamanya.
“ iya sen, ada apa? ” ibunya yang sedang menyiapkan makan malam bertanya.
“ ma, Arsen dipromosikan untuk bekerja di sebuah perusahaan Singapura. ” Arsen menunjukkan sebuah surat dari kantor
tempat dia bekerja.
“ kamu berangkat kapan? ” Mamanya bertanya
“ lusa ma. ” ha itu membuat mamanya bertanya.
“ Mendadak banget sayang. Persiapannya bagaimana? ”
Pertanyaan seperti tidak habis dari Mamanya.
“ mama tenang saja. Semua sudah diurus sama kantor. Arsen hanya perlu menyiapkan keperluan pribadi. ” jawaban Arsen membuat wanita yang ada di hadapannya lebih tenang. “ berapa lama kamu di sana ” Ibunya bertanya lagi.
“ di kontrak selama dua tahun. Kalau kerja Arsen bagus maka mereka akan mengangkat Arsen jadi pegawai tetap. ” Arsen menjelaskan dengan bangga dan bahagia.
“ sebelum berangkat kamu nggak mau memberitahu Viona tentang semua yang terjadi? ” ibunya meyakinkan Arsen atas
keputusannya di masa lalu.
“ ma, sekarang Viona sudah jadi pacarnya Albert. Mereka saling mencintai. Arsen hanya bisa melakukan itu untuk mereka. ” Arsen mengerti apa maksud dari
pertanyaan Mamanya.
“ kalau itu memang keputusan kamu mama nggak bisa bilang apa-apa. Besok mama akan belanja semua keperluan yang akan kamu bawa. Besok kita juga akan makan
malam bersama sebelum kamu berangkat. ”
***
Shanti seorang wanita yang sudah berusia sekitar lima puluhan mampir di Toko Roti RASA TAK TERLUPAKAN.
“ tante? ” Viona kaget melihat siapa yang ada di depannya.
“ hai Vio, tante habis belanja untuk keperluan Arsen berangkat besok. Tiba-tiba tante ingin sekali makan roti kamu. Sekalian tante mau beli cakenya juga buat Arsen. Selama di Singapura dia pasti kangen dengan cake buatan kamu. ” Shanti sengaja menjadikan kalimat itu untuk memberitahu Viona
tentang rencana keberangkatan Arsen.
“ Singapur? ” Viona heran dengan apa yang dikatakan ibu dari pacarnya tersebut.
“ iya. Besok Arsen harus ke Singapur. Mendadak banget sebenarnya. Mungkin dia juga nggak sempat untuk memberi tahu kamu. Itu sebabnya tante ada di sini. Kita bisa bicara sebentar? ” Shanti menanyakan waktunya.
“ boleh tante. ” Viona mencari sebuah tempat yang tidak terlalu ramai pengunjung. Kalau siang suasana biasanya ramai. Karena pelanggan akan datang hanya untuk sekedar minum kopi dan makan roti.
Setelah Viona fokus mengembangkan usaha keluarganya, atas bantuan Arsen dia membuat sebuah inovasi baru yaitu kopi dan minuman lainnya yang bisa dinikmati bersama roti atau kue buatannya.
“ maksud tante kak Arsen mau berangkat? ” Viona masih belum mengerti dengan
jelas.
“ Arsen mendapat promosi dari kantor. Dia akan bekerja di Singapura. Tante sengaja ke
sini mau memberitahu kamu hal penting. Tante sudah berusaha minta dia untuk berterus terang tetapi dia menolak. ” Shanti menjelaskan tujuannya.
“ maksud tante hal penting apa? ”
wanita yang sangat dihormatinya itu memberi sebuah buku harian. Viona sangat kenal dengan buku harian yang bersampul warna biru muda tersebut.
“ inikan buku harian Vio? Ini sudah
hilang beberapa tahun yang lalu. ” Shanti hanya bisa tersenyum.
“ kamu tidak pernah tahu siapa yang menemukannya. Awal pertemuan kamu dengan Arsen anak sulung tante itu di
lapangan basket sekolahnya. Kamu siswa baru yang kebetulan terpilih jadi tim basket. Dia menemukannya ketika dia ingin pulang. Dia mencari kamu ternyata kamu sudah nggak ada. Maafkan anak tante karena dia nggak pernah mengembalikannya. Dia justru ingin mengenal kamu lebih dekat melalui buku harian ini. Dia akhirnya tahu apa hobi, makanan, impian, termasuk tentang cinta pertama kamu. ” Shanti menjelaskan semuanya.
“ Dari awal dia sudah tahu kalau aku suka sama Albert? ” Vania memastikan apa yang terlintas di pikirannya.
“ tepat sekali. Berkali-kali dia berusaha menggantikan posisi Albert adiknya tetapi sia-sia. Karena kamu sakit dia memaksa Albert untuk bertanggung jawab. Karena menurutnya kamu sakit itu karena Albert. Awalnya Albert hanya ingin memenuhi permintaan kakaknya. Sampai akhirnya dia
menyadari kalau adiknya mulai jatuh hati sama kamu. Dia nggak mau menyakiti kamu atau adiknya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengalah. Dia hanya mengawasi kamu dari jauh untuk memastikan kalau kamu baik-baik saja. Tentu saja buat tante kebahagian Arsen dan Albert itu sangat penting. Kebahagiaan mereka ada sama kamu. Tetapi tante mohon untuk kamu juga bahagia. Tante mohon sama kamu. Kamu harus tanya hati kamu dan biarkan hati
kamu yang menjawab. Siapa sebenarnya yang kamu cintai? ” Mendengar penjelasan Shanti dia hanya bisa terdiam tanpa bisa berkata apa-apa. Pikirannya kacau.
“ nanti malam keluarga tante akan mengadakan makan malam sebagai ucapan syukur karena besok Arsen akan berangkat. Tante harap kamu bisa datang. ”
***
Shanti sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Semua makanan adalah kesukaan Arsen anak sulungnya.
“ bert, mama mau minta tolong. Tolong beli bahan ini di super market. Mama lupa kalau bahannya sudah habis. ” Shanti memberikan catatan kepada Albert. Setelah Albert pergi, ibunya menemui Arsen yang sedang packing barang.
“ ada yang perlu dibantu? ” Shanti melihat anaknya sedang sibuk.
“ nggak ada ma. Mama sudah
sangat sibuk dengan memasak di dapur. ” Arsen tersenyum menjawab pertanyaan ibunya.
“ Sayang, nanti malam Viona akan datang. ” Shanti memberitahu rencananya.
“ mama kasi tahu Vio kalau Arsen akan pergi? ” sepertinya Arsen kecewa dengan keputusan ibunya.
“ sayang, mama tahu kamu sayang banget sama mereka berdua. Mama juga ingin mereka bahagia. Tetapi untuk kali ini kamu harus mikirin diri kamu sendiri. Kamu juga punya hak untuk bahagia. Bukan kamu yang menentukan tetapi Viona. Mama yakin Albert juga sudah dewasa. Mama hanya ingin anak-anak mama bersaing secara sehat. ”
***
Makan malam sudah siap. Terdengar suara bel pintu berbunyi. Albert membuka pintu.
“ Vio? ” Albert kaget karena Viona ada di depan pintu rumahnya.
“ tante Shanti yang mengundang aku untuk ikut makan malam. ”
Viona dan Albert berjalan ke ruang makan.
“ hai Vio, ” ayah mereka menyapa.
“ hai om, tante, kak Arsen ” Viona duduk di sebelah Albert.
“ silahkan makan! ” Shanti mempersilahkan makan.
Mereka menikmati makan malam bersama. Arsen menetapkan hati untuk dia berterus terang sebelum pergi ke Singapura.
Setelah selesai makan malam Viona membantu membereskan meja. Viona juga berniat mencuci piring. Shanti memberi isyarat kepada Arsen. Arsen mengikuti Viona dari belakang.
“ aku bantu cuci piring ya? ” Arsen menawarkan bantuan. Viona hanya mengangguk.
“ besok berangkat jam berapa? ” Viona bertanya sambil sibuk mencuci piring.
“ pesawat berangkat jam satu siang. ” Arsen menjawab pertanyaanya.
“ Vio, ada hal yang harus kakak jelaskan sama kamu. ” Arsen melihat Viona yang sedang mencuci piring.
“ kamu di sini ternyata ” suara Albert membuat mereka berdua terkejut.
“ Vio, ikut aku sebentar! ” Albert memegang tangan Vio dan mengajaknya pergi.
Arsen hanya bisa terdiam pasrah dan melanjutkan pekerjaan Viona
yang tertinggal.
***
Albert mengajak Viona duduk di sebuah taman dekat rumah.
“ Vio, aku sudah pikirin baik-baik.
Sekarang aku sadar bahwa aku nggak butuh perempuan pintar, karirnya bagus, serta penampilan yang menarik. Yang aku butuhkan adalah perempuan yang rela mengorbankan nyawanya sendiri hanya untuk menyelamatkan aku. Keberanian itu hanya aku temukan dalam diri kamu.
Aku janji mulai hari ini aku akan mengakui kamu di depan teman-temanku. Aku akan
menceritakan kalau aku bangga punya pacar seperti kamu. ”
Mendengar itu Viona hanya
menarik nafas panjang.
“ Bert, sampai kapanpun kamu akan tetap jadi cinta pertama aku. ”
***
Jam menunjuk ke angka delapan.
“ pa, aku mau ke rumah Albert dulu. ” Viona buru-buru memakai sepatunya.
“ jangan lupa makanan yang ada di meja. ” Viona sengaja bangun pagi-pagi hanya untuk memasak. Viona melihat ojek online yang dipesannya sudah ada di depan rumah.
“ bang, tolong antar saya ke jalan cemara no. 39. ”
Jam delapan adalah jam di mana banyak orang beraktivitas. Seperti berangkat sekolah, kerja, dsb. Itu mengakibatkan jalanan sangat macet.
“ bang, ada jalan pintas nggak? ” Viona sangat terburu – buru.
“ maaf neng untuk cari jalan pintas sangat susah. Kita tidak bisa menerobos karena jalan sangat macet. ”
Jam sudah menunjukkan 8.30 tetapi perjalanan masih jauh. Rasa panik membuat Viona berulang kali melihat jam tangannya. Jam 9.15 akhirnya Viona sampai di rumah Albert.
“ tante, dia ada? ”
Shanti mengerti siapa yang dimaksud dengan dia.
“ ada di kamar. ”
Viona langsung berlari ke lantai dua. Dia mengetuk pintu kamar dan langsung membukanya. Dia melihat Arsen sedang
mengeringkan rambutnya. Viona menarik nafas.
“ Vio, kamu sedang apa di sini? ” Arsen kaget melihat kedatangan Viona dengan keringat dan nafas terputus-putus. Viona berjalan ke
arahnya. Arsen semakin terkejut ketika Viona tiba-tiba memeluknya.
“ hei, what’s wrong with you? ” Arsen belum mengerti apa yang sedang terjadi.
“ kakak itu pengecut! Selama ini aku bangga dan selalu menceritakan kakak ke setiap orang yang aku temui. Tetapi sekarang aku
kecewa setelah tahu kalau kakak itu seorang pengecut. ” belum melepaskan pelukannya.
“ Vio, kakak belum ngerti. ” Arsen mencoba mengerti apa maksud Viona.
“ maafin aku kak karena selama ini aku mengabaikan kakak. Aku nggak pernah sadar kalau kakak selalu ada buat aku.
Setiap aku sedih, butuh bantuan, dalam bahaya, butuh teman curhat, butuh tempat untuk melampiaskan kemarahan, kakak selalu ada buat aku. Semua tentang aku kakak tahu. Makan malam romatis di hari ulang tahun, bunga dan coklat kesukaan aku. Itu semua kakak yang menyiapkan. Tetapi hati aku tertutup karena obsesi aku untuk mendapatkan cinta pertamaku. ”
Viona melepaskan pelukannya dan melihat wajah Arsen.
“ Vio, kamu sehat? ” Arsen masih bingung dengan sikap Viona yang tiba-tiba.
“ kakak ini bodoh atau pura-pura bodoh?
Aku datang ke sini. Bangun pagi-pagi untuk masak, melewati macet, panas-panasan hanya mau bilang kalau aku milih kakak bukan yang lain. Aku sayang sama kakak. Aku cinta sama kakak. Ini bukan hanya obsesi tetapi ini benar-benar karena aku cinta sama kak Arsen. ”
Viona memeluk Arsen. Arsen tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa membalas pelukannya.
“ Albert bagaimana? ” Arsen masih mencemaskan adiknya. Viona tersenyum dan menjelaskan kejadian sebenarnya.
Albert mengajak Viona di sebuah taman dekat rumah.
“ Vio, aku sudah pikirin baik-baik. Sekarang aku sadar bahwa aku tidak butuh perempuan pintar, karirnya bagus, serta penampilan yang menarik. Yang aku butuhkan adalah perempuan yang rela mengorbankan nyawanya sendiri hanya untuk menyelamatkan aku. Keberanian itu hanya aku temukan dalam diri kamu. Aku janji mulai hari ini aku akan mengakui kamu di depan teman-temanku. Aku akan menceritakan kalau aku bangga punya pacar seperti kamu. ”
Mendengar itu Viona hanya menarik nafas panjang.
“ Bert, sampai kapanpun kamu akan tetap
jadi cinta pertama aku. Tetapi maaf aku nggak mau menjadikan kamu hanya sebagai obsesi. Kamu berhak mendapatkan perempuan yang tepat untuk mendampingi kamu. Itu bukan aku bert. ”
Mendengar penjelasannya Arsen akhirnya mengerti.
“ so, sekarang kita? ” Viona memberi pertanyaan.
“ aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu. Dari awal kita bertemu di lapangan basket, hari ini, dan sampai maut memisahkan. I love you so…so…so… much.”
Mereka ke luar menuju meja makan.
“ Albert….! ” Viona berteriak karena makanan yang dimasaknya untuk Arsen telah habis dimakan mantan pacarnya itu.
***
Mereka tiba di bandara.
“ berapa lama kamu akan di Singapur? ”
“ dua tahun. Kalau kerja aku bagus aku akan jadi pegawai tetap di sana. Dan aku pastikan kalau aku akan jadi pegawai tetap
di sana. ” Arsen optimis dengan impiannya.
“ ya sudah. Kalau mau di sana selamanya nggak apa-apa. ” Viona memasang wajah
cemberut.
Melihatnya membuat Arsen tertawa.
“ I’ll be back for you. I promise ” Arsen
membentuk huruf V dengan jarinya.
***
Viona menjadi seorang baker dan dikenal sebagai pengusaha muda yang sukses. Ceritanya banyak menginspirasi orang. Di tengah keterbatasannya dalam hal akademis ternyata dia bisa membuktikan jika dia bisa sukses dengan potensi yang Tuhan sudah berikan.
Toko rotinya sudah memiliki beberapa cabang bahkan di luar kota. Pesanan secara online juga banyak mereka terima. Beberapa stasiun TV dan majalah meliputnya sebagai bahan inspirasi.
***
“ Inilah ceritaku. Ternyata mama benar. Bahwa setiap kita pasti memiliki guardian angel yang Tuhan kirim sebagai hadiah. Guardian angel bisa siapa saja lho. nggak harus pacar. Aku sudah menemukannya. Dia selalu ada buat aku. Bahkan ketika aku tidak melihat fisiknya aku tahu kalau hatinya bersama denganku. Thanks Tuhan karena sudah memberikan aku hadiah terbesar yaitu seorang guardian angel yang selalu menjaga aku dengan cintanya.
Viona menutup buku harian yang baru saja dia tulis.
“ Vio, ada Albert di depan. ” Anton
memanggilnya.
“ iya Pa. ” Viona berdiri dan langsung keluar dari kamar. Dia menemui Albert yang sudah menunggu di mobil.
“ cieee yang sekarang sudah naik mobil. ” Viona mengajak Albert bercanda. Albert menemani Viona belanja. Setelah belanja mereka langsung menuju rumah Albert. Viona menyibukkan dirinya di dapur.
Albert langsung pergi. Kurang lebih dua
jam setelah Albert pergi Viona telah selesai menyiapkan hidangan makanan di meja.
“ I’m home. ” Viona mendengar sebuah suara yang tidak asing di telinganya.
Dia berlari untuk menemuinya. Arsen menghampirinya dan memeluknya.
“ tante sama om lapar nih. ” Shanti
yang datang bersama Albert dan suaminya memberi isyarat. Hal itu membuat mereka tertawa.
***
Arsen dan Viona berjalan santai di taman dekat rumah.
“ bagaimana kontrak kerja kamu? Ini
sudah dua tahun. ” Viona menanyakan kelanjutan karir dari laki-laki yang dianggabnya sebagai guardian angel.
“ bagaimana ya? Mereka menawarkan aku untuk tetap bekerja di sana. ”
Arsen memberitahu tawaran yang dia dapat. “ terus keputusan kamu bagaimana? ” Viona penasaran dengan jawabannya.
“ keputusanku adalah…. ”
Arsen mengeluarkan sebuah majalah.
“ aku mau bekerja sama dengan wanita ini untuk mengembangkan usaha bersama. ”
Arsen menunjuk sebuah gambar yang ada di sampul majalah. Dia adalah Viona Theresia. “ kita akan mengembangkan ini sama-sama. Selama dua tahun di Singapura aku belajar banyak hal untuk kita bisa bekerja sama. Aku bangga sama kamu. Kamu punya kelemahan karena kamu nggak bisa belajar keras. Tetapi kelemahan itu tidak kamu jadikan sebagai alasan untuk kamu menyerah. ”
Viona memeluknya.
“ thank you so much. You’re my guardian angel. ” Viona mencium pipi kanan dan kiri Arsen.
“ aku punya sesuatu untuk kamu. ”
Viona melepaskan pelukannya. Arsen mengeluarkan sebuah kotak cincin.
“ sebagai bukti keseriusan aku sebagai
guardian angel. Aku mau ajak kamu bertunangan. Kita akan berjuang sama-sama dan kita akan menikah. Kamu mau? ” Viona mengangguk.
“ aku juga ada sesuatu buat kamu. ” Viona
mengeluarkan sebuah kotak yang berisi kue. “ selama ini aku selalu membawa Albert bekal roti atau kue. Bahkan aku selalu lupa siapkan buat kamu. Waktu kita resmi pacaran kamu langsung berangkat ke Singapura. Mulai hari ini aku akan selalu menyiapkan makanan buat kamu. ” Arsen
mencium keningnya dan mereka berpelukan.
* SELESAI *