[Kau memiliki sebuah permintaan?]
Perkenalkan, namaku Roxion Davinder. Biasanya, aku di panggil dengan nama depan saja "Roxion". Jika kalian ingin tahu, mimpiku dari kecil tidak pernah berubah sama sekali. Aku hanya ingin, menjadi seorang idola.
Namun, ayahku tidak pernah mengijinkan aku untuk mengikuti sebuah audisi. Jika kalian bertanya dimana ibuku, maka dengan berat hati aku hanya bisa menjawab tidak tahu. Kenapa?
Karena, memang aku ditinggalkan oleh ibuku sejak masih bayi. Yang aku pernah dengar, ayah dan ibuku tidak pernah direstui. Karena, ibuku merupakan anak semata wayang konglomerat disini. Sedangkan, ayahku hanyalah seorang sales marketing biasa.
Jadi, salah satu alasan ayah tidak pernah mengijinkanku ikut audisi juga karena masalah biaya. Karena, aku tidak tinggal di kota. Perjalanan dari rumahku untuk ke kota cukup jauh dan memakan biaya yang tidak sedikit. Makanya, aku yang masih duduk di bangku SMA ini hanya bisa bermimpi.
"Ah, aku bosan nonton acara televisi ini" Aku mengambil remot di dekat bangku dan mematikan televisi di depanku.
"Mumpung ayah belum pulang, apa aku latihan menari saja ya di sini?"
Layaknya anak kecil yang sedang kegirangan, akupun berlari menuju ke kamar untuk mengambil handphoneku. Setelah itu, aku langsung memilih dan memutar lagu boygroup terkenal tahun ini.
"Hey~ I'm shining like a~ STAR~" Dengan lincah, aku menari sambil bernyanyi.
Aku merasa latihanku dari semenjak sekolah dasar sampai sekarang membuahkan hasil yang sangat baik, karena buktinya aku bahkan bisa menari sambil bernyanyi dengan lancar. Setiap alunan lagu terpasang, aku merasa sangat bahagia.
"Ayah pulang"
Suara pertanda ayahnya sudah pulang membuat Roxion sangat kaget, sampai dia tidak sempat mematikan lagu dari handphonenya. Bisa dibilang saat ini dia mematung dengan aneh, ayahnya hanya menatap tajam ke arah Roxion.
"Ahaha.. Ayah sudah pulang?" Aku mencoba basa basi sedikit pada ayahku.
"Roxion" Panggil ayah, dengan nada tegasnya.
"Y.. Ya, ayah?" Jawabku terbata-bata.
"Apa lagi yang sedang kamu lakukan kali ini?"
Gawat, ayah paling tidak suka kalau melihatku membuang waktu dengan sia-sia untuk menari. Jadi, saat ini aku hanya bisa mematikan lagu dari handphoneku dan menunduk kebawah.
"Roxion Davinder jawab ayah, sekarang!"
"A.. Aku sedang.." Setetes keringat mulai turun dari rambutku.
"Sedang apa?!"
"Aku sedang.. menari, ayah.." Ku harap ayah mendengar jawabanku, karena suaraku benar-benar pelan tadi.
"Kurang ajar, ayahmu susah payah banting tulang mencari nafkah!" Ayah menaruh tas kerjanya di meja dan berjalan menghampiriku.
"Dan kamu, hanya bisa menari lagi dengan tidak jelas dari dulu!"
"Tapi, aku suka menari ayah" Jangan tanyakan, kenapa aku masih berbicara saat ini. Karena, mulutku benar-benar sulit untuk di tutup.
"Lihat? Sekarang, kamu bahkan berani membantah ayahmu!"
"Kemarikan handphonemu"
"Jangan ayah, ini handphone kesayanganku"
"Ayah bilang, berikan handphonemu Roxion!!" Dengan kasar, ayah menarik paksa handphoneku.
"Jangan.. Ayah.."
Sebisa mungkin, aku memohon agar ayah mengembalikan handphoneku. Namun, sepertinya usahaku nihil. Ayahpun mengangkat tangannya yang sedang menggenggam handphoneku. Kemudian, dengan cepat ayah membanting handphoneku ke arah lantai.
PRANGGG
"H.. Handphone.. Handphoneku!!!" Dengan cepat, aku mengambil lagi handphoneku yang sudah hancur itu.
"Kalau sudah mengerti, baliklah ke kamarmu dan belajar" Tidak peduli denganku, ayah langsung masuk ke kamarnya.
Tenang saja, aku tidak menangis. Karena, aku anak laki-laki dan sedari kecil aku juga didik ayahku agar tidak mudah menangis. Akhirnya, aku hanya bisa membereskan pecahan handphoneku dan kembali ke kamar dengan perasaan campur aduk antara marah, kecewa, dan sedih.
BRUK
Aku menjatuhkan diriku ke tempat tidurku, rasanya aku tidak akan bisa konsentrasi jika belajar sekarang. Jadi, aku hanya tiduran sambil melihat ke atas langit kamarku yang ada tempelan bintang-bintang. Mengingat masa lalu, yang menurutku sangat menyenangkan.
"Kenapa? Padahal, dulu ayah sangat suka melihatku menari dan bernyanyi" Itu sebuah kebenaran, ayah benar-benar suka melihatku menyanyi dan menari saat aku kecil.
Entah apa yang mempengaruhi dan merubah sifat serta pola pikir ayahku, semenjak aku duduk di bangku SMP. Ayah menjadi sangat marah, jika aku terlihat sedang bernyanyi ataupun menari. Karena, kata ayah itu adalah hal yang sia-sia.
"Seandainya, bintang diatas ini bisa mengabulkan permintaan seperti bintang jatuh" Gumamku, sambil menghitung bintang-bintang yang ada di langit kamarku.
[Kau memiliki sebuah permintaan?]
Aku terjatuh dari kasurku, akibat salah satu bintang dari langit kamarku yang datang menghampiriku secara tiba-tiba. Selain bintang itu, sebuah panel seperti teknologi canggih muncul di hadapanku. Bagaimana aku menjelaskannya ya?
Pokoknya, intinya panel teknologi itu muncul dari bintang yang berada di depanku saat ini. Seperti semacam, proyektor. Ya benar, ku rasa bintang ini berfungsi sebagai proyektor dari panel teknologi ini.
"Apa? Bagaimana.. Tunggu, ini apa?" Aku menggaruk kepalaku dengan frustasi.
[Kami adalah Star Entertainment]
"Star.. Entertainment..?" Katakan bahwa aku sudah tidak waras, karena berbicara dengan sebuah bintang.
[Benar, kami adalah Star Entertainment]
[Star Entertainment adalah sebuah agensi yang memilih dan mengembangkan calon-calon idola dengan bakat selayaknya berlian]
"Agensi? Idola? Berlian? Apa sih???"
[Apakah anda berminat menjadi seorang idola?]
DEG
Jantungku langsung berdegup kencang saat membaca pertanyaan yang tertera di panel tersebut, karena entah mengapa aku jadi berharap bahwa ini bukanlah mimpi. Aku masih ingin, menggapai mimpiku sejak masih kecil dulu.
[Jika anda berminat menjadi idola, silahkan tekan tombol "Ya" dibawah ini]
[Jika tidak, anda juga bisa menekan tombol "Tidak" di sebelah kanan tombol "Ya"]
"Apa ini sungguhan?"
"Sungguhan atau bukan, toh tidak ada ruginya jika aku iyakan"
Akhirnya, dengan yakin aku menekan tombol "Ya" yang ada pada panel teknologi tersebut. Setelah itu, yang aku lihat hanyalah cahaya yang sangat terang keluar dari bintang tersebut.
[Terima kasih, karena sudah berminat menjadi idola di Star Entertainment]
[Sekarang, silahkan isi biodata yang ada dibawah ini dengan lengkap]
"Nama.. Roxion Davinder, umur.. 17 tahun, kelebihan.. Menyanyi dan menari" Dengan teliti, aku mengisi biodata tersebut seolah-olah bahwa ini akan menjadi kenyataan.
"Heum? Apa yang akan aku lakukan jika, aku menjadi idola?" Benar juga, selama ini aku tidak pernah memikirkan hal ini.
"Jika, aku menjadi idola... aku akan tetap menjadi, seseorang yang tidak lepas dari tanggung jawabku" Selesai menjawab, akupun menekan tombol "Submit".
[Terima kasih, harap tunggu sebentar untuk kontrak pekerjaan anda]
"Hahaha.. Aku rasa, aku benar-benar tidak waras"
TRING
[Kontrak Pekerjaan : Roxion Davinder]
[Saudara Roxion Davinder, akan menjadi bagian talenta dari Star Entertainment. Sekaligus, didik dan dikembangkan menjadi idola yang bertanggung jawab atas hal yang dilakukannya. Serta, kontrak pekerjaan ini akan berlangsung selama 5 tahun]
[Apakah anda akan menerima kontrak pekerjaan ini?]
[Silahkan, tanda tangan dibawah ini]
"Lima tahun?! Tapi, aku ingin mewujudkan mimpiku"
"Baiklah, sudah kuputuskan!" Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya aku membulatkan tekadku.
[Selamat bergabung sebagai anggota Star Entertainment, Roxion Davinder. Kami sangat senang, memiliki seseorang bertalenta seperti anda]
[Mulai saat ini, anda akan masuk ke dalam dunia idola virtual kami]
"Apa?! Masuk ke dunia virtual?!?!"
[Silahkan tekan tombol "Menu" di tangan kiri anda untuk kembali ke dunia anda]
"Tunggu, aku belum siap!"
[Selamat berjuang, Roxion Davinder]
WUSHHHHHHH
Cahaya yang berwarna putih terang seakan memakan diriku, akupun menutup rapat mataku. Beberapa detik kemudian, aku tiba-tiba mendengar banyak sekali suara bahagia orang-orang. Dengan perlahan, aku membuka mataku.
"Huh? Dimana ini?"
Saat ini, aku berada di suatu tempat yang terlihat seperti bagian belakang panggung. Banyak sekali orang yang sibuk di sini, seperti sedang menyiapkan sesuatu. Teringat dengan tombol "Menu", akupun menekan tombol di tangan kiriku.
[Menu]
[P] Pulang
[I] Informasi
[M] Member
[S] Status
[D] Data pribadi
"Baiklah, mari kita coba lihat [I] Informasi"
[I] Informasi
[Anda memiliki konser debut pertama dengan para member grup anda, konser debut akan berlangsung selama 2 jam]
"Konser debut?! Aku bahkan, belum latihan sama sekali!"
"Kalau begitu, sekarang kita lihat dulu [D] Data pribadi"
[D] Data pribadi
[Nama lengkap anda Roxion Davinder, berumur 17 tahun. Nama panggung anda adalah Xion]
"Xion? Aku suka nama panggungku"
"Apa aku bisa pulang sekarang?" Karena penasaran, akupun mencoba menekan tombol [P] Pulang.
[P] Pulang
[Mohon maaf, anda tidak bisa pulang saat ini. Karena, anda memiliki jadwal untuk di selesaikan]
"Begitu rupanya, jadi aku tidak bisa pulang kalau punya jadwal"
Saat sedang sibuk membaca dan memahami situasi. Tiba-tiba, ada seseorang yang sepertinya seumuran denganku memanggilku dengan semangat. Lebih tepatnya, dia memanggil nama panggungku. Yang baru saja, aku ketahui beberapa menit yang lalu.
"Hai, Xion!!!" Ucapnya, dengan sangat semangat.
"Hai, umm..." Aku belum mengecek data para member, jadi aku tidak tahu siapa yang berdiri di depanku saat ini.
"Oh, kamu pasti belum mengecek data member kan?"
"Iya benar, aku lupa mengeceknya"
"Tidak masalah, kamu bisa mengecek data itu sekarang"
Sesuai dengan perkataannya, aku pun menekan tombol [M] Member yang ada di tangan kiriku. Kemudian, aku melihat tampilan beberapa foto dan biodata dingkat dari panel teknologi tersebut.
[M] Member
[Nama panggung : Val, merupakan leader atau ketua sekaligus rapper dari grup debut kalian yang bernama Amaze]
[Nama panggung : Dave, merupakan main dancer dari grup Amaze]
[Nama panggung : Lionel, merupakan center dan visual dari grup Amaze]
[Nama panggung : Xion, merupakan main vocal dari grup Amaze]
"A.. Aku main vocal??" Terkejut sekaligus terharu, aku akhirnya berhasil meraih keinginanku.
"Bagaimana? Sudah tau aku siapa?" Tanya salah satu member, yang semangat memanggilku tadi.
"Salam kenal, Dave" Aku mengulurkan tanganku.
"Akhirnya, salam kenal juga Xion" Dave menerima uluran tanganku dengan wajah senang.
Tidak berapa lama kemudian, dua orang member yang aku yakin bernama Val dan Lionel menghampiri kami. Aku bisa menebak siapa Val, karena dia memang memiliki aura ke pemimpinan. Sedangkan Lionel, memiliki wajah rupawan selayaknya visual.
"Halo, salam kenal Xion dan Dave. Namaku Val, aku adalah leader kalian. Mohon kerja samanya"
"Yahooo~ salam kenal, namaku Lionel. Aku harap, kita bisa akrab!"
Baru saja, kami berempat berbincang sebentar. Tapi, kami sudah di panggil untuk bersiap-siap di balik tirai panggung. Sebelum memulai, kami berniat meneriakkan salam dari grup kami untuk para penggemar.
"Bukankah ini seperti mimpi? Maksudnya, kita berempat saat ini akan memulai debut sebagai idola para penggemar kita" Ucap Val, dengan senyum bangganya seperti seorang leader.
"Benar, makanya ayo kita meneriakkan nama grup kita dengan semangat kepada para penggemar" Dengan semangat menggebu, aku pun memberi motivasi kepada para member.
"Kami setuju" Jawab Lionel dan Dave secara serempak.
[3]
°
[2]
°
[1]
°
[Konser boygroup Amaze dimulai]
"Halo semuanya, kami Amaze!!!"
...
💬 [THE END] 💬
Mohon dukungannya ya, terima kasih banyak 🙆❤️