Di sebuah rumah sakit yang megah di kota Y, terlihat seorang gadis tentu berambut panjang, berjalan keluar dari salah satu ruang periksa sambil membawa sebuah kertas pemeriksaan dari dokter.
Gadis itu hanya bisa tersenyum pilu melihat hasil dari pemeriksaannya.
"Kenapa ini semua harus terjadi padaku?" Guma gadis itu dengan lesu, seolah ingin meneteskan air mata namun tidak bisa.
Diujung ruang tunggu, ada seorang pemuda yang terlihat menunggu gadis itu.
"Bagaimana, dan hasil pemeriksaanmu, Yuna?"
Gadis itu hanya tersenyum, lalu mulai berkata,
"Aku baik-baik saja, Rafael."
"Syukurlah kalau begitu," kata pemuda bernama Rafael itu terlihat yang terlihat lega.
Refael adalah sahabat baik dari Yuna. Mereka sudah berteman cukup lama.
Setelah itu, Rafael mengantarkan Yuna yang hendak pulang, namun dia tidak jadi.
Ada tempat yang ingin Yuna kunjungi.
Itu adalah sebuah danau, sebuah danau yang indah, menatap danau ini yang memiliki begitu banyak kenangan.
"Kenapa kamu tiba-tiba ingin kesini? Ini tempat kamu dan Dia biasanya bertemu bukan?"
Yuna hanya tersenyum menatap kearah Rafael.
"Hanya..... Rasanya sangat indah untuk melihat tempat ini...."
Ini bisa saja menjadi terakhir kalinya dirinya bisa melihat tempat ini.
Penyakitnya bisa kambuh tiba-tiba....
Siapa yang tahu nanti....
Apakah dirinya masih bisa ketempat ini bersama dengan Kekasihnya.....
Dan apa yang harus dirinya katakan pada orang itu?
Dirinya bahkan tidak berani mengangarakan ini pada Rafael.
####
Setelah itu Rafael mengantar Yuna sampai ke rumahnya.
"Aku pergi dulu, ya Yuna." Kata rafael melambaikan tangannya sambil menaiki mobil nya kemudian pergi dari sana.
Di sini Yuna tersenyum, sambil melambaikan tangannya pada Rafael.
Akan sangat indah jika hari-hari seperti ini masih bisa berjalan selamanya....
Namun terkadang sebuah keinginan hanyalah sebuah keinginan....
Terkadang berujung pada keputusasaan....
Dengan langkah pelan, Yuna lagu memasuki rumahnya.
Di ruang tamu dia melihat ayah dan adiknya, Ana.
"Aku pulang Ayah," sapa gadis itu pada Ayahnya.
Namun, Sang Ayah terlihat tidak membalas salam dari putrinya itu.
"Selamat, datang Kak Yuna," jawab Ana dengan senang.
Yuna tersenyum lembut, lalu berkata,
"Kakak kekamar dulu ya, Ana. Kamu baik-baik ya."
Lalu melihat gadis itu pergi dari sana menuju ke kamarnya.
Yuna menaiki anak tangga menuju kamarnya perlahan, memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya nanti.
Ayahnya membencinya....
Dan adiknya Ana....
Bagaimana dengan gadis kecil itu....
Namun ketika Yuna sibuk berpikir, dia mulai terbatuk.
Dadanya terasa sangat sakit, dia memegangi dada kirinya, sambil tangan kanannya mencari sarung tangan untuk menutup mulutnya.
Deg
Yuna bisa melihat, dari sapu tangan itu ada noda darah.
Bukan pertama kalinya dirinya mengalami ini.
Namun Yuna tidak pernah berfikir, jika ini akan menjadi penyakit yang begitu parah.
Namun semakin hari rasa sakit ini semakin menumpuk, darah yang perlahan keluar seakan semakin banyak.
Yuna lalu mulai memasuki kamarnya.
"Oh Tuhan... Apa tidak tersisa lagi waktu untukku?"
Di sana guna mulai menatap, beberapa figura foto yang ada dimeja belajarnya.
"Seandainya, Ibunya masih ada....."
Air matanya perlahan jatuh, mengigat kembali alasan Ibunya meninggal.
Itu adalah sebuah kecelakaan, dimana Ibunya menyelamatkan nyawa Yuna, dengan mengorbankan dirinya sendiri.
Seandainya, Yuna tidak ceroboh....
Hari itu semua hal tidak akan menjadi seperti ini....
Dirinya yang selalu hanya bisa menyusahkan.
Dirinya tidak sehebat adiknya, Ana yang berbakat sejak kecil, dan memiliki prestasi yang hebat yang bisa membuat Keluarganya bangga.
Dan dirinya hanyalah seorang biasa, yang tidak bisa memiliki prestasi apapun.
Orang yang tidak berguna....
Yuna mula bertanya-tanya, kenapa Ibunya menyelamatkan dirinya saat itu?
Bahkan gara-gara itu Ayahnya jadi semakin membenci dirinya.
Mulai berpikir, kenapa hari itu bukan dirinya saja yang mati?
Toh...
Pada akhirnya, dirinya akan tetap mati seperti ini....
Penyakit yang tidak akan sembuh yang akan perlahan memgegrogoti dirinya.
Gadis itu sekali lagi mulai meneteskan air matanya.
Menagis pilu mengigat hidupnya ini.
Hal-hal yang dirinya alami sejak kecil....
Perlakukan Ayahnya yang dingin....
Namun kemudian, Yuna menatap kearah foto lainnya disana.
Itu adalah sebuah foto Yuna dengan Kekasihnya, Kevin.
Apa yang harus dirinya lakukan dengan hubungannya dengan Kevin?
Apakah dirinya sangup membuat pemuda yang begitu mencintainya itu sakit hati?
Yuna masih sangat menyukai pemuda itu....
Kenapa umurnya bisa begitu pendek?
Dan lagi.....
Sekarang, Yuna menatap lagi foto yang lainnya.
Disana ada foto Yuna dan kedua sahabatnya.
Dirinya tidak ingin membuat mereka juga sedih.
Tapi.....
Apa yang bisa dirinya lakukan....
Pikirkan ini membuat Yuna frustasi...
####
Di tempat lainnya, terlihat Rafael sedang memarkirkan mobilnya, di salah satu tempat parkir dekat taman.
Lalu dia perlahan turun dari mobilnya, melihat kearah jam tangan.
Ini adalah jam yang sesuai dengan waktu dia janjian dengan seseorang.
Terlihat di salah satu kursi, di ujung taman itu, ada seorang gadis.
Gadis itu bernama Viola, dia adalah Sahabatnya dan Sahabat Yuna.
Mereka sudah saling mengenal sejak kecil.
Mereka bertiga memiliki hubungan yang sangat baik sampai saat ini.
"Apakah kamu menunggu cukup lama Vio?"
Gadis itu menggelengkan kepalanya,
"Tidak. Aku juga baru saja sampai di sini," kata gadis itu sambil tersenyum.
"Jadi, ada apa? Kamu bilang kamu ingin mengatakan sesuatu padaku...."
Lalu tiba-tiba, gadis itu berdiri.... Dan berkata,
"Rafael.... Aku menyukaimu... Tidak sebagai sahabat... Aku mencintaimu sebagai seorang laki-laki...."
Deg
Di sana bersama hembusan angin menerpa mereka, dan tahun-tahun dari pohon yang ikut terbawa angin.
Di bawah, sinar bulan yang begitu cerah.
Seorang gadis menyatakan cintanya....
Namun....
"Maaf, Vio... Tapi aku tidak menyukaimu dalam hal seperti itu." Kata Rafael dengan tegas.
"Aku tahu... Tapi...."
"Maafkan aku Vio,"
"Aku mengerti di hatimu ada seseorang yang kamu perhatikan, tapi tolong beri aku kesempatan, dan biarkan aku percaya bila suatu saat nanti kamu akan bisa mencintaiku, dan melupakan Yuna. Kami tahu bukan, kalau Yuna sudah memiliki Kevin?"
"Ya, itu memang benar, dia telah memiliki orang lain seperti tak ada harapan untukku, namun.... Aku masih tetap tidak bisa menghilangkan perasaan ini di hatiku...."
"Rafael...."
"Masih begitu susah untuk menghilangkan perasaan cinta ini.... Namun..."
Bersama dengan keheningan malam yang menyelimuti keduanya, hanya angin malam yang berhembus kamu tahu rasa sakit hati yang mereka berdua miliki.
Masa sakit hati mencintai seseorang yang tidak mencintaimu kembali.
Rasa sakit mencintai orang yang tidak bisa menjadi milikmu.
Cinta yang bertepuk sebelah tangan....
Karena tidak semua cinta berakhir dengan bahagia.....
Itulah cinta yang begitu rumit.
####
Ini adalah hari yang lain, ini adalah sebuah hari minggu.
Yuna sudah semalaman menagis, akhirnya sudah membuat keputusan.
Dia lalu menelepon Kevin.
"Hallo, Yuna sayang. Ada apa?" Kata pemuda di ujung telepon yang terlihat bahagia, terdengar dari suaranya.
"Aku mau kita putus Kevin," kata Yuna dengan tegas.
Pemuda yang awalnya bahagia itu, lihat kaget dan tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya, lalu bertanya dengan penuh emosi.
"Ta... Tapi kenapa Yuna?"
"Aku sudah tidak mencintaimu lagi,"
"Kamu bohong aku tidak mempercayai mu!!"
"Aku sudah punya penggantimu di hatiku!"
"Tidak!! Tidak percaya padamu!! Mari kita bertemu dulu, aku akan menunggumu di tempat biasa kita bertemu,"
"Aku tidak mau bertemu denganmu lagi. Mulai detik ini aku bukan siapa-siapamu. Aku sudah memiliki pengganti dirimu,"
"Sejak kapan? Kamu bohong bukan?"
"Aku sudah lama mencintainya, tapi kamu memaksa ku untuk jadi pacarmu,"
"Tidak mungkin!!"
"Kamu yang memaksa aku dengan mengatakan cinta di depan para penggemarmu dan seluruh sekolah, membuatku terpaksa menerima cintamu."
"Tidak!! Kamu yang berjanji padaku untuk selalu bersamaku, jika kamu sangat mencintaiku...."
"Itu cuma sebuah kata-kata... Aku tak pernah mencintaimu."
"Kamu pasti bohong... Aku akan tetap menunggumu di tempat itu sampai kamu datang!" Kata pemuda itu dengan keras kepala.
"Terserah kamu," kata Yuna lalu menutup teleponnya.
Disana, air mata Yuna tidak lagi terbendung.
Hatinya begitu sakit ketika mengatakan semua kebohongan itu...
Tentu saja, Yuna sangat mencintai Kevin lebih dari apapun..
Orang yang begitu dirinya cintai...
Seseorang yang secara tiba-tiba memasuki hidupnya...
Seseorang yang membuat hari-harinya cerah....
Seseorang yang selalu bisa membuatnya tertawa....
Seseorang yang selalu ada di sisinya...
Seseorang yang sangat mencintai dirinya....
Namun...
Itulah hal yang bisa Yuna lakukan...
Karena pada akhirnya, dirinya dan Kevin tidak akan pernah bersatu....
Dirinya akan meninggalkan Kevin cepat atau lambat.
####
Ini adalah sebuah danau yang sepi.
Hari sudah cukup malam, perlahan hujan mulai turun.
Namun itu tidak membuat seorang pemuda yang duduk di tepi danau itu pergi.
Pemuda bernama Kevin itu, menatap kearah danau, ambil menunggu pujaan hatinya untuk datang.
Dirinya yakin kalau Yuna berbohong.
Ingat hari-hari ketika mereka pertama kali berkencan...
Ini adalah di tempat ini...
Sebuah danau sederhana di mana mereka menaiki sebuah kapal kecil...
Ada mereka berdua di sana....
Ciuman pertama mereka....
Buah kenangan yang tidak akan pernah bisa dilupakan.
Hari-hari yang mereka lalui bukanlah sebuah bohongan....
Kevin yakin akan hal itu, itulah kenapa dirinya tetap setia menunggu gadis itu datang.
Bersama heningnya malam...
Dan hanya bulan dan bintang yang menemami kesepiannya itu.
####
Malam itu, ketika Ayah Yuna duduk bersantai di ruang tamu, dia menemukan sebuah amplop putih terjatuh dibalik karpet.
Karena penasaran dia pun mengambil amplop itu.
Namun ketika dia melihat nama yang berada diatas amplop itu....
Seketika wajahnya cemberut...
Itu adalah nama Putri Sulungnya, Yuna.
Memikirkan tentang putrinya ini, perasaannya menjadi rumit.
Memikirkan hari-hari di masa lalu di mana dirinya berbuat tidak adil kepada Putri sulungnya itu.
Mungkin tidak seharusnya ah dirinya memperlakukan putri sulung nya sedemikian keras dan kasar.
Ini hanyalah sikap dirinya yang egois yang tidak bisa menerima kematian Istrinya.
Dirinya masih ingat betul pada hari kecelakaan itu.
Yuna yang masih berumur 12 tahun mengikuti lomba melukis. Yuna sangat ingin dipuji oleh sang Ayah, sama seperti adiknya Ana.
Dengan susah payah Yuna kecil mengikuti perlombaan melukis, memenangkannya.
Namun ketika hadiah diberikan sang ayah tetap tidak datang.
Nama Yuna dipanggil keatas panggung, dirinya sangat sedih, karena Ayahnya tidak ada disana.
Sang Ibu mencoba menghibur gadis itu setelah turun dari panggung.
Namun, Yuna yang sedih dia berlari keluar ruangan itu, berlari sampai ke jalanan dan tidak melihat arah.
Saat itu Yuna hampir tertabrak mobil, namun diselamatkan oleh Ibunya.
Terjadilah peristiwa tragis itu.
Ayah Yuna juga masih ingat pesan terakhir Istrinya,
"Jagalah Yuna,"
Namun dirinya yang egois mengabaikan pesan itu.
Sebagian besar ini juga salahnya, jika saja dirinya datang....
Namun dirinya malah tetap memperlakukan putrinya dengan kejam karena keegoisannya ini.
Hubungan dirinya dan putrinya sudah menjadi rusak, dan di dunia tidak tahu bagaimana cara memperbaiki ini.
Singkirkan itu dia lalu membuka amplop yang ada di tangannya.
Pasaran itu sebenarnya apa.
Namun begitu membuka amplop atas nama putrinya itu, Dia begitu kaget.
Dirinya langsung berlari ke kamar putrinya, mengetuk pintunya melihat wajah putrinya itu air mata mulai turun tidak terbendung ketika dia memeluk putrinya tiba-tiba.
"Maafkan Ayah, Yuna... Ayah memang Ayah yang tidak berguna. Sampai-sampai keadaan putriku sendiri tidak tahu.... Maafkan Ayah...."
Sana Yuna ikut menangis bersama Ayahnya.
####
Ditempat lainnya, Rafael yang selama akhir pekan ini cemas dengan keadaan Yuna, akhirnya memutuskan untuk kembali ke Rumah Sakit, untuk bertanya pada Dokter yang bertanggung jawab.
Itu kebetulan adalah rumah sakit milik keluarganya, dirinya cukup kenal dengan dokter yang melakukan pemeriksaan pada Yuna.
Tentu saja memikirkan tentang keadaan Yuna membuat Rafael sedih.
Yuna yang merupakan sahabatnya, juga merupakan orang yang sangat dicintainya.
Kemarin setelah melihat hasil pemeriksaan, jelas-jelas dia melihat raut wajah Yuna yang pucat.
Juga senyuman yang Yuna tunjukkan padanya terkesan seperti sebuah senyum paksaan.
Lagipula dirinya tahu sekali kalau Yuna tipe yang tidak ingin membuat orang lain sedih dan repot karena dirinya.
Rafael jadi teringat kejadian ketika di sekolah waktu itu.
Setelah pelajaran olahraga, ketika tidak sengaja dirinya lewat toilet wanita, dirinya melihatnya Yuna kesakitan, memegang dada kirinya dan terlihat bekas darah di sekitar mulutnya.
Sampai di depan pintu ruang ruangan dokter itu perasaan Rafael masih dipenuhi kecemasan.
Disana setelah memaksa dokter itu untuk bicara akhirnya Rafael mendapatkan jawabannya, tentang penyakit Yuna.
Tentu saja itu membuat Rafael syok.
Ketika Rafael mulai berjalan pelan menuju tempat parkir, raut wajahnya terlihat sedih terpukul dan kaget mendengar keadaan sahabatnya yang juga orang yang dicintainya itu dalam keadaan rapuh dan mengalami penyakit yang sangat parah sehingga itu hampir merenggut nyawanya dan mungkin umurnya tidak akan panjang.
"Jantung bocor...."
Ingin rasanya dirinya menangis, ketika mendengar itu.
Dirinya juga mendengar hampir tidak ada harapan untuk Yuna kecuali donor jantung.
Dan lagi itu tidak semudah itu menemukan jantung yang pas untuk Yuna.
Rafael mulai berpikir,
"Seandainya saja bisa maka kurelakan jantungku ini untuk Yuna.... Aku akan sangat senang bila bisa selalu membuatmu bahagia," gumanya pelan.
####
Di hari senin yang cerah ini, Yuna masih berangkat sekolah seperti biasa.
Namun di kelas Yuna, ada beberapa keributan, itu hanya semacam gosip-gosip yang beredar.
Beberapa orang mulai membicarakan bagaimana Kevin tidak hadir hari ini karena sakit.
Kabarnya kalau Kevin semalaman dia tidak pulang dan malah ada di pinggir sebuah danau.
Malam terjadi hujan lebat padahal.
Deg
Memikirkan keadaan Kevin membuat hati Yuna hancur.
Namun cepat atau lambat dirinya akan menyakiti hati Kevin.
Hatinya juga harus sakit untuk menjaga jarak dari Kevin orang yang dicintainya.
####
Waktu terus berlalu hari-hari semakin berjalan, di hari-hari itu keadaan Yuna semakin parah.
Lihat kalender saat ini adalah tanggal 2 Januari.
Yuna hanya tersenyum tipis melihat ke arah kalender di kamarnya.
Mungkin kemarin adalah hari terakhirnya bisa merayakan tahun baru dia tidak tahu sampai kapan umurnya.
Disamping kalender itu dilihatnya sebuah foto di mejanya yaitu fotonya dengan Kevin. Mengigatkannya selama satu bulan ini Kevin selalu mendatanginya meminta penjelasan, memberinya kejutan di hari ulang tahunnya yang ke-16, bahkan selalu menawari hinata agar mau pulang bersamanya.
Namun dengan berat hati dirinya mengacaukan Kevin, menolak semua kebaikannya dan mengabaikan keberadaan orang itu.
Rasanya sangat sakit sekali melihat itu.
Umurnya sudah tidak panjang dirinya tidak tahu kapan dirinya bisa melihat Kevin lagi.
Ayahnya bilang, dirinya akan diajak berobat ke Luar Negeri.
Namun dirinya juga tidak tahu apakah ini akan berhasil atau tidak.
Pesawat yang akan dinaiki nya untuk pergi ke luar negeri akan berangkat malam ini.
Ketika dirinya membereskan barang-barang nya, Rafael datang.
"Yuna.... Kamu benar-benar akan pergi seperti ini?"
"Iya Rafael."
"Apakah tidak masalah tidak membicarakan ini dengan Kevin?"
"Tidak ada yang berbicara kan,"
"Yuna......"
"Apakah kamu sudah tahu tentang keadaanku Rafael?"
Rafael mengaguk ringan.
Dirinya sudah tahu semua itu namun tidak ada yang benar-benar dirinya bisa lakukan untuk, Yuna.
"Aku tidak tahu apakah kita akan bisa bertemu lagi,"
"Jangan bilang seperti itu! Kamu pasti akan sembuh! Kamu harus percaya itu!"
Disana Yuna mulai menangis.
"Aku juga ingin percaya.... Aku masih ingin bersama-sama denganmu, keluargaku.... Juga dengan Kevin....."
"Yuna.... Jadi kenapa? Kenapa kamu membuat dirimu sendiri sedih dengan menjauh dari Kevin?"
"Karena aku tidak ingin membuat dia sedih....."
"Apakah itu penting? Bukankah perasaanmu yang penting?"
Yuna masih diam mendengarkan perkataan Rafael.
"Jika..... Ini hari terakhir aku bisa melihatmu.... Aku ingin bisa melihat kamu bahagia.... Aku sebenarnya sangat mencintaimu..... Tapi aku tahu, bukan aku yang bisa membuatmu bahagia. Hanya Kevin yang bisa... Jadi kenapa kamu tidak mencoba bertemu dengannya?"
"Rafael aku....."
"Pergi.... Dan temui Kevin sebelum terlambat....."
Yuna lalu mengaguk ringan.
Memutuskan bahwa setidaknya, kalau mungkin dirinya pergi, dirinya ingin menikmati saat-saat terakhir yang bahagia dengan Kevin.
Bahkan itu akan sangat menyakitkan untuk Kevin.
Namun jika dirinya pergi seperti ini itu hanya akan membuat Kevin lebih menderita.
Jika ini hari terakhirnya, setidaknya dirinya ingin bisa mengobrol tentang berbagai hal lucu dengan Kevin, menonton film bersamanya, lalu menaiki perahu bersama-sama.
Karena dirinya sangat mencintai Kevin.....
Dirinya akan menyiapkan sesuatu yang indah untuk Kevin nanti.
####
Hari itu, di danau, Yuna akhirnya menelpon Kevin untuk mengajaknya bertemu.
"Yuna.... Akhirnya kamu ingin bertemu denganku?"
"Ya,"
"Jadi yang sebelumnya hanya sebuah kebohongan?"
"Sebenarnya aku ingin membuat kejutan untuk ulang tahunmu, tapi aku rasa aku tidak tahan membuat lelucon ini,"
Kevin disana lalu cemberut.
"Kamu tahu, ini tidak lucu bukan?"
"Maafkan aku, Kevin. Jadi apakah kamu marah?" Kata Yuna sambil menatap kearah Kevin.
"Bagaimana aku bisa marah pada gadis yang aku cintai, hmm?" Kata Kevin sambil memeluk Yuna.
"Ya, maafkan aku Kevin,"
Yuna disana mulai menangis.
"Hey? Kenapa kamu menagis? Aku tidak marah padamu oke? Jadi jangan menangis...."
"Kenapa kamu begitu baik?"
"Karena aku sangat menyukaimu, Yuna."
"Aku menagis karena aku sangat merindukanmu...."
"Aku juga merindukanmu...."
Hari itu mereka berdua berkencan, Yuna meminta banyak hal pada Kevin, untuk menemaninya pergi ke taman hiburan.
Menaiki aneka wahana yang disana yang belum pernah dirinya naiki.
Foto bersama dengan maskot ditaman hiburan.
Memakan makanan kesukaannya disana.
Menaiki kapal kecil didanau, yang ada di taman hiburan.
Lalu, melihat kembang api di malam hari.
Tertawa bersama-sama.
Semua kenangan indah yang dirinya lakukan dengan orang yang paling dicintainya.
"Kevin. Kamu tahu? Aku sangat-sangat mencintaimu."
"Hmm, aku tahu."
"Tidak ada orang lain dihatiku. Jadi mungkin kamu akan menjadi orang pertama dan terakhir dalam hidupku."
"Apakah itu artinya, kamu ingin menikah denganku suatu saat nanti?"
"Ya, aku menginginkannya...."
"Kita akan bersama selamanya bukan?"
"Ya...."
"Ini adalah sebuah janji."
Mengatakan ini, Yuna tiba-tiba menagis.
Dirinya tidak sanggup untuk berbohong pada Kevin.
Namun dirinya juga tidak tega untuk mengatakannya.
Hari itu, setelah membuat janji dengan Kevin, Yuna pergi ke Luar Negeri.
Yuna yang tidak pernah bisa mengucapkan selamat tinggal pada Kekasihnya Kevin.
Di hari terindah mereka.
Yang mungkin juga hari terakhir mereka bertemu.
####
Tamat
####
Catatan Penulis: Ini hanya Cerita lama yang aku tulis jaman dahulu kala.
Dulunya ini sebuah Fanfic, jaman masih sekolah ku buat, buat tugas sekolah bikin Cerpen, tapi dibuat sebuah lelucon sama temen-temen karena aneh karena sebuah fic, 😂😂😂
Dan kurasa setelah aku tulis ulang hasilnya masih seperti ini.....