Oichi, samurai wanita yang dijuluki ‘Ratu Kegelapan’ , semua unsur kegelapan di dunia berada di bawah kendalinya. Ia dinikahkan oleh kakaknya dengan lelaki bernama Yukimura yang dijuluki ‘Pangeran Api’.
Awalnya, ia diutus untuk membunuh Yukimura agar kakaknya bisa menguasai Klan Sanada yang terkuat kedua setelah Klan Oda miliknya. Namun, karena sikap Yukimura yang selalu memberi perhatian kepada Oichi, membuat wanita itu lambat laun jatuh hati.
Karena Oichi berkhianat, ia pun dipanggil oleh kakaknya.
Tempat Oda Nobunaga
“Nii-sama,” kata Oichi pelan dengan wajah yang sayu dan sedih.
Seorang pria yang dipanggil kakak itu berbalik sambil menodongkan pistol ke arah kening dan sebelah tangannya hendak menebas leher adiknya dengan pedang.
“Kumohon, hentikan kekejaman Nii-sama,”.
Ya, kakaknya Oda Nobunaga dikenal sebagai ‘Raja Iblis Neraka ke-6’ yang memerintah di bumi. Kekejamannya tidak perlu diragukan lagi, membuat keseimbangan bumi goyah.
“Jika kau bisa menang melawanku, akan kupertimbangkan,” kata Nobunaga.
Kakak beradik itu pun berduel yang berakhir dimenangkan oleh Oichi. Wanita itu duduk pasrah di depan kakaknya. Padahal ia menang, tapi demi umat di bumi, Oichi rela menyerahkan nyawanya.
Nobunaga menodongkan pistol.
“Oichi!!” teriak Yukimura berlari.
“DOR!”
Oichi membulatkan mata sambil menutup kedua telinganya. Melihat orang yang dicintainya terbunuh di depan mata kepalanya sendiri, tentu saja itu sangat sakit.
“Tidak, hikss, tidak! Hikss!! Yukimura-samaaaa!!”
Sejak awal seharusnya seperti ini, tapi karena kebodohan adiknya yang jatuh cinta membuat hatinya lemah.
“Sekarang Klan Sanada sudah ada ditanganku, tersisa 4 Klan terkuat yang harus kau bunuh, inilah hukumanmu karena telah berkhianat,”
Nobunaga melirik ke arah istri dan anak laki-lakinya.
“Nouhime dan Ranmaru yang akan menemanimu berperang melawan 4 Klan selanjutnya,”
Oichi hanya menangis pedih sambil memeluk mayat Yukimura.
Hari Pertama
Oichi berhasil menaklukkan Klan Tokugawa dengan membunuh pemimpinnya Tokugawa Ieyasu bersama tangan kanannya yang merupakan robot terbesar, Honda Tadakatsu tanpa belas kasih.
Hari Kedua
Klan Takeda, awalnya Oichi dan prajurit kakaknya kewalahan, sebab Klan Takeda merupakan Induk dari Klan Sanada, yang sekaligus ayah mertuanya.
“Tidak kusangka, Yukimura mencintai seorang wanita iblis sepertimu, aku sangat menyesal menerima kerja sama dari kakakmu, Nobunaga,” kata Takeda Shingen, ayah Yukimura.
Kedua orang itu pun terlibat duel. Melihat ayah mertuanya yang memiliki kekuatan sama seperti Yukimura, yaitu api membuat Oichi sedikit ragu. Ia kembali teringat dengan Yukimura.
Tapi, karena sakit hatinya membuatnya berhasil mengalahkan ayah mertuanya. Di tengah hujan, ia hanya bisa menatap wajah Takeda Shingen. Lagi dan lagi orang yang dicintainya terbunuh karena dirinya.
Hari Ketiga
Oichi dihadapan Klan Uesugi, yang merupakan sahabatnya dan Yukimura. Bunga yang bermekaran di musim semi yang disenangi Oichi, berubah menjadi musim hujan karena diisi dengan tangisan dan kenangan yang pahit. Bunga yang sering diberikan oleh Yukimura kepadanya, yang diambil dari tempat sahabatnya.
“Uesugi Kensin,” tatap Oichi hampa.
Kasuga yang merupakan pasangan Kenshin sama bingungnya. Di depannya bukan seperti Oichi.
“Oichi, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Yukimura bisa terbunuh? Tokugawa Ieyasu, Honda Tadakatsu serta Takeda Shingen yang merupakan ayah mertuamu, kenapa kau membunuh mereka semua? Dan sekarang, sahabatmu akan kau lenyapkan juga?” tanya Kenshin.
“Bunuh, bunuh, bunuh,” kata Oichi mengeluarkan kekuatannya.
Ketiga orang itu terlibat pertarungan. Dan hasilnya sudah pasti Oichi yang menang.
Dengan wajah yang sayu dan sedih, Oichi mendongakkan kepala menatap langit.
Hari Keempat
Perang terakhir melawan Klan Itsuki. Klan yang merupakan istri dari Ranmaru, anak Nobunaga sendiri.
“Ranmaru-sama, aku sudah mendengarnya, apa maksudnya ini? Menyatakan perang kepada klan istrimu sendiri,” bingung Itsuki.
“Maafkan aku, ayah memberi perintah dan aku tidak pernah membantahnya,” kata Ranmaru.
“Bukankah kita saling mencintai?” tanya Itsuki.
Ranmaru tidak berdaya, ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca, “Aku mencintaimu Itsuki, percayalah,”.
Itsuki menangis, ia juga mencintai Ranmaru, tapi entah kenapa berubah seperti ini. Ia juga tidak bisa membiarkan klannya dibunuh sia-sia, sehingga dirinya menerima pernyataan perang itu.
“Baiklah, kalau begitu kau harus melawanku, Ranmaru-sama,” kata Itsuki menarik palu raksasanya.
“Tidak, bukan aku yang akan melawanmu, tapi Oichi-sama,”
Muak dengan pembicaraan dramatis pasangan itu membuat Oichi langsung menyerang.
Salju sangat lebat di malam mereka berperang. Itsuki mengerahkan seluruh kekuatannya yang di dapat dari Kami-sama(Tuhan), membuat Oichi, Ranmaru dan Nouhime bekerja sama.
Berselang detik, Oichi menang telak. Ranmaru menangis melihat istrinya tewas.
Nouhime dan Ranmaru mendekati Oichi yang berdiri di tengah ribuan mayat itu. Darah merah membuat salju putih berwarna.
“Hooh, dengan begini tugasmu sudah selesai, saatnya pulang dan laporkan kepada suamiku,” kata Nouhime.
“Oichi-sama hebat sekali, benar-benar adik dari ayah Nobunaga,” puji Ranmaru.
“Yukimura-sama ka, zenbu koroshette(Yukimura lihat, semuanya terbunuh), zenbu, zenbu, zenbu, zenbu, zenbu(Semuanya),” kata Oichi berulang kali layaknya dirasuki.
Ia berbalik menatap Nouhime dan Ranmaru sambil mengucapkan kalimat itu. Menyadari perubahan Oichi, membuat Nouhime dan Ranmaru, mau tidak mau harus melawannya.
Oichi membabi buta, rasa sakit yang diterimanya sampai sekarang sudah tidak bisa dirasakannya lagi. Tanpa belas kasih, ia membunuh istri dan anak kakaknya sendiri.
“O-Oichi, uhuk!” Nouhime memuntahkan darah sebelum terjatuh.
Sedangkan Ranmaru tersenyum pedih, sambil melihat mayat Itsuki. Setidaknya, ia bisa bertemu dengan istrinya di alam lain.
Hari Kelima
Kastil Azuchi
Oichi berjalan lunglai sambil menyanyi dan menyeret katana berbilah gandanya. Terlihat kastil megah yang diselubungi api.
“Nii-sama,”
Tibalah Oichi di kastil milik kakaknya. Ia muncul sambil membantai semua prajurit di sana. Tidak peduli seluruh tubuhnya dipenuhi darah setelah 4 hari berturut berperang.
Oichi memasuki ruangan Nobunaga. Terlihat kakaknya duduk di singgasana sambil memegang cangkir tengkorak. Padahal seluruh ruangan itu diselubungi api, namun Oichi sudah tidak bisa merasakan hawa panas tersebut.
Dengan aura membunuh dan seperti kerasukan, Oichi berjalan menghampiri.
“Hahahaha,” tawa Nobunaga menyambut kedatangan adiknya.
“Mhehehe,” tawa Oichi.
“Bahahaha!” tawa Nobunaga semakin keras begitupun dengan Oichi.
“Wahahahaha!!” keduanya tertawa bersama dengan aura hitam yang meluas.
“Zehi mo nashi(Tidak ada ampun lagi)!!” kata keduanya bersamaan.
Mereka memulai pertarungan sengit sekali lagi. Istana Nobunaga yang terbakar semakin membesar apinya.
Pertarungan dimenangkan Oichi.
“Drek! Drek! Drek!” bunyi reruntuhan istana sedikit demi sedikit.
Oichi tersenyum puas melihat mayat kakaknya tergeletak di bawahnya.
“Mhehehe, hahahahahaha!!” Oichi tertawa lalu terjatuh dan terduduk lemas.
“Hikss..hikss..hikss..hikss..” tangisnya menangisi mayat kakaknya.
Kini habislah sudah, semua orang yang dicintainya telah tiada.
“DAR! DREK!” Istana hancur bersama Oichi di dalamnya.
Sekarang 5 Klan terkuat di dunia telah tiada dan tidak memiliki penerus lagi. Semuanya lenyap bersamaan berakhirnya era tersebut.