Jovan dan Monika sempat mampir ke rumah ketika Jovan harus menghadiri suatu acara di Jakarta. Walaupun hanya semalam tapi lumayan lah untuk melepas rindu pada keluarganya. Tadinya sih akan mampir juga ke rumah orang tua Monik tapi ternyata keduanya malah sedang liburan ke Lombok jadi yasudah waktu yang ada dimanfaatkan untuk berkumpul bersama dengan keluarga besar Jovando.
Setiap kali ketemu jelas ketiga menantu Mama Tiwi selalu heboh. Apalagi ketiganya tengah hamil bersamaan. Mulai dari Monika yang sedang mood swing parah menceritakan betapa menyebalkannya Jovan yang jarang pulang -katanya- hingga keluhan Lia tentang suara dengkuran Junius yang membuatnya tidak bisa tidur semua mereka bicarakan.
Mama sih senang-senang saja dengarnya. Bahkan Mama dengan senang hati menyuguhkan jus mangga hasil panen dari pohon depan rumah juga cookies yang dibuatnya bersama Rere tempo hari. Mama bahkan tertawa lepas ketika mendengarkan bagaimana ketiga menantunya ngerumpi dengan penuh semangat.
Kalau Papa, sekarang hanya tertawa saja melihat wajah asem ketiga putranya yang duduk tidak jauh dari istrinya. Kapan lagi kan bisa melihat pemandangan Triple J kebanggaannya ciut dan tidak berkutik. Selama ini belum pernah Papa dengar anak-anaknya ini terkalahkan. Ya baru ini, dikalahkan oleh istri mereka sendiri. Apalagi ditambah kehadiran Tirta yang duduk manis di pangkuannya sambil nyemil stick bawang. Sungguh kebahagiaannya meluap-luap sekarang.
"Kalau soal paling nyebelin ya Mas Jev pemenangnya. Udah tau ditungguin malah asik nongkrong sama Cedar," kata Rere sebelum melahap potongan cookie di tangannya.
"Gitu ya kembar mah, sampe kebiasaan jelek semua sama. Jovan juga tuh, bilangnya 'iya Bunda habis ini pulang kok, i love you' halah pret. Sampe rumah jam 11 malem grasak grusuk bikin orang kebangun," jawab Monik.
"Ha kalau aku udah tak kunci kamarnya Mbak. Bodo amat biar tidur di sofa ajalah orangnya. Lagian kalo tidur dibilangin jangan ngorok tapi masih aja," kata Lia menambahkan.
Sementara itu Triple J hanya saling pandang. Mau protes ya bagaimana, tidak akan sanggup juga. Kalau mereka protes yang ada mereka ditendang keluar dari rumah dan harus bermalam bersama jangkrik di teras.
"Arep tekan kapan," kata Jevan yang memilih menjauh.
"Mbuh ah," Junius mengikuti.
"What ever lah," Jovan juga ikut menjauh.
Ketiganya memilih duduk di teras dan mengobrol dengan dunia mereka sendiri. Walaupun sebenarnya mereka ghibah juga.
"Parah pol. Senggol bacok banget ibu negara. Padahal pas hamil Tirta nggak kaya gitu," kata Jovan.
"Dipikir Cantikku nggak? Apa dikit mewek apa dikit mewek," kali ini Jevan yang curhat.
"Mending gitu nggak sih? Setidaknya masih mau dimanja. Lha istriku lho, wis suruh berhenti kerja susah, meh dimanja emoh, halah mbuh," Junius juga tidak mau kalah mengeluarkan uneg-unegnya.
"Uwis..., uwis..., jenenge wae gek mbobot. Sabar, wis ora iso nulungi isone ming mbabu," kata Papa menengahi. Entah menengahi atau Papa hanya sedang bernostalgia dengan kenangan lamanya ketika Mama hamil dulu.
Jevan mulai bernyanyi sambil genjreng gitar yang kebetulan ada di dekat dia duduk, "Yo wes ben nduwe bojo sing galak, yo wes ben sing omongane sengak."
"Seneng nggawe aku susah, nanging aku wegah pisah," Junius ikut bernyanyi.
"Tak tompo nganggo tulus ing ati, tak trimo sliramu tekan saiki," Jovan juga ikut bernyanyi.
"Mungkin wes dadi jodone, senajan kahanane koyo ngene," ketiganya kompak menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan hingga akhir.
***
Pagi berikutnya keluarga Jovan sudah harus kembali ke Singapura. Jevan dan Rere yang mengantar mereka sampai ke Bandara. Sampai di bandara, Jevan dan Rere langsung pulang karena memang pekerjaan mereka banyak dan tidak bisa ditinggal. Begitu sampai saja Jevan langsung berlari naik ke atas dan bersiap untuk rapat.
"Dar, filenya mana?" tanya Jevan.
"Lha kan sudah tak kirim ke wa bos," jawabnya.
Jevan kemudian membuka handphonenya untuk mengecek hasil pekerjaan Cedar. Tapi dia merasa aneh karena handphonenya tidak bisa dibuka. Finger print nya tidak terbaca. Ketika dia memasukkan password juga salah. Baru beberapa waktu dia menyadari jika latar belakang handphonenya berbeda, warna casenya juga berbeda.
"Bajing, iki hp sopo sing tak gowo," kata Jevan pada dirinya sendiri.
"Kenapa to bos?" tanya Cedar.
"Hpku ketuker," kata Jevan.
"Kok bisa? Bos habis dari mana emangnya?"
"Cuma dari rumah sama nganter Jo ke ban..., da..., ra...."
"MATI AKU. MAMA...!!!" Teriak Jevan yang langsung berlari turun mencari Rere.
"MAMA...!!"
"Innalilahi..., Allahuakbar bikin kaget aja nek aku jantungan gimana?!" protes Rere.
"Ma hpku ketuker sama hp Jojo. Nek sampe hpku kebawa ke Singapur piye. Telponke Monik cepet apa telpon ke hpku lah," kata Jevan.
Rere yang mendengarnya segera menelpon Monika lalu menyusul Jevan yang sudah berlari ke parkiran. Dengan segera dia menuju ke Bandara berharap Jovan masih belum masuk ke dalam pesawat dan mematikan koneksinya.
***
Sementara itu, Jovan merasa aneh ketika merasakan getar terus menerus dari saku celananya. Dia kemudian meraih handphonenya dan menemukan bom chat dari seseorang.
"Hmm? Cedar?" gumam Jovan.
"Kenapa Yah?"
"Bunda kenal yang namanya Cedar?"
"Ha ya mana Bunda tahu, kenalanmu kan sejagat. Peduli amat ngapalin satu-satu," kata Monik.
"Eh lho bentar-bentar, case hp yang aku pake itu warna apa? biru kan ya?"
"Ada apa sih Yah? Hpmu ketuker?"
"Kayanya iya deh. Lah iya Bun nggak bisa dibuka tuh," kata Jovan sambil mencoba finger printnya.
"Kok bisa sih? Ah Ayah nambah-nambahin kerjaan aja. Coba diinget-inget ketukernya kapan sama siapa," kata Monik.
"Ya Allah Bunda, gimana mau ingat, tahu handphone Ayah ketuker aja baru ini. Mana file kerjaanku banyak di sana, mati aku," kata Jovan.
"Eh Rere telpon."
"Hallo, kenapa Re?"
"Mon, hp Jovan sama Jevan ketuker. Jangan masuk pesawat dulu. Aku sama Jevan otw ke Bandara," kata Rere dengan tidam santai.
"Lailahaillallah, kok bisa sih. Yaudah kutunggu di deket drop point ya," kata Monika.
"Kenapa Bun?" Jovan bertanya karena mendengar Monik berkata demikian.
"Aku tahu hpmu ketuker sama siapa," kata Monik.
"Siapa?"
"Kembaranmu."
***
"Nih," kata Jevan dan Jovan yang sedang bertukar handphone.
"Alhamdulillah handphone ku balik," kata Jevan.
"Ada ada aja kalian. Hp bisa ketuker wong ya bed..., oh sama," kata Monika yang langsung mengoreksi kalimatnya setelah melihat ternyata handphone kedua kembar itu sama persis hanya berbeda case, yang satu navy blue yang satu hitam.
"Tiru-tiru," protes Jevan pada Jovan.
"Enak wae ngomong. Koe kui tiru-tiru," Jovan tidak terima.
"Eh nggak bisa. Aku belinya udah sebulan yang lalu ya," kata Jevan masih membela diri.
"Aku beli juga bulan lalu."
Rere dan Monik tanpa basa basi menjewer suami masing-masing agar keduanya tidak melanjutkan perdebatan. Malu juga kan dilihat orang.
"Makanya besok lagi kalau naruh barang yang teliti," kata Rere.
"Kamu juga Yah, udah tau kalian kompak luar dalem. Dicek dulu apa-apanya itu. Tadi juga Bunda udah bilang cek hp nggak percaya bilang udah udah. Rasain sendiri," kata Monika.
"Ampun Cantik sakit," rengek Jevan.
"Bun ampun. Ayang malu diliatin orang heh," Jovan juga merengek tidak kalah kerasnya.
"Hahaha, kasian Papa sama Om Jev," kata Tirta sambil tertawa.