Jumat.
Sore.
Hujan.
Deras.
Angin bertiup kencang menggoyang pohon-pohon besar di tepi jalan. Pemandangan dunia luar yang basah kadang-kadang begitu semrawut. Jalanan penuh. Mobil, motor, angkot, becak, sepeda, pejalan kaki, bus serta klakson yang dibunyikan beriringan secara tidak sopan.
Wanita cantik itu mengintip lebatnya hujan dari jendela kaca besar tepat di sampingnya. Di sebuah cafe yang menawarkan beraneka macam kopi.
Sendirian. Oh, tidak. Berdua, dengan kopinya yang sudah tak sepanas sepuluh menit yang lalu. Kopi racikan barista itu belum disentuhnya sama sekali. Masih berdiri anggun di atas meja, menunggu sang empunya menikmatinya.
Ternyata pemandangan dunia luar yang basah terlihat begitu menarik, dari pada buru-buru menikmati kopi di atas mejanya. Dia terlalu cantik, dan juga terlalu murung. Seakan sibuk dengan dunia di dalam kepalanya sendiri. Enggan berbagi dengan siapapun, kecuali suara hujan yang semakin berisik.
Entah kenapa, tapi setahuku, dia selalu datang di hari Jumat. Sore. Saat seseorang sibuk berebut jalan untuk segera sampai di rumah mereka. Menemui istri, anak, kekasih, orang tua, kucing dan anjing peliharaan atau apalah... Yang telah menunggu mereka dari sejak mereka meninggalkan rumah, jam enam pagi.
Lalu dia disini, sendirian. Tidak adakah seseorang yang menunggunya di rumah? Ah, kalau benar demikian, betapa ia senasib denganku. Mungkin aku lebih beruntung. Ada si mbok Asih yang setia menungguku dan menyiapkan segala keperluanku. Makan, minum, air hangat, rumah yang bersih, sprei yang selalu wangi dan mbok Asih tak pernah menuntut apapun dariku, kecuali gaji setiap bulan tentunya. Mbok Asih tak pernah minta dimengerti, tak pernah minta di temani beli baju, beli sepatu atau menuntut harus hadir di setiap malam minggu. Aku benar-benar beruntung.
Satu tarikan nafas panjang dari hidungnya yang mancung, seakan terasa begitu berat. Dan ia masih belum berpaling dari kaca besar yang menyuguhkan kesemrawutan jalanan di seberang cafe. Tampak seorang perempuan yang melingkarkan tangannya memeluk sang lelaki dengan begitu erat, di atas sepeda motor. Badan mereka basah kuyup, tapi bibir mereka tersenyum senang. Seolah guyuran hujan lebat tak pernah membuat cinta mereka menjadi luntur. Jelas-jelas aku iri pada mereka. Dunia terlihat begitu menyenangkan saat ada seseorang yang bisa kita ajak berbagi. Berbagi kesedihan dan kebahagiaan.
Dia berdiri. Melewati kursinya, berjalan pelan dan melewati tempat dudukku. Mata yang terbingkai bulu mata lentik itu melirikku sepersekian detik. Lalu langkahnya yang gontai mengantarnya menuju toilet.
Satu, dua, tiga, empat... Sepuluh menit. Dia kembali duduk di kursinya, menyesap kopinya yang pasti sudah dingin, lalu dahinya mengernyit. Mungkin rasanya aneh, atau dia memang tak terbiasa minum kopi. Mungkin memesan kopi hanyalah alasannya agar bisa duduk disini, memandang dunia luar sambil melamun sepuasnya, tak ada yang mengganggu kecuali seorang pengagum rahasia yang tak pernah melepaskan pandangan darinya. Tangan kanannya mengaduk-aduk isi tas, mencari sesuatu yang terselip diantara dompet, recehan, struk-struk yang lupa dibuang, ponsel, lipstik, bedak... Tapi dia terlihat sangat natural, seperti tidak ada sapuan bedak di kulitnya yang mulus bagai pualam.
Cantik.
Jari-jari lentiknya mengutak-atik ponsel, bibirnya bergerak-gerak seperti mengeja. Dan mata itu, sepertinya aku jatuh cinta dengan mata itu.
**
Jumat.
Sore.
Hujan rintik-rintik.
Dia terlambat. Hampir tiga puluh menit dari waktu biasanya dia datang. Mungkin terlalu banyak pekerjaan di kantor, ngobrol sebentar dengan tetangga kubikel sebelum pulang, macet, hujan dan... Entahlah. Seperti biasa, dia duduk di dekat kaca besar itu. Seolah tempat duduk itu khusus diperuntukkan kepada dirinya.
Secara reflek bibirku tersenyum saat melihatnya, dan dengan tatapan heran dia menganggukkan kepalanya kepadaku. Mungkin hanya untuk sopan santun. Lagipula, siapa yang peduli dengan laki-laki gondrong dengan dandanan ala kadarnya, ditemani setumpuk sketsa di mejanya dan dua cangkir kopi yang sudah hampir kosong, yang setiap Jumat sore menunggu seseorang yang entah siapa. Memperhatikannya dengan seksama lalu melepaskan wanita itu pergi begitu saja. Tanpa berani melewati meja bulat dihadapnnya dan mengajak bidadari Jumat sore itu berkenalan.
Bodoh.
Ya, betapa aku adalah laki-laki yang bodoh.
"Sudah lebih dari seratus hari pengintaian dan lo belum juga kenalan?? Gila." Rei menggeleng-gelengkan kepalanya, tak percaya dengan segala kekonyolan yang telah kuciptakan sendiri.
"Dia terlalu sempurna. Gue cuma merasa... Merasa..."
"Merasa nggak pantes buat dia?"
Aku mengangguk.
"Bagaimana bisa lo merasa nggak pantes buat dia? Kalau dia aja nggak tau perasaan lo. Cinta nggak bisa lo tebak-tebak sendirian, bro."
Rei benar. Setidaknya, dia lebih berpengalaman di banding aku. Laki-laki supel yang sudah menikah setahun lalu dengan wanita pilihan orang tuanya. Walaupun awalnya Rei menolak, tapi akhirnya dia setuju juga. Bahkan sekarang, dia terlihat sangat bahagia. Mungkin dia sudah bisa menerima pasangan hidup yang bukanlah pilihannya itu.
"Anyway, gue juga lagi jatuh cinta."
"Sama istri lo?"
Rei menggeleng, lalu tersenyum.
**
Jumat.
Sore.
Jingga di langit yang cerah, dan mendung di wajahnya yang cantik.
Seperti biasa, dia tidak menyentuh kopinya. Dibiarkan kopi di gelas porselen mahal itu dingin, sendirian tanpa sentuhan. Pandangannya tak lagi ke arah jendela besar di sampinya. Sejak lima belas menit, tiga puluh enam detik yang lalu dia hanya menunduk. Memandang selembar foto, dan sesekali menggelengkan kepalanya, seolah tak percaya dengan sesuatu yang dilihatnya.
Tissue bekas pakai berserakan di mejanya. Dia menangis. Tanpa suara. Hanya air mata yang terus mengalir deras. Ingin sekali aku merengkuhnya dalam pelukanku dan mengatakan hal-hal yang bisa membuatnya tenang, seperti: tidak apa-apa, everything is gonna be alright. Tapi siapa aku? Aku hanya seorang pengecut, mengintai dari kejauhan tanpa mampu bertindak. Menikmati pesonanya sendirian, tanpa ijin sang empunya.
Baru saja aku ingin mengangkat tubuhku berdiri untuk menghampirinya, dan laki-laki itu datang. Wajahnya begitu familier, dan aku kenal betul siapa pemilik wajah itu.
Rei.
Langkahnya memburu saat melihat wanita itu menangis, direngkuhnya wanita cantik itu dengan kedua lengannya yang kokoh. Begitu erat, begitu dalam. Tenggelam dalam sedu sedan yang semakin menderu. Dan Rei pelan-pelan melepaskan pelukannya. Mengusap sisa-sisa air mata di pipi pualamnya dengan ujung jari. Begitu pelan. Seakan takut kulit semulus bayi itu akan terluka.
"Maafkan aku." ucapnya lirih, telingaku hampir tak mendengar jika aku tak memperhatikan gerakan bibirnya.
Rei menggeleng. "Bukan salahmu. Kau tau, kita tak pernah bisa merencanakan, kepada siapa cinta kita akan berlabuh." Rei menatap wanita itu seakan tak akan melihatnya lagi esok hari. Tatapan matanya begitu dalam, begitu sendu, begitu cinta, begitu... Ah, aku tak pernah melihat Rei menatap seseorang seperti itu, tidak juga dengan istrinya.
"Jangan Rei. Jangan mencintaiku sedalam itu. Kau pria beristri."
"Tidak lagi. Aku akan segera menceraikannya, Kirana."
Wanita itu terlonjak, kepalanya menggeleng. Sebelah tangannya menutup bibirnya yang mungil.
"Kau tak mungkin setega itu Rei. Dia wanita yang begitu baik. Disini, akulah penjahatnya. Aku yang sudah merebutmu dari dia." bisik wanita itu diantara isak tangisnya.
"Kirana, kau tak pernah merebut apapun darinya. Dan aku memilihmu."
"Rei. Kau tau, kau memilih orang yang salah."
Wanita itu masih terisak. Diambilnya tas yang tergeletak di atas meja lalu melangkah cepat keluar. Rei tak mengejarnya, dia terduduk lemas di kursinya. Sebelah tangannya mengusap rambutnya dengan asal. Menahan gejolak emosi dan cinta yang datang bersamaan.
**
Jumat.
Sore.
Mendung di langit yang gelap, dan senja di matanya yang bulat.
"Boleh berbagi meja?"
Dia terkejut, menatapku satu dua detik lalu tersenyum. Kemudian mengangguk.
"Thanks. Jarang-jarang ada wanita cantik yang mau berbagi meja dengan pria kumal dan gondong seperti saya."
Dia tertawa. Dalam jarak sedekat ini, dia terlihat sangat cantik.
"Berpenampilan casual dengan rambut gondrong bukan berarti kumal." jawabnya, selalu disertai senyum.
"Andra." ucapku sambil mengulurkan tangan.
"Kirana." tangannya yang sehalus sutra menyambutku. Lalu, dia kembali sibuk dengan dunia di dalam kepalanya lagi, sambil melihat dunia luar dari balik jendela kaca besar itu. Sadar bahwa sejak tadi aku hanya memperhatikannya, dia lalu menoleh dan tersenyum.
"Mereka, di luar sana begitu sibuk. Ada yang berjalan sambil bergandengan tangan, ada yang sendirian, ada yang sibuk menawarkan barang dagangan, ada yang sibuk dengan kotak ajaib yang bisa berkomunikasi, ada yang tersenyum, mengumpat, tertawa dan marah. Mereka begitu sibuk dengan dunianya, dan aku sibuk memperhatikan dunia mereka."
Kuletakkan selembar sketsa di hadapannya.
"Untukmu."
Dia tampak terkejut. Melihat sketsa itu dengan detail, dan tersenyum saat menyadari itu adalah gambar dirinya. Lalu, dahinya mengernyit saat melihat tanggal di bawah pojok kanan.
"Dua bulan yang lalu?" tanyanya heran.
"Hanya mengabadikan momen yang begitu ajaib. Seorang wanita cantik yang sibuk melihat dunia luar yang basah, dari balik kaca jendela besar sebuah cafe. Hingga tak sadar, ada seseorang yang juga sibuk memperhatikan dunianya."
Bibirnya tersenyum, dilihatnya lagi sketsa itu. Dia tak tau, bahwa aku masih punya setumpuk penuh sketsa di meja kerjaku. Dan tak satupun berhasil menggambarkan kecantikanmu. Karna kau tak tergambarkan, begitu indah, begitu mempesona, begitu berharga hanya untuk dibuat menangis.
"Trimakasih. Oh ya, apa kau selalu mengambar seseorang yang kau lihat?"
Aku menggeleng.
"Sejak dua bulan terakhir ini, aku hanya menggambar sketsa orang yang sama."
Dan dia tersenyum lagi, kali ini mata bulatnya berkaca-kaca. Lebih dari satu jam, dua puluh menit, empat puluh sembilan detik kita bicara. Tak pernah sekalipun kau menyinggung soal Rei, begitupun aku. Mungkin aku hanya bisa mengira dan mengeja perasaanmu sekarang terhadap Rei. Masih cintakah? Atau malah sudah lupa. Entahlah. Itu menjadi hal yang tak penting bagiku sekarang.
Aku tak akan merubah apapun dari hidupmu di masa lalu, aku hanya ingin membuat lebih banyak lagi sketsa masa depan denganmu. Lalu mewujudkannya di kemudian hari.
Menikmati wajah cantikmu yang tak lagi dihiasi mendung dan hujan. Menemanimu minum kopi yang tak pernah kau minum dan memandang dunia luar bersama-sama. Disini, di sebelah jendela kaca besar ini, aku telah jatuh cinta padamu.
**