Di sebuah ruangan mewah tampak seorang Pria muda berambut putih dan seorang wanita yang merupakan seorang reporter duduk di depan sebuah meja, mereka sedang berbincang-bincang tentang sesuatu.
“Pertanyaan pertama, sejak kapan anda mulai menulis cerita?” Tanya reporter itu sambil memegang pen yang siap untuk mencatat.
“Kapanya saya tidak ingat jelas, tapi bagi saya menulis adalah sebuah cara saya mengekspresikan diri dengan bebas, membuat saya bebas melakukan apapun yang tidak bisa saya wujutkan di kehidupan nyata.” Jawab kenso han.
“Begitu rupanya, pasti orang tua anda sangat bangga dengan anda, karena semua orang menyukai anda.” Kata reporter itu sambil mencatat jawaban dari kenso han tadi.
“Seharusnya begitu, tapi ayah saya meninggal saat saya masih dalam kandungan, sedangkan ibu saya meninggal karena melahirkan saya.” Kata kenso han dengan wajah yang agak murung.
“Ah.. ya ampun, maafkan saya..” kata reporter itu sambil meminta maaf.
“Tidak apa-apa.” Balas kenso han.
“Anda mengalami kesedihan yang mendalam sewaktu kecil, pasti anda merasa sangat tertekan.” Kata lilian an.
“Mungkin karena saya masih sangat kecil dan tidak mengerti apa-apa, jadi saya tidak marasakannya. Setelah kehilangan tempat tinggal, saya kemudian dirawat paman saya dari pihak ibu saya, Awalnya semua baik-baik saja namun ketika saya memasuki usia sekolah, saya di kucilkan dan dihina karena tidak memiliki orang tua, akhirnya saya menjadi orang yang penyendiri dan mulai menulis semua keinginan saya kedalam sebuah buku dan mengubahnya menjadi sebuah cerita.” Jawab kenso han yang kemudian meneguk secangkir teh.
“Kalau begitu kita lanjut ke pertanyaan berikutnya, Apa ada yang menginspirasi anda untuk membuat novel “ Jembatan Takdir “ yang telah menjadi best seller ini?” tanya lilian an.
“Inspirasi ya, mungkin inspirasi ini muncul beberapa tahun lalu saat saya berusia sembilan belas tahun, saat saya bertemu dengannya.” Kata kenso han sambil tersenyum tipis.
“ ‘Dia'! Apa ini adalah sebuah pertemuan manis.” Kata reporter itu dengan wajah sedikit memerah.
“Kalau begitu, apa anda ingin mendengar kisah saya dengannya?.”.
Aku bertemu dengannya pada saat aku berumur delapan belas tahun, mungkin juga tidak, karena tinggal sembilan hari lagi aku memasuki usia sembilan belas tahun.
Waktu itu adalah hari pertama aku masuk kuliah, aku menujuh sebuah halte bus yang jaraknya sekitar dua ratus meter dari rumah pamanku. Hari itu semua berjalan lancar, tanpa aku sadari hari itu adalah hari di mana aku mengalami sebuah kejadian yang mengubah seluruh hidupku.
Tiba-tiba saat aku sedang menunggu bus, sebuah limusin hitam perlahan mendekati halte tempat aku menunggu bus, kaca mobil itu perlahan terbuka, dan menampakkan seorang pria berambut hitam pekat dengan mata kecoklatan, ia adalah Cuan jin, anak dari seorang pemilik perusahaan idustri besar. Cuan jin kemudian bertanya padaku yang saat itu sedang fokus pada sebuah buku yang sedang kubaca.
“Hei Kenso, kau sedang menunggu bus?” tanya cuan jin dari balik jendela mobil.
“Ya, Apa kau ingin memberiku tumpangan?” tanyaku pada cuan jin
“Mana mungkin, kau hanya akan mengotori mobil mewahku saja, aku kemari hanya ingin melihat bagaimana rakyat bawah menjalani hidupnya.” Kata cuan jin sambil tersenyum, ia kemudian menutup kaca jendela mobil dan pergi.
Sebenarnya aku sudah tahu akan ia akan seperti itu, tapi setidaknya aku harus punya pemicu semangat untuk hari pertamaku, aku kemudian kembali membaca buku, kira-kira lima belas menit telah berlalu dan bus belum kunjung sampai, aku menunggu bus sambil membaca buku sampai rasanya aku seperti masuk kedalam buku itu, namun, setelah beberapa menit sebuah teriakan menarik perhatianku, seorang pria tua dengan tongkat di tangannya berteriak padaku.
“Hei anak muda.. menyingkir, uhuk.. menyingkir!!” teriak pria tua itu padaku, tapi sepertinya pikiranku belum sepenuhnya ke luar dari dalam buku yang aku baca, dan akhirnya…
Bruuks.. brak.. krak.. shh
“Apa ini?.. ini bus!!” aku terlambat untuk sadar, ternyata bus yang datang bukan untuk mengantarkan aku ke kampus, tapi kepada kematian, aku merasakan sebuah sakit yang luar biasa sakit, tidak, bukan cuma sakit, tapi juga kram yang membuat rasa sakitnya semakin terasa, tulangku patah, beberapa tetes darah segar menetes dari kepalaku, kesadaranku mulai mengilang, secara samar-samar aku melihat banyak orang mendekatiku yang saat itu terjepit di antar bus dan tiang halte, hingga akhirnya kesadaranku pun menghilang.
Satu minggu kemudian di salah satu kamar VIP rumah sakit.
Tampak di sebuah kasur rumah sakit itu, seorang pria berambut putih sedang terbaring sambil di periksa oleh seorang dokter dan beberapa perawat, beberapa menit kemudian pria itu perlahan membuka matanya yang berwarnah biru, kemudian seorang suster segerah keluar dan memanggil seorang wanita berusia lima puluan, dengan segerah ia menujuh pria itu untuk melihat keadaanya.
“Uhk, dimana ini?” tanyaku saat pertama kali membuka mata, waktu pertama kali aku membuka mata yang kulihat hanya ruang berwarna biru dengan pola heksagon yang berwarna emas, seorang wanita berusia lima puluh tahun, dan seorang dokter serta beberapa perawat, tiba-tiba wanita yang berusia lima puluh tahun itu mengusap kepalaku dan berkata.
“Song han, bagaimana keadaanmu? Apa masih ada yang sakit?” tanya wanita itu, aku pun kaget, siapa Song han?, aku kan Kenso han, dan dengan reflek aku bertanya. “Siapa itu So-“ sebelum aku menyelesaikan perkataanku, sebuah rasa sakit muncul di kepalaku, rasanya sangat sakit, dokter kemudian berkata kepada wanita itu. “Sepertinya efek dari benturan itu belum sembuh total, kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.” Kata dokter itu, dan wanita itu pun keluar, sementara itu di kepalaku muncul banyaka sekali ingatan yang bukan milikku, setelah berselang beberapa menit rasa sakit itu menggilang, sekarang aku tahu apa yang terjadi, karena kecelakaan ku di halte bus, membuat aku masuk kedalam tubuh seorang pria yang bernama Song Han Hyun ia adalah seorang anak dari pengusaha ternama yang merupakan salah satu orang terkaya dari tiga orang terkaya di dunia, dan wanita tadi adalah ibu dari song han hyun, nyonya salsa moon.
Hari itu adalah hari pertama dimana nasipku berputar seratus delapan puluh derajat. Keesokan harinya aku di ijinkan kembali kerumah, kami kembali kerumah menaiki sebuah mobil limusin yang sangat bagus nan mewah, sambil di ikuti sepuluh unit mobil audi A8, sesampainya di rumah song han hyun, aku di buat terkagum-kagum, rumah itu begitu besar dan mewah, temboknya berwarna kuning keemasan dengan tiang berwarna hitam, aku di antar memasuki rumah itu, bukan hanya luarnya saja mewah, di dalam rumah itu juga sangat mewah dan indah, aku saat itu sangat berusaha untuk menganggap semua itu wajar untuk seorang yang memiliki banyak harta.
Aku kemudian pergi menujuh kamar song han hyun untuk istrahat, di dalam kamar itu sangat mewah, sangat sulit di ungkapkan oleh kata-kata, kamarnya nyaman sehingga dengan cepat aku tertidur.
Keesokan harinya di universitas Strades, seorang pria berambut putih keluar dari mobil limusin putih, sambil melihat universitas Strades yang merupakan universitas nomor satu di negara Karis ini.
“Wah, bukan hanya rumahnya saja yang indah dan mewah, bahkan tempat kuliahnya juga tidak kalah bagus.” Gumamku dalam hati sambil menyembunyikan ke kagumanku tapi tujuanku kemari bukan hanya untuk pergi kuliah, tapi untuk mencari seseorang wanita.
Tiba-tiba pandanganku di tarik oleh seorang wanita, wanita berambut hitam dengan pita biru di kepalanya, ia sangat menarik, wanita imut dan cantik itu sudah mencuri perhatianku, rasanya aku tak bisa memalingkan pandanganku darinya.
“Tuan muda.. Tuan muda..” panggilan itu akhirnya menyadarkanku dari lamunanku, panggilan itu berasal dari pak Tong an yang merupakan kepala pelayan sekaligus pelayan pribadi song han hyun.
“Tuan muda kenapa? Apa tuan muda tidak enak badan?” tanya pak tong an.
“Ah, tidak, aku pergi kuliah dulu.” Kataku yang kemudian pergi menghampiri wanita itu.
“Hai, selamat pagi..” sapaku pada wanita itu sambil tersenyum, sambil berjalan memdekatinya, “Siapa namanya ya?” gumamku dalam hati sambil berusaha mengingat namanya menggunakan ingatan milik song han hyun.
Dari ingatan itu aku mengetahui bahwa wanita cantik ini bernama Argenta, “Apa kabar argenta?” tanyaku lagi, tapi semua sapaan dan perranyaanku tidak di hiraukan olehnya ia hanya menunduk, tubuhnya terlihat agak gemetaran, tiba-tiba sebuah ingatan song han hyun muncul secara tiba-tiba di kepalaku, air mataku menetes, ingatan yang baru saja aku terima adalah ingatan saat song han hyun yang sering melakukan pemukulan kepada argenta, song han hyun yang hanya menganggap argenta yang hanya sebuah mainan, dan tempat untuk melampiaskan amarahnya.
Jadi mungkin memang wajar ia bersikap begitu, suasana terasa dingin, ia tidak bersuara atau pun bergerak dari tempatnya, ia seperti telah berubah menjadi sebuah batu, yang di pikiranku saat itu adalah aku harus melakukan sesuatu, dan pada saat itu entah kenapa tangankan bergerak sendiri menujuh ke kepalanya untuk menepuk kepalanya, rambutnya begitu halus, dan saat aku menyentuh kepalanya, rasanya ada sebuah sengatan listrik spontan yang mengalir seluruh tubuhku, ia kemudian hanya menatapku dengan tatapan serius ia kemudian kembali merunduk.
“Meski hanya sesaat, jelas aku melihat sebuah tatapan bahwa ia ketakutan saat aku mengangkat tanganku tadi.” Gumamkun dalam hati.
“Hei, sepertinya sebentar lagi dosen akan segerah masuk kekelas, apa kau mau bareng ke kelas?” tanyaku pada argenta, ia hanya mengangguk pelan, aku melepaskan tanganku dari atas kepalanya dan kami pun kemudian pergi kekelas kami, dan kebetulan aku dan argenta berada di kelas yang sama.
Sesampai di depan pintu kelas, tampak dua ora pria datang menghampiri kami, meraka adalam Khun hong, dan Park jue yang merupakan teman akrap dari song han hyun.
“Hai, Song han!!.” Teriak khun hong dari jauh sambil berlari menujuh ke arahku.
“Oh, hai!” balas ku singkat, sepintas aku melihat argenta yang tadinya berdiri di sampingku, melangkah kebelakang, tubuhnya kembali gemetaran, ya aku rasa itu wajar, karena bukan hanya aku saja yang sering mengganggu argenta tapi juga teman-teman song han hyun, mereka sering menggangu argenta bersama dengan song han hyun.
Tiba-tiba park jue dengan cepat mendekati argenta dan berkata “Wah cewe sinting ini juga bersamamu, pas sekali aku lagi kesal ni.” Katanya sambil mengangkat tangannya yang siap untuk memukul argenta.
*Pak...
“Jangan sentuh dia..” kataku sambil menahan tangan park jue yang hendak memukul argenta.
“Ha! Apa?” tanya park jue yang tidak mengerti akan tindakanku.
“Apa kau tuli? Aku bilang jangan sentuh dia.” Kataku dengan tatapan tajam pada park jue, aku kemudian melepaskan tangannya.
Entah kenapa rasanya aku sangat marah, karena song han hyun dan teman temanya yang sering membully argenta, menyebapkan ia di kucilkan oleh semua orang, aku terus memikirkan hal itu, dan mungkin tujuan keberadaanku disini adalah untuk menjaga argenta.
Ya pasti, namun yang penting sekarang adalah membahagiakan argenta, karena aku tidak tahu sampai kapan aku ada di tubuh ini.
“Kau tidak apa-apa?” tanyaku padanya.
“Ya, terimah kasih.” Balasnya sambil tersenyum dengan manisnya.
“uhk, astaga kadar gulanya sangat tinggi, ya tuhan apa ia adalah bidadari dari surga.” kata sambil terus menatap wajah argenta.
“Song han kau kenapa?” tanya argenta padaku.
“Bukan apa-apa, ayo kita masuk kelas..” kata yang kemudian masuk kedalam kelas untuk mengikuti kuliah hari itu.
Sesudah jam kuliah selesai..
“Hei argenta, aku… Aku ingin mengajakmu ke sebuah tempat.” Kataku pada argenta, aku pikir dia akan menolak tapi ternyata tidak, aku mengajaknya kesebuah taman bermain, mungkin terdengar ke kanak-kanakan, tapi entah kenapa, rasanya tempat ini adalam tempat yang cocok untuknya, dan benar saja ia sangat bahagia, seperti seekor burung yang bebas dari sangkarnya, ia bercerita bahwa ini adalah pertama kalinya ia ke taman bermain setelah terakhir sepuluh tahun lalu ia di ajak ibunya ke taman bermain, aku hanya terdiam, aku bingung harus menjawab apa, tapi tujuanku mengajaknya kemari adalah untuk meminta maaf.
“Argenta, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.” Kata yang saat itu duduk di bangku taman di samping argenta.
“Apa itu?.” Tanya argenta sambil melihat ke arahku, aku berdiri dari bangku taman itu dan kemudian aku berlutut sambil menggenggam tangannya dan berkata, “Aku minta maaf atas semua perbuatan kasarku selama ini, aku sungguh minta maaf, aku berharap bisa memulai lembara baru denganmu, meski kau tidak memaafkanku, aku berharap kau tidak meninggalkanku.” Kataku sambil terus menggenggam tanganya.
“Aku sudah memaafkanmun bahkan sebelum kau meminta maaf.” Katanya sambil tersenyum, dalam hati aku berkata, “Song han, kau seharusnya tidak menyia-nyiakan wanita seperti ini.”
“Terimah kasih, aku akan berusaha untuk membuatmu bahagia walau hanya dalam waktu yang singkat.” Kataku sambil kemudian berdirih.
“Apa maksutmu?” tanya argenta sambil menggenggam tanganku.
“Ah, bukan apa-apa, ayo kita pulang, hari akan segerah gelap.” Kataku yang sambil terus menggenggam tanganya, kami kemudian pergi meninggalkan taman itu, kata-kata itu bukan kataku yang mewakilkan diri song han hyun tapi diriku Kenso Han, aku akui bahwa aku telah jatuh cinta pada argenta.
Aku mengantarkan argenta dengan mobil limusin milik song han hyun, selamat perjalanan aku sangat bahagia, itu adalah pertama kalinya aku punya seorang teman, bukan, lebih tepatnya seorang pacar, meski yang ia tahu aku adalah song han hyun bukan kenso han, tapi itu tidak apa, asal ia tetap bisa tersenyum.
“Tuan muda, kita akan kemana?” tanya pak harang sambil mengemudikan mobil limusin itu.
“Oh iya ya, di mana rumah argenta ya?” tanyaku dalam hati, bahkan dalam ingatan song han hyun sekali pun tempat tinggal argenta tidak ada, mungkin di tempat teraman untuk argenta adalah rumahnya sendiri.
“Lurus saja, lalu belok kanan, aku akan turun di situ.” Kata Argenta sambil menunjuk kedepan.
“Baik nona.” Kata pak harang sambil mengikuti arah yang di tunjukkan oleh argenta.
“No- Nona, aku bukan nona.” Kata argenta dengan wajah sedikit memerah.
“Nona bukannya pacar tuan muda?.” Tanya pak harang.
“Ya, dia pacarku.” Kataku sambil mencubit pipi argenta.
“Sejak kembali dari rumah sakit, sikap tuan mudah berubah, apa mungkin wanita ini yang mengubah sifat tuan muda.” Kata pak harang.
Kata terus berbincang-bincang di perjalanan, tiba-tiba pak harang berkata, “Tuan muda, mobil ini tidak bisa di hentikan, rem mobilnya blong.” Kata pak harang sambil berusaha mengendalikan mobil, keadaan semakin buruk ketika masuk kebuah pertigaan, karena secara tiba-tiba sebuah truk besar datang dengan kecepatan tinggi dan menabrak mobil kami.
Bruuuk…. Bruuums…
Tabrakan itu membuat mobil kami terhempas, pintu mobil di sampingku terbuka secara terbuka dan membuat aku terhempas keluar dari dalam mobil. “Tidak!!! Argentaa…” kataku yang saat itu terhempas dari dalam mobil sambil melihat tangan argenta yang mengulurkan tangannya.
Apa yang baru saja terjadi, rasanya aku tidak peduli pada diriku, aku hanya berharap argenta baik-baik saja, mobil kami terguling dan terbalik di atas jalan beraspal itu, dengan segerah aku menujuh kesanah, rasanya tubuhku tidak bisa lagi bergerak tapi aku harus tetap kesana, aku membuka pintu mobil yang sudah terbalik itu, aku melihat ia yang masih berasa dalam mobil dengan tubuhnya yang sudah berlumuran darah, aku segerah mengeluarkannya dari dalam mobil itu, kemudian beberapa warga yang berada di tempat itu segerah berlari menujuh ke arahku.
“Ku mohon cepat tolong dia…” kata ku kepada orang yang mendekatiku, saat itu aku sangat khawatir akan keadaannya.
“Cepat panggilkan ambulans.”
“Cepat, ada satu orang lagi dalam mobil itu.”
Orang orang kemudian menelpon ambulans dan mengelurkan pak harang dari dalam mobil, beberapa menit berlalu ambulans datang dan membawa kami ke rumah sakit terdekat.
Di rumah sakit di depan pintu U.G.D
“Adik, kamu harus di obati, pendarahanmu harus segerah di hentikan.” Kata seorang perawat padaku.
“Tidak apa-apa ini hanya luka kecil.” Kataku kepada perawat itu, aku kemudian pergi menujuh ke arah toilet.
“Ah!!! Ini semua salahku.” Kataku sambil meneteskan air mata, kemudian pandanganku tertarik pada lengan kananku yang terluka, lenganku yang terluka perlahan sirna menjadi cahaya, setelah melihat hal itu aku menyadari bahwa sisa waktu sisa sedikit dan akan terus berkurang jika aku kehilangan darah, dengan segerah aku menutupi lenganku yang telah sirnah, dan segerah berlari ke arah ruang U.G.D, tampak di ruang U.G.D seorang dokter yang memeriksa Argenta dan Pak Harang.
“Dok bagaimana ke adaan Argenta, dan pak harang??” tanyaki dengan penuh kekhawatiran.
“Laki-laki itu hanya mengalami luka ringan, ia hanya butuh istrahat dan perawatan, tapi… Kalau untuk wanita itu…” kata dokter dengan agak gugup.
“Kenapa dengan argenta!?” tanyaku dengan nada yang agak tinggi.
“Wanita itu mengalami pendarahan parah dan kehilangan banyak darah dan rumah sakit ini sudah kehabisan stok darah, sekarang ia sedang kritis.” Jawab dokter itu.
“Darah!! Jika aku berikan darahku maka aku akan menghilang.” Pikirku, tapi meski aku akan menghilang, di pikiranku hanya ada argenta, aku harus menyelamatkannya.
“Gunakan darahku.” Kataku pada dokter itu dengan tatapan serius.
“Baik, kalau begiku ikuti saya untuk mengecek apa darahmu cocok.” Kata dokter itu.
Aku pun melakukan pengecekan, dan darahku cocok, dengan segerah aku mendonorkan darahku pada argenta.
Satu jam berlalu sejak aku mendonorkan darahku, aku duduk di sampinya ia perlahan membuka matanya, sunggu aku bersyukur, ia berhasil melewati kritisnya.
“Song han..” kata argenta yang perlahan membuka matanya.
Aku menggenggam tanganya dan berkata dengan pelan.
“Argenta, aku ingin mengatakan sesuatu, entah itu kau mendengarnya atau tidak, aku sunggu ingin minta maaf dan mengakui, aku bukanlah song han hyun, aku adalah Kenso han, secara ajaib aku tiba-tiba terpindah kedalam tubuh ini, aku akan segerah lenyap, tapi sebelum aku lenyap, aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu, sangat mencintaimu Argenta Viole Aran, Maaf sunggu membohongimu.” Kataku, aku melihat tatapan argentan, ia hanya terpaku, ya itu wajar, karena aku selama ini hanya membohonginya, perlahan tubuhku bersinar dan perlahan mulai menjadi debu, aku sunggu marah pada diriku sendiri, di saat terakhir seharusnya aku membuat ia tersenyum, tapi aku malah membohonginya, tubuhku perlahan mulai menghilang dan akhirnya aku sirna, di saat terakhir aku melihat setetes air mata menetes dari mata argenta.
Dua minggu setelah aku menghilang, aku terbangun di tubuh asliku, tapi rambut dan mataku berubah, rambutku memutih dan pupil mataku menjadi biru, penampilanku benar benar berbedah, tubuhku sekarang menjadi mirip song han hyun.
Aku pikir aku sudah mati, tapi ketika aku di bawah ke kerumah sakit aku mengalami koma hampil sebulan, aku seharusnya bersyukur karena bisa hidup kembali, tapi rasanya seperti ada yang hilang, ya! Itu adalah argenta.
Lalu dua tahun berlalu, aku menjalani kehidupan sebagai mahasiswa biasa, aku menganggap bahwa itu semua hanya mimpi panjangku, dan sekarang aku sudah terbangun, namun saat aku pulang kerumah, aku menemukan seorang wanita cantik dan imut menungguhku, rambutnya hitam pekat dengan pita biru di kepalanya, aku mendekat ke arahnya dan dengan segerah ia memelukku, ya dia adalah argenta, selama dua tahun ia dan ibu dan song han hyun mencariku, dan akhirnya merekah menemukanku, aku sadar bahwa yang aku alami itu nyata, dan bukan sekedar mimpi panjangku.
Karenah aku merasa cerita ini bisa menginspirasi orang lain jadi aku membuatnya menjadi sebuah novel yang berjudul “ Jembatan Takdir”.
“Itulah kisahku dengannya, mungkin tuhan ingin mengajarkanku bahwa aku harus mensyukuri semua yang aku miliki, orang miskin punya masalahnya sendiri dan orang kaya juga punya masalahnya sendiri, dan yang lebih penting adalah kita harus menghargai orang yang selalu berada di sisi kita, menerima kita apa-adanya dan mau memaafkan kesalahan kita. Nah, sisanya terserah anda mau percaya atau tidak.” Kata kenso sambil meneguk secakir teh.
“Lalu apa yang terjadi pada nona argenta?.” Tanya reporter itu lagi.
*Brak.
“Suamiku, kenapa kau tidak menjemputku...” kata seorang wanita yang cantik tiba-tiba membuka pintu dengan wajah yang cemberut.
“Oh, ada tamu ternyata, hallo.” Kata wanita itu.
“Argenta Menjadi Istriku.”
-TAMAT-