Aku sudah tak peduli lagi dengan yang namanya Ferdi. Entah dia mau dekat dengan siapa, mau menikah lagi dengan siapa, aku sudah tak peduli lagi.
Satu tahun yang lalu, aku menjalin hubungan dengan kekasihku, Ferdi. Namun, semenjak dia lulus sekolah, dia harus bekerja di kota Y, sementara aku masih harus sekolah di kota B. Hubungan kita selama ini adalah hubungan jarak jauh alias kudu LDR-an. Mau tidak mau, aku tetap harus menjalaninya, karena aku juga sayang sama dia.
Hubungan jarak jauh kami selalu dilandasi kepercayaan dan kesetiaan, dan apabila salah satu dari kami ada yang melakukan kesalahan,, hubungan kami, pasti akan berakhir.
"Sayang, kamu sudah makan belum? Jangan lupa makan dulu ya.. "
"Iya, kamu juga. Jaga diri baik-baik disana.. Tunggu aku pulang..."
Hubungan yang selalu saling mengingatkan, saling menjaga satu sama lain. Hingga pada akhirnya, di suatu hari, aku tak bisa menghubunginya. Entah nomor rumahnga, entah nomor telepon genggamnya. Sampai pada akhirnya, aku menghubungi salah satu teman baiknya yang selalu menemaninya.
Tuut.... tuut... tuut..
"Hallo..." terdengar suara seseorang yang sexanv menjawab dari sebrang telepon itu.
"Hallo... mas Beni.. ini saya Luna mas.." ,jawabku padanya.
"Oh, kamu Lun.. gimana?? Ada apa?? ",tanyanya padaku.
"Mas, aku mau tanya, mas lagi ama mas Ferdi gak?? Soalnya aku hubungin ke rumah terus ke hpnya ga bisa juga. . " , jawabku.
Sejenak tak terdengar suara disana.
"Hallo.. mas Beni..? Masih disitu mas??"
"Oh, iya Lun. Masih, masih. Lun,, kamu gak tau ya? Kalo Ferdi pergi dari kota Y 3 hari yang lalu. "
Jederrrr!!!!
Seperti tersambar petir. Bahkan.. kekasihku pergipun, aku benar-benar tak tahu, dia kemanapun aku tak tahu.
"Apa...?? Mas Ferdi pergi mas? Kemana mas?? ", tanyaku semakin ingin tahu.
"Dia balik kota L, neneknya sakit Lun. Ga da yang jagain katanya. "
"Ohh,, gitu mas. Makasih banyak ya.."
"Oke, sama-sama. " , ucapnya terakhir kali sebelum dia menutup teleponnya.
Aku bingung, heran, kaget, marah dan semua rasa bercampur menjadi satu. Aku coba kembali menghubungi teleponnya. Namun, masih juga aku tak bisa menghubunginya.
Sedih rasanya. Aku begitu percaya padanya, bahkan dia sama sekali tak melihatku selama ini?? Hanya menganggapku kekasih hanya di dunia maya sajakah? Hanya karena kami harus berhubungan jarak jauh seperti itu.
2 hari kemudian..
Aku coba sesekali menghubunginya. Jomornya sudah bisa dihubungi lagi. Aku mencoba menyambungkan panggilan video padanya. Tak diangkatnya panggilan dariku itu, hingga setelah aku mencoba berkali-kali, dia akhirnya mengangkatnya.
"Hai.. apa kabar??" , sapaku saat pertama kali bicara dengannya di video call itu.
Kulihat raut wajahnya yang begitu masam. Dengan sedikit senyum di wajahnya dia menjawabku..
"Hai, Lun.. kabar baik. Kamu gimana?", jawabnya singkat.
"Aku baik-baik saja."
"Lun, maaf ya. Waktu aku pergi aku ga sempat kabari kamu. Aku buru-buru. "
Ferdi mencoba menjelaskan semuanya sekarang. Namun, masih belum terlambat. Karena aku masih menerima permintaan maafnya.
"Iya, ga apa-apa kok. Aku juga tau dari mas Beni kalo kamu balik kesana. Aku coba hubungi kmu tapi tak bisa. Kenapa kamu tiba-tiba ngilang??"
Aku memberikan pertanyaan padanya yang membuat raut wajahnya berubah.
"Lun, sekali lagi aku minta maaf sama kamu. Aku balik ke sini ga bilang sama kamu, karena nenek lagi sakit. Dan aku juga pengen ngomong sesuatu ama kamu, mungkin.. aku ga balik lagi ke kota Y. Aku bakal stay disini terus. Kita...."
Belum selesai berbicara, aku mengerti maksud apa yang dia tujukan untukku.
"Mas.. mungkin selama ini, hubungan kita memang hubungan jarak jauh yang begitu jauh, aku mencoba setia sama kamu, aku mencoba ada untukmu, meskipun hanya lewat pesan dari HP, dan sekarang.. aku hanya mau tau.. apakah kamu masih sayang sama aku atau tidak??"
Tak terdengar suara disana. Hanya kulihat wajahnya yang tertunduk entah sedang menghitung uang atau apa itu.
"Mas...?? " , ku panggil sekali lagi. Barulah dia mengangkat wajahnya menatap ke layar handphonenya itu hingga aku kembali bisa melihat wajahnya yang tampan itu.
Hingga dia kembali berbicara padaku.
"Lun,, makasih buat semuanya. Dan kali ini aku mau minta maaf lagi, karena hubungan kita harus berakhir sampai disini saja. Sekali lagi, aku minta maaf sama kamu Luna. " , begitu ringannya mulut itu berbicara padaku dengan wajah masamnya itu.
Aku hanya bisa tersenyum. Mau marahpun percuma, karena dia juga berada di tempat yang jauh dari sisiku.
"Mas,, aku ngerti.. mungkin selama ini, semenjak kita jauh, rasa sayang kamu ke aku uda berkurang. Tapi asal kamu tau, kamu adalah cinta pertama aku, dan sampai kapanpun, kamu akan tetap ada di hatiku. Meskipun sebenarnya samapai sekarangpun aku masih sayang sama kamu, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa jika memang kamu ingin kita berhenti sampai disini. Aku terima. Mungkin lebih baik begini sebelum terlanjur kita berjalan semakin jauh. .
Terimakasih juga untuk dulu yang pernah kamu lakuin ke aku mas. Semoga kelak kamu bisa hidup bahagia. "
Aku berusaha untuk tetap tersenyum dalam panggilan video itu. Mencoba untuk bisa menerima keputusan akhir ini dengan ikhlas, mskipun dalam hati sebenarnya sangat berat.
"Makasih banyak Lun.." , kata terakhir yang dia ucapkan sebelum akhirnya aku menutup panggilan itu.
Panggilan terputus.
Tak terasa air mata menetes begitu derasnya, membasahi pipiku. Hatiku seperti tersayat pisau. Tak terlihat namun begitu menyakitkan. Tetapi, aku harus tetap tenang, mungkin ini memang jalan terbaik untuk kami.
Namun, itulah yang sudah terjadi. Hubungan kami yang sudah berjalan satu tahunan itu akhirnya kandas di tengah jalan. Dan setelah itu, kami sudah tak pernah saling menghubungi lagi.
####
Terimakasih telah membaca