"Kemaren gua ke rumah nenek gua," Diyas membuka topik bahasan hari ini. Pastinya, itu adalah cerita horor. Diyas memang sering berteman dengan setan. Ya, aku lah salah satu temannya. Aku, Karina.
"Bohong," godaku.
"Ga! Kali ini gua serius! 😨" ucap Diyas dengan wajah meyakinkan. Dia memang sudah beberapa kali menceritakan kebohongan tentang hantu atau dajjal-dajjal yang dia temui.
Setidaknya tampang menyeramkan dari wajah Diyas cukup meyakinkan bahwa ini adalah cerita yang benar-benar seram.
Kembali ku tatap wajah Diyas yang masih terbengong di hadapanku.
"Rumah Nenek lu kenapa?" tanyaku.
"😨 Serem, gua ga sanggup ceritainnya." Tubuh Diyas mematung dengan tatapan yang masih terbengong.
"Yaudah," ucapku kembali mencoret-coret buku di hadapanku.
"Cerita apa, Yas?" Kali ini Gilang yang memancing agar Diyas menceritakannya.
Ku lirik Gilang sebentar. Dia menyeret kursinya dan duduk di sebelah ku.
"Kemaren gua ke rumah Nenek gua. Rumahnya aneeeh banget. Lu tau kan kalo rumah orang lama gitu, punya ember gede yang dibuat dari tanah liat?" tanya Diyas.
"Ember gede? Ga pernah liat," jawabku.
"Buat nampung air?" tanya Gilang.
"Naaahhh iya! Buat nampung air!" teriak Diyas menarik perhatian anak-anak yang lain. "Nah itu, buat nampung air! Gua ga tau namanya apa. Pokoknya itu dari tanah liat ukurannya gede banget!"
Anak-anak yang mendengar ungkapan itu, mulai tertarik mendengar cerita Diyas. Mereka perlahan-lahan mendekat dan ikut mendengarkan ceritanya.
"Kan waktu itu gua disuruh mandi. Gua ga biasa dong mandi ala-ala orang jaman dulu gitu. Gua biasa mandi pake shower atau ga, minimal gayung lah."
Ya, terdengar seperti menyombongkan diri.
"Tapi, di rumah Nenek gua tuh ga ada yang kayak begituan. Mandinya harus pake teko dari tanah liat. Tekonya di isi air terus di guyurin ke badan. Ga banget ya kan?" Diyas menceritakannya seperti bernada jijik.
"Phew, Ga usah mandi aja sekalian!" ucapku menimpali cerita tersebut.
"Gua juga mikirnya gitu!" teriaknya. "Ga usah mandi aja biar ga ribet. Tapi, Nenek gua maksa!"
"Terus lu mandi pake teko itu?" tanya Gilang.
"Iya!" jawab Diyas pasti.
"Gimana mandinya? Kalo pake teko mah paling airnya kayak air kencing anak SD." Niko ikut menimpalinya.
"Nah itu! Denger dulu cerita gua. Jadi, gua mandi nih kan pake teko itu. Kan airnya ga deres kayak yang Niko bilang kayak air kencing anak SD. Tiap kali gua isi air tekonya di dalam tempat nampung air yang gede itu. Gua berasa kayak nyentuh kepala orang! Suer dah gua ga bohong! Kepala orang!" Diyas mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya pertanda ia tidak berbohong.
"Getok aja pake teko-nya!" Gilang menimpali cerita tersebut.
"Kan gua belum yakin kalo itu kepala orang!" Nada bicara Diyas tiba-tiba meninggi. "Kalo gua tau itu orang, udah gua getok beneran! Tapi, pas gua liat ke dalam tuh tempat nampung air. Ga ada apa-apa! Ampe gua obok-obok airnya, ga ada apa-apa! Tapi beneran pas gua ngambil air. Berasa banget kepala orang ada rambutnya kena tangan gua!"
Semua anak fokus menyimak cerita tersebut.
"Karena gua takut, gua buru-buru mandinya. Terus gua ganti baju kan di kamar Nenek gua. Pas gua lagi nyisir rambut, kan di rumah nenek gua ga punya kaca..."
"Miskin amat nenek lu." Gilang asal mengucap saja, membuat lidah Diyas terhenti melanjutkan ceritanya.
"Bapak lu miskin!" teriak Diyas dan kembali melanjutkan ceritanya. "KAN RUMAH NENEK GUA GA PUNYA KACA! BUKAN BEARTI NENEK GUA MISKIN!" teriaknya lebih kencang.
"Ya maaf, Yas." Gilang terkekeh memutar pandangannya.
"Jadi! Pas gua lagi nyisir rambut itu, gua ngerasa kayak ada orang berdiri di belakang gua. Gua noleh ke belakang, ga ada siapa-siapa. Gua nyisir lagi, terus gua berasa dia masih berdiri di belakang gua. Gua noleh lagi, ga ada siapa-siapa. Gua nyender di tembok." Diyas mengubah duduknya. "Ini gua serius! Suer? Gua serius!" teriaknya.
"Apa? Setannya nemplok di dinding juga?" tebak Gilang, membuat amarah Diyas kembali memuncak.
Diyas berdiri dari duduknya. Ia mengambil buku tulis yang sudah ku coret-coret. Ia menggulungnya langsung memukuli tubuh Gilang.
"Tau dari mana lu ah?! Sialan! Plis la yah, kalo gua lagi cerita tuh jangan sok tau sama cerita gua! Kalo lu mau cerita, ceritain aja cerita lu!" teriak Diyas terus memukuli Gilang.
"Kan gua nanya doang!" bantah Gilang.
"Iya! Dia nemplok di dinding! Nungguin nyamuk lewat!" teriak Diyas.
"Udah udah. Jadi lu liat apa, Yas?" tanyaku.
"Tau ah, ga mood gua." Diyas pergi begitu saja. Membuat semua pendengarnya kecewa. Cerita yang berakhir menggantung atau masih tanda tanya adalah mimpi buruk untuk semua penikmat segala jenis cerita.
***
Hari ini hari jum'at, semua murid dan para pengurus sekolah sudah pulang dari 1 jam yang lalu. Hanya aku dan Diyas yang masih duduk termangu di sudut kelas.
Kami memang suka pulang lebih akhir. Setidaknya banyak cerita-cerita seru yang bisa kami sampaikan pada teman-teman besok pagi.
Kejadian-kejadian 😨 yang seraaaam di saat kelas telah kosong. Hehe 😂 tidak juga sih, itu hanya cerita bohong.
Aku dan Diyas memang sering membohongi teman-teman di kelas dengan cerita horor bohongan itu.