Kisah ini bermula saat aku duduk dibangku kelas 12 SMA. Aku tidak mengerti dengan sikap guru seniku. Dia sangat misterius dan penuh dengan teka-teki. Kuakui,aku memang mengaguminya karena ketampanannya,tapi tidak terfikirkan sedikitpun olehku untuk bisa menjadi miliknya seutuhnya.
-
Jakarta,17 Oktober 2018
Namaku Azkia Zahara Maulida. Aku biasa dipanggil Azki oleh orang-orang disekitarku. Aku anak tunggal dan bukan termasuk anak dari keluarga berada. Ayahku hanya seorang buruh pabrik dan ibuku tidak bekerja.
Seperti biasa,hari itu pun aku memulai hariku dengan bangun pagi dan pergi sekolah. Aku pamitan pada ayah dan ibuku. Mereka berharap,aku dapat menjadi anak yg baik dan berguna kedepannya.
"Ayah,ibu,Azki pamit pergi sekolah dulu ya,sampai nanti!" ucapku.
"Iya,hati-hati ya,nak!" ucap ayah.
"Jangan jajan sembarangan dan gunakan uang jajanmu dengan baik,Azki!" nasihat ibu.
"Baik!" sahutku.
Aku pun pergi ke sekolah dengan menaiki sepeda. Karena jarak antara rumah dengan sekolahku juga cukup jauh. Saat hendak pergi kesekolah,aku harus menuruni tanjakan dari arah jalan rumahku.
Hingga...dengan secara tidak sengaja,aku menabrak seseorang dengan sepedaku. Orang itu terlihat kaget dan aku pun langsung buru-buru turun untuk minta maaf.
"Akhhh" teriaknya kesakitan.
"Apakah Anda baik-baik saja? Saya minta maaf atas kecerobohan saya. Saya akan biayai pengobatan Anda" ucapku.
"Ah,tidak usah. Saya baik-baik saja. Sudahlah,cepat pergi,kalau tidak kamu akan terlambat" ucapnya lembut.
Aku pun tersontak kaget. Kemudian samar-samar aku melihat wajah orang yg kutabrak itu,dan benar saja,orang itu tampan! Bisa dibilang dia masih cukup muda,dan aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.
Tanpa berfikir panjang,aku langsung mengayuh cadel sepedaku dan berlalu pergi meninggalkan orang itu.
---
Sampai disekolah,aku langsung masuk ke kelas dan bertemu dengan sahabatku,Maya. Aku langsung duduk ke bangku milikku sambil menyapa Maya.
"Hei,May! Pakabs ni? Baek aje kan lu?" ucapku.
"Iye,gw baek aje. Lu sendiri gmn? Telat mulu lu gw liat" balas Maya.
"Ya,biasalah" ucapku.
"Eh,lu udah denger berita belum,kalau pak Sutrisno,guru seni kita udah pensiun tau! Seneng bet dah gw! Katanya sih penggantinya bakal dateng hari ini,semoga aja gurunya cowok plus gans ya! Gak sabar bet gw!" ucap Maya sambil teriak histeris.
"Belum,emang iya ya? Gw gak tau,tu" jawabku.
"Dasar lu! Emang lu gak liat grup?" tanya Maya.
"Gak sih,gw kan jarang main ponsel" jawabku.
Kemudian anak-anak sekelas sibuk membincangkan guru baru tersebut.
---
Pelajaran lain telah berlalu,hingga jam pelajaran terakhir dimulai,yaitu seni.
Semua anak sudah bersiap diposisinya untuk menyambut guru baru tersebut.
Tiba-tiba...
TOK TOK TOK
"Permisi,apa benar ini kelas XII IPA 3?" tanya guru itu.
"Eh,benar. Apa bapak ini guru seni baru kami?" jawab Fina.
"Ah,syukurlah ternyata bapak tidak salah kelas" ucapnya ramah sambil tersenyum.
Kemudian guru yg akan kami panggil bapak itu pun masuk kedalam kelas kami dan memperkenalkan dirinya.
"Ah,baiklah. Perkenalkan bapak Fahreza Adrian. Kalian bisa panggil bapak,Reza" ucapnya.
"Bapak harap kita semua bisa menjalin hubungan pembelajaran antar guru dan murid ya,semuanya" ucapnya lagi dengan ramah sambil tersenyum.
"Baik,pak!" sahut kami.
"Eh liat,gans bet pak Reza!" kata teman-teman sekelasku.
"Hmm kayaknya gw naksir deh sama pak Reza!" ucap Maya.
"Ih apaan sih lu,May! Gak pantes banget!" ucap Fina.
Dan benar saja,pertengkaran pun dimulai.
Tapi dengan santainya pak Reza bisa mengatasi semua itu. Ya,mungkin karena dia memang tampan.
Sejujurnya,aku pun tertarik padanya,tapi tidak mungkin. Aku bukanlah tipe anak perempuan yg cantik. Wajahku penuh jerawat dan aku mengenakan kacamata.
Pak Reza memulai pembelajaran seni nya. Dia menerapkan metode permainan seni disetiap materinya. Dia selalu membuat teka-teki misterius untuk kami pecahkan. Dan siapa yg bisa memecahkannya,maka akan mendapatkan nilai yg bagus sekaligus hadiah misterius juga dari pak Reza.
Semua murid pun antusias,termasuk aku. Tapi apa daya,aku lemah dalam permainan IQ seperti ini.
Hingga akhirnya pak Reza berhenti membuat teka-teki dan menyuruh kami untuk mengerjakan tugas menggambar.
Hingga aku tersadar akan sesuatu.
"Hmm,kalo gak salah aku pernah liat wajah pak Reza,hmm dimana ya?" Lamunku.
"Oh ya,pak Reza kan orang yg tadi pagi aku tabrak pake sepeda pas ditanjakan! Aduh malu banget! Hmm gimana kalo pak Reza ngenalin wajah aku ya? Aku malu banget!" Pikirku lagi.
Tiba-tiba,Maya pun mengagetkan aku.
"Heh,ngape lu? Lamun terus gw liat? Udah kerjain tugas gambar lu sono! Ntar gak selesai lho,gw udah ni,gw ngumpulin duluan ya!" ucap Maya.
Aku pun sadar dari lamunanku.
"Eh iya! Gw lupa woi! Malah gw lemah gambar lagi! Hadeuhhh!" ucapku.
---
Semua murid sudah mengumpulkan tugas mereka,sedangkan aku...masih galau gak tau mau gambar apa! Dan dari semua tema gambar yg ditulis pak Reza,tak ada satupun yg bisa kugambar!
"Heh,lu gmn? Kelas seni udah selesai lho!" ucap Maya.
"Gak tau,May! Gw panik!" teriakku.
"Yaudah,gw duluan ya!" ucap Maya.
Aku kaget,tapi iya juga sih gak mungkin aku mencegah Maya buat pulang kerumahnya.
Hingga...seisi kelas pun kosong. Yg tersisa hanya aku dan pak Reza.
Aku gak berani menatap wajah pak Reza. Takut dia akan mengenali aku.
Tiba-tiba...
"Hei,kamu yg tadi pagi nabrak saya kan?" tanya pak Reza.
Aku sontak kaget,terpaku,dan gak tau mau jawab apa.
"Eh anu...itu...i..i..i..iya,pak! Sa..sa..saya yg nabrak bapak,eh tapi kan saya udah minta maaf,pak!" ucapku.
"Ah,iya. Saya tahu kamu anak baik,makanya saya tertarik sama kamu,Azki" ucap pak Reza.
Aku semakin kaget. Apa maksud pak Reza mengatakan itu? Aku merasa merinding dan ketakutan diwaktu yg sama. Apalagi dikelas hanya ada kami berdua sore ini. Benar-benar suasana yg mencekam buatku.
"A..a...ap..apa maksud bapak?" tanyaku dengan gugup.
"Haha,maaf ya,Azki! Saya buat kamu gak nyaman. Gimana tugasnya udah selesai?" tanya pak Reza.
"I...i..iya sudah,pak!" jawabku.
"Ah,bagus. Sini serahkan pada bapak untuk dinilai" ucap pak Reza sambil tersenyum.
Tapi...ada yg aneh dengan senyuman itu. Senyuman pak Reza terlihat berbeda dari yg tadi aku lihat. Senyuman saat dia sedang bersama banyak orang dan saat dia sedang sendiri bersamaku. Aku tidak mau menyakiti hatinya,tapi senyuman dan wajahnya saat sendiri lebih jelas terlihat seperti seorang "PSIKOPAT/PEMBUNUH BERANTAI YG SANGAT MENYERAMKAN!"
"Eh,Azki. Kamu gak mau pulang? Kok daritadi melamun terus? Masih gak nyaman sama saya?" tanya pak Reza.
"Hmm padahal gambar karya kamu bagus banget lho. Detail dan cukup rapi. Saya suka. Apa kamu sama seperti saya? Seorang yg perfectsionis?" sambungnya lagi.
"Ah,maaf ya Azki. Saya banyak bicara. Maaf udah buat kamu gak nyaman. Padahal saya guru kamu,tapi bersikap seolah-olah temen deket kamu. Maaf ya" ucapnya lagi.
Aku sedikit geli dengan ucapannya. Tapi karena dia guruku,aku masih menghormatinya,kecuali jika dia melakukan sesuatu yg pantas untukku.
Aku pun pergi berlalu meninggalkan pak Reza...sendirian.
Setelah itu,aku tak tahu apa yg dilakukannya.
---
Sampai rumah hingga tidur aku terus memikirkan tentang dia dan ucapannya. Aku masih tak mengerti apa maksudnya. Dia memang benar-benar seorang yg misterius dan penuh teka-teki bahkan untuk seorang guru.
Hingga tak berapa ponselku berbunyi. Dan aku segera mengambil dan melihatnya. Ternyata chat dari grup kelas.
Fina mengirim sebuah foto dan menyuruh kami untuk memperhatikannya.
Aku kaget. Ternyata mereka bisa memecahkan sebuah teka-teki yg diselipkan pak Reza di tema tugas menggambar tadi.
Fina dan teman sekelasku bertanya-tanya,kenapa pak Reza tak biarkan kami untuk menggambar manusia? Aku menjadi semakin bingung.
Hingga...rasa penasaranku sedikit terjawab oleh Rio. Anak yg memiliki IQ paling tinggi dikelas.
"Gw tau,palingan sih pak Reza minta tolong. Liat kodenya baik-baik. Mungkin saja,pak Reza trauma dengan masa lalunya. 2 orang manusia ini yg buat pak Reza menggambarkan kode ini. Yg digambarkan dengan coretan tinta merah dikiri dan kanan sedangkan yg ditengah pasti dirinya. Soalnya gambar ditengah kepalanya dicoret tinta hitam yg artinya pak Reza sedang mengalami depresi berat" ketik Rio.
Semua temen sekelasku pun kaget akan hal yg diketik Rio. Mereka benar-benar tidak percaya kalau pak Reza memiliki masa lalu yg terlihat suram seperti itu.
Aku pun tidak langsung diam dan segera membalas pesan Rio tersebut.
"Hmm,keknya gak gitu deh. Jangan berasumsi yg berlebihan kayak gitu" ketikku.
Sontak saja semua teman-teman malah membullyku.
"Eh gmn kalo kita pecahin aja misteri ini? Misteri masa kecil/masa lalu pak Reza!" ketik Fina.
"Hmm,boljug sih. Sekalian kita pecahin juga kenapa pak Reza selalu menyelipkan sesuatu di permainan teka-tekinya" ketik Dita.
Semua teman sekelasku sibuk untuk memecahkan misteri mengenai pak Reza.
---
Esok paginya,aku langsung bangun,mandi,sarapan,dan siap untuk pergi sekolah. Setelah berpamitan pada orang tuaku,langsung ku kayuh cadel sepedaku.
---
Setelah aku sampai dikelas,beberapa teman sekelasku mulai sinis padaku. Mereka menatapku dengan tatapan yg jahat. Mungkin karena hal kemarin.
Tiba-tiba,tatapan itu berubah menjadi sebuah senyuman.
"Eh,Azki! Kita mau lu yg memecahkan misteri ini,karena lu kan deket sama pak Reza!" ucap Fina.
Aku kaget dan langsung menjawab.
"Hah?! Gw gak deket kok sama pak Reza. Kemarin kebetulan aja gw pulang lama karena gw lemah menggambar,bukan gw sengaja pengen deket pak Reza" jawabku.
"Halah,basi lu! Pokoknya kita gak mau tahu ya!" ucap Fina lagi.
---
Pelajaran terakhir dimulai kembali,ya itu seni.
Pelajaran yg paling kubenci ini kembali lagi datang.
Aku ingin cepat segera pulang kerumah dan beristirahat.
"Azki,lu harus jalanin peran lu!" ucap Fina samar-samar.
Jujur aku agak takut,tapi aku akan melakukannya.
---
Pelajaran berakhir. Mereka semua benar-benar pulang dan pergi meninggalkan ku sendirian lagi bersama pak Reza,termasuk sahabatku sendiri,Maya yg juga mulai cuek padaku.
"Ah,udah jam pulang ya? Yasudah ayo,Azki kita keluar" ucap pak Reza.
"Tunggu,pak. Saya mau bilang sesuatu sama bapak" ucapku beranikan diri.
Pak Reza pun langsung menghentikan langkahnya dan menoleh kearahku.
"Ah,ya,Azki. Kamu mau bilang sesuatu sama saya?" tanya pak Reza.
"Iya,pak. Saya mau bilang sesuatu sama bapak. Sebenernya apa yg terjadi pada bapak,saya tahu ini gak sopan,tapi saya harus tahu tentang ini. Saya juga tahu,bapak menyembunyikan kode pertolongan di tema menggambar kemarin. Saya tahu,bapak pasti sedang depresi berat kan? Apa yg terjadi pada bapak? Ceritakan saja. Siapa 2 orang digambar tersebut? Apa itu keluarga bapak?" tanyaku penuh jawaban.
Tapi pak Reza hanya terdiam dan akhirnya dia tersenyum lagi.
"Ah,kamu ini pinter banget,Azki! Sudah bapak duga,pasti kamu bisa mengerti itu. Iya,kamu benar. 2 orang yg ada digambar itu adalah keluarga bapak. Mereka adalah ibu dan kakak perempuan bapak. Mereka selalu menyiksa bapak. Bapak tidak tahu,tapi itulah yg sebenarnya terjadi. Ibu bapak sangat suka berkebun dan menanam bunga. Sedangkan kakak perempuan bapak suka memasak daging. Dan bapak menyukai kedua hal itu dari mereka. Bapak banyak belajar hal yg bapak anggap baik dari mereka" jawab pak Reza.
"Bapak tidak menyembunyikan apapun lagi darimu,Azki. Dan bapak tidak butuh pertolongan,bapak baik-baik saja" ucapnya lagi.
"Lalu kemana sekarang mereka? Dan bapak menyukai seni itu berawal darimana? Otodidak atau turunan dari keluarga bapak?" tanyaku lagi.
"I..i..itu..tidak!" bentak pak Reza.
Seketika nafas pak Reza langsung terengah-engah. Dia seperti orang yg punya penyakit asma. Dia mengalami hal itu setelah mengingat suatu kejadian. Dan tiba-tiba,mulut pak Reza mengeluarkan darah merah yg pucat.
Aku kaget dan langsung menolong pak Reza.
"Pak,bapak baik-baik saja? Maafkan saya,pak! Apakah bapak punya riwayat penyakit asma?" tanyaku.
"Ti...ti..tidak...bapak baik-baik saja. Sudah pergilah. Ah,maaf bapak tidak sengaja mengotori pakaian sekolahmu yg putih bersih dan selembut sutra ini dengan darah bapak. Maaf tapi darah bapak memang seperti ini" ucapnya.
"Tapi,bapak kan sakit?" tanyaku lagi.
"Maaf Azki,tapi bapak benar-benar tertarik padamu. Sebenarnya,bapak ingin berikan Azki ini,sebuah boneka beruang sedang,bapak harap Azki senang menerimanya. Bapak tahu,Azki pasti dibully dan dipaksa oleh teman-temanmu untuk ini kan. Jadi bapak harap,ini dapat menghiburmu" ucap pak Reza.
"Apa?! Darimana bapak tahu?! Dan lagi aku tak ingin boneka ini,pak!" bentakku.
"Tidak apa,ambil saja. Itu khusus bapak berikan untuk Azki,murid teladan bapak" ucapnya lagi.
---
Aku pulang dan langsung masuk ke kamar. Hari ini orang tuaku tidak pulang kerumah selama 3 hari. Jadi aku aman membawa boneka beruang ini masuk kekamar.
Aku langsung meletakkan boneka itu disudut meja belajarku. Tanpa kusadari,boneka itu seperti sedang melirikku. Tapi kuabaikan dan kubiarkan saja. Jujur aku juga mulai suka pada pak Reza. Dia kelihatan seperti itu karena tekanan keluarganya dan riwayat penyakitnya. Dia menyembunyikan semua yg dideritanya dengan lelucon dan permainannya.
---
Malam pun tiba. Hari ini malam minggu. Aku sendiri dirumah tanpa orang tua. Aku bebas melakukan apapun yg ku mau. Aku langsung bermain ponsel hingga larut malam. Hingga tiba-tiba...seseorang menelponku dari nomor yg tidak kukenal.
Dia menerorku dan mengatakan akan membunuhku. Aku langsung merinding dan segera pergi tidur. Tapi,aku bermimpi buruk tentang pak Reza yg akan membunuhku. Aku kaget dan terbangun.
Tepat pukul 3 dini hari,aku tidak bisa tertidur. Aku terus memikirkan mimpi itu. Aku takut. Apalagi boneka itu selalu melirikku.
---
"Adri,darimana saja kau? Kenapa baru pulang sekarang?" tanya seseorang.
"Ah,maaf bu. Aku telat kembali" ucapnya.
"Kau tahu kan apa konsekuensinya? Amelia,ambilkan ibu sabuk itu" ucapnya.
"Baik,bu" jawabnya.
"Iya,bu. Aku akan menerimanya. Ibu bisa lakukan itu" ucapnya.
Dipukul dan terus disiksa. Hingga...
"Adri,kau tidak mau bernasib sama sepertinya kan?" tanyanya.
"JAWAB AKU!" bentaknya kemudian sambil memukulnya.
"TIDAK! JANGAN DIA LAGI! SUDAH CUKUP" jawabnya.
"KAU SUDAH DAPAT MANGSA KAN,ADRI?!" tanyanya.
"Sudah,aku sudah mendapatkannya dan ku jamin pasti kalian akan menyukainya" jawabnya.
"BAGUS! TETAPLAH PADA POSISIMU,ADRI" ucapnya.
"AKU SUDAH MEMBERINYA HADIAH. AKU HARAP ITU DAPAT MEMBANTU KALIAN" ucapnya.
*menunjukkan...
"KERJA BAGUS,ADRI! INI BARU PUTRAKU" ucapnya.
"Iya,ibu" jawabnya.
---
Hari berlalu. Pak Reza semakin dekat denganku. Aku pun memutuskan untuk menerima cintanya. Aku sangat senang. Hingga...pada suatu malam...
"Pak,kita kan sudah jalan hampir 3 minggu,apa bapak tidak mau kenalkan aku pada keluarga bapak?" tanyaku.
Pak Reza terdiam.
"Kenapa masih panggil aku bapak,aku kan milikmu. Aku akan segera perkenalkan mereka malam ini,padamu" jawabnya.
"Iya,maaf" ucapku.
---
Sampai dirumahnya,aku bingung apa ini benar rumah.
"Aku tahu kamu pasti kaget,Azki. Tapi benar ini memang rumahku" ucapnya.
"Iya" jawabku singkat.
Rumah yg sangat gelap dan sunyi. Hanya ada aku dan pak Reza.
"Ini minumlah. Ini teh mawar. Biasanya ibuku selalu membuat ini,sekarang dia sedang pergi,akan kembali sebentar lagi" ucap pak Reza.
"Baiklah" jawabku singkat.
"Bagaimana? Kau suka?" tanya pak Reza.
Pak Reza menyalakan lilin tepat didepan wajahnya dan itu sangat menyeramkan bagiku. Tapi aku tetap berprasangka baik padanya.
Tiba-tiba,samar-samar aku melihat wajah seseorang dibalik pak Reza.
Tapi setelah kulihat lebih teliti lagi,itu hanyalah beberapa foto lama.
Aku yakin itu pasti keluarga pak Reza. Tapi belum lama setelah itu,ada sebuah suara yg mengagetkanku. Seperti sebuah suara benda berat terjatuh.
Aku bisa melihat benda itu. Dan pak Reza segera memasukkan benda itu. Dan aku sangat kaget,saat mengetahui bahwa itu adalah sebuah pistol.
Aku sontak berdiri dari kursi dan hendak melarikan diri. Aku takut pak Reza akan berbuat hal buruk padaku. Coba pikirkan,untuk apa seorang guru seni mempunyai sebuah pistol? Itu sangat tidak masuk akal.
"Hei,mau kemana? Dinner kita belum selesai,sayang" ucapnya.
Aku tidak menghiraukan pak Reza lagi dan segera bergegas untuk pergi. Tapi aku bodoh,tentu saja tidak bisa! Seketika aku lupa,aku sedang bermain dengan siapa.
Kemudian pak Reza berdiri dari kursinya dan menuju kearahku.
"Ah,manis sekali. Wajahmu yg penuh ketegangan dan ketakutan itu,ah kemarilah sayangku. Mari kita bermain-main sedikit lagi" ucapnya sambil menyentuh pipiku.
"Tidak! Sebenarnya apa maksudnya ini?! Apa bapak adalah seorang pembunuh?! Jelaskan semua ini padaku,pak!" bentakku.
"Ah,tunggu dulu. Kenapa masih panggil aku bapak? Bukankah aku milikmu dan kau milikku? Hmm,kau kelihatan tegang. Bagaimana kalau sebuah permainan?" tanyanya.
"Apa?! Permainan apa?! Jangan bilang yg aneh-aneh! Atau aku akan lapor polisi!" bentakku lagi.
"Ah,baik-baik. Sederhana saja. Kita main petak umpet. Aku akan menghitung selama 10 detik untuk menunggumu bersembunyi,jika aku tak bisa menemukanmu lebih dari itu,kau akan kubebaskan dengan selamat,tapi...BILA KAU KALAH,KAU AKAN TINGGAL BERSAMAKU SELAMANYA DISINI! MENGERTI?!" ucapnya.
Aku merinding mendengarnya! Tapi aku harus melakukannya demi hidupku dan aku pun setuju dengan itu.
"Ba..ba..baik kalau itu mau Anda,mari kita lakukan!" jawabku dengan gemetar.
"AH,BAGUS" jawabnya.
---
Permainan dimulai.
Aku segera mencari tempat sembunyi yg ku rasa cukup aman,hingga aku berharap dia tak bisa menemukanku. Tapi aku salah...sebelum 10 detik,dia sudah menemukanku.
"KETEMU! AKU MENEMUKANMU! HAHAHAHAHHAHAHAH,SEKARANG KAU MENJADI MILIKKU SEUTUHNYA DAN TINGGAL LAH BERSAMAKU SELAMANYA DISINI,SAYANG" teriaknya.
"Ap..ap..apa?! Tidak,tidak,tidak" teriakku.
Aku pun berusaha untuk bangkit dan berlari menjauhinya. Tapi semuanya sia-sia. Saat aku hendak lari,pak Reza langsung menembak kedua kakiku dengan pistolnya tadi.
*DOOOOOORRRRRR!!!
Bunyi pistol itu tepat mengenai kedua kakiku.
Pak Reza datang mendekatiku dan dia sangat bahagia dengan itu. Dia tersenyum seringai dibalik itu.
"HAHAHAHAHAHAHAH,SUDAH KU BILANG,KAU TAKKAN BISA KABUR DARIKU,SAYANG! KAU MILIKKU DAN AKAN SELAMANYA BEGITU.TAPI KARENA KAU TIDAK JUJUR DALAM PERMAINAN INI,MAKA KAU AKAN TERIMA KONSEKUENSI DARIKU" ucapnya.
Aku tidak tahu apa yg akan dilakukannya padaku. Tetapi,aku baru tersadar,dia sedang mengambil tali. Dan tali itu dia diikatkan pada leherku,tanganku,dan kakiku yg terluka parah karena tembakan pistolnya. Aku merasa kesakitan disemua tubuhku. Aku tidak bisa berteriak karena dia juga menyekap mulutky dengan slasiban. Kalau aku tahu semua ini,aku takkan menerima cintanya.
---
Dia menyeretku keluar,lebih tepatnya ke halaman belakang rumahnya. Dihalaman itu,terdapat banyak bunga yg tertanam dengan indah. Aku tidak tahu apa yg terjadi. Tapi aku ingat dia pernah bilang kalau dia menyukai bunga dari ibunya. Tapi aku tak melihat ibunya ataupun saudaranya.
Tiba-tiba,dia mulai membuat sebuah lubang disamping bunga 3 bunga mawar lainnya. Aku bingung untuk apa itu. Setelah selesai,dia langsung menoleh kearahku.
"NAH,SUDAH SELESAI. INILAH TANAH MILIKMU. SETELAH KAU MENJADI BUNGA NANTI,AKU AKAN RAJIN MENJAGA,MERAWAT,DAN MEMUPUKMU,SAYANGKU,SAMA SEPERTI MEREKA" ucapnya.
Aku akhirnya mengerti bahwa 3 bunga mawar yg lainnya adalah seluruh anggota keluarganya yg telah dia bunuh dan dia tanam menjadi bunga. Ternyata selama ini,dia hanya berhalusinasi kalau keluarganya masih hidup,tapi nyatanya tidak. Mereka sudah mati dibunuh olehnya. Dan aku tidak mau berakhir seperti itu,tapi semua sudah terlambat,aku akan menjadi bagian dari mereka.
Aku juga baru ingat,bahwa dia memata-matai ku lewat boneka beruang yg diberikannya padaku. Didalam mata boneka itu,terdapat kamera pengintai,benar-benar membuatku bergidik ngeri.
Setelah itu...
"BERSIAPLAH" teriaknya sambil mengacungkan kapak berukuran besar kearahku.
Dia memutilasi seluruh anggota tubuhku,memasukkan potongan tubuhku ketanah,memberinya bibit,memupuknya,dan akhirnya menyiramnya dengan air.
---
"AH,MANISNYA. AKHIRNYA KAU BISA MENJADI MILIKKU SEUTUHNYA,SAYANG. TINGGAL DIRUMAH KITA BERDUA,AKU MENCINTAIMU,TUMBUHLAH MENJADI BUNGA YG INDAH UNTUKKU" ucapnya sambil tersenyum seringai dimalam itu.
- Tamat -
MNH.