Aku Arata pewaris dari klan Ichiro pemegang samurai Nihonto yang paling terkenal. Pedang samurai ini hanya diwariskan kepada klan terbaik. Dan klan keluarga ku adalah klan yang paling dihormati dari semua klan. Kami ada 5 klan dimana sebenarnya kami masih bersaudara. Klan Akio, klan Cho, klan Eji, klan Goro.
Sebenarnya ayah ku adalah anak kedua dari kakek ku. Ayah ku masih memiliki lagi satu adik laki - laki tapi hubungan mereka berdua mulai renggang ketika kakek ku meninggal. Anak pertama dari kakek ku menghilang sepuluh tahun yang lalu. Ketika dia akan dinobatkan menjadi penerus kakek ku.
Dan sekarang adalah giliran aku yang akan mengikuti jejak ini. Beberapa Minggu lagi akan ada ceremony upacara dimana samurai akan diserahkan kepada ku. Disana aku akan melawan klan - klan lain sebagai pembuktian sebagai seorang samurai.
Sebenarnya aku tidak mau mengambil alih ini semua. Tapi aku adalah anak tunggal dari orang tua ku. Bisa saja ku serahkan kepada sepupu ku Akio anak dari paman ku tapi lagi - lagi ayah ku tetap memaksaku memegang Nihonto. Ayah ku mengajarkan jurus samurai yang sudah diturunkan dari zaman nenek moyang kami. Jurus itu pun hanya diajarkan kepada penerus pemegang samurai Nihonto.
Sepupuku Akio kadang mengendap diam - diam ketika aku berlatih dengan ayah ku. Aku tahu apa yang dia inginkan. Dia ingin mengetahui jurus rahasia tersebut. Sepupu ku memang menginginkan samurai dan menjadi penerus klan Ichiro. Itu sebabnya dia begitu tidak suka dengan ku. Berbeda dengan adik perempuannya Yuki memang dia bukan adik kandung. Yuki adalah anak hasil dari perselingkuhan paman ku dengan wanita lain.
Dan dengan mudah bibi ku Mawari melenyapkannya entah kemana. Dia melakukan semua itu demi nama baik keluarganya terutama kelakuan paman ku. Walaupun Yuki berbeda tapi kami tidak banyak berbicara. Paman ku terlihat tidak suka ketika aku dan Yuki dekat. Semenjak pertengkaran hebat dengan ayah ku paman ku menjaga jarak dengan kami.
Beberapa hari lagi adalah upacara penyerahan samurai kepada ku. Ayah ku melatih ku dengan sangat keras. Namun aku muak dengan ini semua aku hanya mau tumbuh seperti remaja lainnya. " Aku benar - benar lelah Ayah bisakah kita berhenti sejenak". " Apa kamu seorang samurai hingga berkata seperti itu, seorang samurai akan bertarung hingga titik darah penghabisan".Badan ku mulai lemas keringat bercucuran dari tubuh ku. Malam sudah semakin larut tetapi ayah ku tidak perduli.
"Aku sudah muak dengan ini semua" teriak ku sambil pergi meninggalkan ayah ku. Dia hanya terdiam seperti patung dengan samurai ditangannya. Aku tidak perduli dan jika aku kalah dalam upacara itu aku tidak perduli. Untuk apa ini semua aku tidak menyukainya kenapa tidak diberikan saja kepada sepupu ku yang memang dia benar - benar ingin menjadi seorang samurai.
Tak lama berselang ibu ku datang keruangan ku. " Arata kenapa kau bersikap begitu terhadap ayah mu apa kamu tidak mengerti dan memahami makhsudnya"." Bu aku tidak mau melanjutkan ini semua jika sepupu ku inginkan samurai ini kita berikan saja kepadanya" aku masih duduk dengan kesal. " Apa kamu tidak memahami menjadi seorang samurai bukan hanya sebuah pedang tajam tetapi juga memiliki hati seorang samurai dan tidak semua bisa memiliki itu". Aku hanya diam tidak menyahuti.
Tiba akhirnya hari dimana aku menjadi simbol dalam upacara ini. Aku pun pergi kedalam ruangan untuk bersembahyang dan memakai baju khas seorang samurai. Warna merah dan beberapa unsur emas menambah kesan wibawa ketika aku memakainya. Gambar naga menunjukan sisi kekuatan seorang samurai. Walaupun aku masih berumur 19 tahun tapi ketika aku mengenakan baju ini penampilan ku lain dari biasanya.
Aku pun berjalan menuju sebuah pintu dimana aku bisa melihat semua klan berkumpul. Sebenarnya masih ada satu klan lagi yang harus nya ada disini. Tapi klan itu menghilang setelah pemberontaknya terhadap Raja. Sebagian dari mereka di habisi olah klan - klan yang ada dihadapan ku saat ini. Walaupun mereka sebenarnya masih satu darah tapi itu bukan alasan mereka untuk tidak mengikuti perintah Raja.
Aku pun berdiri ditengah dihadapan para klan dan untuk pertarungan pertama aku akan berhadapan dengan klan Akio. Untuk pertarungan ini mungkin. aku akan mengalami kesulitan ketika menghadapi klan Gara. Mereka adalah klan yang cukup kuat setelah klan keluarga ku. Tapi aku tidak perduli menang atau kalah aku tidak suka dengan semua ini. Ayah ku hanya melihat ku dingin disetiap pertandingan. Aku tahu dia pasti marah terhadapku karena sebelum upacara ini aku tidak pernah berlatih lagi semenjak pertengkaran itu.
Aku pun melihat Yuki dengan wajah teduh nya mengenakan baju kimono warna merah muda duduk diantara paman dan bibi ku. Sebenarnya aku menyukainya. Tapi aku tahu situasi keluarga ini membuat jadi sulit. Namun aku tidak melihat sepupuku Akio. Sekarang adalah waktunya bertarung dengan klan Gara.
Aku pun menyiapkan samurai katana dari sarungnya. Aku siapkan ancang - ancang untuk memulai pertandingan. Jika ini selesai maka upacara ini akan berakhir. Tiba - tiba aku mendengar suara hiruk pikuk dari luar. Suara itu seperti mendekat ke arah upacara ini. Semua orang pun terlihat penasaran. Shinpa pun terlihat ragu - ragu memulai pertandingan ini.
Lalu tidak lama kami mendengar sesuatu mencoba mendobrak masuk kedalam. Kami mulai bingung aku pun melihat sekeliling. Ayah ku bangkit dari duduknya dan melihat keadaan sekitar. Tiba - tiba beberapa masuk dengan membawa samurai mereka dan mulai menyerang kami. Para wanita pun mulai panik dan berlarian kedalam. Aku melihat ibu ku berlalu masuk dilindungi oleh ayah. Mata ku tertuju pada Yuki dia mencoba berlari tapi karena terlalu banyak orang dia sedikit sulit keluar dari keramaian itu.
Aku pun mencoba mendekati nya " Yuki ikuti aku" aku pun memegang tangannya dan berlari mencari perlindungan untuknya. Seketika beberapa orang masuk dari pintu lain dengan samurai mereka. Aku pun bingung keadaan semakin kacau. Aku tidak bisa melihat jelas lagi karena kerumunan. Apa yang mereka inginkan.
Beberapa pengawal dari keluarga ku melawan para pembuat onar itu. Tapi kedatangan mereka semakin banyak. Aku pun mencari ayah ku dimana - mana mulai ada korban berjatuhan. Apa ini semua kenapa ini semua terjadi. Aku pun melihat sepupu ku Aiko ditengah kerumunan.
Ayah ku pun berlari kearah ku ternyata dia mencoba melindungi ku.
" Lari Arataa.." aku pun melihat ayah ku melawan beberapa samurai dan mereka dari klan Gara. Aiko pun berlari kearah ku dengan menghunuskan pedang ke arah ku. Aku hanya terdiam tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Ketika pedang Aiko sedang menghunus kearah ku ayah ku mencoba melindungi ku dan ternyata pedang itu menghunus ke tubuh nya.
" Lari Arata larii..." aku pun dengan wajah kebingungan berlari entah kemana. Yuki pun berteriak " Ke arah sini Arata..." disana aku melihat seorang pria sedang menunggu ku.
"Pemberontakan sedang terjadi kamu harus segera bersembunyi" ucap pria itu.
" Tapi ayah ku dia sedang terluka" pria itu tetap tidak perduli dia pun memasuk kan ku kedalam gerobak barang yang dikendarai oleh kuda. Pria itu menutup ku dengan kain. Seseorang pun membawa ku entah kemana. Aku masih bingung dengan semua yang terjadi. Kenapa Aiko tega membunuh ayah ku. Bagaimana dengan ibu ku disana. Aku pun menangis menyesali dengan yang terjadi dengan ayah dan ibu ku sebelum nya. Aku pun menangis tanpa sadar.
Bersambung....