"Apa apaan nih, satu juta buat sebulan? mana cukup!
"Gajinya tadi cuman di bayar setengah, irit irit makainya"
Kakinya sontak berhenti mendengar suara pertengkaran kedua orangtuanya itu,
kepalanya menengok ke sela pintu yang sedikit terbuka itu sedangkan tangannya terangkat menutupi kedua kupingnya tersebut.
"Plakkk"
Terdengar suara layangan tangan yang begitu keras dari kamar kedua orangtuanya.
"Ayah..... Sudah berhenti!"
Sinta pun berlari untuk menepi pukulan ayahnya yang tertuju pada ibunya.
"Ayah kenapa main tangan dengan ibu? ibu juga selalu protes sama gaji ayah, Sinta capek pulang sekolah selalu dengar keributan. Sinta mau kayak teman-teman Sinta, punya orang tua yang saling menyayangi, bukan berantem terus kayak gini!."
Sinta berjalan meninggalkan kedua orang tuanya yang terdiam itu lalu pergi sambil membanting pintu dan keras.
"Brakkk."
Sinta adalah siswi SMP yang menjadi korban Broken Home dari orang tuanya, awalnya dia adalah siswi yang ceria, manis, pintar dan gampang untuk bergaul.
Tetapi karena orang tuanya, Sinta sekarang menjadi siswi yang cuek dan muram. Yang ia ketahui saat ini hanyalah belajar, belajar, dan belajar. Tidak ada yang lain.
Saat ia meninggalkan kedua orang tuanya saat itu yang terdiam, Sinta pun pulang tidak seperti biasanya. iya pulang dengan sangat larut dan sambil memasang muka kesal.
ibu Sinta pun melihat cinta datang dan bertanya.
" Baru Pulang?"
"iya."
"Kemana aja? jam segini baru pulang!."
"....."
Sinta pergi menuju kamarnya sambil mengabaikan pertanyaan ibunya itu.
satu minggu telah berlalu, pada saat itu bel waktu pulang telah berbunyi.
Sinta pun memberikan alat tulisnya yang tergeletak di meja dan ingin segera pulang, tetapi Bu Siti yaitu wali kelas cinta memanggilnya agar jangan pulang terlebih dahulu, karena ia ingin berbincang sedikit dengan sinta.
"Sinta." Teriak ibu Siti.
"Eh, iya bu. Ada apa bu?" jawab Sinta.
"Ibu mau ngobrol sama kamu, cepat rapikan pensil sama pulpennya terus duduk di sini.
"Iya bu."
setelah semua yang di meja sinta telah kosong, sinta pun langsung beranjak duduk di kursi samping bu Siti.
" Kenapa Bu? "
" Gakpapa kok, ibu cuma mau ngobrol sama kamu. Ibu sama ayah masih berantem lagi? apa keadaannya sudah membaik?"
"emm... Gitu-gitu aja bu. " Jawab sinta sambil menunduk.
" Eh iya, hari ini ibu masak opor loh, Sinta mau?." Tanya ibu siti sambil membalikkan keadaan.
" Hehehe ibu tau aja kalo Sinta laper."
ibu Siti pun tersenyum. Lalu mereka pun berbincang-bincang sambil membuat Sinta tertawa senang. Keadaan sekolah telah sepi dan hanya tersisa guru-guru yang ada di kantor sedangkan mereka asyik mengobrol di kelas. Dan sampailah mereka ke akhir perbincangan mereka.
"Sinta, kalau ada apa-apa, atau ada sesuatu yang mau simpan omongin, ibu siap dengerin Sinta, jadi Sinta jangan segan segan ya sama ibu. seperti minggu kemarin, sinta datang sambil nangis ke rumah ibu, ibu kaget kirain Sinta kenapa napa."
"Hehehe maaf ya bu, udah bikin ibu khawatir."
" Iya gapapa sayang, kamu gak salah kok, yang salah itu orang tua kamu, gak mikirin dampak apa yang terjadi sama kamu. Walaupun begitu, mereka tetaplah kedua orangtuamu, kamu nggak boleh kasar kayak gitu ya nak. Dan juga jangan melampiaskannya ke teman-teman kamu karena mereka juga pasti bingung apa yang mereka perbuat sampai kamu marah begitu."
"Iya bu, maafin Sinta ya bu. Sinta bakal berusaha buat senyum lagi ke orang-orang dan gak cuek lagi ke teman-teman. Makasih juga ya bu, udah dengerin curhatan serta kemarahan Sinta, seandainya ayah sama ibu gak berantem pasti Sinta gak bakal ngerepotin ibu kayak gini." Sinta pun meminta maaf sambil tersedu-sedu.
" Udah-udah sono pulang udah mau sore nih pasti orang tua kamu nyariin kamu karena ga pulang pulang, salam ya buat orang tua kamu. Dan inget ibu disini tuh orang tua kedua kamu. Jangan malu-malu yah, buat ngobrol ataupun curhat sama ibu hehehe." Sahut ibu Siti.
"Mau ibu anterin gak sampai pager depan."
"Gak usah Bu, ibu juga pasti mau pulang kan, Sinta pulang dulu ya bu assalamualaikum."
Sinta pun salim dengan ibu siti dan berjalan keluar kelas. Tetapi kakinya tiba-tiba berhenti tepat didepan pintu sambil mengatakan
"Terimakasih ya bu, Sinta pulang dulu, jangan lupa opor nya ya bu hehehehe."
Sinta pun pulang dengan perasaan yang senang dan sesampainya di rumah, sinta kaget dengan keberadaan kedua orangtuanya yang telah menunggunya di depan pintu rumah.
"Ada apaan bu, yah?" Sinta bertanya kebingungan.
"Maaf ya nak ayah sama ibu udah nyakitin sinta, sinta pasti kecewa sekali. Ibu lihat akhir-akhir ini sinta sering terkurung di kamar. kemarin ibu habis ketemu sama ibu siti, bu Siti menceritakan semuanya sampai ibu menangis mendengarnya."
"Iya, ayah sama ibu sebisa mungkin bakal ngebahagiain sinta, dan tidak bertengkar lagi. Maafin kita ya nak."
Sinta menangis mendengar omongan kedua orang tuanya, lalu ia pun memeluk kedua orang tuanya itu dan bersyukur atas semuanya kepada Tuhan. karena sekarang ia sedang merasakan rasa sayang dari kedua orang tuanya itu.
"Ya, benar kata bu Siti, seharusnya sinta gak boleh kasar sama ibu dan ayah. Karena walaupun mereka begitu, mereka tetap orang tua sinta, yang melahirkan dan membesarkan sinta. Walaupun sinta sudah banyak marah-marah dan bentak mereka, mereka tetap sayang dan ingin membuat sinta senang lagi. Dan terima kasih bu siti, sudah menjadi teman curhat untuk sinta, karena bu siti, ayah sama ibu bisa saling ketawa bareng lagi." Ucap Sinta dalam hati.
Tamat