Pernah sekali aku membuka kembali folder-folder foto lamaku, teringat jika dulu aku pernah sedekat itu dengannya.
Tertawa, berbagi cerita hingga rahasia. Bahkan membayangkan bagaimana kami, pada akhirnya hidup bersama dan saling mencintai hingga akhir hayat. Begitu naif nya kah aku dulu? Rasanya aku malu jika harus mengingat pola pikir ku dulu.
"Tapi manusia hanya mampu berencana sedang semua hasil ada pada Tuhan.." Ucapku, sedikit meringis saat perasaan sesak itu kembali menyeruak. Tapi aku sedikitnya merasa bersyukur, karena dengan begitu aku tidak akan terjebak pada hubungan toxic.
Aku juga masih menyimpannya, setumpuk foto, yang kini telah mengubah sudut pandang ku. Sekelompok orang yang pernah saling menusuk dibelakang, menjalin backstreet yang membuatku nyaris muntah jika mengingatnya.
"Seorang bajingan akan berpasangan dengan orang brengsek juga.."
Diantara dua orang yang berpura-pura saling melupakan,akan ada salah satu yang hanya berpura-pura. Dan itu adalah aku.
Waktu sudah berlari jauh dari hari itu, tapi kenapa perasaanku hanya berjalan ditempat. Dan aku benci itu, seolah aku membuktikan jika aku tak mampu bangkit.
"Hei bagaimana kabarmu?"
"Kau kerja dimana sekarang?"
"Oh ini anak mu? Lucunya..."
"Hei kau masih single, aku saja sudah punya 3 anak.."
Suasana yang ramai ini, entah kenapa aku tidak bisa merasakannya seperti ada dinding tak kasat mata yang menghalangi keberadaan ku.
Semua begitu antusias, saling mengobrol bertukar cerita. Bernostalgia ke beberapa tahun yang lalu, mengenang kembali tingkah-tingkah mereka yang masih labil. Lalu menertawakannya sebagai lelucon dimasa sekarang.
"Aku benci situasi ini.." Gumamku tanpa sadar. Aku jelas berada di keramaian, tapi aku tidak bisa merasakan kemeriahan acara ini.
Reuni adalah acara yang paling ku benci, seberapa dekatnya pun dulu aku dengan mereka, pada saat ini aku merasa jika kita semua telah menjadi asing.
Anggap saja aku pengidap paranoid akut, tapi menurut sudut pandang ku memang seperti itu. Kita beramah tamah diacara ini hanya untuk sekedar formalitas bukan, saling menjilat dengan menanyakan kabar dan tersenyum manis. Sungguh memuakan.
"Hei Clau.. come on, kenapa melamun disini.." Lagi muncul mahkluk parasit, ku pikir aku harus segera menghindar.
"Ah tak ada hanya terlalu pusing dengan pancaran energi semua orang yang sangat antusias." Ucapku mengatakan alasan yang konyol.
'Haha kau bisa saja.."
Ah sepertinya harus ku ralat ucapan ku tadi, aku sangat ingin mengatakan, 'Aku terlalu pusing mendengar setiap ocehan mereka yang memancarkan begitu banyak aura kebodohan..'
Tapi sepertinya sisi waras ku masih terjaga, syukurlah.
Aku bisa berpikir seperti itu bukan tanpa alasan, sudah ku bilang aku adalah si paranoid. Emosiku bisa dalam waktu singkat meledak dan pasang surut.
Reuni setelah sekian lama? Omong kosong. Ini adalah perang dingin, antara aku si pengidap paranoid dengan sekumpulan orang bermuka dua.
...
End