Pada suatu hari, disebuah kerajaan yang terletak di atas tanah yang subur terdengar dua buah Kabar yang menggemparkan. Hari ini adalah hari kelahiran Puteri raja yang ke-10 dan juga hati kematian permaisuri kerajaaan. "Tidak mungkin! Dia tidaklah selemah itu, lakukan segala cara untuk menyelamatkannya!" Seru yang mulia raja saat mendengar kabar meninggalnya sang ratu
Ditengah ruangan yang hanya diterangi cahaya lilin itu terdapat seorang pelayan tengah duduk meringkuk dengan badan yang gemetar. Merasa kesal karena tak mendapatkan jawaban, raja membanting sebuah gelas kaca kelantai. Bunyi pecahan kaca yang keras membuat pelayan itu berjingkat kaget, dengan suara yang bergetar pelayan itu mencoba angkat bicara, "rajaku hamba yang rendah ini telah berusaha sebisa mungkin. Namun sang hyang Widhi tidak memberi restu. Ratu telah menghembuskan nafas terakhirnya beberapa saat lalu setelah melahirkan sang Puteri."
Raja membanting tubuhnya pada kursi yang terletak di sudut ruangan. Kerutan kelelahan tampak jelas di wajahnya yang baru berusia sekitar seperempat abad. Melihat rajanya terduduk dengan wajah kelelahan membuat hati pelayan tadi menjadi iba. "Rajaku, jika hamba diperbolehkan untuk berharap, hamba harap rajaku dapat berumur panjang dan diberi kesehatan." Ucap pelayan tadi yang tidak diindahkan sama sekali oleh yang mulia raja
"Ayahanda!!" Sebuah suara menggemaskan membuyarkan lamunan sang raja. Ia kenal betul dengan suara ini. Segera, raja melangkahkan kakinya ke arah pintu, menyambut kedatangan Puteri kesayangannya.
Saat pintu terbuka seorang gadis yang memiliki tinggi tak lebih dari pahanya berhambur masuk kedalam pelukannya, membuatnya hampir terjatuh jika saja tidak berpegangan pada knop pintu.
Tawa manis keluar dari bibir Puterinya, membuat darah raja berdesir... Hatinya terasa menghangat, kelelahannya terasa hilang saat mendengar celotehan demi celotehan masuk kedalam telinganya
***
"Biru, kau tidak bersama kakakmu? Kemana merah?" Tanya raja dengan rambut yang mengelus halus Surai Puterinya, membuat gadis kecil itu mendongak menatap mata biru ayahnya.
Sekali lagi raja terkekeh, baru saja ia merasa bisa merupakan masalah tadi sebentar. Namun, pertanyaan Puterinya menghancurkan segalanya, "kemana ibunda?" Mata birunya haus akan jawaban
"Kau akan tahu esok hari," ucapnya. Lalu tanpa memperdulikan raut kesal di wajah Puterinya raja meraih ketiak Puteri Biru dan menaikannya di dalam gendongannya, tidak memperdulikan raut menuntut akan jawaban pertanyaan yang ia berikan
"Urus prosesi pemakamannya," ujarnya lalu berjalan pergi meninggalkan ruang kebesarannya.
Langkah kaki ringan terdengar dari lorong. Terlihat seorang pria dengan pakaian dengan campuran warna putih, khas kerajaan berjalan melewati lorong istana. Di dalam gendongannya, terlihat seorang gadis kecil tengah berusaha menahan kesal. "Ayahanda, kita akan kemana?" Tanyanya ketika telah tidak kuat dengan keheningan yang terjadi diantara mereka
"Kita akan bertemu adikmu," tanpa menatap mata putrinya raja terus melangkahkan kaki maju, Tak memperdulikan sapaan pelayan sepanjang perjalanan.
"Adik Kelabu?" Puteri Biru memiringkan kepalanya. Raja menggeleng pelan
"Adik baru," lantas saat mendengar ucapan raja, Puteri Biru mendongakkan kepalanya. Tak yakin dengan ucapan ayahnya.
"Aku punya adik baru? Kenapa!" Nada bicara Puteri Biru menjadi tinggi, raja terkekeh ringan.
"Lihat dulu adikmu, kau pasti akan menyukainya," tanpa menjawab pertanyaan putri ke-8nya raja mencoba mengalihkan pembicaraan
"Aku tidak suka adik!" Seru Puteri Biru tegas. Raja menggeleng ringan, "kau tidak boleh seperti itu. Bagaimanapun dia adalah adikmu," ujar raja
"Tapi ayah tidak pernah bilang padaku bahwa seorang adik akan lahir!" Puteri Biru mengalihkan pandangannya. Sebenernya tidak ada yang salah di sini, Puteri Biru yang baru berusia 3 tahun juga masih haus kasih sayang, terlebih
***
14 tahun kemudian
Derap langkah para pelayan istana menarik perhatian seorang gadis dengan ikat rambut berwarna kuning yang tengah menikmati teh sorenya. Gadis itu tampak bingung memerhatikan sekitarnya, "mengapa suasana hari ini sangat ramai?" Tanyanya pada pengasuhnya.
Senyum terbit dari bibir pengasuh Puteri kuning, sebagai bentuk kesopanan. "Raja memberi perintah untuk diadakan pertemuan, mungkin saja ini adalah bentuk perayaan sebagai hari kelahiran anda nona," ujarnya
"Apakah kali ini aku juga akan makan bersama para kakak?" Ucap Puteri kuning memilih tak menanggapi kalimat terakhir ibu pengasuhnya
"Ya, tentu saja. Bukankah nona tahu hal itu menjadi rutinitas setiap minggunya?" Ibu pengasuhnya memiringkan kepala, membuat desahan ringan keluar dari bibir kecil Puteri kuning
"Baiklah, aku akan segera bersiap," ucap Puteri kuning lalu bangkit dari duduknya, dan berjalan pergi meninggalkan taman kerajaan
****
Seorang gadis dengan tubuh yang dibalut dengan gaun berwarna merah baru saja tiba di ruang makan, adik-adik yang lebih muda darinya berdiri menyambut, sebagai bentuk dari rasa sopan santun, gadis dengan bibir merah merona itu memilih berjalan mendekat kearah kembarannya-Puteri biru-
"Mengapa kau meninggalkanku?" Hardiknya yang setelah duduk di samping kursi kembarannya. Sontak saja gadis yang memakai anting berwarna biru itu menoleh.
"Jangan salahkan aku, kau membutuhkan waktu setahun setidaknya bahkan hanya untuk bersiap," ejek Puteri Biru terang-terangan membuat kembarannya berdecak.
Memilih untuk tak melayani ejekan kembarannya, Puteri Merah memiliki sebuah ide didalam benaknya. "Hei, hijau!" Panggilnya pada seorang gadis yang terlihat berusia lebih muda darinya.
Merasa bahwa namanya dipanggil, gadis itu menoleh. "Ya kak?" Sahut gadis yang memakai baju berwarna hijau yang tengah asik mengobrol bersama saudarinya yang lain
"adikmu belum datang, mengapa?" Tanya Puteri merah dengan kekehan di akhir kalimatnya, bermaksud mengejek. Raut wajah Puteri hijau berubah cemberut, jauh berbeda seperti tadi
"Tidak bisakah kakak berhenti mengatakan bahwa dia adalah adikku? Aku tidak pernah merasa bahwa aku pernah memiliki adik!" Seru Puteri hijau lalu mengalihkan pandangannya dari wajah kakaknya.
"Tidak bisa, karena dia memang adikmu," ejek Puteri merah sekali lagi. Lalu adu mulut antara Puteri merah dan Puteri hijau yang tidak ingin di anggap 'kakak' pun terjadi, membuat ruang makan kerajaan tampak seperti ruang makan keluarga pada umumnya, sebelum Puteri terakhir dari kerajaan ini datang
"Selamat malam kakak-kakak," ucap Puteri kuning yang tak mendapat tanggapan dari siapapun yang berada di atas kursi ruangan ini. Memilih mengabaikan sikap para kakaknya, Puteri kuning memilih untuk duduk pada kursi yang berada di paling ujung, tempat paling dekat dengan yang mulia raja.
"Kuning! Berdiri dari sana!" Sentak Puteri Nila, amarahnya memuncak ketika melihat Puteri kuning duduk di tempat yang tidak seharusnya ia tempati. Sudut bibir Puteri kuning tertarik keatas "Mengapa?" Tanyanya tanpa merasa bersalah
"Kau gila! Kau tak pantas duduk disana! Itu adalah tempat dimana hanya sang Puteri mahkota berhak duduk disana!" Puteri Nila berjalan meninggalkan tempat duduknya dan berjalan ke arah Puteri Kuning
Suara tamparan keras menggema di ruangan ini. Puteri kuning tampak berdiri kaku, tak mampu mengatakan apapun. Kaget karena pada akhirnya ada seseorang yang berani menamparnya. Suara bisik-bisik para pelayan terdengar, mereka berceloteh. Mempermalukan Puteri kuning yang tanpa tahu malu memilih duduk pada tempat yang tak seharusnya ia duduki
"Pergi!" Bentak Puteri Nila lagi, Puteri kuning masih terdiam, tak bergerak dari tempatnya. "KUNING!" bentak Puteri Nila sekali lagi, seluruh ruangan mendadak sunyi. Tak ada suara pelayan yang berceloteh seperti tadi. Puteri Nila yang masih dikuasai oleh amarahnya tak menyadari adanya sang raja di ruangan itu
"Ada apa ini!" Suara bariton dari arah barat menyapu pendengaran seluruh orang di ruangan ini, membuat Puteri Nila tersadar dari amarahnya. Puteri pertama dari kerajaan ini menoleh ke arah suara, "selamat datang Ayahanda," sapa Puteri Nila dengan mengangkat sedikit ujung gaunnya ke atas. Anggukan kecil ia peroleh, membuat Puteri Nila sedikit bernafas lega
"Katakan ada apa!" Seru yang mulia raja. Seluruh manusia yang ada di ruangan ini terdiam, tak berniat angkat suara. Raja mengamati raut wajah ke-10 putrinya, ada yang berair wajah takut dan ada juga yang santai.
Masing-masing dari mereka diberi nama dengan nama-nama warna, mereka juga selalu memakai pakaian yang sesuai dengan nama mereka, seumur hidup. Seluruh perhiasan dan gaun-gaun yang mereka kenakan selalu sesuai dengan nama mereka.
Mata elang sang raja membidik ke arah salah satu Puterinya yang memiliki raut wajah santai. "Puteri Biru, jelaskan hal ini." Setelah mengatakan hal itu, sang raja berjalan kearah tempat duduknya di dekat jendela
"Nila,kuning. Kembali ke tempat duduk kalian masing-masing," ucap yang mulia raja penuh wibawa.
Setelah mendengarkan cerita tentang apa yang terjadi barusan, sang raja menghembuskan nafas kasar. Ternyata puteri-puterinya masih saja kekanak-kanakan walau beberapa dari mereka telah mencukupi usia untuk menikah. Setelah memberi beberapa nasihat untuk Puterinya sang raja mulai membuka pembicaraan
"Beberapa hari lagi aku akan pergi ke negara tetangga untuk membicarakan kesepakatan kerajaan, adakah dari kalian yang menginginkan sesuatu untukku bawa sebagai oleh-oleh?" Tanyanya. Mata para Puterinya berbinar cerah mendengar kata oleh-oleh yang diucapkan oleh ayahnya
"Ayah, aku ingin sutera yang mewah dan mahal!" Seru Puteri jingga tiba-tiba, senyum kecil terbit di bibir yang mulia raja ketika melihat keantusiasan puterinya. Sebenarnya mereka sangat jarang berinteraksi sebagai keluarga. Para Puteri yang memiliki jadwal padat dan yang mulia raja yang selalu sibuk dengan urusan kerajaan
"Adakah yang lain?" Tanyanya, asisten pribadi yang mulia raja sibuk mencatat permintaan demi permintaan yang keluar dari bibir para Puteri raja. Hingga sebuah suara memecahkan kehangatan keluarga yang sedang terjadi
"Aku tidak ingin apapun yang mulia, aku hanya mengharapkan Ayahanda untuk pulang dengan selamat tanpa sedikit lukapun." Ujar Puteri kuning membuat seluruh orang yang ada didalam ruangan ini terdiam
"Munafik!" Sindir Puteri merah terang-terangan. Beberapa saudari yang lain juga langsung memutar bola mata malas, sedangkan beberapa lagi tertawa.
"Kau bodoh!" Ujar Puteri kelabu yang duduk tepat di samping Puteri kuning.
"Anakku, sungguh baik perkataanmu," suara bariton raja menghentikan aksi sindir menyindir yang dilakukan oleh para keturunannya. "Namun apakah sungguh engkau tidak menginginkan suatu hal?" Tanyanya
Dengan senyum anggun Puteri kuning berbicara, "tidak ayah, karena menurut hamba... Kesehatan yang mulia adalah hadiah terbesar yang anda berikan."
***
"Tuan Puteri! Apa yang anda lakukan?" Tanya pelayan yang tanpa sadar mengeluarkan nada tinggi. Dirinya kaget karena melihat Puteri yang dilayaninya tengah berjongkok, membersihkan rerumputan yang ada pada taman istana
Puteri kuning tersentak ketika mendengar nada tinggi yang diucapkan pelayan dihadapannya. Lantas saja pelayan tadi bersujud... Bisa habis nyawanya jika dia ketahuan membentak keluarga kerajaan
"Ampuni hamba.. hamba tidak sengaja Puteri," ucapnya dengan suara yang bergetar. Puteri kuning lantas mengulurkan tangan, hatinya tersentuh ketika mendengar ketakutan yang di ucapkan pelayan di hadapannya
"Bangunlah, aku tidak akan menghukumi!" Serunya mencoba menenangkan hati pelayan tadi
Senyum timbul di bibir pelayan tadi, dia mendongak ketika merasakan usapan dikepalainya berhenti. "Terimakasih nona. Tapi bolehkah hamba bertanya, Mengapa anda melakukan semua ini... Bukankah ini adalah pekerjaan para pelayan?" Tanyanya dengan wajah yang masih takut-takut
Puteri kuning terkekeh, "sejak kepergian ayahanda para pelayan selalu saja sibuk dengan seluruh permintaan kakak, tentu saja taman akan tidak terawat. Terlebih taman adalah tempat kesukaan ayah untuk menghilangkan penat," ujarnya
Pelayan tadi tampak menggaruk tengkuknya gatal, memang benar dengan apa yang dikatakan oleh Puteri kuning. Para pelayan akan selalu sibuk dengan keinginan para Puteri yang selalu ingin terpenuhi, mulai dari makanan hingga perhiasan, yang membuat pelayan itu bingung adalah. 'mengapa Puteri kuning tidak seperti para kakaknya?'
Sebelum pelayan tadi berhasil mengajukan pertanyaan, sebuah tawa terdengar di belakangnya. Membuat pelayan tadi menoleh kebelakang, "hei lihatlah! Ternyata kita memiliki pelayan baru!" Seru seseorang dibelakangnya. Pelayan tadi tampak tersentak begitu menyadari apa yang baru saja ia lihat. Sekelompok tuan Puteri, sungguh mimpi buruk yang nyata
"hai pelayan! Masih ada kotoran nih!" Ujar seseorang sambil melemparkan seonggok sampah, kini taman istana yang telah rapih terlihat acak-acakan kembali. Puteri kuning memilih membersihkan sampah-sampah tadi tanpa menjawab ucapan kakaknya.
Salah seorang diantara mereka tersenyum miring, dan kembali melemparkan sampah sampai Puteri kuning merasa geram, "keterlaluan! Pekerjaan kalian hanya mengganggu dan mengganggu! Seharusnya ayah tidak membawakan hadiah untuk kalian!" Teriak Puteri kuning lantang membuat beberapa penjaga dan pelayan langsung menoleh kearah mereka
Seorang gadis dengan gaun berwarna biru maju satu langkah dari kerumunan, Puteri kuning tersentak ketika menyadari siapa yang keluar.
"Memalukan! Tidak seharusnya seorang Puteri kerajaan berteriak seperti itu!" Nada ucapannya yang tegas semakin membuat tubuh Puteri Kuning bergetar.
"Tidak seperti itu, bukankah kau tahu kak, bahwa mereka dulu yang menggangguku?" Tanya Puteri kuning mencari pembelaan. Hembusan nafas kasar keluar dari gadis dihadapannya
"Bukankah pekerjaan itu tidak seharusnya dilakukan oleh seorang tuan Puteri? Bukankah kau tahu itu? Berhenti mencari pembelaan, kau selalu membuat dirimu terlihat baik daripada kami. Berlakulah layaknya tuan Puteri yang terhormat!" Seru Puteri Biru dengan tubuh yang berdiri tegak. Diantara para saudarinya dialah seorang yang paling memiliki potensi untuk menduduki tahta, kecerdikan dan ketegasannya digadang-gadang adalah yang terbaik di negri ini
"Sudahlah kak, aku bosan menggangunya. Mari mandi ke danau kerajaan untuk mengatasi kebosanan," ajak Puteri Nila yang disetujui oleh beberapa kakaknya. Puteri Biru yang telah muak dengan segala sesuatu dihadapan memilih mengangguk, dirinya tak peduli apapun sebenernya kecuali jika itu telah mengangkut pada harga diri kerjaan
***
Raja datang ke istana tanpa pemberitahuan, sengaja untuk memberikan kejutan pada para puterinya namun apa yang ia dengar dari orang suruhannya yang ia tugaskan untuk menjelaskan segala hal yang terjadi di istana membuat raja sedih
Suara pintu dibuka, membuat Puteri kuning menoleh ke arah pintu, senyumannya melebar ketika dia dapati ayahnya disana. Puteri Kuning berdiri, menyambut kedatangan ayahandanya dengan sukacita. Raja tersenyum ringan melihat itu, saat telah duduk pas di kursi raja mengeluarkan sebuah benda dari dalam sakunya
"Anakku yang baik Budi, ayah tak mampu memberikan apapun selain batu hijau ini bukan warna kuning kesayanganmu!" Kata raja. Sebenarnya raja telah mencari-cari keseluruh negri, dia juga menugaskan beberapa orang-orangnya untuk mencari kalung berwarna kuning. Tetapi setelah mencari beberapa lama benda itu tak pernah ditemukannya
"Tidak mengapa ayah, batu hijau juga cantik. Sangat cocok dengan bajuku yang berwana kuning," ujar Puteri kuning dengan suara yang lembut. "Yang terpenting adalah, ayah telah kembali, akan Aku buatkan teh untuk ayah," lanjutnya
***
Keesokan hari, dituangkan makan mata Puteri hijau tak sengaja melihat Kalung yang tergantung pada leher adiknya, membuat perasaan iri timbul pada benaknya. Karena seharusnya para Puteri selalu memiliki barang dengan warna tersendiri sesuai dengan nama mereka
"Ayah memberikannya padaku, bukan padamu," sahut Puteri kuning. Mendengar hal itu membuat kemarahan Puteri hijau naik dan mencari para saudaranya, ia berkata bahwa Puteri kuning mencuri kalung yang diberikan oleh ayah kepadanya.
"Itu milikku, tapi ia mengambil itu dari saku ayah. Kita harus mengajarkannya perbuatan baik, bahwa mencuri itu bukankah hal yang lantas dilakukan!" Kata Puteri hijau, lalu beberapa orang diantara mereka sepakat, akan mengambil kalung tersebut
Setelah menunggu beberapa lama, datanglah Puteri kuning dari arah taman kerajaan, Puteri hijau tersenyum sebuah tongkat kayu ia genggam erat-erat. Saat Puteri kuning telah melewati mereka beberapa langkah Puteri hijau berlari, sepatu karetnya tampak meminimalisir bunyi, membuat Puteri kuning tak menyadari keberadaannya. Dengan kedua tangan yang semakin dieratkannya, Puteri Hijau mengayunkan pemukul yang ia pegang kearah kepala Puteri kuning.
Bunyi retakan tulang yang terasa memilukan membuat putri hijau berjingkat kaget. Lantas tubuh Puteri kuning terjatuh ke arah rerumputan. Sebenernya ini bukan hal yang ia inginkan, apakah Puteri hijau masih bisa hidup setelah apa yang dia perbuat? Memikirkan hal itu saja sudah membuat tubuhnya gemetar
"Apa yang kau lakukan kak?" Bentak Puteri kelabu dengan wajah yang sudah berubah pucat. Dengan suara yang bergetar Puteri hijau berucap, "t-tidak! Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya ingin membuatnya pingsan tadi!" Serunya
Dengan tangan yang bergetar Puteri kelabu berjalan kearah mayat Puteri kuning yang tengah terbaring di tanah. Tangannya bergerak menyentuh titik nadi adiknya. Saat tidak merasakan denyutan sama sekali pada tangannya, puteri kelabu berjingkat mundur.
"D-dia mati!" Serunya hampir berteriak jika saja Puteri jingga tidak menutup mulutnya menggunakan tangan. Seluruh manusia yang berada disini gemetar, ini adalah pembunuhan pertama yang mereka lakukan.
"Segera, kubur dia. Sebelum ada penjaga yang menyadarinya!" Bentak Puteri jingga yang langsung di-iyakan oleh para adiknya
***
Raja sangat marah mendengar kabar menghilangnya Puteri kuning, dipanggilnya seluruh pasukan kerajaan, "cari dan temukan Puteri kuning! Keseluruh negri... Dan jika didapati bahwa kerajaan lain telah menculiknya, kita akan melakukan peperangan lagi!" Serunya yang di angguki oleh Para ksatria
Pencarian yang berlangsung selama berbulan-bulan lamanya belum mendapatkan hasil membuat raja frustasi, dia merasa gagal. Bahkan jika setidaknya ia tidak dapat memberikan cukup waktu untuk para Puterinya, ia ingin memberikan tempat tinggal yang nyaman, dan jauh dari kata bahaya
'Aku akan mengirimkan anakku yang lain kenegri sebrang untuk belajar, keadaan istana yang selalu ribut akan membuat mereka tak nyaman' pikirnya
****
Setelah mengantarkan para Puterinya keluar dari istana dengan kereta, raja berjalan kearah taman kerajaan. Tempat dimana ia biasanya duduk termenung, menenangkan pikirannya.
Terlihat sebuah tanaman yang tampak aneh, seperti dia bahkan hanya tumbuh dalam waktu satu malam. Karena sebelumnya, raja tak pernah merasa pernah melihat tanaman itu.
Batang putih dan daun bulat berwarna hijau mengingatkannya pada jubah kerajaan, serta kalung permata yang ia berikan pada Puteri kuning saat pertemuan terakhir mereka. Hati raja terenyuh ketika kembali mengingatnya.
Wangi bunga yang berwarna putih emas itu mengingatkannya pada aroma sang Puteri, ah sepertinya aku kembali berhalusinasi" pikirnya karena tak mungkin sebuah bunga mengeluarkan aroma yang sama persis dengan aroma Puterinya
Raja berinisiatif memberikan nama pada bunga baru yang ia temui, kemuning. Kemuning adalah nama yang ia berikan untuk bunga yang ia temukan. Dan sejak saat itu bunga kemuning mendapatkan namanya, setelah beberapa tahun penelitian, ditemukan beberapa manfaat yang terkandung pada batang, kulit, daun dan bunga kemuning, para masyarakat ikut memanfaatkan sebuah tanaman yang tumbuh di lahan istana.
Puteri kuning, dia tetap memiliki manfaat bahkan setelah kematiannya.
(Sebenernya ini tugas sekolah, dan yang paling banyak cuma bisa dapat 3000 kata. Kesel karena ga bisa mengekspresikan seluruh hal yang ingin ku berikan)