Senja sore ini begitu menawan. Larik-larik cahayanya yang terpantul rapi di atas permukaan air kolam nampak amat indah. Riak air yang terbawa angin begitu mendamaikan hati.
Para pekerja sebuah pabrik roti tampak tengah rapi berbaris, mengantri pintu gerbang tinggi itu terbuka. Hari sudah petang, sesegera mungkin mereka berebut celah agar bisa keluar dari sana.
Ramainya suara yang saling bersahut tak membuat Cherry mengalihkan pandangannya. Ia masih dengan seksama memandang dari kejauhan sosok lelaki yang begitu ia kagumi.
Lelaki dengan perawakan tinggi dan kekar, hidungnya yang mancung dan alis tebal. Lelaki cuek, dingin dan tak banyak bicara bahkan berbasa-basi jika berbicara semakin membuat Cherry kagum. Ia dibuat penasaran olehnya.
"Woi! Ngelamun terusss...!
"Ck, apaan sih! Ganggu banget tau nggak!"
Cherry masih tak mengalihkan pandangannya. Ia celingukan mencari pemandangan indah yang hilang dari jangkauan matanya.
"Sial!"
"Kenapa sih, Cher? Lagi asyik liatin siapa, sih?" Dea mengikuti arah pandang Cherry, penasaran dengan apa yang temannya itu lihat.
"Nggak ada!"
Cherry beranjak pergi, gerbang yang tadi penuh sesak oleh sejumlah pekerja kini sudah longgar. Ia bisa bebas melewatinya tanpa berdesakan.
Di kawasan khusus pejalan kaki, Cherry masih santai mengayunkan kakinya. Melangkah pelan sambil menikmati senja. Ia berhenti di tempat penyeberangan. Tak sengaja, seseorang yang tadi ia lihat muncul di depan mata.
Sepertinya Oky sedang menerima telepon dari istrinya. Oky menampakkan senyumnya yang mengembang. Helm fullface-nya ia dekap di bagian depan motornya.
Cherry menghela napas kasar, hatinya tiba-tiba saja perih. "Seneng banget kayaknya telepon sama istri. Ck...!"
Ia melanjutkan langkahnya, menyeberangi jalanan yang sore itu ramai lancar. Berusaha menutup kecewa dan hatinya yang terasa berbunyi 'krek' agar tak terbaca siapa saja yang melihatnya.
***
Jarum jam tak henti berputar. Cherry sedang asyik memainkan telepon genggamnya. Entah bermain apa, terlihat jelas dia sedang sangat suntuk.
Tok Tok Tok!
"Masuk!" jawabnya tak menoleh.
"Loe ngapain, Cher?" Dea baru saja pulang lembur. Buru-buru mencari Cherry.
"Lagi gabut. Kenapa?"
"Loe tau nggak, gue tadi di perempatan industri ketemu mas Oky. Ya ampun, istrinya anggun banget. Mana anaknya ganteng. Poto copy-annya mas Oky."
Dea dengan heboh berbicara, tak tahu saja bahwa ia seperti menyiram garam di atas luka yang menganga.
Cherry melirik sekilas, suasana hatinya semakin berantakan. "Trus? Apa urusannya sama gue?" jawabnya ketus.
"Ehe. Ya nggak ada, sih. Tapi 'kan loe tau mas Oky itu digandrungi banyak cewek di pabrik."
"Peduli apa gue sama dia."
Dea yang merasa tak enak hatipun akhirnya memilih pergi dari sana. Inginnya memberi informasi mengejutkan, justru ia yang dikejutkan oleh sikap Cherry yang tiba-tiba saja marah.
Berita yang disampaikan Dea membuat Cherry semakin uring-uringan. Kedekatannya dengan Oky memang tak seberapa. Bahkan mereka baru sekali terlibat dalam sebuah obrolan dan itu tidak sengaja.
Nomor whatsapp Oky yang sudah lama ia dapatkan pun seolah sia-sia. Nyatanya, sampai sekarang ia tak berani mengirim pesan. Jangankan berbasa-basi, mau bertanya apa saja ia sudah belingsatan.
Malam itu, menangis adalah obat paling mujarab untuk menyembuhkan keretakan hatinya. Setidaknya dadanya terasa longgar dan bisa kembali menatanya untuk hari esok.
***
Jam istirahat masih setengah jam, cukup lama. Cherry tampak enggan beranjak dari tempatnya. Puluhan ikan koi di depannya saling berebut makan yang Cherry taburkan hingga airnya berkecipak.
"Gue cari juga. Ternyata disini orangnya."
Mabni adalah teman satu bagian dengan Cherry. Ia salah satu teman dekatnya yang sering bersama kesana-kemari.
Cherry melirik sekilas, "kenapa sih, Mab?"
"Nggak papa. Nih...," Mabni menyerahkan sebungkus makaroni pedas.
"Makasih."
"Loe kenapa menghindar dari kita, sih? Masih galau gara-gara Oppa Oky?" tanyanya penuh selidik.
"Nggak usah bahas itu deh, Mab. Males gue!"
Mabni membuang napas kasar, dia mengambil pakan ikan di sampingnya. "Dia 'kan udah punya keluarga, Cher. Loe nggak kasian apa? Masih banyak cowok single yang nggak kalah menarik dari dia."
"Lagian nih, ya. Loe kalah anggun sama istrinya."
"Sialan! Loe ngatain gue burik?"
Mabni tertawa puas, "udah nyadar dong loe berarti?"
"Intinya, berhenti menyukai milik orang lain Cher. Merebut itu nggak baik. Ingat, karma masih berlaku."
"Rese loe! Pergi sono. Ngerusak mood gue tau nggak loe!?"
Saat itu, Mabni memilih meninggalkan Cherry. Berharap Cherry bisa benar-benar berpikir dengan bijak dan baik. Memikirkan kembali setiap apa yang ia sampaikan.
Di tempat lain, Oky menyempatkan diri untuk mengirim pesan kepada istrinya. Berkomunikasi adalah hal utama dalam sebuah hubungan. Apalagi, anaknya sedang dalam usia yang lucu dan menggemaskan. Ia bahkan ingin mengambil cuti untuk menghabiskan waktu dengan keluarganya.
'Jangan lupa makan ya, Sayang. Tunggu aku pulang'
Send to : ❤
Sudah menjadi kebiasaan buat Oky. Mengirim pesan singkat yang romantis agar rumah tangganya selalu harmonis. Ia selalu mengirim pesan jika memang ada waktu kapanpun itu.
Oky adalah sosok ayah yang penuh perhatian. Suami yang begitu lembut dengan istrinya, menjaga dan melindungi keluarganya.
Meskipun banyak wanita di luar sana yang bahkan terang-terangan menggodanya bahkan dengan berani menghubunginya. Namun semua bak helaian kapas yang ia tiup dan bertebaran. Terbang menjauh dari hidupnya.
***
Suatu hari, Cherry tertabrak oleh seorang ojek. Ramainya ojek di sekitar pabrik membuat mereka berebut penumpang. Berebut tempat dan tak mau melihat ke setiap sisi jalan. Bagi mereka, bagaimanapun caranya motornya harus penuh. Setidaknya mendapat tiga orang penumpang dalam satu kendaraan.
"Liat jalan dong Pak, kalau cari penumpang. Jangan seenaknya sendiri!" sungutnya kesal.
Cherry menaikkan sedikit celana panjangnya, membuka ujung sepatunya. Sepertinya kakinya terluka, ia merasa perih.
"Kamu nggak papa?"
Seseorang memegang bahunya dari belakang. Raut wajahnya terlihat khawatir.
"Eh! Ini Mas, emm... Kayaknya luka. Tapi nggak apa, kok."
Jantung Cherry nyaris lepas. Keringatnya bercucuran. Bukan karena menahan sakit, melainkan menahan buncah bahagia yang seketika menyiram hatinya. Oky, Oky menolongnya.
Tangannya gemetar dan berkeringat. "Sini, aku bantu!"
Suara itu, sungguh merdu di telinga Cherry. Aroma tubuhnya benar-benar memikat hati dan membuat otaknya berhenti berpikir. Dunianya terasa berhenti berputar.
'Tuhan... Hentikan waktu sebentar saja. Aku ingin menikmati ciptaanMu yang sungguh indah ini'
"Hei... Kok ngelamun sih? Kamu nggak papa? Beneran?"
Cherry terkaget, dia sontak menundukkan kepalanya. Malu karena ketahuan memandangi Oky dalam jarak yang lumayan dekat.
"Mbak!"
"Eh... Maaf, maaf Mas. Aku nggak papa, kok. Iya, beneran," jawabnya gagap. Ia meremas kedua tangannya.
"Syukurlah kalau nggak apa. Bisa pulang sendiri 'kan?"
Cherry menggigit bibir bawahnya, "eh! Aduuuh...!"
Ia berpura-pura sakit agar dapat kesempatan berboncengan dengan Oky dan memeluk tubuh kekar itu.
"Eh! Sakit ya? Rumah kamu mana? Atau kamu anak kos, ya?"
"Iya, Mas. Kos ku di Lolawang. Biasanya sih, aku jalan kaki," jawabnya meringis. Mengusap kaki kirinya yang katanya terluka.
"Oh.. Ya udah. Aku anterin deh. Kasian kamu kalau jalan kaki."
Keinginan Cherry akhirnya terwujud. Ia tahu ini salah, tapi tidak ada salahnya jika ia hanya mengicip. Menyentuh tubuh suami orang barang sedikit.
Tangan kanannya ia lingkarkan ke pinggang Oky. Masih longgar, tapi ia sungguh sangat senang. Berbeda dengan Oky yang sama sekali tak memiliki pikiran lain selain menolong Cherry.
Ia pun tak keberatan jika wanita di belakangnya memeluknya. Mungkin takut jatuh karena motornya tinggi. Begitu yang ia pikirkan.
Tiba di gang kecil, mereka berhenti. Cherry sedikit murung karena kenyataannya mereka sudah tiba. Sangat sebentar, tidak seperti keinginannya untuk berlama-lama berdua.
"Makasih ya, Mas. Maaf merepotkan, Mas," Cherry berusaha berbasa-basi. Siapa tahu Oky mau mengantarkannya sampai ke depan kamar.
"Iya, sama-sama. Ya udah, aku pamit ya."
"Eh, Mas!"
Oky baru saja akan menutup kaca helmnya, namun kembali terhenti saat Cherry memanggilnya.
"Mas, nggak mau mampir dulu. Barangkali mau ngopi. Emm... Sebagai ucapan terimakasih," katanya mencoba menarik perhatian Oky.
Oky tersenyum, "oh... Udah sore, nih. Aku udah ditunggu sama jagoanku. Makasih ya, tawarannya."
Cherry tak bisa berbuat banyak selain mengiyakan ucapan Oky. Ia terpaksa masuk ke dalam kamar kos dengan berat hati.
"Kenapa tadi aku nggak nanya namanya, sih! Setidaknya 'kan, aku bisa balik kasih tau namaku."
"Sial, sial, sial!!!"
***
1 Month Later
Sejak hari itu, Cherry hanya bertemu dengan Oky dari kejauhan. Mereka tak pernah bertegur sapa apalagi terlibat lagi dalam sebuah obrolan yang tak di sengaja.
Oky masih sama, laki-laki idamannya. Walaupun ia sudah menjadi milik wanita lain. Tak ada salahnya bukan jika ia memiliki rasa dan menyimpan rasa itu. Tidak ada seorang pun yang bisa mengendalikan perasaan mereka.
Jam pulang masih dua jam lagi. Hari ini tak banyak kerjaan yang Cherry lakukan. Karena ia merasa bosan, ia memutuskan untuk ke kamar mandi.
Puluhan pintu yang berjajar itu tepat berada di depan bagian packing, dimana Oky bekerja di bagian itu. Sebelumnya ia tak memiliki keinginan untuk bertemu dengannya. Tapi sepertinya Tuhan berkendak lain.
Mereka tak sengaja berpapasan di bibir pintu salah satu kamar mandi. Tidak girang bagaimana? Ini adalah kesempatan emas untuk Cherry mendekati Oky. Iya, pelan. Sangat pelan.
"Mas!!!" teriaknya saat Oky tak memperhatikannya. Oky baru saja keluar dari kamar mandi pria.
"Iya?" jawab Oky berhenti. Keningnya mengernyit, seperti pernah bertemu dengan gadis ini.
"Masih ingat nggak sama aku?"
Oky mencoba mengingat, "maaf, siapa ya?"
"Kenalin, aku Cherry. Cewek yang waktu itu Mas tolong. Dan, anter ke kos? Inget nggak?" katanya mengulurkan tangan.
"Oh.. Iya.. Maaf aku lupa. Aku Oky, Mbak."
"Ada yang bisa aku bantu?" lanjut Oky ketika melihat Cherry terdiam dan hanya memandangnya.
"Eh! Emm.. Mas, boleh nggak kita temenan gitu? Atau kalau nggak, boleh aku minta nomor whatsapp mungkin."
"Maksudnya..., aku cuma mau ngasih sesuatu sebagai ucapan terima kasih karena Mas udah nolongin aku waktu itu."
Oky mengangguk, namun bukan mengiyakan permintaan Cherry. "Oh, gitu. Gimana kalau langsung dikasih aja ke aku. Lagian waktu itu aku ikhlas kok, Mbak. Aku ada di bagian packing. Mungkin kita satu shift, ya?"
"Atau kalau nggak gitu, Mbak bisa nitip ke ketua bagian aku. Langsung aja masuk ke sini. Nggak papa, kok. Mereka orang baik."
Sekali lagi, walaupun bahasa Oky sangat lembut namun ia dengan tegas menolak permintaan Cherry untuk menyimpan nomor ponselnya.
Hal ini bukan kali pertama Oky alami, sudah sering. Namun seperti inilah caranya menghargai perasaan orang lain yang mungkin bisa saja sakit hati oleh sikapnya. Ia hanya tidak ingin memiliki musuh apalagi membuat orang lain sakit hati.
"Oh.. Gitu ya?" suara Cherry berubah menjadi lirih dan lemah.
"Oh, ya. Aku duluan ya. Masih ada kerjaan soalnya. Permisi."
Cherry terpaksa mengangguk, berat hati menerima ucapan Oky yang membuat hatinya kembali retak. Ia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi. Berlama-lama disana untuk menenangkan hati dan pikirannya yang akhir-akhir ini sangat kacau. Dan sekarang kembali lebih kacau saat Oky terang-terangan menolaknya.
"Gue harus gimana sih, biar bisa deket aja sama kamu Mas?"
***
Hujan lebat mengguyur kawasan industri. Disertai angin kencang yang membuat semua orang takut. Terlebih Merry yang saat itu tinggal sendiri di rumah kontrakannya bersama anaknya.
Ia tak henti menyebut asma Allah agar senantiasa dilindungi. Mendoakan suaminya yang saat ini mungkin sedang lembur atau berteduh menunggu hujan kembali reda.
Ponsel suaminya belum juga bisa dihubungi. Ia hanya ingin memastikan keadaan suaminya baik-baik saja. Namun perasaannya semakin cemas manakala ponsel Oky tak kunjung aktif.
"Sabar ya, Nak. Bentar lagi ayah pulang.. Sini, peluk mama."
Merry mendekap erat anaknya. Memeluk anak laki-laki berusia dua setengah tahun itu seraya menciuminya.
Di tempat parkir, Oky duduk di atas jok motor dengan resah. Ponselnya mati karena kehabisan daya. Belum lagi memikirkan hujan yang tak kunjung reda. Namun, keadaan istri dan anaknya yang hanya berdua di rumah kontrakan.
"Ya Allah, lindungi keluargaku," bisiknya menatap langit-langit tempat parkir.
Dari kejauhan, Cherry memandang seksama lelaki pujaannya. Ia senyum-senyum sendiri membayangkan hal-hal gila andai ia bisa mendapatkan Oky barang sebentar saja.
"Ahh..." tanpa sadar Cherry mendesah. Bagian vitalnya sudah sangat basah.
"Woi!!!"
"SETAN!! Apa sih! Ganggu mulu kerjaan loe!" sentak Cherry kesal karena Dea mengagetkannya.
"Lagian dari tadi loe mandangin mas Oky mulu. Inget Cher, gue udah puluhan kali ingetin loe. Ini yang terakhir ya. Gue nggak mau temenan sama calon pelakor!"
Dea pergi menjauh, meninggalkan Cherry dengan kata-katanya yang begitu menusuk dan pedas. Ia kesal, Cherry begitu susah sekali dinasehati. Apalagi ia masih belia, wajahnya juga cantik dan tubuh yang ideal. Banyak lelaki baik yang pasti bisa mencintainya seperti yang ia mau. Tapi kenapa Cherry tetap kekeh mempertahankan rasa sukanya pada suami orang. Dea benci itu.
***
"Kamu kenapa sih, Mas. Kalau cape istirahat, dong. Jangan malah marahin Bian. Dia nggak tahu apa-apa, ya. Marah sama aku kalau memang kamu ada masalah sama kerjaan. Jangan kayak gini!"
Merry pergi ke dalam kamar seraya menggendong anaknya, Bian. Tangisnya pecah mendapat perlakuan Oky yang ia rasa begitu egois. Entah kenapa suaminya itu akhir-akhir ini menjadi sering emosi.
Jadwal lembur yang setiap hari ia dapat. Belum lagi tidak bisa mengambil cuti membuat Oky tertekan. Tubuhnya terasa begitu lelah. Belum masalah pekerjaan yang sepertinya membebani otaknya.
"Ya Allah!" pekiknya menjambak rambutnya kasar.
Ia mendekati pintu kamarnya, mencoba membuka pintu yang terkunci dari dalam. "Ma... Buka, Ma. Maaf.. Aku nggak bermaksud buat kalian kayak gini. Ma...."
"Buka pintunya, Ma....!"
Oky menghembuskan napasnya kasar. Entah apa yang sudah ia lakukan kepada anak dan istrinya, ia menyesal.
Ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Mencoba menenangkan pikirannya. Malam itu, ia memutuskan untuk keluar rumah barang sebentar. Ia harus sudah bisa mengontrol emosinya sebelum kembali pulang nanti.
Malam itu, tanpa pamit dengan Merry. Oky memutuskan keluar sebentar. Tujuannya kali ini adalah sebuah kafe tak jauh dari kontrakannya.
Secangkir cappucino panas menemani dingin malam ini. Ia menikmati setiap teguk minuman panas di depannya. Seraya memandang lalu lalang kendaraan di jalanan utama kawasan industri ini.
Tiba-tiba saja, seseorang ikut duduk di bangku depannya. Satu meja dengannya tanpa permisi.
"Hai, Mas. Kita ketemu lagi, nih. Tuhan memang begitu baik bisa buat kita ketemu disini," katanya dengan senyum mengembang.
"Eh! Kamu..." Oky sedikit tak enak. Ia ingin menenangkan diri. Tapi justru bertemu dengan entah siapa ia lupa namanya.
'Tak apa. Lagian dengan ada temen gini, aku bisa melupakan sedikit masalahku'
"Karena aku belum sempat ngasih sesuatu sebagai ucapan terima kasihku tempo hari, gimana kalau kali ini aku yang traktir?" usul Cherry antusias.
Oky mengangguk, "boleh."
Malam itu mereka berbincang layaknya teman yang sudah lama kenal. Cherry teramat bahagia mendapat kesempatan ini. Berbincang dengan waktu yang cukup lama seperti tidak ada batas.
Tidak ada yang mengganggu dan tidak merasa ada yang mengganggu. Terasa bebas tanpa hambatan.
***
Hubungan mereka berlanjut sebagai teman. Ya, antara pria dan wanita. Walaupun Oky jarang sekali membalas pesan Cherry, tapi ia bersikap lebih ramah jika bertemu atau berpapasan di tempat kerja.
Kadang mengobrol sebentar saat tak sengaja bertemu. Berbincang ketika makan siang bersama. Lebih tepatnya, Cherry memang sengaja mencuri-curi kesempatan agar bisa makan siang bersama dengannya.
Hingga tiba sore ini, Cherry tiba-tiba saja pingsan di pinggir jalan. Oky yang saat itu melewati jalan yang sama, tak sengaja melihat Cherry terjatuh dan berujung menolongnya.
Menjelang maghrib mereka sampai di sebuah klinik terdekat.
"Gimana? Kamu baik-baik aja kan, Cher?"
Oky bolak-balik mengecek jam di pergelangan tangannya. Bukan karena khawatir akan keadaan Cherry. Tapi, ia khawatir dengan keluarganya.
Sudah dua jam lebih ia menemani Cherry di klinik. Tidak ada orang lain disana selain dirinya yang membuatnya terpaksa menunggui Cherry sadar.
Cherry mengerjapkan mata, silau lampu neon di langit kamar klinik itu membuat matanya harus menyesuaikan cahaya.
Ia melenguh lirih, "aku dimana, Mas?"
"Kamu di klinik Cher. Nih, minum dulu." Oky memberi segelas air putih padanya.
"Emm.. Cher? Apa kamu nggak ada saudara disini? Maksudku, teman? Barangkali?"
"Maaf, aku meninggalkan keluargaku di rumah. Aku nggak bisa lebih lama disini."
Pelan tapi pasti Oky mengutarakan isi hatinya. Ia tidak mau terjadi salah paham antara ia dan istrinya nanti.
Cherry terdiam sejenak. Berusaha mencari alasan agar Oky tinggal lebih lama. Ia tiba-tiba terisak.
"Kalau Mas pulang, siapa yang nemenin aku disini? Lagian, Mas 'kan bisa bilang sama mbak Merry kalau Mas lembur," ucapnya pura-pura sedih.
Oky tampak berpikir sejenak, sebenarnya ia begitu kasihan dengan Cherry. Tapi...
"Aku nggak ada siapa-siapa disini, Mas. Temen-temenku juga sibuk sama pacar mereka," jawab Cherry beralibi. Hal itu membuat Oky bimbang.
"Tapi, aku nggak mau Merry salah paham Cher. Aku harus pulang. Besok aku usahakan untuk kesini jenguk kamu," kata Oky mantap.
Tidak, tidak ada wanita lain yang bisa merusak kehidupan rumah tangganya. Tidak dengan Cherry ataupun orang lain.
Baru saja Oky akan membuka pintu, beberapa orang sudah lebih dulu mendorongnya dari depan.
"Mas!!"
Merry datang dengan Dea dan Mabni. Matanya membulat manakala melihat suaminya tampak sedang menunggui wanita lain. Dan terlihat tengah khawatir.
Ia menggelengkan kepala. Air matanya luruh membasahi pipi. "Jahat kamu, Mas!"
"Merry!"
"Mer... Tunggu, Mer. Ini nggak seperti yang kamu lihat! Sayang, tunggu!" Oky berteriak dan berlari mengejar istrinya. Sesuatu yang tidak ia duga datang tidak pada waktunya.
"Apa!? Aku udah lihat semuanya, Mas. Ini 'kan yang bikin kamu marah akhir-akhir ini? Aku nggak nyangka kamu tega sama aku dan Bian."
"Mer....."
"STOP!" Merry menghentakkan tangannya keras hingga genggaman Oky terlepas. Ia begitu marah dan kecewa. Selama ini, ia pikir suaminya begitu setia dan menyayanginya. Nyatanya semua laki-laki sama saja.
Ia berlari, berjalan menjauh sejauh yang ia bisa. Berusaha menghilang dari sisi Oky, orang yang ia rasa begitu tulus padanya. Kenyataannya, Oky juga yang tega menyakitinya.
***
Semilir angin begitu menusuk kulit malam ini. Dinginnya semakin mengeraskan hati. Riak air kolam yang terbawa angin itu menyisih hingga ke tepi.
Helaian rambut Merry yang beterbangan itu sama sekali tak mengusiknya. Pikirannya carut marut tak menentu. Kisahnya sudah di ujung tanduk. Ponsel yang sedari tadi berkedip pun membuatnya tak acuh. Ia biarkan lampunya menyala-nyala hingga padam kembali.
Bian sudah tidur sejak satu jam yang lalu. Balita itu sering sekali rewel, menangis tanpa sebab semenjak orang tuanya berselisih. Ikatan batin ibu dan anak sangatlah kuat. Mungkin ia tahu bahwa ibunya sedang sangat bersedih saat ini.
'Kita nikah beneran, ya! Aku bakal semudah berkedip memaafkan semua kesalahan-kesalahan kamu nanti. Tapi enggak untuk masalah wanita lain!'
Kesepakatannya sebelum menikah waktu itu semakin terngiang di pikirannya. Rasanya ucapannya itu seperti bom waktu. Tanpa sadar, air mata Merry kembali menetes. Kali ini tanpa isak dan raungan. Hanya menetes tenang dan jarang. Sepertinya memang sudah kering.
"Maafin aku. Maaf....!"
Merry terhenyak. Seseorang memeluknya dari belakang. Erat, sangat erat. Saat itu juga isakan begitu saja meluncur dari bibirnya. Ia meremas kuat tangan Oky yang masih melingkar di depan dadanya.
Cukup lama Merry menumpahkan air matanya. Hingga lelah ia rasa. Oky yang saat itu masih memeluknya, membasuh air matanya.
Mereka saling memandang, menangis bersama. Menumpahkan semua sesak yang mereka rasa selama ini.
"Aku benci kamu, Mas!" ucapnya pilu.
"Kita sudahi saja semua ini. Aku masih bisa kerja untuk menghidupi Bian. Kamu nggak perlu khawatir. Dengan begitu, kamu bebas menikahinya."
"Kamu bisa sebebas apapun yang kamu mau. Nggak ada yang ganggu waktu liburmu. Nggak akan ada yang melarangmu melakukan apapun."
Merry membuang muka, ia ucapkan kalimat terpantang yang semakin membuat lukanya menganga.
Sedangkan Oky, ia terdiam. Membiarkan Merry menumpahkan segala resahnya. Marah dan kecewanya padanya. Ia akui, ia lah yang salah.
Sekian lama berhasil menutup celah walaupun sekecil lubang jarum dalam kain bagi wanita siapapun yang ingin mendekatinya. Namun rasa iba dan tidak tega membuatnya jatuh pada kesalahan yang teramat fatal. Ia melukai istri dan anaknya.
"Nggak, Mer. Ini semua salah paham. Kita nggak ada hubungan apa-apa."
"Oke, aku akui aku salah. Membiarkan dia masuk ke dalam circle pertemananku. Tapi, please! Percaya sama aku. Aku nggak sekalipun mengkhianatimu. Enggak!"
"Sedikitpun aku nggak berpikir seperti itu. Please!"
Oky mengatupkan kedua tangannya. Memohon kepada istrinya agar kembali memberinya kepercayaan.
"Aku tau, kamu pasti datang waktu itu karena teman Cherry 'kan?"
"Cih, nama yang cantik. Pinter kamu cari wanita lain, Mas," sela Merry. "Selain nama yang cantik, parasnya pun juga cantik."
"Please, Mer. Dengerin dulu penjelasanku."
Walaupun Merry mengacuhkannya, malam itu Oky berhasil menjelaskan secara detail awal mula ia bertemu dengan Cherry hingga pertemanan mereka terjalin.
"Aku tunggu kamu membuktikannya. Aku nggak butuh omong kosong, Mas."
Merry berdiri, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Oky dengan penyesalannya.
***
Matahari masih bertakhta hingga sore. Cuaca yang begitu cerah memberi kesempatan untuk Oky segera menyelesaikan masalahnya. Ia harus menemui Cherry dan memintanya untuk menjelaskan semuanya pada istrinya.
"Mas Oky!" pekik Cherry senang. Senyumnya mengembang sempurna bak mendapat tumpukan berlian.
"Mas dateng."
Oky mengangguk, "kamu udah sembuh?"
"Hmm... Mas bisa lihat 'kan? Kalau ada mas, pasti aku langsung sembuh," jawabnya masih tersenyum riang.
Oky mendekat, duduk di bangku sisi ranjang karena di dalam kamar klinik itu memang sedikit sempit. Tidak ada tempat duduk lain selain di sana.
Tiba-tiba, sesuatu terjadi tanpa sepengetahuan Oky. Cherry yang saat itu sedang duduk spontan memeluknya. Menarik tangan Oky dan menaruhnya di dadanya. Meminta Oky untuk meremas benda vital milik Cherry.
Sedangkan tangan Cherry yang lain menahan kepala Oky agar ia leluasa untuk menyambar bibir seksi milik Oky. Lumatan dan hisapan yang Cherry lakukan begitu kuat. Tubuhnya seperti memiliki tenaga ekstra hingga membuat Oky kesulitan melepaskan diri.
Oky sekuat tenaga mencoba melepaskan diri. Rasa marahnya membuat tenaganya menumpuk. Ia menyentak keras tubuh Cherry hingga ia bisa terlepas dari tingkah gilanya.
"CHERRY!!!"
***
Oky sedang bermain dengan Bian malam ini. Meskipun pikirannya sedang kacau, ia mengesampingkan segala permasalahannya. Meluangkan waktu bersama anaknya untuk mengalihkan pikiran.
Ia kembali membuang napas kasar. Merry masih mendiamkannya setelah kejadian kemarin. Ia belum bisa membujuk istrinya.
"Kita tidur yuk, Nak. Besok main lagi. Oke?" ucapnya mengangkat Bian dalam gendongan.
Seraya menidurkan Bian, Oky berpikir keras. Bagaimana ia menyampaikan kejadian tadi pada istrinya. Sedangkan masalah kemarin saja belum selesai. Oky memejamkan matanya erat, semuanya benar-benar di luar keinginannya.
Tangannya mengepal erat mengingat perlakuan Cherry yang ia rasa kurangajar. Padahal selama ini ia berbaik hati, menganggapnya sebagai teman perempuan satu-satunya setelah puluhan wanita yang ingin dekat dengannya berhasil ia hindari.
Pintu kamarnya terbuka, Merry masuk ke dalam. Ia tidur di samping Bian dan memunggungi suami dan anaknya.
"Ma...?" panggil Oky menggoyangkan bahunya.
"Hmm..."
"Kita bicara bentar, yuk! Ada yang mau aku omongin sama kamu. Please!!" ucap Oky memohon.
Ruang tamu yang biasa ramai dengan canda tawa mereka kini berubah menjadi tegang. Atmosfir dingin merambat ke seluruh tubuh Oky, membuatnya mendadak gugup. Ia sedang khawatir dengan apa yang akan ia ucapkan nanti tidak bisa diterima oleh Merry.
"Aku ngantuk. Kalau cuma ngajak duduk-duduk disini mendingan aku tidur, deh. Buang-buang waktu."
Oky menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia menelan ludahnya, terasa berat.
"Aku mau jujur sama kamu, tapi aku mohon..., jangan potong omonganku ini, Mer. Aku butuh kamu dengerin semuanya," ucapnya menghela napas.
Meskipun marah, Merry berusaha mengesampingkan amarahnya. Ia tidak bisa berlama-lama membiarkan masalahnya berlanjut. Apapun yang terjadi semua sudah menjadi garis takdir Tuhan untuk mereka.
Beberapa saat berlalu, Oky menjelaskan rentetan kejadian dari awal ia bertemu dengan Merry dan kejadian kemarin di dalam klinik.
Merry hanya diam, entah kenapa air matanya tak bisa keluar. Dadanya sesak, mengetahui kenyataan yang sebenarnya yang jauh dari pikirannya.
"Aku udah berapa kali 'kan bilang. Nggak ada pertemanan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Sekalipun mereka masih single ataupun berkeluarga."
"Selama ini mana pernah aku melarang kamu untun berteman dengan siapapun. Aku hanya mengingatkan, selebihnya kamu tau 'kan. Kamu udah behadapan dengan resikonya."
"Harusnya kamu udah lebih tau apa yang akan terjadi ke depannya. Beda lagi kalau kalian memang udah sama-sama....., suka."
Merry memberi jeda pada ucapan terakhirnya. Ucapkanlah hal-hal baik maka kamu akan mendapat kebaikan. Tapi, hatinya begitu sakit saat ini. Jika ia terus memendamnya, itu tidak akan membantunya keluar dari masalah. Malah semakin menumpuk dan bisa sewaktu-waktu meledak bagai bom waktu.
"Astaghfirulloh!"
"Kok kamu bilangnya gitu sih, Mer. Nggak ada niat sedikitpun buat aku menghianati pernikahan kita. Kamu tau 'kan selama ini bagaimana sikapku memperlakukan perempuan di luar sana. Kamu tau itu karena nggak pernah sekalipun aku menutupi apapun dari kamu."
"Nyatanya sekarang apa, Mas? Aku cuma butuh bukti. Jangan hanya bicara tapi buktikan," sentak Merry. Air matanya menggenang, sesakit ini menghadapi masalah rumah tangga yang berurusan dengan wanita lain.
"Jangan berharap aku mau bicara lagi dengan kamu, Mas. Sebelum kamu menyelesaikan masalah kamu dengan perempuan itu!"
"Atau, kamu mau menyelesaikannya denganku?" ucapnya lirih bersamaan dengan tangisnya yang pecah. Tidak ada isakan, hanya air mata yang tak berhenti mengalir.
"Oke! Akan aku buktikan semuanya sama kamu."
Merry berlari ke dalam kamar, ia mengunci pintu itu dari dalam. Sungguh saat ini, lebih baik ia tidak bertemu dulu dengan suaminya. Namun itu bukanlah jalan keluar.
***
Oky tengah duduk di depan klinik tempat Merry di rawat. Ia ditemani oleh Mabni dan Dea. Mereka tidak sengaja bertemu siang tadi di kantin.
Karena Oky tidak mau kejadian kemarin terulang, ia memutuskan untuk meminta bantuan kepada mereka.
"Aku sama Mabni udah capek Mas ingetin Cherry. Dia benar-benar kepala batu. Aku harap, Mas mending jauhin dia, deh. Aku nggak mau keluarga Mas hancur gara-gara dia."
"Aku kenal Cherry udah lama, dan ya..., mungkin cintanya buta sama Mas. Jadi gitu, deh!"
Mabni dan Oky mengangguk bersamaan. "Lagipula, menurutku Mas juga salah disini. Nggak seharusnya Mas terlalu baik sama orang lain apalagi itu wanita. Mas tau sendiri 'kan, banyak wanita yang ngejar-ngejar, Mas."
"Jangan sok nggak tau lah," lanjut Mabni mengkritik Oky.
Siang itu, mereka berbincang cukup panjang. Hingga memutuskan untuk kembali menemui Cherry walaupun Oky sempat menolaknya. Ia sungguh jijik dan benci padanya.
Dea keluar dari kamar klinik bersama Cherry, ia menggandeng pelan tangan Cherry karena tubuhnya masih lemas. Hari ini ia sudah bisa pulang. Tapi kedatangan Oky kesini bukan untuk menjenguknya apalagi mengantar pulang. Tidak! Ia tidak mau lagi berurusan dengan Cherry.
Di sebuah kursi panjang di luar klinik. Mereka duduk berdampingan, Oky memilih berdiri memunggungi mereka. Ia begitu muak melihat wajah Cherry.
Gadis itu duduk, ia menundukkan kepala seraya tak berhenti menangis.
"Aku nggak habis pikir sama kamu. Semua sikap baikku selama ini malah kamu jadikan kesempatan buat lakuin hal-hal yang...."
Oky tak sanggup melanjutkan ucapannya, ia berdecak keras dan mengumpat kesal.
"Aku nggak mau kenal sama kamu lagi, Cher. Anggap saja selama ini kita tidak pernah bertemu. Kita nggak saling kenal. Dan jangan pernah menyapaku saat kita nggak sengaja ketemu dimanapun," Oky mengatakannya dengan sangat tegas dan marah. Ia sudah banyak membuang waktu hanya untuk masalah yang dibuat dengan sengaja oleh Cherry.
Cherry sontak mengangkat kepalanya seraya menggeleng, "tapi, Mas! Kasih aku kesempatan. Aku nggak bisa seperti ini. Aku nggak bisa ngendaliin perasaanku."
"Kasih aku kesempatan, aku mohon...!! Aku bisa jadi istri yang baik buat kamu. Aku mau jadi istri keduamu, Mas. Aku mohon...!!"
Tangis Cherry pecah. Ia berteriak, memohon kepada Oky agar diberi tempat layaknya istrinya. Sedangkan Dea dan Mabni yang ada disana hanya bisa menggeleng. Mereka benar-benar heran dengan sikap Cherry yang begitu buruk.
"Dunia itu luas, Cher!! Ayolah! Jangan hina diri kamu dengan memohon untuk dinikahi sama suami orang!"
"Kesel bener liat loe kayak gini tau nggak?"
Dea marah, ingin rasanya ia meremas mulut Cherry andai berada di tempat lebih sepi. Ia kesal, amat kesal dan marah.
Cherry tak menghiraukan temannya, ia terus memaksa Oky untuk menjadikannya istri kedua.
"Aku bisa jadi ibu yang baik buat anakmu juga. Kita bisa gantian 'kan nanti urus anak-anak. Aku janji akan banyak ngalah sama mbak Merry, Mas!"
Cherry sudah berdiri, ia bersemangat sekali mengungkapkan isi hatinya. Mencoba optimis bahwa Oky menyetujui keinginannya.
"Menjijikkan!"
"Sampai matipun istriku cuma satu. Kamu ataupun yang lainnya nggak akan ada yang bisa berdiri sejajar dengan Merry. Bahkan menggantikannya."
Oky begitu murka. Ternyata ia salah menilai orang selama ini. Kebaikannya di salah artikan. Ia menyesali hal itu. Setelah ia berteriak marah menjawab keinginan Cherry. Oky pergi. Mulai saat ini ia akan benar-benar menjauhi Cherry dan Cherry yang lain.
***
Malam begitu temaram. Gerimis yang tak berubah menjadi hujan masih setia membasahi bumi. Rintiknya menimbulkan rindu.
Dua bulan semenjak kejadian itu. Merry masih bersikap acuh pada suaminya. Meskipun dia tetap melayani kebutuhan sang suami, tapi entah kenapa masalah yang berhubungan dengan orang ketiga selalu saja menjadi masalah yang paling menyakitkan.
Ia tau, di dunia ini tidak ada yang pasti kecuali kematian. Sekalipun Oky suaminya, dalamnya hati manusia siapa yang tahu? Itulah sebabnya kenapa kita tidak boleh berharap kepada manusia.
Dua bulan juga Oky berusaha dengan keras membujuk Merry. Berusaha bersabar menunggu hati istrinya luluh dan kembali berhasil ia miliki.
Merry baru saja menutup mushaf-nya. Ia melepas mukena yang ia pakai dan hendak pergi ke dapur untuk memasak air. Namun langkahnya terhenti manakala ia melihat Oky yang terlelap tidur di atas sofa ruang tamu.
Ia memutar balik tubuhnya, mendekati suaminya yang terlihat baru saja pulang lembur. Masih dengan seragam kerja lengkap dengan kaus kaki yang Oky pakai.
Merry duduk berlutut di samping Oky, memandang dengan seksama wajah suaminya. Garis-garis halus mulai muncul di beberapa bagian wajahnya. Kerutan di kening suaminya begitu kentara.
Kelopak mata yang sedikit menghitam itu membuatnya menangis. Sudah berapa lama suaminya itu tidak bisa tidur dengan nyenyak? Mereka selalu tidur dalam satu kamar, tapi selama ini sejak masalah itu terjadi. Merry masih saja mendiamkannya. Bersikap acuh seolah suaminya tidak ada.
Tangisnya semakin pecah mengingat sikapnya yang begitu buruk pada Oky. Padahal suaminya sudah mati-matian membujuknya. Selalu tersenyum walau ia berkata ketus.
Tubuh lelah itu ia peluk, ia menangis sesenggukkan memeluk suaminya. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Hanya air mata dan isakan.
"Kenapa?" tanya Oky lirih. Ia mengusap kepala Merry yang berada di atas dadanya.
Merry semakin menangis, ia tak mampu berucap.
Oky kemudian mencoba bangun, ia tarik tubuh istrinya dalam pelukan. Memeluknya seerat mungkin seolah takut kehilangan.
Beberapa saat setelahnya akhirnya Merry berhenti menangis. Mereka sama-sama menatap, saling memandang dari dekat. Dari sini mereka tahu, bahwa mereka saling membutuhkan. Mereka tidak bisa hidup tanpa satu dan yang lainnya.
Merry kembali menunduk, air matanya menetes lagi.
"Maaf, Mas. Maafin aku. Maaf...." ucapnya tersendat.
Pundaknya kembali naik turun dan Oky segera memeluknya lagi. "Aku yang salah, Mer. Aku nggak bisa jaga pernikahan kita. Aku terlalu membiasakan sesuatu yang menurutku biasa. Aku nggak peka."
Oky ikut meneteskan air matanya, ia begitu bersyukur Tuhan masih menyadarkan mereka.
"Sekarang, kita mulai semuanya dari awal ya? Kasih tau aku setiap aku melakukan kesalahan. Jangan segan-segan marahin aku kalau menurutmu aku kelewatan. Kita jaga anak kita bersama. Kita perbaiki semua kesalahan kita sama-sama."
Merry mengangguk, ia menepis air matanya. Sesak yang selama ini ia tahan sekarang sudah longgar. Hatinya perlahan pulih.
Ternyata memaafkan tak seberat itu. Ikhlas dan hadapi setiap masalah yang ada dan akan terus ada. Sikapi dengan kepala dingin. Ingat selalu setiap kebaikan pasangan kita untuk membantu kita memberi maaf dan memaafkan. Bahwasanya, manusia adalah tempat salah.
***
EPILOG
Aku Cherry, aku memang mengagumimu mas Oky. Bahkan aku sudah berkhayal kemana-kemana andai bisa bersamanya. Bukan lagi sebagai kekasih, tapi pasangan sehidup semati.
Aku juga membayangkan akan bagaimana kehidupan ranjang kita. Ah, membayangkannya saja aku sudah basah dan gila.
Aku tau, aku salah. Sangat salah! Tapi sekali lagi, aku tidak bisa mengontrol perasaanku. Menghapusnya? Aku tidak ingin itu. Biarkan ia tetap tinggal di hatiku, aku akan membiarkannya hingga ia berhenti tumbuh dan tidak lagi menggilaimu.
Sejak kejadian itu, aku masih sangat sulit melupakanmu. Walaupun aku bertindak curang, mencuri tubuhmu tanpa ijin. Aku masih saja berkhayal tidur seranjang denganmu. Aku masih terus mengukir bayangan wajah dan tubuhmu setiap kali aku mau tidur.
Hingga hari ini, aku tersadar. Bahwa itu hanyalah melukaiku. Aku hanya membuang-buang waktuku. Teman-temanku menjauhiku, tidak ada lagi tempat bercerita dan mengalihkan pikiranku.
Sebuah surat pengunduran diri aku serahkan hari ini kepada pihak personalia. Tempat aku mencari uang dan mengagumimu selama ini.
Terimakasih sudah begitu baik selama mengenalku. Semua kebaikanmu akan terus tersimpan sebagai kenangan seumur hidupku.
Maaf, maafkan aku sudah membuatmu membenciku. Merusak keluarga kecilmu. Merusak masa depan keluarga kalian.
Sekali lagi, Maaf.. Maafkan aku.
Aku akan pergi menjauh. Agar aku berhenti membayangkanmu yang akan semakin membuatku tak berhenti mengagumimu.
🍁TAMAT🍁