Senyuman, seharusnya aku dapat melakukan nya dengan mudah. Namun... kenapa...kenapa menjadi sesulit ini? Ku mohon, aku harus bisa melakukan nya. Memberikan nya senyuman...bukan tangisan.
.
.
.
Bau obat di mana-mana. Melewati orang-orang dengan wajah pucat. Wajah mereka...semua palsu. Tertawa dalam kesedihan, selalu ku lihat dimana-mana. Ah tidak, aku tidak berhak mengatakan itu. Karena aku...juga salah satu dari mereka.
SRAAK!
Suara gorden di buka. Terlihat gadis yang sedang berbaring. Wajah nya yang pucat tersenyum ke arah ku. Dasar, bersikap lah seperti biasa, balas dengan senyuman yang kau buat.
"Kak Alex! Bawa jajanan ya?"
Ucap sang gadis dengan ceria.
"Ya, makanlah yang banyak Riska"
Ucap Alex, ia berjalan mendekat dan mengambil kursi. Ia duduk di sebelah Riska. Gadis itu membuka plastik pemberian Alex.
"Heee, hanya bubur? Mengecewakan, aku ingin sesuatu yang lain" *cemberut
"Hahaha, terus kau mau apa?"
"Aku ingin martabak manis, hambuger, ee dan apalagi ya"
Wajah Alex menjadi sayu. Walau Riska sakit, dirinya bisa seceria itu. Padahal...penyakit yang gadis itu derita sangat mematikan. Alex hanya menjiwit pipi Riska.
"Au, kenapa kamu menjiwit pipi ku kak Alex?(╥﹏╥)"
"Tidak tau, mungkin karena gemas? Tadi kamu mau apa? Oh mau makan bubur, nih aku suapin"
Alex langsung mengambil semangkok bubur yang ia siapkan. Mengambil sedikit demi sedikit bubur, dan meniup nya karena panas. Setelah terasa aman, Alex memberikan sesendok bubur tersebut kepada Riska.
"Nah adik kecil ku, buka mulut nya. Pesawat datang, AA"
"Haa kan sudah ku bilang dengarkan aku saat berbicara!"
Namun Alex menghiraukan Riska dan segera memasukan bubur ke dalam mulut gadis itu. Walau kesal, Riska tetap mengunyah bubur yang ia makan.
Riska, adik kandung ku. Orang tua kami meninggal 4 tahun lalu. Semenjak orang tua pergi, kami di asuh oleh bibi. Kami senang karena bibi orang yang baik terhadap kami, namun tidak menutup kemungkinan...kami rindu mama dan papa.
Dan sekarang...kenapa kamu berbaring di sini. Karena penyakit menyebalkan mu itu, aku menjadi gila. Kamu...ingin meninggalkan kakak? Bayangan dan mimpi kehilangan mu membuat ku takut. Sangat takut, sangat tersiksa saat melihat mu kesakitan. Ku mohon, bersama lah dengan kakak, jangan tinggalkan kakak mu ini. Ku mohon...
"Kakak? Kakak kenapa?"
Tersadar dari lamunan, aku mendapat wajah cemas adik ku. Terdapat air mata yang membasuhi pipi ku, sial.
"Kakak...jangan menangis"
"Kakak tidak menangis kok, lihat bweee kakak berhasil menjahili mu. Tadi hanya latihan drama kok"
"Drama? Sejak kapan kak Alex ikut eskul drama? Hahaha"
"Em baru saja? Hehehe"
Alex mengusap kepala Riska. Canda tawa di lakukan oleh kedua saudara ini. Saling bercerita, bercanda, dan lainnya. Sampai... Riska merasa ada yang sakit dari dalam tubuh nya. Batuk secara terus menerus dengan wajah yang begitu pucat. Alex menjadi panik, namun terlihat darah keluar dari mulut Riska. Badan bergetar, tubuh yang dingin, dengan tatapan cemas ada di diri Alex.
"K..kakak? Aku baik-baik saja"
Ucap Riska sambil tersenyum. Tak lama perawat datang dan segera merawat Riska. Sang kakak terusir oleh dokter. Ia menyuruh Alex untuk menunggu di luar. Sudah lama Alex menunggu. Menggigit kuku jari sambil berjalan mondar-mandir. Wajah ketakutan nya tak dapat di sembunyikan. Sampai akhirnya dokter keluar dari kamar pasien.
"Dia, akan sembuh kan?"
Dokter hanya tersenyum kecil dengan mata yang sayu.
"Kami akan melakukan yang terbaik. Kami berusaha memperpanjang masa hidup nya"
"Ah..hahaha, seharusnya aku tidak berharap. Kanker stadium 4, sial! Dari semua penyakit kenapa adik ku mengalami nya"
Kesal, sedih menjadi satu. Walau begitu, Alex mencoba tersenyum. Ia kembali masuk ke dalam dan menemui Riska. Terlihat Riska sedang tertidur pulas. Alex mendekat dan duduk menemani Riska. Menatap dirinya dengan sedih. Menutup mata dan lama kelamaan ia tertidur dengan sendiri nya.
.
.
.
Sudah 1 minggu berlalu. Riska dan Alex keluar untuk berjalan-jalan. Riska menaiki kursi roda nya. Dan Alex yang membantu mendorong kursi roda. Alex berdecak kesal.
"Ck, jika saja dokter menyebalkan itu tidak melarang, aku akan mengajak mu ke kebun binatang dan wisata lainnya"
"Hahaha, kan aku tidak boleh keluar sembarangan kak. Dan lagi, taman di rumah sakit sudah cukup kok"
"Astaga, adik ku selalu rendah hati ya, putri kecil ku sudah dewasa"
Ucap Alex sambil mengusap air mata nya.
"Buuu, kakak jangan berlebihan deh. Panggil putri kecil segala, kan kakak bukan Papa...ah maaf"
Alex hanya tersenyum dan mengusap rambut adik nya sampai berantakan. Ia terduduk sambil menghadap ke Riska.
"Papa dan Mama, ada di masing-masing hati kecil kita Ris. Kamu tak perlu minta maaf"
Wajah murung Riska berubah menjadi senyuman. Ia menggangguk mengerti.
"Nah, ayo jalan-jalan! Hahaha"
"Dorong lebih kencang kak!Pasti seru!" *tertawa
"Hohoho, kamu mau aku gelundungkan ke depan?"
Mereka berdua tertawa bersama. Sesampainya di taman, mereka berdua merasakan kenyamanan. Menghirup angin segar sambil menenangkan pikiran. Tidak ada bau obat lagi. Namun, mereka masih saja melihat seseorang dengan wajah sedih.
"Kak, katanya kalo orang meninggal kita akan terlahir kembali bukan? Ah ada juga yang bilang kita bisa bertemu orang tersayang yang sudah tiada. Dan katanya kita bisa menjadi salah satu bintang di langit. Menurut kakak, akhirat itu sesuatu yang seperti apa?"
Alex terkejut dengan pertanyaan Riska. Dengan suara gemetaran, Alex menjawab.
"Mungkin dunia yang indah. Terdapat berbagai bunga yang bermekaran. Langit begitu biru dan mungkin saja tanah yang di pijaki selembut kapas. Tempat yang di ingin-ingin kan mungkin? Kakak...juga tidak terlalu tau"
"Hihihi, jika aku bereinkarnasi aku ingin menjadi apa ya? Pohon? Semut? Atau kembali lagi jadi manusia? Hahaha...dan jika ada tempat seperti yang kakak bilang, pasti menyenangkan"
"Sudahlah ngapain berbicara kayak gitu. Huft, kamu...tidak akan meninggalkan kakak kan?"
Tanya Alex dengan suara pelan.
"Kakak berbicara sesuatu?" *tidak dengar
"Bukan apa-apa, lebih baik kita menikmati waktu saja"
Aku dengar, aku juga ingin bersama dengan kak Alex. Aku tidak ingin meninggalkan kakak. Tapi...ini sakit, tubuh ku sangat sakit. Aku juga memohon, panjangkanlah umur ku. Aku takut, hiks...sangat takut. Selalu memimpikan jauh dari kakak. Walau aku kembali ke mama papa, tapi...ini tidak adil untuk kakak. Ku mohon, ku mohon, bertahanlah sedikit lagi. Sampai kak Alex...dapat tersenyum tulus kepada ku.
.
.
.
Besok nya...
Seperti biasa sepulang sekolah Alex selalu pergi ke rumah sakit. Berjalan dengan wajah lesu. Alex sebenarnya sudah muak dengan rumah sakit, dan melihat adik nya dengan kondisi menyedihkan. Namun tergores apapun hati nya, dia tetap berusaha menemui Riska.
Sekarang Alex tidak sendiri, ia berjalan bersama teman-teman nya. Teman-teman Alex sudah tau apa yang terjadi pada Alex. Walau berusaha untuk tidak ikut campur, salah satu teman Alex bertanya dengan hati-hati.
"Lex, gimana kondisi adik lu?"
Ucap Bagas, teman Alex. Edo dan Alvin yang mendengar terkejut. Mereka berdua segera memukul perut Bagas dengan keras.
"Woi, sakit lah💢"
Bisik Bagas kepada kedua teman nya itu.
"Lu udah ngak waras ya?Sebaiknya jangan membicarakan hal yang sensitif" ~Edo
"Tapi gw juga penasaran sih, siapa tau kita bisa bantu Alex" ~Alvin
Alex menatap tajam mereka berdua. Seketika suasana menjadi mencekam.
"Jangan gosip di belakang gw! Soal Riska tidak ada perkembangan dari nya. Dahlah, yuk cabut"
"Lex, gw punya ide. Ini cuma cerita sih, tapi kata nya jika kita buat 1000 origami bangau katanya bisa mengabulkan permohonan"
Usul Alvin kepada Alex.
"Hah? Gw ngak percaya begituan. Cuma beberapa kertas dapat mengabulkan permohonan? Kekanakan"
Ucap Alex membelakangi Alvin.
"Yah gw cuma kasih saran sih, anggap aja kayak hadiah. Kami bertiga juga akan bantu kok. Siapa tau aja kan Riska senang" ~Alvin
"Gw? Ogah banget capek-capek cuma buat hal yang ngak bergu...na hmp!! HMP, HMP!!" ~Edo
Alvin dan Bagas menutup mulut Edo.
"Diem lu!" ~Alvin
"Sumpah, ni orang berisik amat" ~Bagas
Mereka saling berbisik. Alex berhenti sejenak dan mulai berpikir. Tak ada salah nya memberi kejutan kecil untuk Riska.
"Oke, bukan ide buruk. Kalian bertiga bantu gw ya"
"Dengan senang hati kakak ipar" ~Alvin
"Gw bukan kakak ipar lu dan ngak akan pernah terjadi!" ~Alex
"Pfftt" ~Bagas
"Sadboy kawan-kawan, bwahaha" ~Edo
"Diem ku pada!💢" ~Alvin
Rencana mereka di laksanakan esok hari. Alex bilang ke Riska bahwa ia datang terlambat. Mereka sudah membeli barang yang mereka butuhkan. Beberapa kertas origami dan juga tali. Tanpa aba-aba mereka langsung memulai membuat origami bangau.
"Eh bro, lu yakin ini bisa sampe 1000?" ~Bagas
"Kayak nya... kagak" ~Alvin
"500 kertas aja bersyukur banget-_-" ~Edo
"Hahaha gakpapa, sebisa kita lah. Toh walau Riska hanya menerima 1 buah origami ia akan tetap senang" ~Alex
Sudah berjam-jam mereka membuat origami. Tangan mereka begitu lelah, bahkan ketiga teman Alex tertidur saking lelah nya. Namun Alex masih berusaha membuat kertas origami, ia menahan kantuk nya. Sudah sekitar 400 lebih bangau yang sudah jadi. Kertas origami menipis seiringnya dengan waktu. Sampai ke kertas terakhir...
"Alvin benar, kurang dari 1000. Apa tidak apa? Yah sudahlah, ku harap dia akan senang" *tertawa
Alex melihat jam dinding di kelas nya, sudah pukul 17.00. Sudah terlalu sore, ia teringat Riska. Alex membangunkan yang lain dan izin untuk menjenguk Riska.
"Eh apa? Oh iya, pergilah. Hoam..ngak ada yang tertinggalkan?"
"Ngak ada, gw pergi dulu"
Ucap Alex sambil membawa setumpuk origami bangau di tangan nya. Berlari berniat membawakan hadiah ke adik nya.
.
.
.
Sesampainya Alex sudah di depan pintu pasien adik nya. Ia masuk, terlihat Riska yang tertidur. Di sebelahnya terlihat semangkok bubur yang belum di habiskan. Alex hanya tersenyum. Segera mungkin Alex menempelkan burung bangau yang ia buat. Menempelkan nya tepat di hadapan Riska. Sebisa mungkin membuat nya nampak menarik.
"Kayak nya cukup deh"
Gumam Alex. Ia menengok Riska, gadis itu masih tertidur. Kemudian sang kakak mendekat dengan perlahan. Mengelus rambut sang adik sambil berbisik...
"Aku yakin, kau bisa sembuh. Bertahanlah..."
Karena lelah Alex tidur di sebelah Riska. Walau sudah di siapkan tikar untuk pengunjung istirahat, Alex hanya ingin tidur di sebelah Riska. Tak masalah bagi nya walau posisi yang tak begitu nyaman.
Alex sudah menutup matanya dan tertidur karena kelelahan. Sampai, terdengar isakan tangis. Riska mendengar apa yang di ucapkan Alex. Ia tak dapat menahan air mata nya.
"Hiks kenapa...kenapa kak Alex berbicara seperti itu? Aku...hiks tak tau harus berkata apa..."
Riska melihat origami yang dibuat oleh kakak nya itu. Dengan senyuman, Riska berkata...
"Aku ingin...kak Alex bahagia...itu sudah cukup bagi ku"
.
.
.
Alex terbangun dari tidur nya. Melihat ke luar jendela, di luar terlihat gelap. Alex mengusap-usap mata nya.
"Hoaam, sudah malam? Aku akan membelikan makanan untuk Riska. Eh?"
Tangan Riska memegang tangan Alex. Pria itu hanya tersenyum. Namun sesaat, tangan Riska begitu dingin. Wajah nya juga begitu pucat daripada biasanya.
"R..ris? Bangun yuk, waktu nya makan malam"
Namun tak ada jawaban. Walau badan Riska sudah di goyang namun gadis itu tetap tidak membuka mata nya. Alex menjadi panik.
"Ris? Ris!? Tolong jangan bercanda! RIS!? SIAL, SIAPA SAJA TOLONG ADIK KU!!"
Alex berlari keluar dan mencari bantuan. Dokter dan suster segera mengecek keadaan Riska. Suara detak jantung terdengar sangat keras. Badan bergetar hebat. Keringat bercucuran. Alex tak henti-henti nya bergumam memanggil nama Riska. Sampai dokter keluar dari ruangan. Wajah nya yang putus asa membuat Alex marah.
"Dia tidak apa-apa kan!? JAWAB AKU!!"
Alex berdecak kesal dan langsung masuk ke ruangan. Betapa terkejut nya ia melihat adik nya tertutup kain putih.
"Ini, ini apa maksudnya? KALIAN JANGAN KURANG AJAR YA! JANGAN MEMPERMAINKAN KU DAN ADIK KU! R..riska, ini kakak, mereka hanya bercanda. Benar, hanya bercanda"
Alex membuka kain yang menutupi wajah adik nya. Wajah begitu pucat membuat Alex terdiam kaku. Setitik air menetes dari mata nya.
"Ris, Riska sayang ini kakak. Hahaha, ini hanya gurauan kan? K..kenapa secepat ini? Riska...kumohon bangunlah! Jangan mengerjai kakak! Kumohon... hikss, Riska"
Namun tak ada jawaban. Alex menangis sejadi-jadi nya. Kenangan bersama sang adik terlintas di kepala Alex.
'Kakak ngak boleh menangis, tersenyumlah hiii seperti itu, hahahaha'
Perkataan yang selalu di ucapkan Riska. Hikss maafkan kakak, kakak tidak bisa. Aku tak dapat menahan air mata ini. Senyuman, dengan tangisan tak terbendung.
Deretan bangau pemberi permohonan, menjadi hadiah terakhir dari sang kakak kepada adik nya. Sang kakak hanya bisa memeluk tubuh dingin adik nya.
[TAMAT]
.
.
.
Jangan lupa Like and Komen