Ribuan tahun lalu, suatu wabah menyerang umat manusia. Yang ketika masuk dalam tubuh, dalam dua hari organ dalam akan berhenti berfungsi dan meninggal saat itu juga. Wabah itu terus menyebar hinga beberapa ilmuan membuat pelindung di kota yang tersisa. Sehingga di kota itu tidak mendapatkan setitikpun cahaya. Ilmuan ilmuan itu membuat oksigen buatan dari tumbuhan yang diberikan suntikan genetik. Namun sayangnya, para limuan itu terkena wabah dan semuanya tewas. Manusia yang tersisa mencoba untuk membuka pelindung itu namun belum ada yang bisa memecahkan kodenya. Tahun tahun pun berlalu dengan cahaya buatan dari generator besar di daerah bawah, orang orangpun sudah semakin lupa adanya matahari dan dunia yang lebih luas.
Tahun 5061,Nessalium City
Hari itu, anak anak sibuk mencari kartu yang bertuliskan nama mereka. Di tengah keramaian itu Eva berlari menghampiri Nessa yang sedang duduk di kursi panjang.
"Nessa! Aku sudah menemukan milikku. Cepat cari milikmu." Kata Eva menunjukkan kartu yang bertuliskan namanya
"Aku menunggu keramaian ini sedikit reda, baru aku mencarinya. Aku tidak ingin terus bertabrakan dengan anak anak lain."
Eva cemberut mendengar Nessa. "Hei, waktunya tinggal sedikit, kau tidak mau mendapat pekerjaan?"
"Huuuh mulai lagi ni orang. iya iya,jangan cerewet.... Dah" Nessa sedikit kesal dan langsung meninggalkan Eva.
Nessa pergi berkeliling mencari kartu miliknya hingga tersesat di sebuah tempat. Dia menaiki tangga dan berada di sebuah ruangan yang penuh lukisan dan berdebu. "Waahh. Seluruh dinding ditutupi lukisan, tapi lukisan apa ini?" Nessa memegang dinding dinding itu dan masih merasa takjub.
Di dinding itu terdapat lukisan matahari, tumbuhan dan bentangan alam yang luas. Tentu saja Nessa tidak mengenali itu apa. Tak berapa lama, Nessapun kembali mencari kartunya hingga menemukannya di bawah karpet.
Setelah itu, Nessa pergi menemui Eva dan mereka bergegas ke aula dimana kartu itu diserahkan. Di sana sudah berdiri seorang pria sedang berpidato mengenai kartu yang kami pegang.
"Anak anakku... Hari ini adalah hari penentuan masa depan kalian. Begitu kartu yang kalian pegang dibuka, kalian akan belajar khusus untuk pekerjaan yang kalian tekuni nanti."
Satu persatu,kartu itu dibuka oleh petugas dan diumumkan oleh walikota sendiri. Tibalah saat Kartu Nessa dan Eva dibuka.
Ketika kartu Eva dibuka, walikota membacakan profesi apa yang akan ditekuninya ketika dewasa.
"Eva Forthiel akan menjadi juru tulis di daerah bawah."
Ketika walikota membacakannya, Mereka berdua tampak tidak terima dengan itu. Daerah bawah adalah tempat yang keras dan penuh debu. Bagaimana mungkin Eva bisa bertahan di sana. Tapi kekesalan mereka terhenti setelah kartu Nessa dibuka.
"Nessa Florian akan menjadi wakil walikota masa depan!"
Sontak orang orang bertepuk tangan dan menyerukan nama Nessa. Namun Nessa dan Eva semakin sedih, dikarenakan mereka akan berpisah. Tidak terima dengan hal itu, merekapun pergi meninggalkan aula dengan perasaan sedih.
Nessa dan Eva pergi menuju taman dan duduk di sana. "Setelah pembacaan berakhir, aku akan meminta pekerjaan kita ditukar." Ucap Nessa kesal.
Eva juga merasakan hal yang sama, namun dia juga tau itu hal yang mustahil. "Tidak. Itu hanya akan membuatmu bermasalah. Apalagi katanya akan ada sanksi jika kita protes. Lebih baik kita menerima kenyataan." Eva memegang tangan Nessa.
Tentu saja, untuk anak usia 14 tahun memikirkan pekerjaan yang tidak mereka sukai adalah hal yang benar benar tidak masuk akal. Dengan berat hati, Nessa mengiyakan perkataan Eva dan Merekapun kembali ke rumah masing masing.
Keesokan paginya, Nessa dijemput beberapa orang. Ternyata anak yang akan bekerja di bidang politik memiliki asrama dan sekolah khusus. Sementara anak anak yang akan bekerja sebagai pekerja biasa masih di sekolah lama mereka, namun dipisahkan berdasarkan jenis. Tentu saja Nessa semakin tidak mau menjadi wakil, namun dia tau, jika melawan hanya akan menimbulkan masalah. Nessa hanya menurut dan dibawa oleh orang orang itu dengan salam perpisahan yang singkat pada ibunya.
Di asrama itu, Dia tinggal sekamar dengan 2 orang teman lainnya. Meskipun begitu Nessa masih tidak semangat karena dia tidak bisa bertemu Eva.
Sementara itu, Eva memulai pelajarannya menjadi juru tulis dengan rasa kecewa karena tidak sempat berpamitan dengan Nessa.
Esoknya Nessa juga memulai pembelajarannya dan dia dikenalkan dengan orang yang nanti akan menjadi walikota. Dia bernama Trisky, remaja usia 17 tahun.
"Ku pikir hanya anak 14 tahunan yang ada di sini." ucap Nessa dalam hati. Nessa merasa Trisky juga tidak menyukai pekerjaan yang diberikan padanya sehingga dia berniat untuk bernegosiasi dengan Trisky.
Waktu berlalu dan pelajaranpun berakhir. Ketika Trisky hendak meninggalkan ruangan, Nessa memanggilnya. "Trisky!"
Trisky berbalik dan melihat siapa yang memanggilnya, lalu Nessa menghampiri Trisky sambil memegang buku. "Apa kau tidak menyukai pekerjaanmu?" Nessa menatap serius pada Trisky hingga ekspresi Trisky berubah.
"Kenapa bocah sepertimu berbicara begitu padaku? Apa kau menginginkan pekerjaan ini? Baiklah, aku akan menyerahkannya." Triski melipat kedua tangannya berlagak sombong.
Nessa tampak kesal dipanggil bocah dan menjawab Trisky dengan cepat. "Sudah ku duga kau tidak menyukai pekerjaanmu, jadi kita bisa meminta pekerjaan kita dibatalkan."
Melihat Nessa, Trisky bingung dengan apa yang diucapkan Nessa. "Tunggu, jadi kau tidak menginginkan pekerjaanku?"
"Hei paman. Menjadi wakil saja aku tidak mau, apalagi jadi walikota. "
Trisky kesal dipanggil paman sementara Nessa tersenyum kecil melihat ekspresi Trisky yang sedang kesal. "Kalau begitu, ayo kita temui walikota!" Nessa menarik Trisky tanpa peringatan. "Ha? Woi!" teriak Trisky ingin melepaskan diri.
Mereka sudah berada di lorong yang minim pencahayaan menuju kantor walikota. Di lorong itu, Nessa kembali melihat lukisan yang isinya sedikit serupa dengan lukisan yang berada di tempat sebelumnya.
"Sial, kita tersesat! Seharusnya aku tidak meladenimu tadi. Kau dengarkan aku bocah!"
Ternyata daritadi Trisky mengoceh dan tidak didengarkan oleh Nessa. Trisky memegang bahu Nessa dan tidak sengaja melihat lukisan itu juga.
"Apa kau tau apa bulatan kuning yang di atas itu? Juga warna biru disertai putih itu?" Nessa menunjuk ke atas.
"En.. Entahlah. Tapi lukisannya benar benar indah dan tampak sangat luas." Trisky ikut tercengang melihat lukisan itu.
"Apa kau pernah berpikir.. Dinding yang mengelilingi Nessalium bisa dihancurkan dan kita menemukan tempat yang lebih luas?" Lukisan itu Nessa pegangi dan merabanya.
"....Mungkin. Aku juga pernah bermimpi bintik bintik cahaya kecil di atap yang gelap. Entah itu apa aku tidak tau."
Nessa masih meraba lukisan itu dan menemukan sesuatu. Ada sebuah tonjolan di ujung bawah lukisan itu. "Apa ini?" Nessa mencoba menekannya dan tiba tiba, lukisan itu terbuka layaknya sebuah pintu.
"Hah?!" Mereka berdua serentak terkejut dengan apa yang terjadi.
Dengan sedikit ragu, Nessa memasukinya sementara Trisky melongo melihat Nessa yang tiba tiba masuk. "Woi. Kau mau apa?"
Nessa merangkak dan semakin menjauh. "Pergilah jika kau tidak mau masuk. Tapi tutup kembali lukisan itu."
Trisky yang bingung ikut masuk dan menutup kembali lukisan itu.
"Sial. Aku akan terkena masalah. Lebih baik kita kembali. Woi, bocah!"
Nessa tidak mendengarkan perkataan Trisky dan hanya terus merangkak. Hingga mereka tiba di ujung dan berada di ruangan besar yang dipenuhi peralatan aneh. Itu adalah sebuah laboratorium.
"Alat alat apa ini?" Mereka berdua melongo dan berkeliling melihat lihat ruangan itu. Ruangan itu dipenuhi debu dan juga karat. Bahkan mereka melihat rangka manusia yang masih dibaluti pakaian rapi, dan sepertinya rangka itu pria.
"Kita harus pergi.. Jika kau mau, tinggallah di sini." Trisky meninggalkan Nessa yang masih terkejut melihat rangka itu.
Trisky yang ingin pergi dikejutkan dengan kedatangan seorang pria yang ternyata adalah.
"Pak walikota?!" Trisky tetkejut dan mundur selangkah. "Maafkan kami, pak. Kami tidak sengaja masuk ke ruangan ini.
Walikota yang sudah masuk ternyata juga terkejut melihat ruangan itu. "Bagaimana kalian menemukan ruangan ini? Tadi aku melihat lukisan itu sedikit terbuka."
"Jadi.. Anda tidak tau?"Nessa mendatangi Walikota dengan keheranan.
Walikota berjalan melihat lihat laboratorium itu dan mengamatinya. "peralatan ini seperti sudah ratusan tahun. Bukan, mungkin ribuan. Jika tau,aku akan memanfaatkan ruangan ini. Jadi, bagaimana kalian menemukan tempat ini?"
Trisky dan Nessa saling pandang dan akhirnya mengatakan semuanya dari awal mereka tidak menyukai pekerjaan yang diberikan pada mereka.
"Jadi begitu. Dengar, aku memilih kalian sebagai pemimpin kota ini, karena aku mengenal kalian. Tidak ada lagi yang pantas selain kalian berdua, dan aku berharap, kalian akan menerimanya dengan senang hati. Tapi jika begini, aku hanya bisa menyetujuinya." Walikota memegang bahu Trisky dan Nessa.
Mendengar perkataan walikota, mereka tampak senang dan wajah mereka sangat cerah.
"Tapi dengan satu syarat. Kalian harus memecahkan sebuah kode." Kata walikota menghancurkan kesenangan mereka.
Nessa dan Trisky agak kesal dan dengan berat hati bertanya mengenai kode itu. Walikota membawa mereka ke kantornya dan memberikan kertas kertas juga benda yang asing.
"Gambar ini.. Seperti di lukisan itu. Ah ada tulisan... Bola api yang menerangi seluruh dunia.. Siapa yang membuat ini?"
Walikota duduk di kursinya sambil memperhatikan kami. "Aku tidak tau. Kertas kertas itu ku temukan di memorial walikota Grisham yang hilang tahun 4954 - 4963. Dan ada benda aneh di dalamnya."
Nessa mengambil benda berbentuk kubus itu dan memperhatikannya. "Tunggu sebentar. Anda bilang kami harus memcahkan kode.. Kodenya mana?" Nessa tiba tiba berdiri dan berkecak pinggang.
Walikota tersenyum dan malah menunjuk barang barang tadi. "Itu adalah kodenya. Aku tidak memiliki banyak waktu sehingga tidak bisa memikirkan kode itu. Sementara pegawai pegawaiku... Ah, aku belum memberitahu siapapun selain kalian."
Nessa diam dan bergidik kesal. "Bagaimana bisa anda memberikan pekerjaan yang sulit ini pada bocah ingusan seperti kami?!"
Trisky terkejut dan menyela perkataan Nessa. "Hei.. Kau yang bocah. Aku sudah dewasa!"
Nessa menatap tajam pada Trisky hingga membuatnya terbungkam. "Menurut anda, bocah seperti kami bisa menyelesaikan kode ini begitu saja? Tidak masuk akal."
Walikota bangkit dan membereskan barang barang itu. "Yah.. Aku memang ragu. Tapi siapa tau, kalian memiliki keberuntungan yang lumayan. Jadi... Jika ingin lepas dari pekerjaan kalian. Pecahkan kode ini ya." Walikota tersenyum dengan niat mengintimidasi. Sementara Nessa dan Trisky terdiam, karena mereka memang tidak mau memiliki pekerjaan itu. Mereka pun keluar dan membawa barang barang tadi.
Ketika hendak menutup pintu, nama Trisky dipanggil. "Oh iya Tris.. Jangan memanggilku pak walikota lagi. Aku ini ayahmu."
Dengan cepat Trisky menutup pintu. "Cih, ayah apaan." Nessa yang mendengarnya sedikit terkejut lalu memaklumi. "Pantas saja sama sama mengesalkan." Nessa berbalik dan meninggalkan Trisky.
"Hah? Kau bilang apa? Bocah!"
Mereka berdua meninggalkan tempat dan kembali ke kamar masing masing. Di kamar Nessa,dia dikejutkan dengan barang barangnya yang dirusak.
"Wah lihat. Dia sudah kembali.. Apa yang harus kita lakukan? Barang barangnya rusak. Sangat pantas dengan orang yang caper dengan anak walikota." Teman sekamar Nessa merusak barang barangnya dan sekarang sedang tertawa.
Nessa marah, tapi dia menahannya. "Wah, iya barang barangku dirusak tikus liar. Apa kalian melihatnya? Ingin sekali aku menghukum tikus tikus nakal itu." Nessa meletakkan barang barang tadi, dan memilih barangnya yang masih layak.
Sementara itu teman sekamarnya marah karena dibilang Tikus. Mereka membully Nessa dan menarik rambutnya. "Hei j*l*ng. Jangan macam macam dengan kami. Kami tau kau caper dengan kak Tris dan ingin mendekatinya. Ku kasi tau, kau tidak pantas dengannya."
Dengan cepat Nessa menarik tangan mereka bedua dan melilitnya ke belakang. "Aku benci dengan orang seperti kalian. Yang mengatur hidup orang lain seakan memiliki hak atas itu." Nessa mendorong mereka hingga terjatuh.
"Ahh!" Mereka berdua bertabrakan hingga Nessa merasa puas dengan itu. "Tinggallah di sini. O iya, sisa barang barang ini aku sudah tidak memerlukannya, ambil saja." Nessa membanting pintu dan mendengar mereka berteriak.
Karena Nessa sudah tidak memiliki kamar, dia pergi menemui pengurus asrama. Namun katanya sudah tidak ada lagi kamar. Tentu saja Nessa merasa senang, dikarenakan itu berarti Nessa bisa tinggal di rumahnya. Dan ternyata hal itu disetujui oleh pengurus asrama dengan syarat Nessa harus datang setiap hari untuk belajar dan tidak kabur. Nessa akhirnya pulang dan sebelum sampai rumah, dia menemui Eva.
Mereka bercerita banyak hal dari dia menemukan ruang rahasia, tentang teman sekamar yang brengsek, Bocah sok dewasa, walikota dan kode kode itu. Eva merasa tertarik dan ingin melihat kode itu.
"Bola api...? Sepertinya pernah dengar. Oh iya! Apa kau ingat waktu kita umur 7 tahun? Kita pernah bertemu nenek nenek di bagian tenggara kota. Dia juga pernah mengatakan soal bola api."
Nessa merasa senang, jika semakin banyak petunjuk semakin besar pula peluangnya melepas pekerjaan itu. "Ayo kita pergi!"
Nessa dan Eva, pergi menuju tenggara kota dan mengingat kembali masa kecil mereka. Mereka bertanya tanya mengenai nenek itu dan akhirnya mereka menemukannya. Nenek itu bernama Ellie dan berusia 103 tahun. Meski begitu, nenek itu tampak masih sehat dan bisa berjalan.
Mereka menanyai tentang bola api, Nek Ellie mempersilakan mereka masuk dan menceritakan semuanya.
"Ayahku adalah walikota tahun 4954. Di umurku yang ke 6 tahun ayah pernah menceritakan bahwa ada bola api yang sangat besar di atap berwarna biru. Dan bola api itu bisa menerangi seluruh kota Nessalium tanpa bahan bakar apapun. Aku ingat, bagaimana ayah tidak tidur siang dan malam demi kode kode itu. " Nek Ellie mengambil foto dan mengelus elus foto ayahnya.
Nessa dan Eva mendengarkan dengan seksama hingga muncul beberapa pertanyaan di kepala mereka. "Tunggu sebentar. Darimana ayah nenek tau mengenai bola api itu? Apakah dia pernah melihatnya langsung?"
"Tidak. Tapi aku ingat ayah sering berkata bahwa dia akan menunjukkan sebuah dunia yang lebih luas dan indah dari Nessalium. Yang dipenuhi makhluk dan udara alami. Hingga di tahun 4963... ayah menghilang. Tidak ada yang tau dia di mana, dia meninggalkan keluarganya demi kode kode itu. Terakhir kali orang melihatnya pergi ke kantornya.... Tapi kami sudah pasrah. Aku dan ibuku melanjutkan hidup setelahnya."
Nessa dan Eva kembali berpikir keras hingga mereka berdua menemukan sesuatu. "Tahun 4954 hingga 4963.. Bukankah itu walikota Grisham yang memiliki kertas kertas ini..?" Eva menunjuk tulisan di kertas itu. Nek Ellie melihat dan memastikannya, dan benar itu milik ayahnya.
"Darimana kalian mendapatkan ini?Aku mengunci tempat kerjanya selama puluhan tahun. " Nek Ellie kembali memeriksa kertas kertas itu.
Nessa dan Eva saling berpandangan. "Apakah tempat kerja ayah Nenek masih utuh?" Mereka serentak bertanya hal yang sama.
"I.. Iya. Jika kalian ingin melihat, aku akan membawa kalian ke sana." Nek Ellie tertatih tatih berjalan sampai Nessa dan Eva membantunya.
Mereka sampai di tempat kerja itu dan di dalamnya penuh debu dan bobrok. Mereka mencari cari tentang bola api hingga menemukan sebuah brankas tua. "Apa nenek tau passwordnya?" Tanya Nessa.
Eva menyentil Nessa dan berkata. "Itu tidak sopan bodoh. Seharusnya kau bertanya apakah "itu" bisa dibuka..?"
"Duh... Iya. Apakah nenek mengizinkan kami membukanya?"
Nek Ellie tampak tidak keberatan tapi dia mengatakan bahwa dia tidak tau passwordnya. Mereka pasrah dan muncul ide bodoh dari Nessa. "Bagaimana kalau kita hancurkan saja? Toh usia brankas ini sudah puluhan tahun."
Eva kembali menyentil Nessa. "Tidak sopan ingin menghancurkan hak milik orang lain."
Nessa kesal dan kembali berpikir. Beberapa saat Nessa melihat lihat kertas itu kembali. Diliriknya satu persatu kertas itu dan menemukan hal yang janggal. "Menurutmu.. Kenapa setiap kertas memiliki warna berbeda di bagian bawahnya?" Kata Nessa pada Eva.
Eva berpikir panjang kemudian bertanya. "Apa huruf awal setiap kertas itu?"
"I - F - L - E - 5 -J. Ah, ayo kita coba." Nessa pergi ke brankas itu dan mencoba apa yang mereka temukan. Namun ternyata kode itu salah.
Nessa melihat lihat ruangan itu dan melihat rak buku. Di sana terdapat buku buku yang warnanya tepat seperti kertas kertas itu. "Merah, cokelat, Hitam, Putih, Hijau, Biru. Cepat lihat kertas kertas itu."
Dengan cepat Eva mencocokkannya.
"L - I - F - E - 5 - J. LIFE5J!"
Mereka mencoba kode itu dan hasilnya.. "Aku memang pintar." ucap Nessa membuka brankas itu. "Aku..?" Kata Eva kesal.
"Iya iya.. Kita hebat." Kata Nessa mengeluarkan benda benda di brankas itu. Sebuah batang kecil, dan koin.
"Kalian hebat, bisa memecahkan teka teki dari ayahku. Itu merepotkan, ayah.. Memang suka bermain teka teki. Jika boleh tau, kenapa kalian mencari tau tentang bola api itu?"
Nessa dan Eva menceritakan semuanya. Nek Ellie memaklumi mereka dan membiarkan mereka melakukan apapun di ruangan itu. Tapi urusan Nessa dan Eva sudah selesai. Mereka meminta izin membawa barang barang itu jika Nek Ellie tidak keberatan. Dan untungnya, Nek Ellie mengizinkannya. Karena mungkin, dia memiliki firasat bahwa kedua anak itu akan membawa masa depan yang cerah untuk semua orang.
Beberapa lama kemudian, merekapun pulang membawa barang barang tadi. Karena sudah larut, mereka memutuskan akan melanjutkan penyelidikan besok.
Besoknya Nessa pergi ke rumah Eva dengan membawa tas besar berisi barang barang yang mereka temukan semalam. Untungnya hari itu adalah libur. Nessa mengajak Eva ke asrama tempat Trisky karena penyelidikan itu juga menyangkut Trisky.
Di asrama Trisky dikejutkan 2 orang gadis di depan pintu kamarnya. "Apa ini? Kenapa kalian ada asrama laki laki? Dan siapa lagi dia?" Kata Trisky menunjuk Eva.
"Dia temanku, kami sudah menemukan petunjuk. Ikut kami!"
Nessa menarik Trisky. "Hah?! Woi!" Nessa menyeretnya menuju kantor walikota dan meninggalkan Eva.
Eva melongo dan diperhatikan anak laki laki di kamar lain. "Hahh anak itu." Evapun mengejar mereka hingga sampailah mereka di kantor walikota.
"E.. Apa ini?" Kata walikota kebingungan.
Sementara mereka bertiga masih ngos ngosan di depan pintu. Setelah berapa lama, Nessa memberikan barang barang itu pada walikota dan kemudian walikota memeriksanya.
"Kami meminta izin kembali ke ruang rahasia itu. Aku punya firasat, rangka yang kami temukan adalah walikota Grisham."
Walikota berhenti memeriksa dan menatap kami bertiga. "Lalu.. Siapa anak ini?" Dia menunjuk pada Eva.
"Dia sahabatku, dia yang membantuku memecahkan kodenya. Jadi dia akan ikut dengan pencarian kami, dengan begitu dia juga boleh membatalkan pekerjaannya."
Walikota nampak memperhatikan Eva kemudian menghela nafas. "Yasudah, ayo kita ke sana.." walikota bangkit dan membuka pintu.
"Apa maksud anda dengan 'kita'?" Nessa membereskan kembali barang barang tadi.
"Artinya aku akan ikut dengan kalian. Mana mungkin ku biarkan anak anak seperti kalian masuk ruangan yang penuh kemisteriusan." Walikota berjalan meninggalkan ruangan.
Mereka bertiga saling pandang dan sepertinya memikirkan hal yang sama. "Seharusnya dia tidak usah memberikan syarat ini dari awal." Ya.. Mungkin begitu.
Mereka bertiga bergerak dan menuju ruang rahasia itu. Ketika sampai, Nessa langsung mendatangi rangka itu berharap ada sesuatu yang bisa dikenal bahwa rangka itu adalah walikota Grisham.
Setelahnya walikota datang mendekati rangka itu dan tersentak. "Dia memang walikota. Lihat di balik jasnya ada pin lambang Nessalium. Setiap walikota memilikinya."
Mereka semua terkejut, bagaimana bisa walikota Grisham meninggal di tempat seperti itu. Kemudian, Trisky mulai mendekati rangka itu dan melihat sesuatu di bawahnya. "Hei. Ada sesuatu di bawah rangka itu." ucap Trisky pada Nessa.
Nessapun mengambilnya dan ternyata itu adalah sebuah kertas. Di sana tertulis "Buka.. Letak.. 114529. Ini kode lagi." kata Nessa resah.
"mungkin maksudnya buka dan letakkan lalu pasti ada sesuatu yang harus menggunakan password ini." Kata Eva dengan antusias.
Mereka setuju dengan apa yang Eva bilang dan mengambil barang barang tadi. Namun ada sesuatu yang aneh. Ruangan itu seperti bergetar dari arah yang berbeda. Mereka semua penasaran dan mendatangi asal getaran itu.
Ketika di sana mereka dikejutkan dengan tumbuhan yang besarnya lebih dari 4 meter. Tumbuhan itu bisa bergerak dan seperti memiliki mulut.
Walikota berbisik pada mereka. "Lari..." Sontak mereka semua berlari namun ketahuan oleh tumbuhan itu. Tumbuhan itu menjalar dan mengikat mereka . Dan merekapun.. Mati.
Tamat.
Tentu saja tidak. Tumbuhan itu hanya melilit Eva dan siap siap ingin menyantapnya. Namun dengan cepat, walikota menyuruh Trisky mengalihkan perhatian dan Meminta bantuan Nessa mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai senjata.
Trisky berteriak teriak mengalihkan monster tumbuhan itu sementara walikota dan Nessa masih mencari cari. Sedangkan Eva menggigil ketakutan. "Tenanglah! Kami akan menyelamatkanmu!" Teriak Trisky menenangkan Eva dengan berlari lari menghindari serangan monster tumbuhan itu.
Akhirnya Nessa menemukan kapak darurat yang sudah berkarat namun masih bisa digunakan. Dia menyerahkannya pada walikota dan tidak sengaja menumpahkan air. Air itu tidak sengaja terkena baju Nessa dan membuat bajunya meleleh.
Cepat cepat Nessa membuka baju luarnya dan punya ide. Di sana Trisky masih mencoba mengalihkan tumbuhan monster itu, sementara walikota mendekatinya dan mencoba membelah tumbuhan itu. Namun batangnya terlalu tebal dan memakan waktu. Sedangkan walikota juga harus menghindari serangan dari tumbuhan itu.
Tak lama Nessa bergegas membawa sebotol besar air yang ternyata adalah air keras. Dia menyiramkannya ke akar tumbuhan itu sambil menghindari serangannya. Dan kemudian tumbuhan itu MATI.
Namun Eva masih terlilit. Dengan cepat Trisky menghampiri walikota dan mengambil kapak itu lalu memotong lilitannya. Akhirnya mereka bernafas lega.
Mereka saling pandang. "Kita masih hidup." Kata walikota.
Serentak mereka bertiga tersenyum. "Yaa.. "
Belum sempat mereka mengistirahatkan diri, ada cahaya dari kubus dan mengangkat batang kecil yang mereka temukan di brankas walikota Grisham. Tiba tiba kubus itu terbuka dan memunculkan sebuah benda kecil aneh lagi.
"Hahh.. Yang benar saja. Sekarang muncul benda aneh lagi. Tau ahh, aku berkeliling sebentar." Nessa pergi meninggalkan mereka semua.
"Yahh.. Ku rasa memang kita lebih baik istirahat sebentar. Aku juga akan berkeliling mencari sesuatu." Walikota berdiri meninggalkan Eva dan Trisky.
Di situ tampak Eva seperti ingin mengucapkan sesuatu pada Trisky. "Anu.. Terima kasih sudah menenangkanku." Ucap Eva sedikit malu.
Trisky menyahut. "Apa? Ah, tidak masalah. Lagipula Nessa yang sudah menyelamatkan kita semua."
Eva tersenyum dan berbicara. "Iya. Aku juga akan berterima kasih padanya."
Di sela perbincangan mereka, Nessa dan walikota berlari menghampiri mereka. "Hah.. Hah.. Cepat ikut kami. Dan bawa juga barang barang itu."
Karena sepertinya ada sesuatu yang serius, mereka semua pergi ke tempat dimana ada pintu yang sangat besar.
"Aku baru sadar. Benda kecil itu seperti kepala kunci. Coba hubungkan dengan batang kecil itu juga. " Ucap walikota dengan serius.
Nessa melakukan apa yang dikatakan walikota dan ternyata benar. Itu adalah sebuah kunci. "Aku akan coba membukanya."
Mereka mengangguk hingga Nessa memasukkan kunci itu ke pintu. Kuncinya memang cocok, tapi gagang pintu itu tidak bisa diputar. "Apa yang salah? " Nessa mencoba lagi memutar kuncinya.
Dan beberapa saat, pintu itu bersinar dan terbuka dengan sendirinya. Di balik pintu itu, mereka dikejutkan ada lorong gelap yang jauhnya mungkin belasan meter.
Di tempat lain di Nessalium, orang orang seperti merasakan pernapasan mereka terasa berat. Dan, rombongan Nessa juga merasakan hal yang sama.
"Apa nafas kalian berat?" Tanya walikota pada mereka bertiga. Mereka mengangguk sambil tetap berjalan menyusuri lorong itu. Tiba tiba walikota berhenti berjalan dan membuat mereka juga berhenti. "....Sial. Kita telah menghancurkan satu satunya udara Nessalium."
"Apa?! Bagaimana anda tidak tahu soal itu?!" Teriak mereka bersamaan terkejut.
"Walikota sebelumnya juga hanya memberitahu soal tumbuhan.. Bukan monster tumbuhan. Aku menduga tumbuhan tadi adalah udara Nessalium. Sial. " Walikota mondar mandir gelisah.
Merekapun terdiam. Sambil menghemat udara di sekitar. "Kalau begitu.. Hanya satu pilihan kita." Kata walikota memandang mereka bertiga.
Mereka mengerti maksud walikota dan serentak berlari ke ujung lorong. Ketika sampai, mereka melihat mesin yang sudah lama tak terpakai.
Bergegas Nessa melihat barang barang yang tersisa.. "Koin dan password. Apa apa apa?! " Kata Nessa berteriak.
"Tenanglah.. Kita harus berpikir jernih saat ini. Ingatlah. Jika kata "buka" sudah saat membuka pintu, setelahnya adalah "letak". Di mana koin ini bisa diletakkan?" Ucap Eva.
Mendengar Eva, mereka bergegas mencari cari di mana posisi yang cocok untuk koin itu. Beberapa lama sudah berlalu, Udara semakin tipis dan mereka terengah engah.
Ajaibnya, di saat genting keberuntungan manusia selalu meningkat. Trisky menemukan suatu tombol yang di sampingnya ada bulatan sebesar koin tadi. Dengan cepat Nessa mencocokkannya dan tidak terjadi apa apa.
"Tekan tombolnya.. Tekan tombolnya." Kata walikota terengah engah.
Nessa menekan tombol itu dan tiba tiba muncul layar yang menampilkan 5 orang yang berpakaian serba putih dengan wajah mereka yang seperti sakit.
"Selamat datang di laboratorium utama Nessalium. Kami sedang sekarat dan tidak bisa melanjutkan penelitian. Namun kami memprediksi wabah ini tidak akan hilang selama ratusan tahun atau mungkin bahkan ribuan. Sangat sulit bagi manusia untuk beradaptasi tanpa cahaya matahari. Jadi kami mengutus satu keluarga yang akan menjaga kode ini secara turun temurun jika saja manusia sudah melupakan adanya matahari. Kamu atau kalian yang melihat rekaman ini, sudah memecahkan kodenya dan sampai di sini. Semoga beruntung. Dan... Tetaplah hidup. " (Tiit)
Mereka semua diam.. Dengan suara nafas berat mereka. "Sudah? Seperti itu saja?" Kata Tristan keheranan.
Tiba tiba, layar itu muncul kembali, tapi kali ini layar itu memunculkan angka angka seperti keypad. Sementara mereka semua sudah hampir kehabisan nafas dan berjatuhan.
"Ce.. pat uhuk uhuk hahh hahh.. Masukkan pass.. word.. nya hahh hahh.. " Kata walikota mencoba berdiri.
Namun sayangnya tubuh mereka melemas dan hampir tidak dapat bangkit. Eva pingsan dan Trisky hampir kehilangan kesadaran. Nessa mencoba bangkit, hingga Walikota membantunya dengan mengangkat Nessa sambil terduduk dan mempertahankan keseimbangan. "Cepat.. lah! Hahh hahh aku.. Akan.. memban hahh.. tumu"
Dengan terhuyung huyung, Nessa bangkit dan melihat kertas tadi. "1 - 1 - 4 - 5__" Satu persatu dia menekan tombol itu hingga terjatuh dan kembali mencoba bangkit. " 2 - 9... Konfirm!" Nessa terjatuh dan tergeletak mencoba bernafas.
Tiba tiba, terdengar dengungan dari atas yang sangat keras. Seluruh ruangan bergetar dan muncul cahaya yang sangat menyilaukan dari lubang di atap. Mereka kembali bernafas dan tersadar kembali.
Terdengar suara jeritan banyak orang dari luar hingga membuat mereka bergegas pergi.
Di luar mereka melihat Cahaya terik dari atas yang terasa hangat. Tumbuhan hijau di mana mana dan langit berwarna biru cerah. Untuk pertama kalinya mereka melihat matahari dan langit. Dimana selama ribuan tahun mereka hanya melihat pelindung tebal yang dingin.
"Akhirnya kalian membuka pelindung itu."
Seseorang datang dengan beberapa orang di belakangnya. "Maaf. Anda siapa?" Tanya walikota padanya.
"Kami juga sama seperti kalian. Tapi kami sudah membuka pelindung di kota kami 14 tahun yang lalu. Kami bertanya tanya kenapa kota Nessalium masih belum membuka pelindungnya. Kami mencoba menghubungi Nessalium tapi tidak ada jawaban. Wabah yang menyerang bumi sudah hilang 99 tahun yang lalu. Namun kami baru menyadarinya 14 tahun lalu." Orang itu menjelaskan pada walikota panjang lebar. Tiba tiba Nessa menyela pembicaraan mereka.
"Wabah lagi. Di layar tadi juga mengatakan tentang wabah. Maksudnya apa? Lalu cahaya yang sangat terang itu bukankah bisa memakan bahan bakar yang sangat banyak?"
Orang itu terkejut hingga menunduk untuk bicara pada Nessa. Tapi tiba tiba orang semakin banyak dan juga mencoba mendengar jawaban orang itu.
"Apa selama ini...kalian tidak mengenal matahari?" Orang itu tampak kebingungan serta khawatir. Semua orang mengangguk mendengar pertanyaannya dan membicarakan hal yang sama. "Apa itu matahari?"
Orang itu semakin terkejut hingga ekspresinya berubah lega. "Cahaya di atas itu adalah matahari. Yang menerangi seluruh dunia secara gratis. Jika kalian sudah melupakan dunia yang sangat luas ini. Maka mulailah untuk mengingatnya." Dia tersenyum dengan ramah.
Hingga saat itu. Setiap manusia memulai kembali hidupnya dengan cahaya dan udara tanpa batas. Membersihkan dunia dari kotoran dan memakamkan sisa sisa rangka manusia ribuan tahun lalu. Semuanya hidup dengan Bahagia.
Tamat.
"Jadi.. Karena sudah malam. Kalian harus tidur. Bisa bisanya kalian tetap bangun meski mamah sudah bercerita panjang sekali." Ucap wanita itu dengan lembut.
"Habisnya kisahnya seru. Apalagi mamah memasukkan nama mamah, papah, dan bi Nessa juga ke dalam kisah itu." Kata dua anak itu dengan ceria.
"Kan mamah sudah bilang. Ini bukan kisah biasa, tapi kisah nyata di saat saat umat manusia tidak mengenal matahari."
"Tapi, kok bisa bisanya manusia hidup tanpa matahari? Bahkan melupakannya."
"Di saat orang orang di kota Nessalium tidak disinari oleh matahari lagi. Mereka memunculkan sugesti bahwa matahari tidak pernah ada,hanya untuk memberikan rasa aman pada mereka. Hingga menimbulkan sifat permanen. Apa kalian mengerti?" Ucap wanita itu sambil mengelus kepala kedua anaknya.
"Bagaimana mereka bisa mengerti dengan kata kata sulit seperti itu?" Seorang pria masuk.
Wanita itu bangkit dan memeluknya. "Kamu sudah pulang, Tris."
"Papah..!" kedua anak itu berlari mengejar ayahnya.
"Heii. Kenapa kalian belum tidur?" Tris menggendong kedua anaknya ke tempat tidur.
"Mamah Nyeritain tentang papah, mamah dan bi Nessa ketika di Nessalium tanpa cahaya."
"Eva.." Tris melihat Eva. "Itu kisah bersejarah. Jadi, waktu kalian besar nanti bisa menceritakan kisah heroik papah menolong mamah kalian." Kata Tris dengan bangganya.
"Hahahaha. Mamah bilang papah cuman menenangkan dan mengalihkan monster tumbuhan aja kan. Bi Nessa dan kakek yang ngalahin monsternya. Hahaha." Mereka berdua tertawa keras bersamaan hingga membuat Trisky kesal dan mencubit pipi mereka berdua.
"Heii. Mengalihkan perhatian juga tugas berbahaya tau." Eva menghentikan cubitan Trisky dan meledeknya kembali. "Lucunya lagi, sekarang malah Bi Nessa yang jadi walikota dan papah kalian jadi wakilnya." Eva duduk di samping kedua anaknya dan semakin membuat Trisky kesal.
"Itu karena aku memang tidak mau jadi walikota ya.. Jangan membuat marah papah monster tumbuhan! Roarrrr!! " Trisky mengelitiki kedua anaknya.
"Hahahahahaha."
Mereka semua tertawa dengan bahagianya sementara...
Reader jomblo iri dengan keUwUan keluarga yang berbahagia itu.
The End
(kali ini bener bener tamat)
Dont forget to like and comment ^o^