POV Rayhan
Masih terbayang senyum manisnya kala mengucapkan perpisahan denganku kemarin. Katanya dia sudah tak mencintai ku lagi. Bahkan, dia sudah memiliki pengganti ku. Entah sudah berapa lama dia menjalin hubungan dengan orang pilihan nya.
Sebenarnya aku tak rela. Tapi ketika melihat senyumnya yang terlihat lebih bahagia bersama lelaki lain, aku merasa senang. Ah, sedikit. Karena harusnya posisi itu aku yang mengisinya.
Setelah mengucapkan maaf dan pamit, dia pergi dengan bergandengan tangan seperti hendak menyebrang jalan dengan lelaki nya. Perih rasanya, karena dulu tanganku yang selalu dia genggam.
Kenapa aku diam?
Karena aku sadar, saat bersamanya, aku selalu melarangnya ini-itu. Aku rasa dia butuh kebebasan. Atau bahkan dia lelah dengan sifat-sifatku. Aku terlalu egois padanya.
Maafkan aku ya, Sintia.
***
POV Sintia
Jujur. Sebenarnya aku tidak kuat lagi. Aku takut untuk mengucapkan perpisahan yang sebenarnya.
Jadi, aku pergi menyewa lelaki sewaan. Hanya beberapa jam saja untuk menjadi pacar pura-pura ku. Itu ku lakukan agar dia tidak menahan ku untuk pergi.
Aku mengajak pacar sewaan ku menuju rumah Rayhan. Saat pintu rumahnya terbuka, tampaklah Rayhan dengan raut wajah bingung dan terkejut.
'Mengapa Sintia membawa lelaki?'
Mungkin itu adalah apa yang dia pikirkan. Karena 3 tahun bersamanya, sudah membuatku hafal semua kebiasaannya. Bahkan, apa yang dia pikirkan pun aku tahu.
"Rayhan, maafin aku, ya. Maaf aku bohongin kamu kali ini," ucapku pelan dan tidak di denger oleh pacar sewaanku.
"Nanti kamu harus memperlakukan aku dengan hangat dan lembut yah di depan pacarku," ucapku sesaat sebelum mengetuk pintu.
"Baik."
Seperti nya dirumah hanya ada Rayhan. Baguslah. Aku jadi tidak terlalu terbebani saat harus berpamitan dengan keluarganya, cukup titipkan saja pada Rayhan.
Melihat aku yang menampilkan senyum terlebar dan termanis ku, Rayhan menatap heran. Karena aku yang tak kunjung bersuara, Rayhan pun memulai obrolan.
"Kenapa, Sin? Dan dia siapa?"
"Dia pacar aku, Gery. Maaf ya, Han. Aku sebenarnya udah ga suka sama kamu. Sekarang aku udah nyaman dan sayang banget sama dia. Kita udahan ya, Han," ucapku tetap menampilkan senyuman manis.
Sebenarnya aku tak bisa. Rasanya ingin menangis, berteriak atau apapun itu yang bisa membuatku sedikit lega.
Kulihat ada luka dan kecewa di manik matanya.
Maaf, Han, maaf!
Rayhan mengulurkan tangannya padaku.
"Selamat ya, Sin. Semoga kamu bahagia sama dia," ucapnya dengan suara serak.
Aku tahu! Dia juga sama tak kuat menahan tangisnya. Namun apa boleh buat? Aku harus melakukan ini. Setelah ini aku akan pergi jauh, bahkan tak bisa melihatnya lagi.
"Rayhan," panggilku pelan.
"Ya?"
"Jangan sedih, ya. Pasti ada yang lebih baik dariku. Buktinya saat kita sekolah dulu, banyak adik kelas yang naksir kamu."
"Ah, iya. Aku ga sedih 'kok. Hanya kaget saja," ucapnya kemudian berdehem.
"Kalau gitu, aku pergi ya, Han. Maaf aku ganggu waktu kamu."
"Gapapa 'kok."
Aahh, gapapa, ya. Kata yang selalu ku benci darinya. Gapapa berarti kenapa-kenapa. Dia memang overprotektif padaku, tapi dia juga baik, lembut dan membuatku nyaman. Bahkan rencananya tahun depan kita akan menikah. Tapi sekarang dengan terang-terangan aku membawa lelaki di depan matanya. Bahkan memperkenalkan sebagai pacarku.
Aku pergi dengan Gery. Kami bergandengan tangan, semata-mata ini hanya untuk membuat Rayhan percaya kalau aku sudah resmi memiliki pacar baru.
Gery juga orang yang profesional. Dia bisa diajak kerja sama dengan baik. Dan bahkan dia tidak mencampuri urusanku.
Tapi dari tatapan dan raut wajahnya, sepertinya dia memiliki banyak pertanyaan. Dan bahkan mungkin di dalam hatinya, dia menghujat ku. Karena aku memilih berpisah dengan orang sebaik Rayhan.
"Makasih ya, Ry. Uangnya sudah aku transfer ke rekening mu. Kita pisah disini aja, ya," kataku pada Gery.
Gery pun mengangguk mengerti. Kepuasan pelanggan adalah hal yang dia junjung dari dulu. Dan kenyamanan pelanggan juga. Karena itu dia akan patuh pada pelanggan istimewa nya yang satu ini.
Malam harinya.
"Kamu udah siap buat pergi, Sin?" tanya Papa ku.
"Udah, Pa."
Aku dan Papa langsung menaiki mobil. Papa di depan bareng Pak Heri, supir pribadi ku. Sedangkan aku duduk di belakang.
Namun, tiba-tiba Pak Heri di telpon sang istri yang hendak melahirkan. Dia ijin ke rumah sakit. Kami pun mengijinkan nya.
Jadi sekarang aku duduk didepan dengan Papa.
Mobil mulai melaju pelan di jalanan yang sepi. Aku merasa aneh. Mengapa jalanan sepi sekali? Apakah ini waktunya bagiku untuk pamitan pada Papa?
Saat memikirkan itu semua, terdengar suara klakson mobil dengan nyaring. Dan mobil itu tepat berada di depan mobil kami. Kecelakaan tak bisa dihindari. Yang ku ingat terakhir kali adalah kaca mobil yang pecah dan juga banyak dari di sekitarku dan kepala papa juga tertancap kaca.
"Papa.."
Aku tak ingat apa-apa. Tapi sekarang, aku mendengar banyak sekali suara yang masuk. Suara itu tak ada yang kukenal.
Sekarang banyak suara mesin dan peralatan. Entah apa yang orang-orang itu akan lakukan padaku. Aku pasrah. Pandanganku kabur, suara yang kudengar sudah tidak jelas lagi. Aku kesulitan bernapas, tapi aku tak merasakan sakit sama sekali.
Tuhan, jangan bawa Papa ku pergi.
***
POV Rayhan
Disinilah aku sekarang. Di depan makam yang baru. Di makam itu tertulis,
`` Sintia Larasati binti Hermawan ``
Ternyata ini jawaban atas kebahagiaan mu, Sin. Maafkan aku. Maafkan aku yang tidak pernah peka dengan penyakitmu.
Aku tahu info kamu memiliki penyakit dari Pak Heri. Sedari aku datang, dia sudah bersimpuh di depan ayahmu. Dia memohon ampunan kepadanya yang kini lumpuh.
Maafkan aku, Sin. Aku tak pernah bisa jadi pasangan yang baik untukmu. Kamu terlalu lihai menutupi semua lukamu dariku. Semoga kamu tenang di sisi-Nya.