Sepasang lelaki dan perempuan tengah duduk di kursi taman. Suasananya hening dan tenang. Berbanding terbalik dengan hati mereka yang gelisah tak karuan.
Mereka saling memandang dalam diam. Kata-kata yang ingin mereka ucapkan seolah tertahan di tenggorokan.
"Ga, aku.."
"Lin, gue kemarin nembak Friska dan diterima. Gue seneng banget, Lin. Gue kira bakalan ditolak karena rumor yang beredar. Mulai sekarang lo bisa tenang, gak akan ada lagi orang yang cari masalah sama lo karena salah paham sama hubungan kita," ujar Agaris memotong perkataan Selin.
Selin terdiam, dia tersenyum kecut. "Salah paham ya?" gumamnya pelan. Dadanya berdenyut sesak. Padahal dia berharap mendapatkan satu alasan untuk bertahan. Namun, sepertinya dia tidak berhak untuk mendapatkannya.
"Selamat ya, Ga!" Selin menerbitkan senyuman manis. Tapi Agaris tahu, senyuman itu hanyalah senyuman palsu. Topeng yang dibuat untuk menutupi luka gadisnya.
"Thanks, Lin," Agaris ikut tersenyum. Dia memandangi Selin dengan rasa bersalah yang membuncah di dadanya.
"Ga, aku balik ke kelas dulu, kayaknya bentar lagi dosennya bakal masuk," pamit Selin.
Agaris mengangguk menanggapi. Selin bangkit dari duduknya dan berjalan pergi. Agaris memandangi punggung kecil Selin. Gadis rapuh yang ia cintai. Namun, Agaris tidak ingin Selin terluka lebih dalam. Karena Agaris tahu Selinnya sering dirudung hanya karena dekat dengannya.
"Maaf, Lin!"
Agaris bangkit dari kursi. Dia berjalan meninggalkan taman.
"Kasihan banget si Selin,"
"Hooh, gak nyangka keluarganya seancur itu,"
Agaris berhenti, dia menoleh ke asal suara yang sedang membicarakan gadisnya. Tapi.. kenapa mereka tahu perihal keluarga Selin?
Keluarga gadisnya memang berantakan. Ayahnya adalah seorang pemabuk yang pengangguran sementara ibunya menghabiskan seluruh waktunya untuk bekerja.
Dia berjalan mendekati mereka. Apa ada hal yang belum dia ketahui mengenai gadisnya?
"Selin kenapa?"
Dua gadis yang tadi membicarakan Selin terkejut mendengar suara Agaris. Mereka menoleh dan mendapati Agaris sudah ada di dekat mereka.
Seorang gadis bernama Rara mengernyitkan dahinya, "Loh lo gak tahu, Ga? Bukannya lo deket sama Selin?"
Agaris diam tak menjawab.
Deva, teman Rara sekaligus tetangga Selin tahu kalau Agaris tidak akan menjawab. "Semalem Selin diperkosa sama bokapnya. Untung nyokap gue yang kebetulan lewat denger teriakan minta tolong Selin dan segera telepon polisi. Ayahnya ditangkep dan waktu nyokap Selin tahu berita ini, dia marah dan usir Selin dari rumah. Dia aja nginep di rumah gue semalem," jelas Deva.
"Kalo gue jadi Selin gue pasti bakal trauma sih," komentar Rara.
Deva mengangguk setuju, "Gue aja kaget waktu dia ngotot pengen ke kampus,"
Agaris mematung mendengar percakapan mereka. Dia bertanya dengan panik, "Sekarang lo pada tahu dia ada dimana?"
Deva dan Rara serempak menggeleng pertanda tidak tahu.
Agaris langsung pergi meninggalkan mereka. Berlari mencari Selin.
Sementara itu..
Seorang gadis cantik menatap kosong ke depan. Tubuh ringkihnya berjalan perlahan menuju tepi 𝑟𝑜𝑜𝑓𝑡𝑜𝑝.
Senyum miris terukir di bibir gadis itu. Pikirannya kembali melayang ke beberapa saat yang lalu. Saat harapan terakhirnya dihancurkan begitu saja.
Ya, dia Selin.
Gadis malang yang kesuciannya sudah direnggut ayahnya sendiri. Gadis rapuh yang diusir ibunya yang menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi. Dan gadis menyedihkan yang ditolak perasaannya sebelum berhasil mengungkapkan cintanya.
Dia mencintai Agaris. Sosok lelaki yang selalu menemaninya saat dirinya membutuhkan uluran tangan. Sosok lembut yang memeluknya saat dirinya merasa kesepian. Dia sosok yang begitu sempurna hingga Selin tidak pantas berada di dekatnya.
Orang-orang menyuruhnya menjauh dari lelaki itu. Mengatakan kalau dia hanyalah sampah yang tidak bisa disandingkan dengan Agaris.
Dan Selin sadar kalau ucapan mereka memang benar adanya.
Namun, salahkah dia berharap Agaris bisa membalas perasaannya?
Selin menatap ke bawah. Banyak mahasiswa masih bersenda gurau sembari menunggu kelas mereka dimulai. Tanpa tahu seseorang sedang berdiri di tepi 𝑟𝑜𝑜𝑓𝑡𝑜𝑝.
Gedung tempat 𝑟𝑜𝑜𝑓𝑡𝑜𝑝 itu memiliki 7 lantai. Siapapun yang meloncat dari sana pasti tubuhnya akan hancur dan meninggal dunia.
𝐵𝑟𝑎𝑘𝑘
Pintu 𝑟𝑜𝑜𝑓𝑡𝑜𝑝 dibuka kasar.
"SELINN!" Agaris membelalakan matanya melihat Selin berada di tepi 𝑟𝑜𝑜𝑓𝑡𝑜𝑝. Napasnya masih terengah-engah karena berlarian mencari Selin.
Selin tersenyum lembut melihat Agaris. Namun, air matanya tidak bisa membohongi perasaannya. Itu luruh dan membasahi pipinya.
Tapi, senyuman itu tidak hilang.
Dia tetap tersenyum dengan air mata yang turun dari pelupuk matanya.
"Agaris, mungkin gak pantes aku ngomong ini ke kamu. Tapi, aku bener-bener pengen kamu tahu perasaan aku.."
"Aku cinta kamu, Ga. Sejak saat pertama kali kamu ngehibur aku,"
Agaris berlari menghampiri Selin. Dadanya sesak mendengar pengakuan Selin. Dia senang mendengar gadisnya juga mencintainya. Tapi, keselamatan gadis itu lebih penting sekarang.
"Maaf Agaris. Maaf karena sampah ini suka sama kamu. Tapi.. tenang aja Agaris, sampah ini bakal menghilang untuk selamanya.."
"Selamat tinggal.."
"Agaris,"
Tangan Agaris tidak berhasil meraih Selin. Selin lebih dulu meloncat dari 𝑟𝑜𝑜𝑓𝑡𝑜𝑝 tepat setelah dia menyelesaikan ucapannya. Senyuman itu tidak luntur bahkan di saat terakhirnya.
Agaris mematung melihat Selin meloncat dari 𝑟𝑜𝑜𝑓𝑡𝑜𝑝. Air mata yang menggenang di pelupuk matanya turun seketika.
Tidak! Agaris juga mencintai Selin. Dia mencintai Selin sejak pertemuan pertama mereka. Selin bukan sampah! Dia yang sampah karena terus menyembunyikan perasaannya. Dia yang sampah karena hanya bisa melindunginya diam-diam.
Dia yang sampah dan sama sekali tidak pantas untuk Selinnya!
"KYAAAAA!!"
Para mahasiswa dibawah gedung berteriak melihat tubuh seseorang jatuh dari 𝑟𝑜𝑜𝑓𝑡𝑜𝑝.
Hari itu adalah hari terakhir dari 𝗦𝗲𝗹𝗶𝗻 𝗔𝗯𝗶𝗴𝗮𝗶𝗹 𝗬𝗼𝘃𝗮𝗻𝗸𝗮.
Gadis kuat yang memilih menyerah saat hidupnya hancur dan tidak lagi memiliki alasan untuk bertahan.