Udara malam begitu dingin terasa sampai ke tulang rusuk ku. Badan bergetar walau ku sudah berusaha menghangatkan diri dengan bulu ku. Beralaskan kardus untuk tidur, berusaha agar tetap bertahan. Menutup mata dan menunggu hari esok tiba.
.
.
.
"Hoaam, eem hachuuu. Brrttt, kau sudah bertahan satu hari lagi"
Ucap kucing putih keluar dari kardus. Mengusap kuping dengan tangan kecil nya. Banyak debu di bulu kusut nya. Kucing jalanan yang sudah terbiasa dengan kehidupan liar ini.
"Meoww, em nyaman. Apakah ini yang manusia sebut taman?Walau tempat nya indah, namun banyak orang di sini"
Ucap kucing putih dengan wajah ke takutan. Sesaat dia melihat tempat teduh, terlihat nyaman. Ia berlari sampai ke tempat kursi pendatang. Duduk di sana sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Walau ketakutan, kucing putih itu cukup puas melihat bunga bermekaran.
Banyak orang yang ada di taman. Bersama keluarga, teman, bahkan bersama dengan hewan peliharaan kesayangan. Kucing putih sempat iri dengan mereka. Bulu yang bersih, tak jarang tubuh mereka gemuk, dan kalung yang membuktikan mereka mempunyai Tuan. Kucing liar itu menghela nafas dan hanya bisa mengangan-angan.
Tak lama, kucing putih itu melihat sesuatu yang menarik.
"Hei!Berhenti di situ kucing kurang ajar!"
Teriak salah satu pendatang. Ia berlari mengejar kucing hitam. Terlihat ikan di mulut kucing tersebut. Mereka berdua berlarian kesana kemari, semua orang yang melihat hanya tertawa. Karena kelelahan, pria tersebut berhenti berlari.
"Hosh, hosh, dasar kucing liar"
Ucap nya yang langsung pergi meninggalkan kucing hitam.
"Hmp, hanwa mwemberi swatu ikan swaja syegitu nya"
Ucap kucing hitam dengan ikan di mulut nya. Ia berjalan mendekat ke arah kursi taman, sekaligus tempat kucing putih bersembunyi.
"Ho, mangsa baru"
Batin kucing putih sambil tersenyum. Tak lama datang kucing hitam, wajah terkejut terlihat di wajah imut nya.
"Sepertinya kau baru di sini, berikan ikan mu!"
Ucap kucing putih, ia melihatkan kuku serta gigi tajam nya. Namun kucing hitam hanya diam dengan wajah datar, seakan tidak peduli dengan kucing putih. Dengan santai nya ia melepaskan ikan dari mulut nya. Tanpa rasa takut kucing hitam memakan dengan lahap santapan nya, dan menghiraukan si kucing putih.
"MEOWW! KAU BERANI DENGAN KU!?"
Tanya kucing putih karena tidak terima atas perlakuan kucing hitam.
"Memang nya kau siapa?Majikan ku?"
Tanya kucing hitam dengan wajah tak peduli. Karena kesal, kucing putih berniat mengambil ikan, namun di halang oleh kucing betina tersebut. Dengan cepat ia mencakar kucing putih. Sang kucing jantan hanya mengeong kesal. Namun tak lama terdengar suara yang keras dari perut si putih.
"..."
Si hitam hanya menghela nafas, dan memberikan kepala ikan ke putih. Tanpa basa-basi si putih langsung memakan ikan tersebut.
"Dasar kucing jantan"
Ucap si hitam dengan wajah dingin. Namun si putih tidak memperdulikan nya dan segera menghabiskan makanan nya. Selesai nya, mereka hanya memandang satu sama lain. Duduk dengan jarak jauh dan saling memandang sinis.
"Ini tempatku! Lebih baik kau pergi dari sini" ~putih
"Ogah, aku tidak mau mendengar kucing liar seperti mu" ~hitam
Kucing putih hanya tertawa dan memandang si hitam.
"Lalu, memangnya diri mu bukan kucing liar?" ~putih
"Aku... menunggu Tuan ku"
Ucap si hitam dengan mata sedih. Si putih terkejut, ia sekali lagi memperhatikan si hitam dengan lebih jelas. Bulu nya tak sekotor dirinya, dan terlihat kalung kecil mengelilingi leher si hitam. Si putih tidak tau apakah harus senang karena kucing peliharaan juga bisa bernasib sama sepertinya, atau sedih karena manusia yang begitu kejam kepada mereka.
"Hah kau di buang ya, ck ck ck kasihan sekali. Kau harus menerima bahwa sekarang ini kau sudah menjadi kucing li.."~putih
"Aku tidak dibuang! Aku yakin Tuan akan datang ke taman ini, dia akan mencari ku"
Ucap si hitam dengan yakin.
"Terserah saja"
Kucing putih berniat meninggalkan si hitam, namun ia tidak tega.
Apakah kucing manja akan bisa bertahan hidup di dunia kejam ini? Ah tidak, tadi saja dia bisa mencari makanan sendiri. Seharusnya dia dapat bertahan hidup sendiri.
Pikir putih yang langsung meninggalkan si hitam sendirian.
.
.
.
Sampai pada malam hari nya. Si putih yang sedari tadi tiduran di kardus kecil nya masih saja memikirkan si hitam. Ia khawatir terjadi sesuatu terhadap kucing itu. Sambil berdecak kesal, si putih berdiri berniat ke bangku taman tempat si hitam berteduh.
Sesampainya ia tidak lagi menemukan si hitam. Mungkin saja ia sudah pergi dari sini, atau tidak Tuan yang ia maksud sudah menjemputnya. Itulah yang ada di pikiran si putih. Namun tak lama, si putih terkagetkan dengan sesosok bayangan hitam berjalan menuju dirinya.
"Woho siapa ini yang kembali? Ku kira seekor kucing yang ada di sini sudah pulang ke rumah nya"
Sindir si putih.
"Berisik" ~hitam
Dengan kaki kecil nya, ia berjalan menuju si putih. Bulu nya yang basah dan tak sedikit kotoran menempel di badan kucing hitam. Membuat si putih tertawa.
"Bwahahaha kau kenapa?Mandi lumpur?"
Ledek si putih.
"Jatuh ke selokan, puas!?"
Bukan nya berhenti, si putih terus saja tertawa. Tak lama si putih keluar dari tempat persembunyian, dan menatap si hitam.
"Ikuti aku" ~putih
Walau sempat curiga, si hitam hanya bisa menurut dengan kucing putih. Ia mengikuti nya dari belakang. Cukup jauh mereka berjalan. Walau jalanan menjadi gelap namun tak masalah bagi mereka dengan indra penglihatan yang super tajam di malam hari. Sesampainya, terlihat air mengalir. Mereka tiba di danau kecil. Si hitam yang penasaran mendekat ke sungai tersebut. Melihat pantulan dirinya di dalam air membuat si hitam tertawa kecil.
Dengan senyum licik nya, putih langsung mendorong si hitam dari belakang. Membuat si hitam kehilangan keseimbangan dan jatuh ke danau.
BYURRR!
"Puah, sial! Ini dingin💢" ~hitam
"Bwahaha, mandi lah kau! Sekarang tak ada lagi bau menyengat" ~putih
Dengan wajah kesal si hitam terburu-buru membersihkan bulu nya. Hawa malam membuat kedua kucing ini kedinginan. Si putih tanpa sengaja melihat kalung yang ada di leher si hitam. Tertulis nama 'Jessy' di kalung tersebut. Walau ia tidak mengerti arti dari tulisan tersebut, ia menjadi iri karena si hitam mempunyai nama, sedangkan dirinya tidak.
Namun tak lama si putih memiliki ide. Ia ingat ada tempat dimana seseorang atau hewan dapat meminta bantuan.
"Hei, apakah kau tau kantor polisi?"
Tanya si putih kepada si hitam.
"Aku pernah mendengar nya, memang nya ada apa?"
Tanya si hitam dengan penasaran, namun si kucing putih hanya tersenyum.
"Besok pagi kita akan pergi ke tempat itu, di sana mungkin kau bisa menemukan Tuan mu" ~putih
"Kau...ingin membantuku? Kau yakin?Aku benar-benar tidak mengerti tujuan mu" ~hitam
Si putih hanya tersenyum.
"Kami kucing liar hanya memiliki satu tujuan, yaitu untuk hidup. Selebihnya kami tidak tau lagi apa yang kami inginkan"
Si hitam hanya diam dan masih berjalan mengikuti putih dari belakang.
.
.
.
Besok nya sesuai yang di janjikan. Si putih datang ke tempat si hitam.
"Ayo!"
"Tapi, apa tidak apa aku meninggalkan tempat ini? Bagaimana jika Tuan mencariku sedangkan aku pergi meninggalkan tempat"
Ucap si hitam dengan lirih.
"Kau mau rencana kita terjalan atau tidak! Kau ingin bertemu Tuan mu kan, kita tidak bisa berharap dengan menunggu saja"
Jelas si putih dengan tegas. Walau ragu, si hitam kembali menaruh kepercayaan dengan si putih.
Mereka pergi meninggalkan taman. Mengelilingi kota kecil ini. Banyak suara klason berbunyi. Tak sedikit anjing galak menggonggong ke arah mereka. Walau takut, mereka tetap berjalan dan mencari kantor polisi. Tatapan tajam orang-orang mengarah ke dua kucing ini. Walau begitu mereka tak dapat menemukan tempat tersebut. Kaki kecil mereka sudah lelah.
"Hei, sebenarnya seperti apa kantor polisi itu?" ~putih
"Tunggu, kau bercanda!? Kau yang mengajak ku dan kau malah tidak tau apa itu kantor polisi!?" ~hitam
"Mohon maklumi kucing liar ini, seharusnya kau kucing peliharaan tau tentang ini. Setidaknya, apakah kau ingat jalan rumah mu" ~putih
"Rumah?"
Si hitam melihat sekeliling. Namun ia nampak asing dengan lingkungan tersebut. Ia menjadi takut karena belum terbiasa dengan tempat ini.
"Aku hanya mengingat mereka mempunyai mobil bersuara UIUIU, dan diatas nya terdapat sesuatu berwarna merah" ~putih
"Tunggu, apakah mobil berwarna biru itu yang kau maksud?" ~hitam
"Kita cari tempat dengan mobil biru!"
Ucap mereka secara bersamaan. Dengan susah payah mereka mencari tempat tersebut. Sampai, mereka menemukan tempat dengan ciri-ciri yang sama seperti di pikiran mereka.
"Akhirnya"
Ucap mereka berdua sambil tersenyum lega. Namun tak lama terdengar suara yang membuat mereka terhenti. Suara tepat di belakang mereka.
"JESSY!?"
Suara tak asing terdengar, si hitam langsung menengok ke belakang. Terlihat seorang gadis berkuncir kuda membawa banyak selembaran di tangan nya. Si hitam yang menyadari orang tersebut, berlari dan langsung melompat ke pelukan si gadis. Sang gadis hanya menangis dan memeluk erat si hitam.
"Hiks, Jessy..syukurlah, ku kira kita tidak akan pernah bertemu lagi"
"Meoww"
"Iya, hiks maafkan orang tua ku ya Jessy. Aku tidak sadar bahwa kamu di buang seenak nya dengan mereka. Aku, hiks..begitu marah dan kesal. Tapi tenang saja,sekarang aku sudah meyakinkan mereka, kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali"
Ucap sang gadis yang tak henti-henti nya menangis.
Di lembaran tersebut banyak copy an dengan tulisan 'di cari kucing' dengan berbagai ciri-ciri yang sama seperti si hitam. Si putih yang melihat mereka berdua hanya bisa terdiam, ia berniat meninggalkan mereka. Namun Jessy yang sadar langsung melompat turun dari pelukan si gadis dan menghampiri si putih.
"Minggir"
Ucap si putih dengan dingin. Namun Jessy hanya diam dan masih saja menghalangi si putih untuk pergi. Sang gadis hanya bingung dengan kucing peliharaan nya. Ia melihat kucing putih tersebut. Dengan senyuman, sang gadis langsung menggendong si putih.
"MEOWW!?"
"Halo kucing manis, kamu temannya Jessy ya? Sepertinya kamu tidak ada yang punya, kamu mau tinggal bersama kita?"
Ucap sang gadis dengan senyum manis nya. Jessy dengan semangat mengatakan.
"Bilang iya! Kau kan ingin sekali memiliki seorang majikan" ~hitam
"K..kapan aku mengatakan itu?" ~putih
"Hahaha, sepertinya Jessy senang mendapatkan teman baru. Em ku namai siapa ya, warna mu putih dan sepertinya kau...jantan?"
"Pfttt" ~hitam
"Diam! Dan kenapa pula gadis ini melihat punya ku!?///" ~putih
"Em, Snow aja kali ya? Imut soalnya, hehehe"
Snow? Nama...ku? Entah mengapa, aku merasa senang.
Batin si putih sambil menahan air mata nya.
"Jessy, Snow, ayo kita pulang ke tempat yang lebih hangat" *senyum
[TAMAT]
Sori kalo gaje, jangan lupa like and komen