Pagi itu sangat cerah, matahari bersinar terang mampu memberikan kehidupan pada makhluk hidup. Hanum berdiri di dekat jendela yang menghadap langsung ke perkebunan teh, sambil memegang segelas teh di tangan kanannya. Hanum memejamkan matanya untuk beberapa detik, menghirup udara pagi yang begitu segar. Membiarkan angin pagi yang menyapu lembut kulit wajahnya, kerudung hitam yang melekat di kepalanya dan menutupi hingga dada bergerak karena terpaan angin pagi. Sudah dua minggu ia tinggal di kampung ini. Kampung yang letaknya cukup jauh dari kota, semenjak bercerai dari pria itu Hanum memilih untuk membeli rumah yang sederhana namun layak untuk ditempati.
Demi menyembuhkan luka hati dan beberapa trauma yang dialaminya, Hanum dan putranya yang masih berusia 3 tahun memilih pindah dan menjauh sejenak dari hiruk-pikuk kota. Meninggalkan kenangan buruk yang menyakitkan bersama dengan masa lalunya. Kini, ia sudah mulai menata kembali hatinya dan membuka lembaran baru bersama putranya. Mereka akan memulai kisah baru dan membuat cerita baru dalam lembaran kehidupan di kampung ini. Hampir 10 menit ia berdiri sambil memandang keluar jendela, kemudian kembali ke kamar karena mendengar ponselnya berdering.
“Assalamualaikum Mi..” Sapanya sambil berjalan kembali ke tempat duduk yang menghadap ke arah jendela. Seseorang di seberang sana pun menjawab, dalam beberapa waktu mereka tenggelam dengan obrolan yang cukup panjang pagi itu. Hanum dihubungi maminya yang tinggal di Jakarta. Maminya menelepon sekadar menanyakan kabar putrinya itu dan juga cucu satu-satunya. Setelah hampir setengah jam mengobrol, Hanum kembali ke kamar. Ia membangunkan putranya yang masih tertidur pulas.
Meskipun ia sangat menyayangi putranya, Hanum selalu membiasakan putranya bangun pagi. Hal dilakukan agar sang anak terbiasa dan tidak menjadi anak pemalas karena dimanjakan. Seperti biasa, setiap pagi setelah membersihkan rumah dan memasak Hanum sudah berkutat dengan pekerjaannya. Sementara putranya, ditemani oleh seorang pengasuh yang sudah mengikutinya sejak Azzam lahir. Sejak sebelum menikah, Hanum sudah menjadi wanita mandiri. Ia memulai belajar berbisnis, awalnya ia memilih untuk menjual pakaian muslim yang ia desain sendiri. Berkat usaha itu, Hanum bisa membuka usaha lainnya. Seiring berjalannya waktu, bisnisnya semakin berkembang. Hanum pun memilih untuk menabung dan sebagian harta miliknya selalu ia donasikan ke beberapa panti asuhan.
Setelah berusia 22 tahun, Hanum dinikahi oleh seorang pemuda yang dua tahun lebih muda darinya. Mereka menikah melalui proses ta’aruf. Setelah menikah hubungan keduanya sangat baik, meskipun menikah melalui proses ta’aruf mereka terlihat serasi dan menjadi pasangan yang menginspirasi orang-orang yang menikah muda. Dua tahun setelah menikah, Hanum dan suaminya dikaruniai seorang putra yang tampan dan lucu. Kehidupan pernikahan keduanya sudah lengkap dengan kehadiran seorang anak. Namun, seiring berjalannya waktu sikap sang suami mulai terlihat berbeda. Hanum yang sebelumnya berpikir bahwa kehidupan pernikahannya akan terasa lengkap dan bahagia dengan kehadiran seorang putra, ternyata berbanding terbalik. Suaminya semakin berubah, perubahan itu terlihat mulai dari ketidakpedulian, mulai bersikap cuek, tidak memiliki waktu bersamanya dan juga putranya, lebih sering bersama teman-temannya dan mengerjakan hal-hal yang tidak bermanfaat, bahkan di hari liburnya ia selalu di depan komputer dan tenggelam bersama game di dalamnya.
Hanum yang mulai menyadari perubahan sikap suaminya pun berusaha untuk terlihat sabar, awalnya ia diam karena ia pikir suaminya hanya sedang ada masalah dan butuh pelarian. Namun, semakin ia diam semakin suaminya melakukan hal-hal yang sangat membuatnya tak tahan. Hingga pada suatu hari, Hanum memberanikan diri untuk mengungkapkan kekesalan yang dipendamnya. Ia berusaha mengajak suaminya untuk berbicara dari hati ke hati, berusaha bertanya apakah semuanya baik-baik saja. Ia pikir dengan begitu suaminya akan mau bercerita, akan tetapi respon suaminya berlebihan. Ia malah terlihat emosi, sampai membentak Hanum. Perkelahian pun terjadi dengan adu mulut, namun lagi-lagi Hanum harus mengalah demi kebaikan bersama.
Beberapa minggu berlalu setelah kejadian itu, Hanum menjalani hari-harinya dengan berat. Ia harus mengurus rumah tangga, mengurus anak, dan juga bisnisnya dalam waktu bersamaan. Terkadang ia merasa lelah, namun karena kehadiran sang buah hati mampu merubah lelahnya menjadi senyum karena rasa syukur. Hubungan dengan suaminya pun seakan merenggang. Hanum berusaha untuk terlihat baik-baik saja setelah masalah itu, ia berusaha untuk menerima dan menjalaninya dengan ikhlas. Namun berbeda dengannya, suaminya malah semakin membangun tembok pemisah diantara mereka berdua. Ia bahkan terlihat tidak perduli dengan putranya, dan lebih memilih berlama-lama menatap layar ponselnya sambil senyum-senyum. Dengan sikap suaminya, Hanum mulai membiarkannya saja. Ia merasa akan sangat percuma jika dibahas bersama, ujung-ujungnya akan berakhir dengan suaminya yang membentaknya, emosi dan meninggalkan rumah. Selain sang pengasuh, tak ada yang tahu dengan permasalahan yang terjadi antara keduanya. Baik keluarga Hanum maupun keluarga sang suami, Hanum selalu memperlihatkan sikap biasa saja ketika bertemu keluarga.
Tiga tahun berlalu begitu cepat, kini putranya sudah hampir memasuki usia ke 3 tahun. Hanum masih sangat sabar menjalani pernikahan dan menghadapi sikap suaminya. Suaminya memang masih rutin memberikan nafkah materi kepadanya dan juga putranya, namun tidak dengan nafkah batin. Sudah sejak 3 tahun, suaminya tidak pernah memberinya nafkah batin. Terkadang Hanum selalu berinisiatif, namun suaminya lagi-lagi menolaknya. Selalu seperti itu, hingga akhirnya Hanum sudah benar-benar menyerah. Ia tidak lagi menuntut banyak kepada sang suami, akan tetapi ia masih menjalani kewajibannya sebagai seorang istri yang melayani segala kebutuhan suaminya, kecuali kebutuhan batiniah karena sang suami yang tak pernah lagi menginginkannya. Awalnya Hanum tidak berpikir berlebihan dengan sikap sang suami yang selalu menolaknya, namun suatu ketika ia mengetahui sebuah kebenaran yang membuatnya begitu terluka. Ia mengetahui kebenaran bahwa sudah sejak 3 tahun suaminya menghianatinya, menghianati pernikahan mereka, dan janji yang pria itu lontarkan di hadapan semua saksi ketika itu. Sang suami telah mengotori pernikahan suci yang selama ini ia coba pertahankan.
Siang itu, Hanum ada meeting bersama beberapa klien yang bekerja sama dengannya. Meeting itu berlangsung di sebuah restoran hotel mewah. Hanum yang mengetahui bahwa suaminya sedang berada di kantor, tak menyangka tengah berada di sebuah hotel yang sama dengannya. Ia melihat suaminya berjalan bersama seorang perempuan yang memakai dres selutut dengan rambut yang digerai. Pada saat itu, hati kecil Hanum terpanggil untuk mengikuti dua orang itu. Dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan, ia berjalan di belakang dua orang yang tengah mengobrol sambil tertawa kecil. Hanum mengikuti kedua orang itu hingga sampai ke sebuah kamar dengan nomor yang terpampang jelas, kedua orang itu masuk sambil bergandengan mesra. Disaat bersamaan, Hanum hampir saja jatuh. Hatinya sangat sakit, dadanya terasa sesak, kepalanya pusing, dan tubuhnya yang gemetar karena menahan amarah yang susah payah ia tahan. Jika tak ada tembok di sampingnya, mungkin saja ia sudah jatuh karena tak kuat menopang tubuhnya.
Setelah mengetahui kenyataan yang begitu mengiris hatinya, Hanum memilih pulang. Ia mengurung diri di kamar, membiarkan putranya bersama sang pengasuh. Saat ini, ia hanya ingin menangis sejadi-jadinya dan menumpahkan segalanya. Ia menyalahkan dirinya yang sudah gagal mempertahankan pernikahannya, merutuki kebodohannya. Setelah beberapa jam menangis, Hanum menunaikan salat ashar. Saat itu, tangisnya kembali pecah. Hanum bingung apa yang harus ia lakukan, ia selalu berusaha mempertahankan pernikahannya agar tak terjadi perpisahan namun di sisi lain ia tidak bisa menerima penghianatan yang dilakukan suaminya terhadap pernikahan mereka. Ia bahkan mengingat bahwa, sang anak masih sangat membutuhkan sosok ayah. Hanum benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, ia juga bingung bagaimana cara menjelaskan kepada seluruh keluarga.
Seminggu berlalu setelah ia mengetahui kenyataan pahit itu, Hanum sudah memutuskan semuanya. Malam itu, ia masih menunggu sang suami pulang kerja. Setelah suaminya sampai, Hanum mulai mengajaknya berbicara. Sebelumnya ia masih membuatkan kopi untuk sang suami, dan menyiapkan baju ganti.
“Mas, apa kita boleh bicara sebentar?” Ujar Hanum memulai percakapan, dan hanya dibalas anggukan oleh sang suami. Hanum diam untuk beberapa saat, sebelum kembali berbicara.
“Mas, selama 3 tahun ini aku melihat sikapmu berubah. Sebelumnya kita memang pernah membahas ini, namun selalu berakhir dengan pertenngkaran. Sekarang aku ingin kita membahasnya lagi, namun sebelumnya aku minta tolong dengarkan aku untuk terakhir kalinya. Kali ini saja dengarkan aku, aku ingin semuanya jelas..”
“Maksud kamu apa? Kamu ingin memulai pertengkaran lagi?” Potong sang suami
“Tidak. Aku tidak ingin bertengkar denganmu lagi. Aku sudah sangat lelah mas, aku lelah dengan sikap kamu. Dan saat ini, aku hanya ingin semuanya diselesaikan. Aku akan langsung ke intinya, karena aku tahu kau capek bekerja” Jelasnya.
Suaminya pun mulai merasa ada yang berbeda dari sang istri, ia melihat keputusasaan dan sikap dingin Hanum.
“Seminggu yang lalu aku sudah mengetahui semuanya, kebenaran yang selama ini kau tutupi Mas… Aku sudah tahu alasan dari perubahan sikapmu selama ini. Sekarang aku hanya ingin bertanya apakah kamu mau menjelaskan semuanya dengan jujur? Setelah itu, aku akan membebaskanmu dari pernikahan yang tak lagi sehangat dulu..Sekarang kau boleh bicara” Ucapnya sedikit bergetar, ia bersusah payah untuk tidak menangis saat ini.
Sang suami pun tampak terkejut, ia tak menyangka bahwa sang istri sudah mengetahuinya. Ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya, namun lagi-lagi egonya sangat tinggi untuk mengakui hal itu. Kemudian ia pun tampak santai menjelaskan semuanya, bahkan ia dengan senang hati menerima jika Hanum ingin berpisah darinya.
“Aku sudah menjelaskan semuanya, lagi pula kau sudah tahu kebenarannya. Jika sudah begini, aku akan menceraikanmu. Soal biaya anak, jangan khawatir. Aku akan tetap membiayainya..” Ucap sang suami dengan santainya, ia bahkan terlihat begitu santai mengucapkan setiap kata yang keluar dari bibirnya.
Hanum sudah menebak sebelumnya soal respon suaminya, dan benar saja. Suaminya bahkan terlihat cuek tanpa dosa. Dengan santainya sang suami mengatakan akan menceraikan dirinya. Saat itu, Hanum benar-benar merasa sesak, hatinya begitu perih. Selama 3 tahun terakhir, luka yang bersemayam di hatinya semakin menganga akibat ulah suaminya. Ia bahkan tak percaya suaminya dengan entengnya berkata akan membiayai putra mereka, apakah ia pikir hanya dengan materi sang anak akan merasa bahagia? Sungguh keterlaluan, pria ini benar-benar tak punya hati. Bahkan untuk putranya, ia tak pernah memberikan kasih sayang sedikitpun. Hanum mencoba sekuat tenaga untuk tidak meneteskan air mata, meskipun sekarang air mata itu sudah siap untuk tumpah.
“Baiklah. Semuanya sudah jelas bagiku, istirahatlah”.
Setelah itu, Hanum pun keluar menuju kamar anaknya. Ia melihat sang anak sudah tertidur, ditemani sang pengasuh yang juga ikut berbaring.
“Sus, istirahatlah! Biar saya yang menjaganya”. Ucap hanum mencoba untuk tersenyum agar terlihat baik-baik saja.
Sang suster itu pun mengangguk patuh, ia meninggalkan Hanum di kamar itu. Sepeninggalan sang pengasuh, air mata yang sejak tadi ditahannya, lolos begitu saja. Ia menangis sambil menatap sang putra, bersusah payah menahan suaranya agar tidak membangunkan anaknya. Sejak seminggu ini, banyak hal yang berputar-putar di kepalanya. Banyak pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya. Bagaimana nanti ia menjelaskan kepada seluruh keluarga? Apa yang harus ia katakana kepada sang anak? Bagaimana nanti ia menjalani hari-harinya dengan keadaan hati yang terluka? Apakah ia mampu berperan menjadi ibu sekaligus ayah untuk putranya?. Pertanyaan-pertaanyan itu, selalu membuatnya pusing hingga sakit kepala.
Beberapa hari berlalu begitu cepat, hubungan Hanum dan sang suami sudah semakin dingin. Mereka sudah jarang sekali mengobrol dan makan bersama, bahkan sejak malam itu Hanum memutuskan untuk pisah kamar dengan suaminya. Ia memilih untuk tidur bersama sang anak hingga saat ini. Sang pengasuh sudah mulai curiga dengan sikap keduanya, namun ia memilih diam. Hingga suatu malam, Hanum bertanya kepada sang pengasuh.
“Sus, jika sesuatu terjadi dengan keluarga saya..apakah suster akan tetap bersedia menjadi pengasuh anak saya dan bersedia ikut dengan saya?” tanya Hanum
“Iya mbak, saya akan tetap ikut mbak Hanum.” Jawabnya sudah menebak apa yang telah terjadi
“Sus, saya yakin suster pasti sudah tahu yang terjadi dalam keluarga saya. Saya sangat berterima kasih karena suster tetap merahasiakan ini dari keluarga. Tapi sus, saya bingung apa yang harus saya jelaskan kepada seluruh keluarga?” ujarnya panjang lebar, Hanum dan sang pengasuh memang terlihat dekat. Bahkan, beberapa kali Hanum sering curhat dengan gadis yang hanya berbeda 3 tahun darinya.
“Mbak Hanum jujur saja, toh ini bukan kesalahan mbak..” Jawabnya polos
“Saya juga maunya begitu Sus, tapi takutnya keluarganya akan sulit menerima kenyataan bahwa anaknya telah mengkhianati saya” ujarnya.
Sebulan berlalu, kabar keretakan rumah tangga Hanum bersama sang suami pun mulai tercium oleh keluarga besar. Hingga keluarga besar mereka mengadakan pertemuan keluarga, seluruh keluarga hadir termasuk Hanum dan sang suami. Kini mereka tengah berbincang tentang masalah yang terjadi antara Hanum dan sang suami.
“Apa yang terjadi anatara kalian berdua?” Tanya seorang pria paruh baya, pria itu tak lain adalah ayah dari Hanum Wulandari.
“Nak, jelaskan pada kami apa yang terjadi antara kau dan suamimu?” Tanya pria paruh baya yang tak lain adalah mertuanya.
Hanum bersusah payah untuk terlihat kuat, ia tak ingin terlihat sebagai wanita lemah di hadapan keluarga, terutama kepada sang suami yang sudah dengan tega menorehkan luka di hatinya. Namun sekeras apapun usahanya untuk menyembunyikan rasa sakitnya, hati dan matanya tak bisa berbohong. Ia tidak bisa lagi bersembunyi dibalik wajah yang selalu tersenyum kala berhadapan dengan keluarga besarnya. Hanum hanya menunduk memegang dadanya yang terasa begitu sesak, air matanya jatuh tak terbendung. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, ia tak tahan lagi menanggung beban ini sendirian. Sejujurnya Hanum membenci dirinya yang seperti ini, namun ia juga tak tahu harus berbuat apa. Ia sudah berusaha untuk tak menangis, namun hatinya juga sudah tidak kuat untuk menampung semua rasa sakit yang selama berbulan-bulan ini dipendamnya sendirian. Saat ini, di hadapan seluruh keluarganya ia ingin menumpahkan segala kepiluan hatinya. Hanum yang selalu terlihat kuat di hadapan keluarganya, kini terlihat begitu rapuh.
Sang ibu yang duduk tepat di sampingnya, memeluk Hanum erat. Dielusnya kepala putrinya kemudian berkata.
“Menangislah, Nak.,,Mami disini, Mami akan selalu ada untukmu” Ucap sang ibu
Hanum pun menangis di pelukan ibunya. Seluruh keluarga yang tengah berada di ruangan itu pun terdiam dan membiarkan Hanum menangis. Mereka terlihat sedih dan tak tega melihat Hanum begitu terluka, selama ini mereka mengenal Hanum adalah wanita yang selalu tersenyum di hadapan semua orang. Mereka tak menyangka jika wanita yang selalu tersenyum itu ternyata menyimpan luka dan kesedihan yang begitu mendalam. Seluruh keluarga terlihat sedih, kecuali seorang pria yang tak lain adalah suami Hanum. Pria itu hanya duduk diam dengan wajah datar dan tanpa rasa bersalah sama sekali.
Beberapa menit kemudian Hanum pun sudah terlihat tenang. Kemudian ayahnya kembali bertanya.
“Nak, apa yang terjadi?”
“Aku atau kamu yang menjelaskan, Mas?” Tanya Hanum yang berusaha tegar.
“Aku masih ada pekerjaan. Akan lama jika kau yang menjelaskan, jadi biar aku saja.” Ucap pria itu, Hanum pun hanya mengangguk menyetujui. Sementara itu, keluarganya terlihat marah dengan sikap pria itu termasuk kedua orang tua Hanum. Mereka kecewa dengan sikap yang ditunjukkan sang menantu.
“Pernikahan ini tak bisa kami lanjutkan lagi, aku dan Hanum akan berpisah secepatnya. Aku harap kalian mengerti dengan keputusan kami” Lanjutnya. Semua orang pun tampak terkejut, kecuali Hanum.
“Berpisah? mengapa kalian ingin berpisah? Apakah ini adalah keinginan kalian berdua? Tolong..tolong jelaskan pada kami apa yang terjadi? Hanum..” Kini ibu mertua Hanum yang membuka suara.
Suasana tiba-tiba hening, semua orang ingin menunggu penjelasan Hanum. Mereka sangat terkejut dengan keputusan anak-anak mereka yang tiba-tiba ingin berpisah, padahal semua terlihat baik-baik saja. Hanum hanya diam dan berusaha untuk mengontrol emosinya agar tidak menangis lagi.
“Hanum..bisakah kau ceritakan pada kami apa yang terjadi, Nak?” Tanya sang ibu.
Dengan suara bergetar, Hanum mulai menjelaskan semuanya.
“Mami, papi..Ayah, bunda..sebelumnya Hanum minta maaf. Hanum minta maaf karena tidak bisa mempertahankan pernikahan ini, Hanum minta maaf karena sudah menjadi anak dan juga menantu yang gagal. Sejujurnya Hanum sudah berusaha agar pernikahan ini tetap dipertahankan, tapi Hanum sudah nggak kuat...” Hanum terdiam sejenak untuk menata hatinya, mencoba menghapus air mata yang lolos begitu saja. Kemudian ia melanjutkan lagi
“Bertahun-tahun Hanum memendam semua ini, bahkan sejak lahiran sampai sekarang Hanum merawat Azzam seorang diri. Dia tidak pernah punya waktu untuk sekadar menjaga Azzam. Soal masalah ini masih bisa dimaafkan tapi pengkhianatan, Hanum tidak bisa menerimanya. Hanum benar-benar nggak tahan lagi.. Sudah ada wanita lain dalam pernikahan kami, jadi buat apalagi pernikahan ini diteruskan? Pengkhianatan itu, sudah cukup membuat hati Hanum hancur…”
Kini, air matanya kembali jatuh. Semakin ia menjelaskan, semakin semuanya terasa sesak. Seluruh tubuhnya lagi-lagi bergetar karena menangis sesenggukan, Hanum benar-benar tak tahan lagi dan kembali menumpahkan semuanya.
Hanum telah menjelaskan semua permasalahannya, semuanya seluruh keluarga hanya terdiam. Mereka tak bisa berkata apa-apa lagi. Sementara itu, sang suami hanya terlihat begitu santai dan tenang, ia bahkan tak menyela penjelasan Hanum sedikitpun. Semuanya sudah jelas, seluruh keluarga pun sudah tahu dan menyerahkan keputusan kepada Hanum dan sang suami. Keduanya pun setuju untuk berpisah. Sejujurnya, seluruh keluarga menyayangkan keputusan keduanya. Namun, mereka tak bisa berbuat banyak selain mendukung keputusan anak-anak mereka.
Tidak menunggu lama, proses perceraian pun sudah selesai. Semuanya sudah selesai termasuk persoalan harta gono gini, hak asuh anak, dan biaya atau nafkah untuk anak. Saat itu juga, Hanum sudah memutuskan kemana ia akan pergi. Kedua orang tuanya menyuruhnya untuk tinggal bersama mereka namun ia menolaknya, begitupun dengan keluarga mantan suaminya. Mereka memberikan Hanum sebuah rumah di kawasan perkotaan, namun Hanum lagi-lagi menolaknya. Ia memilih menjalani hidupnya, ia akan menjalani takdir yang sudah Allah tentukan untuknya. Hanum memutuskan untuk membeli sebuah rumah sederhana yang terletak di tengah perkampungan dan berada jauh dari hiruk-pikuk kota. Saat seperti ini, ia membutuhkan ketenangan. Ia akan tinggal beberapa saat di kampung ini, ia akan menunggu saat dimana ia bisa menata kembali hatinya, menyembuhkan luka dan juga traumanya. Untuk pendidikan anak, ia akan tetap mengusahakan yang terbaik. Ia akan tetap menyekolahkan sang putra di kota meskipun harus menempuh waktu beberapa jam untuk sampai di sana.
Kini, sudah dua minggu berlalu semenjak ia pindah. Meskipun berat, Hanum berusaha keras untuk menyibukkan dirinya agar tidak teringat masa lalunya. Ia harus bekerja keras untuk menghidupi putranya dan membiayai kehidupannya. Meskipun, pria itu memberikan nafkah untuk sang anak namun itu hanya cukup untuk biaya pengobatan sang anak. Perceraian itu berimbas terhadap tumbuh kembang sang anak, sehingga Hanum harus membawa sang anak ke dokter untuk terapi, dll. Oleh karena itu, Hanum harus berjuang sendiri demi membiayai yang lainnya termasuk pendidikan, menggaji sang pengasuh dan beberapa karyawan yang ikut membantunya mengelola usahanya, serta biaya kebutuhan lainnya.
***
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun pun berganti tahun. Azzam sudah tumbuh menjadi anak yang tampan dan cerdas. Ia sering menanyakan hal-hal yang seringkali membuat Hanum menangis. Ketika itu, Azzam sudah mulai bersekolah di TK. Setiap pulang sekolah, ia selalu mencari Hanum dan mengajukan beberapa pertanyaan.
“Mama..Di sekolah, bu Guru selalu bertanya tentang Ayah. Tapi Azzam diam, karena Azzam tidak tahu siapa ayah Azzam. Mama..apakah Azzam punya ayah? Siapa dia? dimana ayah Azzam?..” Tanya anak itu dengan mata bulat yang terus menatap Hanum. Anak itu menatap ibunya penuh harap, ia menantikan jawaban dari pertanyaan-pertanyannya.
Hanum memalingkan wajahnya, berusaha untuk menyembunyikan air mata yang sudah lolos begitu saja. Hatinya begitu sakit mendengar pertanyaan anaknya. Hanum mencoba untuk menghapus air matanya, setelah itu ia menatap putranya sambil tersenyum.
“Nak, jika mereka bertanya. Maka katakan bahwa Azzam punya ayah..”
“Lalu dimana ayah? Mengapa ayah tidak tinggal bersama kita disini?” Tanya anak itu, dan lagi-lagi..pertanyaan itu cukup mengiris hati Hanum. Ia hanya bisa tersenyum kecut, lalu kembali berkata.
“Ayah sedang bekerja di luar kota, Nak..” Jawab Hanum
Setelah mendapatkan jawaban dari sang ibu, anak itu terlihat puas. Ia tersenyum, kemudian mencium kedua pipi ibunya sambil berbisik.
“Azzam Love Mama” bisiknya, kemudian berlari meninggalkan Hanum yang kembali meneteskan air matanya.
Kini ia benar-benar menangis, hatinya begitu sakit. Ia merasa sedih karena tidak bisa menjelaskan semuanya kepada sang anak, Hanum menangis sesenggukan di kamarnya. Tanpa sadar, Azzam tengah mengintip di balik pintu yang tidak tertutup sempurna. Anak itu melihat ibunya menangis, seketika raut wajahnya terlihat begitu sedih. Hingga suatu hari, ia mendengar Hanum tengah berbincang dengan pengasuhnya. Sambil menangis, Hanum kembali bercerita soal Azzam yang menanyakan ayahnya. Anak itu mengetahui sebuah fakta bahwa, sang ayah adalah penyebab ibunya selalu menangis setiap malam. Selama ini, ia berpikir ibunya menangis karena ia adalah anak yang nakal, ternyata ia salah. Ibunya menangis karena pria yang selalu ia tanyakan keberadaannya.
Sejak saat itu, Azzam tak pernah lagi bertanya soal ayahnya kepada Hanum, ia bahkan mengatakan kepada hanum bahwa ia tidak akan bertanya lagi soal sang ayah. Ia hanya ingin tinggal bersama dengan ibunya dan juga sang suster yang selama ini merawatnya, hanya mereka bertiga. Meski di usianya yang masih kecil, ia sudah bisa berpikir layaknya orang dewasa.
Setelah beberapa tahun, kini Hanum berhasil menata kembali hatinya yang dulu porak-poranda akibat ulah pria itu, kini ia terlihat lebih bahagia bersama sang putra yang kini sudah duduk di bangku SD. Beberapa bisnisnya pun semakin berkembang, Hanum adalah wanita yang sukses menjalani kedua perannya. Ia sukses menjadi seorang ibu dan juga ayah untuk putranya. Hanum tidak lagi menetap di rumahnya yang berada di tengah perkebunan teh, kini ia tinggal dan menjalani hidupnya di Jakarta.
“Hanum, mengapa kau tidak mencarikan Azzam seorang ayah saja? Mami yakin dia sangat membutuhkan sosok ayah, nak..” ucap wanita yang tak lain adalah ibunya. Namun Hanum menanggapinya dengan santai.
“Mi, Azzam tidak butuh sosok ayah. Dia sudah bahagia memiliki Hanum di sampingnya, lagi pula Hanum bisa menjadi sosok ayah untuknya bukan?”
“Itu menurutmu nak, tapi kita tidak tahu apa sebenarnya yang diiginkan anak itu”
“Mami, Hanum tidak bisa. Hanum sudah bahagia bersama Azzam, Hanum tidak butuh sosok suami atau pun ayah untuk Azzam. Sejak saat itu, Hanum tidak lagi mempercayai laki-laki Mi..”
Sang ibu pun terdiam mendengar ucapan Hanum, ia bisa mengerti perasaan putrinya itu. ia pun tahu bagaimana usaha putrinya untuk bangkit seperti sekarang, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun ia lalui dengan air mata. Akhirnya ia pun tidak lagi membahas dan memaksa putrinya menikah lagi, yang terpenting baginya adalah cucu dan putrinya bahagia.
Sore itu, Hanum sudah bersiap untuk keluar. Ia akan jalan-jalan ke pusat perbelanjaan bersama dengan sang putra. Baru saja ia keluar rumah, ada seorang pria yang datang dan menghampirinya. Tanpa berkata sepatah kata pun orang itu memberikan sebuah amplop putih, kemudian langsung pergi begitu saja.
Dengan cepat Hanum mencegatnya dengan bertanya “Maaf, apa ini untuk saya?”. Pria itu pun mengangguk kemudian berbalik lalu pergi. “Boleh saya tahu ini dari siapa?” Tanya Hanum lagi, dan lagi-lagi pria itu berhenti lalu berbalik melihat Hanum kemudian menggeleng dan memberikan bahasa isyarat.
“Maaf, maksudmu kau tidak bisa berbicara?” Tanya Hanum sopan, pria itu pun mengangguk dan langsung pergi meninggalkan Hanum yang masih berdiri bingung.
“Ma, ayo jalan”. Teriak Azzam
Teriakan sang anak membuatnya sadar, Hanum pun bergegas ke mobil. Ia memasukkan amplop itu ke dalam tasnya, dan berniat akan membacanya ketika ia tidak di depan sang anak. Hanya menempuh beberapa menit, kini mereka telah sampai di sebuah mall di kota itu. Azzam langsung ditemani sang suster sedang melihat-lihat beberapa mainan, sementara itu Hanum ke Toilet. Setelah hampir dua jam menghabiskan waktu di mall, mereka pun pulang ke rumah. Di luar sedang hujan, jadi Hanum menyetir mobil dengan hati-hati. Putranya sudah tertidur pulas, sementara sang suster menemani Hanum. Sesekali mereka mengobrol untuk mencairkan suasana yang hening.
Malam hari pun tiba, Hanum sudah berada di kamarnya. Setelah memastikan sang anak tidur, baru ia masuk kemar. Begitupun dengan sang pengasuh, Hanum menyuruhnya untuk istirahat. Baru saja Hanum ingin berbaring, ia kembali teringat dengan surat itu. Diambilnya surat itu dari tasnya, kemudian membacanya. Setelah membaca isi surat itu, raut wajahnya berubah. Luka batin yang kini sudah mulai kering, kini kembali berdarah. Surat itu kembali membawanya mengingat masa lalunya, masa lalu yang membuatnya begitu terluka, membuatnya trauma hingga saat ini, menyebabkan putra semata wayangnya ikut merasakan dampaknya, dan yang juga membuat hidupnya hancur. Surat itu adalah surat cinta dari masa lalunya, surat dari pria yang tak lain adalah ayah dari anaknya, pria yang telah mengkhianati pernikahan mereka, dan pria yang memberinya luka yang sangat dalam. Setelah semua yang dia lakukan terhadap Hanum dan juga putranya, kini dengan seenaknya ia kembali dengan surat cinta yang memuakkan.
Untuk Hanum Wulandari...
Wanita yang luar biasa. Ibu dari putraku Azzam, Hanum aku baru menyadari bahwa selama ini aku tidak bisa apa-apa tanpa kau dan Azzam. Aku tidak bisa hidup tanpa kalian. Dulu aku sudah sangat bersalah kepadamu dan putraku, aku menyesal telah menyia-nyiakan kalian. Setiap malam aku selalu merasa kesepian, kupikir setelah bercerai denganmu aku akan hidup jauh lebih bahagia. Namun ternyata aku salah, hidupku kacau. Perusahaan bangkrut, dan aku ditinggalkan oleh wanita sialan itu. Kemudian aku sadar, ternyata hanya kaulah wanita yang bisa menerimaku. Hanum maukah kau rujuk denganku? Menerimaku kembali menjadi suamimu, kita akan memulai kembali hidup kita. Lagi pula Azzam butuh aku bukan? Jadi bisakah kau pertimbangkan lagi soal keluarga kita?
Priamu/Suamimu.
Begitulah isi surat dari pria itu, dalam isi suratnya ia memohon untuk kembali bersama dengan Hanum. Katanya ia menyesal, namun isi suratnya tidak menggambarkan sebuah penyesalan sama sekali. Pria itu bahkan, tidak meminta maaf. Surat itu tak membuat hati Hanum luluh, hatinya sudah terlanjur menjadi es yang sulit untuk dicairkan. Ia bahkan tak tersentuh sama sekali pada saat membaca kata demi kata di dalamnya. Hanum merobek surat itu, baginya semuanya telah selesai setelah ia mengetahui kebenaran yang begitu membuatnya hancur. Kini, di kehidupan ini Hanum hanya ingin menjalani hidupnya bersama dengan putranya. Ia sudah berjalan mengikuti takdir yang sudah Allah tentukan. Hanum bahagia.
~~SELESAI~~
NB:
Selamat Menikmati Ya Readers...Semoga kalian suka dengan cerita ini...☺️