JANGAN DIBACA APABILA DITAKUTKAN MENYEBABKAN TRAUMA DAN GANGGUAN PERNAPASAN!⚒️
🦯🦯🦯
Oke! Part 1🏜️
Di suatu hari yang terik ... Terlihat seorang pemuda lunglai di bantai oleh matahari. Gurun kering tak berujung menambah dosa karna caci maki yang keluar dari mulut Mas Koto.
Dengan peluh dan liur yang mengering, Mas Koto dengan wajah miris terus melangkah menuju tujuan yang tidak jelas.
"Sungguh ... Hidup yang penuh derita ...," ucap Mad Koto dengan suara serak ala Roma Ilusi.
Tak ingin menyerah, Mas Koto terus melangkah ... Melupakanmu ... Belah hati perhatikan sikapmu ...(ini bukan lagu Peterpan)
Ralat!
Tak ingin menyerah, Mas Koto terus berjalan dengan angin yang tak henti menyibak rambut hitam panjangnya. Baju ala Gintama (yang tau aja) membuatnya persis seperti para samurai jadul (jaman dulu).
Namun, Mas Koto sudah diambang kepunahan. Disaat dia sudah ingin menyerah karna dahaga dan lapar yang menjajah tubuh, jauh di sana terlihat kilau yang bersinar.
"A ... A ... Apakah ... itu ... akhirat?!" Maksud Mas Koto, Air.
Secercah harapan mulai merayapi naluri Mas Koto. Mas Koto berjalan dengan kaki yang lemas menuju cahaya berkilau itu.
"Argh ...!" Mas Koto terjatuh ke pasir.
Mungkin, kaki Mas Koto sudah tidak dapat menopang tubuh kurus itu.
Dengan tangan yang lemah dan gemetar, Mas Koto mengambil samurai di pinggangnya. Dengan bantuan itu, Mas Koto mulai berjalan lagi.
"Ohhh ... hidup ...," ujar Mas Koto dengan nafas sekarat.
Ujung sana terus , bersinar kau bagai cahaya ... Yang selalu beri ku penerangan (bukan lagu Haddad Alwi).
Fokus!
Subjek itu sudah mulai terlihat jelas. Begitu terkejutnya Mas Koto, saat melihat cahaya berkilau itu. Dia tersenyum seperti setan.
"Bang**t! #/$+@)$+!!!!"
Maaf di sensor karna dapat menambah dosa. Begitulah seterusnya, mulut Mas Koto seperti makan cabe kemudian minum air mendidih. Begitu menyengat dan sesat.
Apa daya Mas Koto yang memimpikan seteguk air yang bening dan sejuk, tapi di permainkan oleh beling dari kaca yang pecah.
🌌
Hari menjelang malam, Mas Koto yang lunglai dan bau daki, merebahkan tubuh kurusnya di atas batu yang sesat di gurun.
Wajah sedih dan penuh derita begitu terlihat dari Mas Koto.
"Andaikan saja ... ada seorang bujangan yang membantuku ... Pasti aku akan ... Akan ... Aka ... Argh!"
Akhirnya, Mas Koto pun menutup mata. Bukan Mati, tapi pingsan.
Dari kejauhan dan sinar bulan, terlihat sebuah objek bergerak yang memiliki bentuk seperti manusia.
Dia terus mendekat dengan gerakan tubuh ala penari Mesir kuno. Tangan ke atas satu ke bawah satu dengan pinggul yang bergoyang kiri kanan.
"Lai ... Lai Lai Lai Lai Lai ... Panggil aku si Laila .. Wow! Ada yang mati ko!!!?!"
Ya, manusia bernama Laila itu terkejut melihat Mas Koto yang terbujur kaku.
Untuk memastikan dia bukan mayat, Neng Laila menyolek tubuh Mas Koto dengan kayu yang dibawanya.
"Oh ... Beta pikir sudah mati ko! Padahal makhluk hidup." Kata Neng Laila.
Berpikir sejenak, kemudian Neng Laila berinisiatif membawa Mas Koto bersamanya.
"Ku gotong saja lah dia!" Ucap Neng Laila.
🌄
Matahari kian terang menyinari bumi. Di balik selimut kecil berwarna kusam terlentang seorang pemuda kurus dengan wajah biasa saja.
Tiba-tiba, Mas Koto terbangun dan membuka matanya. Dengan perlahan, Mas Koto mulai mengumpulkan rohnya yang habis jalan-jalan.
"Ahh ... Di-dimana aku?" Ucap Mas Koto dengan lunglai.
Namun, disaat Mas Koto bingung dengan keadaannya, terdengar suara melengking yang kita dengar tadi malam.
"Lai Lai Lai Lai Lai Lai ... Panggil aku si jablay ... Abang jarang pulang ... Aku jarang di belay ..., EH!? Sudah hidup ko rupanya makhluk!"
Ya, itu si Laila. Ucap Neng Laila dengan wajah biasa aja.
Dan seketika itu, mata Mas Koto tertuju padanya. Binar bahagia terpancar dari mata Mas Koto. Akhirnya, dia bisa tersenyum kembali. Kini hatinya yang kosong telah terisi dengan kebahagiaan dan kerinduan yang begitu dalam akan segera terobatkan.
Neng Laila terpesona melihat senyuman menawan dari Mas Koto.
'Ahh .... Apakah ... Apakah ... Ini takdirku?' Ucap Neng Laila dalam hati yang mulai hangat.
'Ahh ... Apakah ... Apakah ... Ini jawaban dari doaku?' Ucap Mas Koto dalam hati yang kian berseri.
Apakah akhirnya, Mas Koto terlepas dari sakitnya Qalbu yang kesepian?
"Kemari lah ...!" Ujar Mas Koto dengan penuh cinta.
"Iya ...." Jawab Neng Laila dengan malu-malu.
💘
Saat Neng Laila sudah berjarak dekat dengan Mas Koto, tiba-tiba Mas Koto mengulurkan kedua tangannya kearah Neng Laila.
"Ohhh ... Betapa indahnya dirimu ... Tak sabar rasanya diri ini tuk miliki mu sepenuhnya." Ucap Mas Koto dengan wajah penuh kasih sayang dan kerinduan.
Neng Laila tak berani untuk bergerak dan menatap mata Mas Koto. Dia tersipu malu dan malu-malu.
"Ohh ... Kemari lah ... Biar ku coba betapa sejuknya dirimu ... Betapa manisnya dirimu ..."
Neng Laila semakin merah padam dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan manjah.
"Ohh ... Dikau ... Ingin segera ku telan dirimu ... Meluncur indah di tenggorokan ku."
Dan segera saja tangan Mas Koto meraih gelas berisi air yang berkilau di tangan Neng Laila yang terdiam seperti batu terbelah batu bertangkup.
"Ahh ... Akhirnya aku hidup!" Ujar Mas Koto dengan bahagia tiada tara.
🏜️
Dan akhirnya, perjalan Mas Koto dimulai kembali. Dan kini, bukan di gurun gersang, tapi ... terombang-ambing di lautan biru.
"Bangkai harus dibuang." Ucap Neng Laila meninggalkan lautan.
TAMAT😎
KISAH YANG MENGHARUKAN INI TEMAN-TEMAN, JANGAN LUPA LIKE DAN SUCRIBE😎 DAN BUNYIKAN LONCENG NOTIFIKASINYA, APABILA ADA😎BAY!