"Yun.. Ayo nanti kita akan terlambat dan bisa dimarahi sama pak Choi nanti." teriak Tias sambil berlari menuju tempat latihan atau sanggar karate
"Iya. Iya tunggu dulu kenapa kita harus terburu - buru begini sih. Hos hos." aku ngos - ngosan begitu sampai, dan sial sekali aku yang lagi - lagi kenapa kerjain oleh sahabatku itu. Dia terburu - buru bukan karna telat melainkan ingin melihat kakak senior latihan.
Ya kalo siang di sanggar ini emang jadwalnya para senior yang sudah masuk dalam tahap yang sudah keluar dan ikut turnamen. Jadi mereka terlihat sangat keren saat lagi latihan.
Namaku adalah Yuniar Agustina dan aku memiliki satu sahabat bernama Trias Putri yang dipanggil dengan nama Tias. Kami kenal saat sama - sama masuk sanggar karate, jadi akhirnya jadi sahabat.
Aku dan juga Tias selalu bertemu di persimpangan jalan untuk pergi ke sanggar bersama, karna kami berbeda sekolah. Aku sekolah di SMU harapan nusa dan Tias di SMU tunggal bangsa.
Setiap kali pulang dari latihan kami selalu bermain dulu, atau bisa dibilang latihan dengan cara kami sendiri.
Tiba - tiba suatu hari sepulang kami dari latihan ada sebuah kecelakaan dan kami ikut melihat. Dan tanpa terasa aku terjatuh kerna tanahnya lici.
"Aaaaaaarrrgg."
"Yuuuuuunn.!"
Grasak grasak
"Adu du duh sakit, ah!? Kakiku terkilir kayaknya. Sakit sekali ini, aku harus bagaiman ya ini?" aku bingung karna tak tau harus berbuat apa.
Tapi aku merasa heran karna aku tak merasakan sakit di butuhku padahal aku jatuh dari ketinggian yang bisa dibilang sangat tinggi.
"Bisakah kau bangun. Atau kau ingin terus berada di atasku?" kata seseorang dengan sangat dingin.
"Ah. Maaf aku gak tau, pantas tak terasa sakit." aku mengnyisih turun dari tubuhnya yang aku dudukin.
Aku mengamati dia, dan seperti pernah melihatnya namun lupa. Dia bangun dan membersihkan dirinya. Lalu pergi meninggalkan aku tanpa berkata apa pun.
"Haaa.!? Dia pergi begitu saja. Ya sudalah, kan banyak orang di atas, pasti mereka akan menolongku nanti, lagian juga Tias gak mungkin membiarkan aku kesusahan begini." pikirku dan aku pun tertidur.
"Cepat cari dia sampai ketemu, jangan biarkan dia lari.!"
"Aduh apa sih itu berisik - berisik?"
"Loh, ini dimana? Kok jadi aneh, dan ini rumput cepet banget tumbuhnya."
Aku amati sekitar dan emang bukan tempatku jatuh tadi, karna tadi ada pohon besar di depanku sementara sekarang hanya rumput saja. Kakiku masih belum bisa ku gerakkan.
"Kau terluka. Aku yang membawahmu kesini, maaf aku tak bisa meninggalkanmu sendirian di sana tadi." tiba - tiba ada seseorang di sebelahku yang membuatku terkejud.
"Iya, aku terjatuh dan sepertinya kakiku terkilir" jawabku dengan bingung dan terus menatapnya.
"Aku sudah tau, tak perlu kau jelaskan. Karna kau menimpahku tadi." katanya dengan nada dingin dan tak melihatku.
"Ya ampun dia emang tampan sih, tapi kok galak." batinku yang terus menatapnya sambil mengangguk - anggukkan kepala.
"Apa kakimu masih sakit? Boleh aku melihatnya." katanya yang tiba - tiba dan itu membuat aku yang menatapinya jadi malau.
Dia melihat dan memijit kakiku, dan ada rasa hangat pada bagian kaki yang dia pegang. Entah apa yang dia lakukan kakiku pun sudah mulai sedikit enkan dan gak begitu sakit.
"Apa sudah enakan, atau masih sakit?" tanyanya padaku.
"Ya ampun dia cakep bangaet ya, anak orang siapa dirimu?" kataku tanpa sadar sambil menatapnya kagum.
"Iya? Apa begitu caramu berterima kasih."
"Ah. Tidak maaf, iya terima kasih uda enakan dan gak begitu sakit lagi." jawabku dengan sangat malu karna keceplosan mengatakan dia cakep.
"Sebenarnya kenapa kau tadi terjun dari atas." katanya yang membuatku sadar akan pesonanya, dan aku mulai menceritakan kejadiannya pada dirinya.
"Bagaimana? Apa sudah ketemu. Kenapa perginya cepat sekali ya tu anak." suara orang - orang yang tadi berisik terdengar lagi.
"Dag dig dug. Oh tidak ini terlalu dekat, dan ini tidak baik untuk kesehatan jantungku. Kenapa sih dia tiba - tiba saja mendekat begini." gerutuku dalam hati sambil menutup mata rapat.
"Kau berdebar?!" katanya tempat ditelingaku dan itu membuat tubuhku bergidik.
"Apaan sih kau mnegerjainku ya.!?" teriakku sambil mendorong tubuhnya menjauah.
"Sssttt...Diamlah jangan teriak nanti mereka bisa menemukan kita." katanya padaku, yang membuat aku semakin bingung.
"Hey, apa kau sudah gila hah?! Tentu akunhatus diketahui oleh mereka biar bias dito.... hemp"
Secara tiba - tiba dia langsung 💋 ku dan dari cuma menempel berubah jadi tuntutan dan berperang li***. Karna kesal aku teris menghindar dan dia memaksa masuk menarik li***ku dan menghi****nya.
Aku yang capek berusaha mendorongnya juga mulai membiarkannya dan tanpa membalasnya. Aku membiarkannya sampai puas dan akan mengkajarnya nanti.
"Hey ada apa. Kenapa kau diam?" kata seseorang yang melihat adekan yang kami lakukan, lebih tepatnya dia lakukan padaku.
Karna takut dan malu aku pun menutup kataku. Dan mulai merasakan kalo ini orang tak hanya diam melainkan menuntut lebih dariku, dan mulai menyusup kedalam dan mengajak berperang dengan lidahku. Dan tiba - tiba saja dia menarik lidahku keluar dan meng*****nya dengan kuat.
"Kau menikmatinya?" katanya sambil menampakkan seringai di bibirnya.
"Ka - kau sudah gila ya. Kenapa kau melakukan itu padaku? Kita gak saling kenal dan aku juga gak tau siapa namamu dan lagi itu adalah first kiss ku " keluhku kesal sambil menunduk karna malu.
"Maaf aku melakukan padamu tadi untuk mengelabuhi mereka." jelasnya padaku. Dan aku sedikit kecewa, karna dia pasti tak memakai perasaan saat melakukannya.
"Sepertinya mereka sudah pergi, ayo aku antar kau pulang."
"Hah?! Bagaimana caranya?"
"Tenang saja, aku tak akan menjatuhkanmu." jawabnya yang langsung menggendongku dan melompat kesana kemari yang tiba - tiba sudah sampai di balkon rumahku.
"Eh, eh. Jangan turunkan aku di sini? Nanti orang tuaku kaget kalo melihat aku tiba - tiba saja muncul dari kamarku." jawabku, dan dia langsung menurunkanku di gang dekat rumahku.
Sejak kejadian itu aku jadi sering kepikiran tentangnya. Aku tak tau siapa dia dan juga siapa namanya. Dan setelah 1 minggu aku istirahat karna kakiku terkilir akhirnya aku bosa aktifitas lagi.
"Wah Yun senang kamu bisa ikut latihan lagi, apa kau tau Yun sudah 1 minggu ini ada kakak senior yang sangat keren dan dia hebat banget. Bla bla bla." cerita Tias padaku.
Aku hanya menanggapi dengan senyuman, karna aku tau Tias semua orang dibilang keren asal dia cakep. Dan betapa terkejudnya aku saat tau kalo itu adalah orang yang menolongku waktu itu. Tapi dia seolah tak mengenalku saat berpapasan dengan ku.
"Halo.. Masih ingat dengan ku? Aku Yang waktu it..." belum selesai aku bicara dia sudah pergi begitu saja.
"Kenapa Yun, ku lihat kamu selalu berusaha dekat dengannya. Dia emang keren ya, syukurlah akhirnya putriku bisa mengenal cowok jadi dia gak oleng." ledek Tias padaku.
Saat ku amati ternyata dia tak denganku saja cuek begitu, tapi dengan teman - temanku yang laen juga begitu. Aku pun berfikir mungkin dia emang gak suka didekati cewek karna dia baik - baik saja kalo didekati cowok.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan. Ya selama 3 bilan aku tak peduli lagi dengannya. Padahal aku mendekatinya hanya untuk bilang terima dengan benar kasih atas pertolongannya waktu itu.
"Ya sudalaha, toh dia juga sudah mengambil first kiss ku waktu itu. Jadi anggap aja kami impas." gerutuku dalam hati.
Hari itu aku pulang kemaleman, karna lesnya dimulai telat tadi. Dan suasana malam itu sangat aneh, jalanan terlihat sepi sejak ada rumor aneh yang bilang kalo ada ninja yang berusaha menculik dan membunuh orang - orang penting.
Aku melangkah pelan melewati jalanan yang lenggang, dan pada sampai persimpangan jalan jalannya mulai terlihay sepi. Karna ini emang sudah jam 10 malam.
Bruk.. Saaaatt
"Eh, apa itu tadi?" aku terkejud saat ada melihat ada bayangan hitam yang jatuhnlalu melesat hilang.
"Apa jangan - jangan, tidak itu tidak mungkin" pikirku sambil menggelengkan kepala.
Sampai tiba - tiba ada sesuatu yang menggores tanganku. Seketika aku lari karna ingat dengan ucapan orang -orang, kalo kita sampai melihat gerakan ninja itu makan kita juga akan dibunuh.
Aku tau aku tak akan bisa melawan mereka, walo aku bisa karate, karna mereka tak terlihat.
"Aaaahgr." bruk
Sraaat.!
"Aaaaarg.!" triakku karna lenganku tersayat dan darah mengucur keluar. Aku berusaha mencari phonselku untuk menghubungi keluargaku, setidaknya walo aku mati mereka masih tau kalo aku dubunuh bukan.
Bayangan hitam itu terlihat ada diatasku, aku meringkuk dan pasrah. Sampai aku merasakan kalo tubuhku melayang diudara, dan saat ku buka kataku ternyata ada seseorang yang sedang menggendongku dengan 1 tangannya.
Aku yang terkejud tak bisa memalingkan pandanganku padanya, jubah hitam, rambut pankang yang dikuncir sebagian, mata biru yang sangat indah seperti warna lautan, garis wajah yang tegas dan semua terlihat sangat rupawan, serta tubuh dan juga lengan yang sangat kuat.
"Kay, apa kau sudah gila. Kau ingin menyelamatkan dia?! Ingat dia sudah melihat kita bahkan sekarang dia sudah melihat wajah kita, dia pantas mati.!" teriak orang dari sebrang yang ada di atas atap gedung.
"Kay, jadi namanya adalah Kay." pikirku dan lama ku lihat dia mirip dengan orang yang menolongku waktu itu, hanya bedanya orang itu rambutnya pendek dan matanya coklat.
"Jika sendiri aku tak bisa melawanmu, tapi jika rame - rame apa kau bisa melawan kami?" kata orang itu memanggil teman - temannya.
"Mereka memakai baju yang sama tapi kenapa malah ingin saling melukai? Apa karna aku, dia jadi dimusuhi sama temannya semua?" pikirku dan terus menatapnya.
Dia mengeratkan pelukannya padaku, saat aku ingin melepaskan diri. Sekilas dia menatapku tanpa bicara, lalu menariku semakin erat dalam pukannyan, dan ku rasakan dia bergerak.
Tring...!
Sepontan aku pun langsung memeluknya dengan erat dan menutup mataku rapat sambil menenggelamkan wajahku diselalu lehernya. Berbagai suara gesekan benda tajam terdengar nyaring ditelingaku.
Setelah sekian lama semuanya hening, dan kakiku manapak di tanah. Tanpa bicara dia membalut luka dilenganku dengan saputangan dan menurunkanku di depan rumah sakit.
Setelah aku dirwat dan mendapat 12 jahitan, aku menelpon orang tuaku dengan telpon rumah sakit. Setelah kejadian itu aku tak berani tidur sendirian, aku selalu tidur dengan ibuku.
Setelah lukaku sembuh, aku mendalami latihanku dan aku juga mau mempertajam pendengaranku, karna aku gak mau kejadian malam itu terulang lagi.
"Yun, kamu gak apa? Belakangan ini kamu sangat giat latihan." tanya Tias yang merasa heran melihatku katanya.
"Gak papa, aku hanya ingin mahir saja." jawabku asal, karna aku gak mungkin cerita kejadian itu padanya, aku takut dia terbawah.
"Emangnya kamu mau ikut turnamen apa." ledeknya padaku.
Tok tok tok. .Tok tok
Aku yang terkejud sepontan lari ke arah pintu, tapi sekilas saat ku lihat warna mata biru, aku berhenti dan menoleh. Ternyata benar itu dia, orang yang menolongku dari para ninja itu.
Saat ku bukakan cendela kamar, aku baru tau kalo dia selalu membawah pedang yang lumayan panjang. Dia menatapku dan melangkah maju, aku pun secara sepontan melangkah mundur.
Ceklek suara cendela yang terkunci.
"Kau tak pernah ada" katanya sambil terus menatapku, dan Bruk dia jauh menimpahku.
"Hey, hey kenapa? Apa kau tidak papa?" tanyaku panik.
"Biarkan begini sebentar" katanya sambil menenggelamkan wajahnya di dadaku.
Aku merasa malu dan jantungku berdebar sangat kencang, karna ulah orang ini. Nafasnya yang menembus bajuku terasa panas, dan saat ku pegang tubuhnya ternyata dia deman. Dengan susah paya aku menindahkan dia ke tempat tidur dan mengompersnya dengan air.
"Kau tak tidur? Apa kau tak takut denganku? Aku adalah pembunuh, lebih tepatnya pembunuh bauaran. Dan aku keturunan samurai, dari leluhurku hanya aku samurai yang tersisa. Aku menyembunyikan identitasku untuk bertahan hidup." jelasnya padaku saat dia sudah sadar.
Aku tak berkata apa pun, aku hanya menatapnya. Ku lihat dia bangun dan mengeluarkan sesuatu, dia membukanya dan memasangnya lalu rambutnya yang panjang seketika jadinpendek. Aku jadi terkejud saat melihat perubahannya. Karna dia adalah kakak senior yang dingin dan juga orang yang sudah menolongku.
"Hanya kau yang tau rahasiaku, jika kau ingin menceritakan pada orang - orang tentang aku, itu tak masalah." jelasnya saat dia sudah jadi kakak senior.
"Apa alasannya." tanyaku ragu.
"Tak ada, aku hanya bertahan hidup saja." jelasnya
"Maksudku alasan membunuh" tanyaku lagi
"Karna aku ingin melindungi orang lain"jawabnya santai.
Entah keberanian dari mana yang ku miliki saat ini, aku mendekatinyan dan langsung 💋 aku tak peduli lagi siapa dia dan seperti apa hidupnya, aku hanya ingin menyampaikan kalo aku mencintainya. Ku rasakan dia memelukku dan membalas ci****ku.
Setelah itu aku mulai jadi tempatnya bersembunyi dari kejaran oarang yang ingin membunuhnya.
Bersambung....!