Aku selalu mencuri pandang pada sosok pria dingin satu ruang kerja dengan ku,, sudah hampir satu bulan aku bekerja dan tetap saja si wajah innocent mengalihkan duniaku.
Bukan tanpa sebab aku menyukai pria yang aku tahu bernama Bayu itu, tapi karena dia yang tak banyak bicara selalu membantu ketika aku kesulitan Melakukan pekerjaan, maklum aku adalah staf baru di bagian keuangan dan Bayu kebetulan senior disana.
Pada satu kesempatan..
saat itu hujan turun dengan derasnya, aku masih berteduh di loby kantor berharap butiran dari langit itu akan usai dengan segera. Hari juga sudah mulai gelap, beberapa teman sudah pulang lebih awal sementara aku ketinggalan karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
"Shanum..belum pulang??" tanya Bayu ramah, aku menengadah keasal suara pria yang diam-diam aku sukai itu.
"be.. belum kak..." sahutku gugup,, aku memang memanggil Bayu dengan sebutan kakak,, dia yang minta begitu..
Bayu melirik jam ditangannya.
"baiklah.. saya antar pulang mau?? kasihan sudah malam kalau kamu pulang sendirian" ajaknya kemudian.
Iyes!!! batinku girang kesempatan emas...
Bisa bayangkan betapa bahagianya aku bisa pulang diantar oleh pria yang selalu aku mimpikan.
Tak lama kami tiba dirumah bude ku.. kebetulan aku anak rantau yang harus mencari sesuap nasi di kota orang dan tinggal dirumah bude yang hanya berdua saja dengan mba Mayang putri satu-satunya bude.
Mba Mayang sendiri sudah bekerja dan Nyambi kuliah S1 kebetulan ia lulusan D3 dan sekarang kuliah lagi untuk gelar S1.
"terimakasih kak sudah mengantar..." ujarku kemudian, rasanya engga turun dari mobil Bayu
"iya sama-sama... " sahutnya lembut "jangan lupa besok jangan kesiangan..." lanjutnya mengingatkan ku yang selalu sampai di kantor di jam mepet.
Ya Allah aku makin suka!!!
Senyum ku terus mengembang sampai mobil yang dikendarai Bayu menjauh dari sana.
"duuhh.. senengnya kamu ya... diantar siapa tuh??" selidik mba Mayang
"ada deh.. mba.. masih rahasia sekarang..." jawabku malu-malu
"ciee..." ledek mba Mayang membuat ku makin dilanda malu.
yah aku tidak pernah dekat dengan siapapun... sungguh aku belum berani dekat dengan laki-laki.
***
Setelah hari itu.. aku dan Bayu makin dekat,, aku juga makin semangat kekantor.
Kami sering menghabiskan waktu bersama, mungkin karena aku salah satu stafnya, mulai dari makan siang bareng sampai pulang pun Bayu mengajak ku.. katanya kebetulan rumah kami searah.
Aku sihh sama sekali tidak keberatan seneng banget malah!!
Tidak sampai disitu aku mulai mencari tahu lebih dalam soal Bayu, salah-salah nanti ternyata aku suka sama laki orang!!
Huftt.. aku lega Bayu pria bebas, belum punya istri apalagi anak. Semakin gencar saja aku berusaha mendekati Bayu apalagi seperti nya pria itu menikmati dan tidak menolak kudekati.
Setiap hari aku akan siapkan dua bekal makan siang satu untukku dan satu untuk Bayu, tak jarang juga mba Mayang ikut membantu ku menyiapkan bekal.
"waahh ... aku bisa cepet kaya dong kalau di bawain bekel kayak ini terus... maaf ya kalau merepotkan." gurau Bayu saat itu sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
"ngga kok kak.. sekalian juga..." aku berkilah senengnya bukan main Bayu suka dengan bekal yang aku bawa.
Aku menyukai nya dalam diam, aku tak mampu utarakan apa yang kau rasa. Bagiku bisa dekat dengan nya seperti ini aku sudah cukup bahagia, aku tak berani berharap lebih.
Kalau memang jodoh dia akan datang padaku!
***
Sampai pada malam itu tiba-tiba mba Mayang mengajakku ngobrol santai. Biasanya mba Mayang yang ambil kuliah malam jarang mau tidur diatas jam 8 malam, karena ia kecapean,,, pagi bekerja sore lanjut kuliah lagi, tapi malam ini sempat-sempatnya mba Mayang mau ngobrol lama. Kami berdua ada di teras menikmati angin malam yang berhembus lembut.
"gimana dek kerja nya.. kamu betahkan..?" tanya mba Mayang mengawali.
"betah banget mba... makasih ya mba udah bantu shanum cari kerja..."
kebetulan aku memang bisa bekerja disana karena mba Mayang yang membantu ku, katanya ada teman disana yang bisa bantu.
-betah banget malah ada kak Bayu disana- batinku senang
"iya sama-sama..."
mba Mayang adalah sosok yang baik, lembut dan pengertian, ia juga gadis polos yang menutupi rambutnya dengan hijab. Aku kagum pada akhlak mba Mayang.
"begini dek.. hari Minggu nanti kita bakal kedatangan tamu.."
"maksudnya mba?"
Kulihat wajah mba Mayang merona merah terlihat jelas dikulit putih bersihnya.
"mba mau dilamar..." bisiknya malu-malu. Aku terkejut bukan karena tak suka tapi setahu ku mba Mayang tidak dekat dengan siapapun eehh tau-tau mau dilamar aja.
itulah rahasia jodoh.. pacaran lama belum tentu nikah.. dan tidak pacaran bukan berarti tidak bisa menikah!
"oh ya?? aku seneng banget mba... cerita dong siapa cowok beruntung itu.." selidikku tak sabaran.
"ihh kamu ini... nanti juga kamu bakal tau..." jawab mba Mayang membuat teka teki di otakku tentang siapa sosok yang dimaksud sama mba ku satu itu.
"mba jahat.. ceritanya jangan setengah-setengah dong.." todongku membuat mba Mayang kewalahan, tapi gadis itu tetap mau main teka teki!
ya sudah lah...
"iihh ngga asik ah.." rajukku menekuk wajah karena tidak dapat jawaban.
"sabar ya sayang... nanti kamu juga tahu.. ingat ya hari Minggu ini kamu ngga boleh kemana-mana"
"iya.. siap Bu komandan..." sahutku.
kami tertawa bersama dengan pertanyaan menggelayut di otakku Tentang siapa pria itu?? mungkinkah aku juga mengenalnya??!!
"kamu sendiri udah ada yang nyangkut belum.. udah beberapa bulan kerja..."
Aku terperanjat mendengar pertanyaan mba Mayang yang selisih usia 3 tahun dariku
"hmmm... ada ngga ya..."
"mau mau rahasia-rahasiaan sama mba mu??"
aku menggeleng.
"ada sihh mba.. tapi nanti ya kalau udah pasti baru deh shanum kasih tau..." ujarku malu-malu
"iya.. iya.. mba berharap kamu bisa ketemu orang yang tepat ya... "
"aamiinn" aku mengaminin dengan melafaskan sepenggal nama 'Bayu'
***
Hari Minggu yang dinanti pun tiba...
Suasana agak sedikit mendung, aku, mba Mayang dan bude sibuk di dapur mempersiapkan kudapan untuk calon besan yang mau bertandang hari ini ba'da dzhur. Setahuku ini baru lamaran jadi hanya keluarga inti saja yang datang.
Sementara bude hanya mengajak kakak tertua dari sebelah mendiang suaminya untuk mendampingi saat tamu mereka akan datang.
Tak henti kuperhatikan wajah gugup bercampur bahagia terpancar di wajah cantik mba Mayang. ah..!! aku berharap aku juga bisa bertemu dengan jodoh ku tanpa harus pacaran.
entah mengapa aku jadi membayang kan sosok kak Bayu. amiin.. amiin.. aku mengaminin diri sendiri dalam hati.
"kamu kok senyum-senyum sendiri nak.." bude menegur ku, aku jadi Malu sendiri tertangkap sedang senyum sendiri tak jelas.
" eeh.. ngga apa-apa bude..shanum cuma bahagia saja akhirnya mba Mayang laku juga..hehehhe..." candaku membuat bude yang bersedia menampung ku dirumah nya semenjak kuliah ini tersenyum bahagia.
***
Sebuah mobil bewarna hitam terparkir dihalaman rumah bude. Atas titah bude aku menengok keluar, jantung ku berdetak kencang melihat siapa yang datang.
itu mobil kak Bayu!!
setahuku kami tak ada janji mau bertemu atau apalah.. tapi untuk apa kak Bayu kesini?? begitulah pertanyaan hadir di otakku yang belum nyambung sama sekali.
Tak lama menyusul seorang wanita dan pria berusia sekitar 50 tahunan dan seorang gadis belia mungkin seusia SMU
ada apa ya?? - tanyaku dalam hati.
"ehh itu tamunya sudah datang nduk.. kok ngga disuruh masuk.. " tiba-tiba suara bude terdengar dari belakang buru-buru bude mempersilakan tamu mereka masuk. Sementara aku mirip pantung Pancoran yang disesaki dengan pertanyaan diotakku..
deg!
"Assalamualaikum..." salam mereka memasuki rumah, bude dan pak de menyambut hangat.
aku seakan tersihir, belum bisa menerima apa yang aku lihat sekarang. Pandangan ku dan Bayu bertemu, ia tersenyum manis.
nyessss!! ada desiran dingin menjalar di sekujur tubuh ku.
"shanum ayo.." bude memberikan kode agar aku menyiapkan kudapan yang tadi pagi kami buat bersama.
kuseret berat langkah ku ke belakang, lalu ku lihat mba Mayang keluar dengan mengenakan gamis bewarna pink lembut, ia makin terlihat memesona.
Lidahku keluh seketika, entahlah kenapa aku jadi lemas sendiri dengan kejadian barusan. Airmata ku mendesak keluar tapi kucoba tahan.
Di dapur aku menyibukkan diri dengan membuatkan teh, memotong bolu dan menyusun nya di nampan.
terdengar suara tawa dari depan, ada perasaan sakit menyergapku. Ternyata kak Bayu dan mba Mayang...
ahhh... keluhku dalam hati
jika memang mba Mayang dan kak Bayu punya hubungan atau mereka mau ta'aruf untuk apa di kantor kak Bayu mendekati ku.
Ya Allah... rasanya kok sakit ya...
Aku coba mengendalikan emosi ku.. kubawa nampan berisi cangkir teh dan kudapan,, tubuhku gemetar tak karuan.
"nah.. ini kenalkan adik sepupunya Mayang..." terdengar suara bude memperkenalkan ku.. aku tersenyum kecut,, lalu mencuri pandang kearah kak Bayu
"iya .. saya sudah kenal bude.. kami satu kantor.." kali ini suara kak Bayu yang kudengar.
Aku ikut duduk menyaksikan acara lamar melamar itu. Yang aku tahu nama ayah nya Bayu adalah Ridhwan ,ibunya bernama Aisyah dan adik perempuannya bernama Rara
"jadi kami bermaksud untuk melamar nak Mayang untuk putra kami Bayu,, bagaimana apa bisa diterima" ujar ayahnya Bayu
"kalau kami dengan senang hati menerima,, tapi semua kami serahkan sama dek Mayang bagaimana?" sahut pakde lanjut memandangi mba Mayang yang tertunduk malu.
"insha Allah Mayang siap pakde..."
"Alhamdulillah...." terdengar suara syukur bersama termasuk aku juga.
nyesss.... makin perih saja terasa. aku coba menahan segalanya,, harapanku pupus sudah. Bersama terdengar suara gemuru dilangit lalu hujan mulai berhamburan.
seperti nya langitpun mengerti dengan apa yang aku rasa kini.
Pria yang aku sukai ternyata tidak bisa aku miliki,. ia akan menjadi milik saudari sepupu ku.
sedih??!! sangat..
***
Untuk melupakan kejadian beberapa jam yang lalu aku menyibukkan diri dengan mencuci piring,, menyapu, bahkan mencuci pakaian. sebisanya aku menahan derai air mata yang mendesak untuk keluar.
"makasih ya dek sudah bantu-bantu..." ucap mba Mayang mendapati ku yang merebahkan diri diatas kasur.
"sama-sama mba..."
Mba Mayang tersenyum sambil menepuk nepuk pahaku. Aku segera beranjak tak terlalu peduli pada kehadiran mba Mayang di kamarku.
"kamu kenapa dek?" tanya nya heran. Aku melangkah keluar tak peduli kan tanya itu
"apa mba ada salah??" tanya nya lagi menyusul aku yang kini berdiri di teras,, hujan masih mengguyur hingga sore.
Aku tak tahan lagi.. air mataku tumpah.
"kamu kenapa??"
Ingin rasanya aku berteriak kuat-kuat. Aku ingin lontarkan semua tanya yang ada di hatiku.
kenapa mba Mayang tidak pernah berterus terang soal bayu.. ??
kenapa tidak pernah cerita kalau Bayu yang membantu ku Bekerja disana?
kenapa kak Bayu juga mendekatiku... ??
oh ya Allah cintaku salah alamat,, seandainya aku tahu aku tidak akan merajut asah tentang seorang Bayu.!!!
"mba.. kenapa mba tidak pernah cerita semua tentang kak Bayu "
Mba Mayang menghela nafas.
"mba memang sengaja tidak bercerita sama kamu.. karena mba pikir belum saatnya..."
tangis ku makin menjadi, aku merasa jiwaku kini tengah ditelanjangi oleh harapan semu. Aku sudah terbang tinggi ke angkasa lalu terhempas kuat kedasar bumi!!!
"Shanum.. jangan bilang kalau orang yang kamu ceritakan Tempo hari adalah mas Bayu " selidik mba Mayang membuat tubuhku bergetar... aku tak mungkin menghancurkan harapannya,, lagipula Bayu tidak pernah menyukai ku.. lalu apa hak ku mengganggu kebahagiaan saudara ku sendiri??
aku menggeleng kuat.
"bukan mba.. bukan..." jawabku cepat
"terus kenapa kamu begini??"
jeda sejenak.
deg!
terasa percikan air hujan menerpa wajah ku, sebisanya aku menguasai diriku sendiri. Aku memeluk tubuh sintal mba Mayang yang terbalut anggun dengan gamis.
"aku hanya takut kehilangan mba Mayang.. nanti kalau mba menikah aku sama siapa??" dustaku kemudian.
"oaallaaa.. mba kira apa,, mba sudah pikiran jelek loh tadi.. astaghfirullah.. mba suudzon,, kirain mas Bayu udah ngelakuin sesuatu yang tidak baik sama kamu..."
Aku menggeleng.. kutatap lekat mba Mayang mataku masih basah oleh air mata.
"mas Bayu orang yang baik mba... insha Allah mba ngga salah pilih..." pungkasku menahan perih, mba Mayang menghapus air mata di wajahku.
Hembusan angin menyusup hingga kejantungku, rasanya bagai ditusuk ribuan sembilu. Aku harus terima kenyataan bahwa cintaku bertepuk sebelah tangan. cintaku tidak datang disaat dan pada orang yang tepat. Tidak semua perhatian yang diberikan seseorang bisa diartikan cinta.
Ternyata cara Bayu mendekati ku semata ia menganggap ku sebagai adik, karena aku saudara sepupu mba Mayang wanita yang dia suka. Bayu juga sering bercerita pada mba Mayang soal kedekatan kami.
Memang salahku sendiri yang mengartikan perhatian seseorang sebagai bentuk rasa cinta padahal tidak semua bisa diartikan demikian.
Aku berharap mba Mayang dan Bayu bisa bahagia dan bersama sampai maut memisahkan.
Biarlah cintaku menjadi rahasia dalam hatiku.. semoga waktu akan mengobati luka hatiku. Sebisa nya aku akan mengubur semua keinginan yang membuncah dan tak seharusnya....
***
selesai...
Terimakasih sudah membaca ^_^