Jika maaf tak lagi bisa menghapus kesalahan, maka untuk apa lagi kita bertahan dititik ini, jika tindak mu hanya sekedar kepalsuan, ucapan mu hanya sebuah dusta, maka aku pergi!
Kertas itu dilipat dan ditempelkan kesebuah tangkai bunga, bunga yang amat disukai olehnya dan juga pujaan hatinya, warnanya yang merah begitu menawan, wanginya yang semerbak begitu memabukan, mencerminkan seorang wanita yang selama ini dikenalnya, sayang sepertinya ini adalah bunga terakhir yang harus diberikannya.
"Ku harap kau mengerti Mawar, jika aku tidak menginginkan kepalsuan" ungkap pria itu sambil mencium harum setangkai mawar yang berada ditangannya itu.
Dibiarkannya setangkai mawar itu tergeletak begitu saja dilantai, lantas pria tersebut memilih pergi dari rumah yang membuatnya mengingat semua kenangan manis antara dirinya dan sang kekasih itu, tempat dirinya sering kali memadu kasih dengan wanita spesialnya.
"Andai kau tak bermain api Mawar" ucap pria itu, yang tak dia ketahui adalah jika wanita yang disebut namanya sedari tadi memperhatikannya disebalik jendela ruang tamu.
"Maafkan aku Lingga" ucap wanita itu, air matanya tak lagi dapat dibendung ketika ia sadar jika kumbang yang menjaganya sudah tak lagi ada disisinya, hanya tinggal sebuah kenangan yang tak lagi bisa digapai olehnya.
Sebuah kesalahan yang tak pernah bisa ia ubah membuat pria yang dicintainya memilih pergi untuk selamanya, "Mungkin ini yang terbaik untuk kita Lingga, maafkan atas kesalahan ku ini" ucap wanita itu terisak, mau bagai manapun dia meminta maaf benar apa kata secarik kertas yang telah Lingga tuliskan jika maaf sudah tak lagi bisa menghapus kesalahannya.
Bukankah dulu Lingga pernah mengatakan jika dirinya akan pergi seandainya dia tak sanggup lagi hidup bersama dengannya, hanya dengan mengirimkan satu tangkai bunga mawar merah kesukaannya itu pertanda jika dirinya benar - benar sudah tak lagi bisa hidup bersama dengannya.
Wanita itu kini hanya bisa menangisi kesalahan yang telah diperbuatnya, ternyata selama ini dia keliru, ternyata kehilangan Lingga adalah sesuatu yang sangat berdampak baginya, dia telah salah selama ini, ternyata cinta itu sudah hadir dalam dirinya untuk Lingga hanya saja dia tak berani untuk membenarkan apa yang menjadi rasanya, dia hanya berpegang untuk membuat pria itu merasa sakit, agar dia merasa puas telah membalas semua perbuatan yang Lingga buat kepada sahabatnya.
Yang dia tidak tahu adalah semua itu bukan kesalahan Lingga melainkan salah sahabatnya sendiri, semakin sakit saja hati Mawar setelah mengetahui jika bukan Lingganya yang telah membuat sahabatnya berubah menjadi wanita tidak waras
"Sungguh Lingga maafkan aku, kau pria yang baik tapi bukan aku wanita yang baik untuk mu"ucap Mawar.
****
"Kau tahu Nia, Mawar membalaskan dendam untuk mu kepada ku" ucap Lingga kepada wanita yang sudah tidak bisa merespon apapun itu, selain sesekali histeris itu. Wanita itu hanya menatap lurus ke depan tanpa mau menatap wajah Lingga, hanya setetes air mata yang jatuh tanpa Lingga sadari, Kania masih memiliki hatinya hanya saja dia terlalu diliputi oleh masa lalu kelamnya.
Ini bukan kesalahan Lingga, jelas karna Lingga hanya berusaha untuk menolongnya saja, saat itu dirinya terguncang hebat karna ulah ayahnya sendiri, entah harus bagai mana dengan semua yang dialaminya, sisi buruk manusianya muncul begitu saja saat Lingga tengah bersama dengannya, dia menjebak pria itu, hingga Lingga harus bertanggung jawab atas apa yang tidak diperbuatnya.
Lingga hanya menuruti mau gadis itu untuk bertanggung jawab, siapa sangka keluarga Lingga tidak pernah menyetujuinya, dan malah membuat gadis itu menderita, disiksa setiap hari tanpa sepengetahuan Lingga, membuat mentalnya terguncang, apa lagi dengan posisi sedang hamil muda, membuatnya semakin terguncang.
Ahhhh Kania hanya ingin anaknya memiliki ayah apa itu salah? mungkin jawabannya tidak hanya saja caranya yang salah, kau memilih orang lain untuk mempertanggung jawabkan sesuatu yang tidak dilakukannya bukan kah itu tidak adil sedangkan si pelaku nampak tenang - tenang saja tanpa dijatuhi hukuman pertanggung jawaban.
Tak pernah Lingga memperlakukan Kania sedikitpun buruk, dimatanya Kania telah menjadi tanggung jawabnya, saat ini dirinya mengandung anaknya fikir Kalingga, walau mereka belum memiliki status apapun selain anak dalam kandungan Kania yang mengikat mereka.
Namu Lingga sudah memiliki keinginan untuk menikahi gadis itu setelah anak mereka lahir, jadi selama itu Kania harus tinggal dirumah Lingga, yang Lingga tidak tahu adalah perlakuan keluarga mereka yang tidak baik begitu mengguncang Kania, hingga Kania memutuskan untuk tinggal sendiri.
Namun Lingga menolak keras hal itu, karna dia tidak ingin anaknya yang ada didalam perut ibunya itu merasa tidak memiliki ayah jika jauh darinya.
"Maka dari itu nikahi aku jika kau tak ingin aku hidup sendiri Lingga, bisa kah kau jadi lelaki yang bertanggung jawab Lingga?" sentak Kania saat itu.
"Nia, aku akan bertanggung jawab atas dirimu, tapi nanti" ucap Lingga.
"Mengapa nanti? Apa karna aku sedang hamil maka kau tak ingin menikahi ku, ingat Lingga ini anak mu, apa kau mau dia memiliki gelar anak haram?" Tak seperti dirinya yang biasa Kania begitu tersulut emosi saat ini.
"Dengar Kania, justru karna kau hamil saat ini makanya aku tidak bisa menikahi mu, dalam hukum agama kita dilarang" ucap Lingga
"Aku tak akan lari dari tanggung jawab Nia, aku akan menikahi mu setelah masa idah mu selesai, setelah masa nifas mu selesai Nia" ucap Lingga.
"Baiklah jika begitu aku akan pergi dari sini" ucap Kania mengancam, entah mengapa dirinya takut jika Lingga tidak benar - benar dengan ucapannya.
'Aku harus memintanya menikahi ku malam ini juga' batin Kania.
"Tidak kau tidak boleh kemana - mana Kania, ingat ada bayi kita disana, aku hanya tidak ingin anak kita merasa tak memiliki ayah, walau dia terlahir atas dasar kesalahan, tapi dia tidak salah kitalah yang salah sebagai orang tuanya, aku hanya tidak ingin anak kita menjadi berbeda" ucap Lingga.
"Maka dari itu nikahi aku malam ini juga, jika tidak lebih baik aku dan anak ku pergi dari sini" ancaman yang membuat Lingga akhirnya memutuskan untuk menikahi Kania malam itu juga, dengan harapan setelah bayi itu lahir dia bisa menikah kembali setelah masa idah Kania, dengan sarat dari lingga yang mengatakan tidak ingin tidur bersama Kania sebelum masa nifas Kania selesai, itu artinya sebelum bayi itu lahir dan masa nifasnya selesai maka Lingga dan dirinya tidak akan bisa tidur bersama.
Baginya tak masalah dia hanya ingin diakui, tidur terpisah selama itu tak masalah toh selama dia tinggal disini selama 3 bulan dia sudah terpisah dari Lingga, hanya tinggal menunggu tiga bulan bayi itu akan lahir setelahnya masa nifas ya bisa dikatakan hanya kurang lebih 5 bulan lagi dirinya baru tidur bersama dengan Lingga, setelah ijab qobul kembali, apa susahnya.
Akhirnya malam itu Lingga dan Kania menikah, walau setelahnya kehidupan Kania tetap sama saja tidak ada yang berubah ibu mertua dan para saudara Lingga tak pernah memperlakukan Kania dengan baik, puncak rasa sakit Kania bertambah mana kala mereka mengadu domba antara Lingga dan dirinya membuat Lingga juga menjadi dingin kepadanya.
Hingga dirinya menginginkan tinggal terpisah dari rumah utama yang lagi - lagi kembali Lingga turuti, namun masih tetap sama mereka tidur terpisah sebelum anak itu lahir, hingga satu bulan menjelang persalinan Kania barulah Lingga sadar jika dirinya tengah dibohongi oleh sang istri.
"Kau sengaja melakukan ini?" Bentak Lingga saat itu, Kania tentu saja dia takut, tak berani berbuat apapun dia juga tak ingin membela diri, karena memang salah sampai akhirpun dirinya tetap diam.
"Anak itu bukan anak ku, tapi kau tega membuatku untuk bertanggung jawab atas apa yang tidak ku perbuat?" Tanya Lingga yang hanya mendapat keheningan saja.
"Baiklah akan ku tunjukan bagai mana cara ku untuk bertanggung jawab Kania, jangan salahkan aku jika kau mendapat perlakuan buruk dariku karna semua ini kau yang memulai" sentak Lingga.
Dan semenjak hari itu sifat dan tingkah laku Lingga tidak beda jauh dengan keluarganya, bahkan menurut Kania Lingga lebih memperlebar lubang dihatinya, ahhhh ini sungguh menyakitkan untuknya, namun dirinya harus tetap bertahan, bukan karna soal anak saja tapi soal perasaannya yang tidak bisa diubah karna sejatinya dirinya mencintai Lingga, hingga ia nekat melakukan hal seekstrim itu dalam hidupnya.
Lingga yang tak pernah menyangka akan dibohongi tentu merasa hancur, kasih sayang yang sudah diberikan untuk wanita yang sudah dianggap adalah wanitanya hanya belum bisa disentuh olehnya itu, karna bagi lingga ijab qobul mereka hanya saja dimata negara belum dimata Tuhannya.
Namu dia sudah memiliki rasa sayang terhadap keduanya, ibu beserta anak dalam kandungan Kania, tapi setelah dia mengetahui kebenarannya, semua rasa itu lenyap begitu saja digantikan dengan kebencian yang menggunung, hingga dirinya sadar jika dia tak seharusnya berbuat seperti itu.
tak ada yang mengajarkannya untuk tidak menerima kehidupan bukan, ini hanya sebuah takdir yang harus dijalaninya, Lingga mencoba kembali untuk merajut masa depan bersama dengan Kania, mencoba untuk memaafkan, tapi sayangnya wanita itu terlanjur merasakan sakit hati, hingga dirinya nekat untuk bunuh diri, entah sakit hati kepada dirinya atau kepada orang - orang disekitarnya atau malah dengan kenyataan hidupnya, membuat dirinya terguncang.
Bahkan anak dalam kandungannya harus tiada sebelum dilahirkan kedunia, sungguh itu pukulan hebat untuk Lingga, membuatnya tersiksa atas penyesalan yang tiada akhir, selang satu tahun Kania benar - benar sudah tidak bisa dikendalikan, hingga akhirnya Kalingga memutuskan untuk memasukan istrinya sendiri kerumah sakit jiwa.
Dan pada akhirnya disana pula lah Lingga menemukan seorang wanita yang menjadi pujaannya, seorang wanita yang berhasil mengisi harinya, yang tak pernah ia tahu jika wanita itu adalah sahabat baik dari istrinya itu.
Jika boleh dikata mungkin saat ini Lingga tengah berselingkuh dari sang istri, walau demikian dia selalu meminta izin kepada Kania, bahkan saat ingin menjadikan mawar sebagai pendamping hidupnya kelak, dan berjanji akan adil kepada keduanya jika Kania sembuh nanti.
****
"Hidupku bagai film Nia, aku terjebak diantara dua wanita yang sialnya sama - sama ku sayangi, satu istriku sendiri yang satu tunangan ku! Apa yang harus aku lakukan Nia?" Tanya Lingga Dengan linangan air matanya, sayang sang istri tak merespon apapun ucapan suaminya itu.
"Mungkin dia tak salah sepenuhnya Nia, karna dia tak mengetahui cerita kita sampai tuntas, tapi apa aku bisa bertahan dengan sikapnya yang seperti itu terus menerus Nia?, jawaban ku tentu tidak Nia, aku tak bisa hidup dengan orang sepertinya Nia" tutur Lingga bercerita.
"Mengapa kalian hadir dalam hidupku jika kalian hanya ingin menghancurkan hidupku Nia?" Tanya Lingga, sungguh ini begitu menyakitkan untuk Lingga, tak pernah dia tahu jika alasan Mawar selama ini berbaik hati menerimanya adalah karna ingin menghancurkan hidupnya yang sudah kacau itu.
Rasa bersalah atas diri Kania belum pulih dihatinya, hingga Mawar hadir dalam hidupnya, membuat rasa itu kian tertutup tergantikan dengan perasaan hangat, walau tidak memungkiri jika rasa bersalah itu tetap ada mungkin seumur hidupnya, Lingga tak pernah tahu jika dirinya akan kembali merasakan yang namanya cinta hanya karna sebuket bunga mawar yang Mawar kirim untuk sang istri, membuat Lingga mencari tahu siapa orang yang mengirim bunga kesukaan sang istri dan juga dirinya itu.
Hingga kisah mereka terjalin begitu saja, sampai pada akhirnya Lingga memutuskan untuk meminang Mawar, karena kedua orang tua Lingga pun setuju dengan rencana itu, Mawar menerima pinangannya betapa bahagia hatinya saat itu, walau status Mawar akan menjadi yang kedua Mawar tak pernah mempermasalahkannya dia menyayangi istri pertama lingga Lingga dengan sepenuh hatinya.
Sampai ucapan Mawar membuatnya terhantam batu besar, "Nia aku tak pernah mencintai suami mu, aku berjanji pada mu Nia, setelah aku berhasil menjadi istirnya akan ku hancurkan dia, setelah aku puas aku akan meninggalkannya sama sepertinya saat meninggalkan mu membuat mu sendiri, bersabarlah sebentar lagi kau akan merasakan kebahagian Nia, cepatlah sembuh" ucap Mawar, yang saat itu didengar Lingga disebalik pintu perawatan Kania.
"Sungguh Nia, tanpa Mawar melakukan hal ini padaku pun aku sudah merasakan sakit atas diri mu Nia, aku menyayangi mu dan anak kita, tapi aku terlambat menyadari hal itu Nia, aku terlambat Nia, maafkan aku" ucap Lingga, terisak sudah dirinya, mengingat semua yang telah terjadi padanya dan hidupnya.
Sungguh dia tak menginginkan hal ini, diulurkan ya satu tangkai mawar kepada sang istri, "Nia aku menyerah dengan semua ini, aku tak lagi bisa hidup seperti ini, maafkan aku" ungkap Lingga, Lingga terkejut karna tiba - tiba saja Kania memeluknya, dan terisak lirih dibahunya, ia berfikir jika Kania akan histeris kembali tapi nyatanya tidak.
"Lingga" sejurus kemudian Lingga mendekap erat tubuh istrinya itu, setelah tiga tahun lamanya menunggu akhirnya Lingga bisa mendengar suara indah milik istrinya kembali, namun mengapa harus seterlambat ini.
"Mengapa harus terlambat Nia, lagi - lagi terlambat Nia" keluh Lingga dengan isaknya, Kania tak mengeluarkan satu patah katapun selain tangisnya, hingga 30 menit berlalu baru lah keduanya tenang.
"Maaf Nia, aku sudah membuat mu menderita, keluarga ku pun begitu, maafkan aku Nia" ucap Lingga tulus, Kania hanya tersenyum saja, tangannya meraih satu tangkai mawar berwarna kuning itu, dan menyerahkannya kembali kepada sipemiliknya.
"Berikan dengan benar Lingga, bukan kah kau pernah bilang jika suatu saat kau sudah tak lagi bisa bersama ku kau akan memberikan mawar ini, tolong berikan dengan baik Lingga" pinta Kania, walau senyum dibibirnya tidak luntur namun air matanya terus mengalir.
Sungguh sesak yang dirasa Lingga semakin sesaka saja, Lingga tahu jika Kania adalah wanita yang sangat baik, tapi sayang takdir begitu kejam terhadapnya mempertemukan wanita sebaik itu dengan laki - laki seprtinya, hingga dirinya harus berakhir pula ditangan sahabatnya. Ahhhh kekejaman dunia ternyata sudah dirasakannya.
Lingga mengambil setangkai mawar kuning itu dari tangan sang istri, lantas memberanikan diri untuk memberikan mawar itu kepada Kania, entah mengapa dirinya menjadi ragu untuk memberikan mawar itu.
"Dengan ini aku menjatuhkan talak ku kepada mu Kania Maheswari, mulai dari sekarang kau haram untuk ku dan aku haram untuk mu!," sebulir air mata menetes dipipi Lingga.
Tetap saja rasanya sakit, walau tersenyum semanis apapun kata yang tak pernah ingin Kania dengar itu ternyata terlontar begitu merdu dari mulut sang suami yang kini berubah gelar menjadi mantan suami.
"Ku harap kau sepenuhnya sembuh Kania" ucap Lingga
"Terimakasih Lingga, ku harap kau bahagia setelah ini, lupakanlah rasa bersalah mu terhadap ku Lingga karena itu bukan salah mu, dan lupakanlah ulah Mawar, aku memang tak berhak meminta ini untuknya, karena itu masalah kalian, tapi ku harap suatu saat nanti kau akan memaafkan kelakuannya Lingga" pinta Kania yang hanya diangguki oleh Lingga
"Jika begitu aku pergi Nia" pamit Lingga.
"Suatu saat kita bertemu, ku harap kau tersenyum bahagia Lingga, bukan karena duka" pinta Kania tulus.
"Aku janji, Assalamualaikum" Lingga
"Waalaikumssalam" Kania.