“Hai, kenalkan nama aku Deni” kata mu pada saat pertama kali kita bertemu. Aku yang waktu itu baru saja pindah sekolah sangat
kaget karena kamu lah yang pertama mengajak aku berbicara.
Kamu yang sangat popular di kalangan wanita, kamu yang selalu menarik semua mata wanita di kelas.
Aku masih ingat diriku, yang waktu itu hanya terdiam memaku. Aku masih ingat semua mata tertuju pada kita. Ada suara bisik yang
samar-samar aku dengar.
Seakan tak peduli dengan itu semua, kamu memutar bangku di depan mejaku. Aku masih ingat bagaimana kamu duduk di depanku,
menatap mata ku, dan tentu saja aku masih sangat ingat senyum indahmu. Kamu mengulang lagi “Kenalkan nama aku Deni”.
Aku masih terdiam dan hanya tersipu malu.
Esoknya kau datang kembali ke mejaku. Kali ini kau membawa sebuah coklat. “Kalau pakai ini boleh kenalan gak?” kata mu sebari
meletakkan sebuah coklat di mejaku.
Aku bukanlah orang yang pandai bergaul, aku sejak dulu memang kesulitan mengungkapkan yang aku pikirkan. Bukan tanpa sebab tapi keluarga ku memang suka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, karena pekerjaan Ayah.
Tanpa sadar aku memang tak memiliki teman sama sekali. Karena aku selalu berpikir : bentar lagi juga pindah.
Bahkan aku yang tak pandai bergaul pun dapat melihat niat lain mu dari semua yang kau lakukan. Tapi aku tak biasa dan tak mau jadi pusat perhatian.
Akhirnya kau selalu membawa coklat yang sama selama 7 hari dengan perkataan dan kegiatan yang sama setiap pagi.
Aku masih ingat kata pembuka mu pada hari ke-8.
“Kalau hari ini masih gak boleh juga, kayaknya aku harus beli coklat baru deh” kata mu dengan tawa garing khas mu.
Kau yang cukup gigih untuk sekedar ngobrol dengan ku telah membuat aku sedikit memperhatikan mu. Untuk pertama kalinya dalam 8 hari kau membuat aku tersenyum. Yang tak ku sangka itu membuat mu sangat bahagia.
Aku masih ingat pesan chat pertama mu saat baru saja mendapatkan Id Line ku : Hai anda di tahan oleh opsir Deni, karena membuat saya membuang waktu 8 hari
Chat konyol yang sebenarnya terkesan biasa saja. Tapi setelah mengingat apa yang kau lakukan setiap hari tanpa sadar itu membuat aku bahagia. Setelah itu kita mulai dekat dan makin dekat setiap hari nya.
Pada akhirnya waktu itu kau datang malam-malam kerumah ku. Membawa sekotak martabak yang katanya ampuh untuk mertua, dan sekotak coklat untuk ku.
Aku masih sangat ingat bagaimana kau berlutut di depan ku dan orang tua ku, aku masih ingat bagaimana kau berbicara dengan ayah ku sambil menonton pertandingan bola yang aku sama sekali tak mengerti. Kalian
tampak akrab padahal baru kenal 30 menit lalu. Aku sangat bahagia melihat bagaimana kau berjuang demi aku.
Namun aku tak pernah mengira bahwa dekat dengan mu adalah akhir dari kehidupan sekolah ku. Tanpa kamu sadari aku selalu menjadi bahan candaan dari mereka yang cemburu akan hubungan kita.
Waktu itu kamu bertanya mengapa aku ada di parkiran seorang diri dengan tas sobek, buku berserakan, rambut ku yang kotor karena debu dan seragam yang berantakan.
Aku masih ingat melihat wajah mu yang begitu khawatir. Namun aku tak ingin mengakui kekalahan ku pada mereka dan berkata “Tadi aku jatuh kesandung batu haha” kata ku.
Aku tak ingin bersandar pada mu. Namun makin lama siksaan itu makin berat. Aku semakin benci pada mereka setiap harinya, namun bersama mu adalah perlindungan ku terhadap mereka. Jadi aku mulai terus
menempel pada mu setiap saat.
Saat kamu bermain futsal dengan teman mu di lapangan kecil sekolah, aku ikut.
Saat kamu mengumpul dengan teman mu di sudut kelas, aku ikut.
Saat kamu bermain musik di kantin, aku ikut.
Aku tak ingin sendirian Deni. Karena jika aku sendiri mereka akan datang. Tapi kamu mulai risih pada ku, kamu mulai meminta waktu
untuk sendiri dan bermain dengan teman-teman mu.
Aku tak tau apakah kamu sadar dengan apa yang terjadi, atau kamu hanya ingin tak peduli dengan hal ini.
Tanpa ku sadari kau mulai membuat jarak antara kita. Kamu mulai berhenti memperlakukan ku bagai ratu. Tanpa kamu tau, saat kamu tertawa bersama teman mu. Ada aku yang menangis karena penggemar mu.
Akhirnya aku yang bodoh saat itu mencari sebuah tips di internet. Tentang bagaimana membuat lelaki kita jatuh cinta lagi. Aku terus
mencari dan akhirnya menemukan sesuatu yang menurut ku dapat berhasil dengan
pasti.
Tips itu berbunyi : Berikan Tubuhmu.
Aku yang seperti sudah menemukan secercah harapan langsung berpikir bagaimana caranya aku mengajak mu.
***
Aku masih ingat dirimu yang merasa sangat senang hari itu. Kamu yang membuka baju ku perlahan di sebuah kamar hotel. Kamu yang
terus bertanya “Beneran gak apa-apa Din?” dan aku yang hanya terus mengangguk.
Hari itu adalah pertama kali bagi kita berdua. Dan ku kira hanya sekali itu saja untuk membuat dirimu terus mencintai ku selamanya.
Yang aku tak sadar hari itu adalah, ketika ada saat pertama maka akan ada kedua,ketiga dan seterusnya. Cara itu memang efektif
membuat kau mencintai ku lagi.
Namun aku setiap hari terus bertanya. Siapa yang kau cintai?
Hati ku atau tubuh ku?
Aku bahkan tak tau lagi sudah berapa kali kita
melakukan itu. Aku mulai kehilangan hitungan sejak yang ke-10. Kita terus melakukannya entah dirumah mu, dirumah ku, bahkan kita pernah diam-diam melakukannya dirumah teman mu. Dosa ini aku tak tau bagaimana cara menghentikannya.
Aku masih ingat hari itu kedua orang tua ku sedang pergi menginap ke sebuah villa di cibubur. Aku yang tak bisa ikut mereka karena
ada UN hanya tinggal sendirian dirumah. Kamu yang setiap hari sepulang sekolah
datang dan kamu yang selalu meminta ku melakukan itu setiap hari.
Hingga akhirnya kejadian itu terjadi. Kamu yang terus menghindar, kamu yang selalu berpikir untuk meninggalkan aku.
KAU MEMBUANG AKU!!
Karena kau tak mau bertanggung jawab akan sebuah janin yang kita buat bersama. Kau terus memaksa ku meminum berbagai ramuan yang cukup mengerikan. Aku tak ingin Deni, aku tak ingin.
Kau tak pernah merasakan bagaimana rasanya minuman itu di lidah, bagaimana rasanya tubuh mu bereaksi dengan ramuan itu. Segala cara yang menurut mu terbaik sudah ku lakukan.
Aku tak ingin kau pergi Deni, aku ingin melakukan segala cara tapi aku tak ingin melakukan aborsi yang sangat mengerikan bagi ku.
Aku masih ingat kau marah pada ku di depan rumah aborsi
“Dinda, aku gak mau tau yah! Janin itu harus kamu gugurkan” kata mu. Aku yang terus saja menangis hanya bisa minta pengampunan mu.
“Jangan aborsi Den. Aku takut”. Kamu bahkan tidak memikirkan perasaan ku.
Kamu terus menarik tangan ku dan memaksa aku untuk masuk ke dalam rumah itu. Aku terus berjuang untuk melawan tenaga mu dengan sedikit tenaga yang ku miliki. Akhirnya aku memenangkan pertandingan itu, iya aku menang dan mendapatkan sebuah tamparan yang cukup keras dari lelaki yang ku cintai.
Kamu akhirnya meninggalkan aku sendiri disana. Aku tak pernah tau niat mu saat meninggalkan aku di sana hari itu. Aku tak pernah tau bahwa kau lelaki yang sangat tak pantas mendapatkan hati ku.
Deni, kau pergi dengan alasan kuliah di luar kota? Bahkan kau tak memberitahu siapapun dengan kepergian mu. Mereka semua hanya mendoakan yang terbaik bagi mu dan keluarga mu di kota baru itu. Hanya aku yang terus menangis, tak tau kemana harus mencari dirimu.
Hari terus berlalu, kini perut ku makin membesar. Aku dapat melihat beberapa garis merah mulai muncul di perutku. Aku terus saja menghindar untuk bertemu orang tua ku dan hanya seharian di kamarku selama
liburan ini.
Aku tak mendaftar kuliah dimana pun atau tak mendaftar kerja dimana pun. Deni, aku menyesal telah pernah mencintai mu.
Ayah maafkan aku yang tak bisa datang di hari kau meninggal nanti. Karena sepertinya Ayah harus sibuk mengurus surat-surat
kematian dan rumah duka ku. Tolong rumah dukanya di tempat yang mewah yah Ayah!
Ibu maafkan aku tak bisa menjadi putri yang
membanggakan dirimu. Aku tau ibu berharap banyak pada ku. Maafkan aku yang tak
bisa lagi menemani ibu berbelanja di pasar, menawar harga barang dengan
gila-gilaan. Maafkan aku bu.
Maafkan aku yang memilih meninggalkan dunia duluan sebelum kalian.
..
..
..
Dinda melipat kertas dengan tulisan tersebut, lalu menuliskan sesuatu pada lipatan kertas itu:
Untuk Ayah, Ibu dan Dirimu.
Lalu Dinda menimpa kertas itu dengan sebuah kotak pensil. Sebelum akhirnya ia meletakkan kepalanya di sebuah lingkaran tali yang menggantung.
TAMAT-