Halo pembunuh...
Itulah yang tertulis di sobekan kertas yang ada di dalam tasku. Aku menoleh ke kanan dan kiri. Tak ada siapa-siapa. Aku mencium bau kertas itu. Lalu sadar akan sesuatu,
Ini darah.
Seseorang menulisnya dengan darah.
Astaga...
Aku terdiam. Siapa yang melakukan hal ini?
Pembunuh? Aku? Yang benar saja? Lelucon yang tak lucu sama sekali.
Aku merobek kertas itu menjadi serpihan yang sekecil mungkin. Lalu membuangnya ke tempat sampah.
Siapapun yang menulis surat ini. Dia tak ingin Aku hidup tenang.
°°°°°°°°°°
Seseorang tak bisa lari dari kesalahannya, Kau tahu?
Karma itu ada...
Sebuah SMS dari nomor tak dikenal masuk ke ponselku. Aku langsung menelpon nomor tersebut. Tapi nomornya sudah tak aktif. Bagaimana bisa?
Siapa sebenarnya? Apakah Dia ada di sekolah ini? Apakah orang yang ku kenal? Atau orang asing yang sekadar jahil?
Ini menyebalkan.
Aku yang awalnya berdiri di depan gerbang sekolah berjalan ke dalam sambil menghapus SMS tidak jelas yang barusan kubaca. Bagaimana caranya menemukan Si Peneror kurang kerjaan ini?
Aku menghela napas.
Tenang. Ya tenang. Jika Dia ada di sekolah ini, berarti Dia bisa saja sedang mengawasiku. Aku harus tetap tenang.
Aku menatap sekeliling. Mencari-cari seseorang yang biasanya menungguku sebelum masuk ke kelas. Kenapa hari ini Alita, terlambat? Astaga..., semuanya menyebalkan!
Sesaat kemudian, Aku terdiam. Oh, benar. Bodohnya Aku. Aku menatap sepatuku, Alita telah pergi...
Dia tak akan pernah kembali...
Aku memejamkan mata lalu melanjutkan langkahku ke kelas.
Tring...
Aku kembali melihat ponselku, dan sebuah pesan dari nomor tak dikenal muncul disana, nomor yang berbeda.
Atap gedung perpustakaan
istirahat jam kedua
Wah, sebuah undangan.
°°°°°°°°
"Halo pembunuh"
Aku berbalik, dan melihat seorang laki-laki jangkung di hadapanku. Rambut hitam, kulit putih, hidung mancung..., kurasa aku harus berhenti menatapnya.
"Kamu yang mengirim pesan-pesan itu?"
Pemuda itu tersenyum miring.
"Kenapa Kamu menyebutku pembunuh?"
"Karena kamu pembunuh."
Mataku menyipit,"Kamu tidak waras? Baru keluar dari rumah sakit jiwa mana?"
Pemuda itu tertawa,"Hah..., Alita Kesya Adriana. Kamu membunuhnya."
Aku menggeleng tak percaya,"Aku memang jatuh bersama Dia dari air terjun itu. Tapi Aku tidak membunuhnya! Aku berusaha menyelamatkannya tapi Aku--,"
"Ya, ya, ya, bla bla bla..., Kalian datang ke sana dan berdiri berdekatan berdua di atas air terjun. Tapi, batu di mana Alita terbentur berada cukup jauh dari tempat Kamu jatuh. Apa Alita menabrakkan diri ke batu itu dengan terbang? Itu hanya akan terjadi jika seseorang mendorongnya."
"Itu bukan bukti."
"Mau bukti? Aku saksinya. Aku melihat kalian berdua di atas air terjun itu."
Mulutku terbuka ketika melihat sebuah gambar dari ponsel yang di pegang pemuda itu. Terhalang oleh pepohonan namun masih terlihat jelas, dua orang berdiri di sana, Aku dan Alita.
"Nah, nah, nah, ada sanggahan lagi?"
"Itu tidak cukup."
Aku menatap pemuda yang menyeringai itu. Dia tampak senang karena berhasil memojokkanku. Tapi, Aku harus tetap tenang. Tanpa bisa di cegah, pikiranku kembali pada hari itu.
Hari dimana Aku dan beberapa temanku berkemah tak terkecuali Alita. Lalu di saat yang lain fokus pada kegiatan masing-masing. Aku mengajak Alita ke air terjun yang kutemukan saat aku berjalan-jalan sendirian.
Kami sama-sama mengagumi pemandangan disana. Dan tanganku tiba-tiba saja mau mendorongnya ke arah batu besar di bawah yang di dahului oleh kepalanya.
Waktu itu Aku yakin Aku menatap sekeliling sebelum melakukannya. Dan jelas tak ada siapapun. Aku pun ikut lompat dari atas air terjun itu. Tapi Aku selamat karena memilih bagian yang dalam walau sempat pingsan.
Itu terlihat seperti kecelakaan.
Walau sekarang seseorang melihat celahnya.
Aku sama sekali lupa kalau Pemuda merepotkan ini ikut.
Setelah kejadian itu, Aku mengingatkan diriku sendiri bahwa itu benar-benar kecelakaan. Semacam sugesti? Dan Aku mempercayainya hingga sekarang Aku benar-benar terkejut ketika di sebut pembunuh.
Seringai itu tidak meninggalkan wajahnya. Bagaimana Dia tahu? Apa yang harus kulakukan? Kenapa waktu itu Dia ada di sana? Dan perntanyaan yang paling penting. Harus ku apakan Dia?
Boleh Aku mendorongnya dari atap?