Di suatu desa, hiduplah seorang pendongeng yang mendongeng di berbagai tempat yang menerima dan mau mendengarkan cerita dongengnya. Kadang Ia mendongeng di pasar, sekolah, sampai di gang kumuh sekalipun. Siapa yang mendengarnya, maka Si Pendongeng ada disana.
Suatu hari, Di sebuah acara yang diadakan warga kelas menengah. Si Pendongeng di undang untuk menceritakan berbagai cerita. Si Pendongeng dengan senang hati menerima undangan itu.
"Ceritakan sesuatu." Ujar seorang wanita muda yang nampak antusias.
"Ya! Ya! Ceritakanlah! Apapun!" Ujar orang-orang disana bersahutan yang mengelilingi Si Pendongeng.
Si Pendongeng tersenyum lebar dan mengangguk-angguk,"Baiklah..., Baiklah...,"
"Di suatu mansion, hiduplah seorang Duke yang terkenal karena kedermawanannya. Dia baik, rendah hati, dan adil sebagai pemimpin. Namun kekurangannya, hubungan sang Duke dengan keluarganya kurang harmonis.
"Sang Duke suka sekali memberi pada orang lain. Dan melakukan apapun agar rakyat sejahtera dan keadilan di tegakkan di tengah-tengah strata sosial yang jauh dari kata adil.
"Anak-anak dan istri sang Duke cemburu dengan hal itu. Karena perhatian Sang Duke telah habis oleh rakyat daripada keluarga. Karena cemburu yang berlebihan itu, Sang Duchess merencanakan untuk membunuh Sang Duke."
Terdengar kesiap dari orang-orang yang mendengar hal itu dan mata mereka terbelalak.
Si Pendongeng tersenyum ganjil, "Duchess bersekongkol dengan seluruh pelayan istana dan anak-anaknya. Menyusun rencana hingga rencana pembunuhan itu terlihat seperti kecelakaan.
"Tapi Sang Ratu membuat rencana di balik rencana, Dia menaruh racun mematikan pada minuman Sang Duke. Dan keesokannya, Sang Duke yang tidur tak pernah terbangun."
Orang-orang melongo. Ada yang menutup mulut, terdiam, dan lain-lain.
Si Pendongeng menyeringai,"Ada yang ingin di ceritakan sebuah cerita? Aku bersedia membacakan."
Orang-orang saling pandang. Lalu mereka menggeleng.
"Acara akan dimulai. Terima kasih untuk ceritanya. Ayo kita nikmati acaranya, Tuan."
Si pendongeng mengangguk.
Satu hari kemudian, Duke Ophelia meninggal dunia saat tidur. Dan Duchess Ophelia juga anak-anaknya berduka cita.
Walau beberapa hari kemudian, mereka mengadakan pesta mewah besar-besaran.
°°°°°°°°°
Kini, Si Pendongeng tengah menyelesaikan ceritanya yang Ia ceritakan pada orang-orang di pasar. Lalu Si Pendongeng bertanya adakah yang ingin ceritanya dibacakan?
Seseorang mengangkat tangan.
"Oh, marilah. Biar ku ceritakan."
Seorang lelaki jangkung menghampiri Si Pendongeng dan menyerahkan lembaran kertas pada Si Pendongeng.
"Baklah, mari kita lihat." Ujar Si Pendongeng tersenyum lebar.
"Di suatu desa, hiduplah Seorang Pencerita. Dia suka sekali bercerita pada siapapun yang mau mendengarnya. Tapi satu hal yang orang-orang tidak tahu, jika tokoh utama cerita itu merujuk pada seseorang di dunia nyata, maka apa yang diceritakan tentang si tokoh akan terjadi pada orang itu.
"Jika Si Pendongeng menceritakan si tokoh utama mati, maka orang yang dimaksud pun akan mati.
"Si Pencerita, karena kesukaannya akan bercerita, membuat Ia terus menceritakan apapun dengan antusiasme yang luar biasa. Hingga semakin lama, Dia tak bisa menghentikan dirinya untuk bercerita pada orang-orang, meskipun tak ada yang mau mendengar."
Si Pria jangkung menyeringai.
"Si Pencerita bercerita dan bercerita tanpa tahu henti. Hingga orang-orang menganggapnya gila. Si Pencerita mengemis-ngemis pada orang-orang agar mendengar ceritanya. Namun Si Pencerita di aniaya karena di anggap mengganggu.
"Hingga suatu hari, orang-orang mendekati Si Pencerita yang menceritakan sesuatu yang tidak jelas di sebuah gang kumuh sendirian. Si Pencerita tampak bahagia karena orang-orang mendekatinya. Tanpa diminta, Si Pencerita langsung bercerita. Dan saat ia selesai, seseorang bertanya, " Sudah Selesai?" Si Pencerita mengangguk,"Tapi ada cerita lain...," Tiba-tiba salah satu di antara mereka menusuknya dengan pisau, lalu disusul dengan yang lain."
"Si Pencerita tergeletak di gang itu tak bernyawa dengan berlumuran darah. Lalu jasad Si Pencerita di buang ke sungai dan terbawa arus. Untuk Si P--,"
Si Pendongeng terbelalak ketika melihat tiga kata terakhir. Dia membeku dan lidahnya kelu. Ketika melihat di antara kerumunan, Si Pria Jangkung lenyap.
Untuk Si Pendongeng.