aku adalah anak yang terlahir dari keluarga kurang mampu,bahkan garis paling bawah. Makan pun terkadang kami tidak cukup, namun ibu tidak pernah mengatakan tidak untuk aku bersekolah,ibu yang selalu berusaha memenuhi kebutuhan ku, menyekolahkan ku ,bahkan ibu sering mendapatkan hinaan dari tetangga.
"buat apa menyekolahkan anak, kalau makan pun tak berkecukupan" itu kata tetangga yang slalu membuat penyemangat ibu tuk menyekolahkan ku.
aku yang sekarang duduk di bangku SMA selalu bercita cita menjadi dokter, karena ibu slalu berkata, dokter adalah seseorang yang paling ibu hormati Karena bisa mengobati seseorang.
tak lama lagi aku akan lulus SMA, kalian pasti sudah kebayang kan biaya yang harus di bayar saat mengambil ijazah.
ternyata ibu sudah jauh hari menyimpan uang itu untukku, ibu yang selalu berjuang agar aku berpendidikan. karena ibu slalu berkata
" nak, seseorang akan di hargai jika memiliki pendidikan, bukan karena mereka bangsawan" itulah kata ibu yang slalu aku pegang
ibu yang kesehariannya menjadi tukang masak di sebuah warung makan, yang selalu membuat hatiku teriris melihat wajah lelah ibu,
jika malam hari ketika ku pandangi wajah ibu yang mulai menua, tangan yang kasar, kulit yang kendor, raut wajah yang lelah,rambut yang mulai memutih.
Hari kelulusan ku di SMA, aku berlari kerumah, yah jarak antara rumah dan sekolah cukup jauh, namun aku tak merasakan lelah demi memperlihatkan kepada ibu bahwa aku menjadi lulusan terbaik di sekolah ku, aku mendapat beasiswa untuk sekolah kedokteran.
dengan nada ngos-ngosan aku memberikan selembar kertas kepada ibu yang mengatakan bahwa aku adalah lulusan terbaik, ketika ibu mengambil selembar kertas itu ibu langsung bersujut syukur dan langsung memeluk ku, dengan air mata bahagia ibu aku merasakan begitu hangat pelukan ibu, ada kegembiraan yang luar biasa dalam hatinya.
tak henti-hentinya ibu bercerita tentang ku kepada majikannya itu,
beberapa hari kemudian aku memasukkan formulir pendaftaran ku di universitas kedokteran X ,
pagi itu sebelum berangkat ibu slalu memberikan berkat nya kepadaku, slalu memeluk dan mencium ku dan berkata " kamu pasti bisa nak, jadilah orang yang sukses"
aku pun sekarang memasuki semester awal, tanpa ada rintangan atau halangan aku kuliah,
namun kembali lagi tetangga bercerita kepada ibu," dapat biaya dari mana bisa kuliahkan anaknya, hanya tukang masak masak bermimpi membuat anaknya sukses, hey Bu mimpi jangan ketinggian nanti jatuh" ujar tetanggaku sambil terbahak-bahak.
ibu yang hanya terdiam dan bersabar sambil mengelus dadanya berkata " Allah maha melihat Bu!"
tetangga hanya tersenyum sinis dan pergi.
tak terasa aku sudah diakhir semester tak lama lagi aku bisa menyandang gelar dokterku.
Tiba tiba ibu terjatuh sakit, aku membawa ibu ke rumah sakit, dokter mengatakan ibuku terkena kanker,
" kamu, anaknya" tanya dokter kepadaku
"iya dok" jawabku
" boleh kita bicara sebentar ndi ruangan ku?"kata dokter
"baik dok" jawabku
aku pun meninggalkan ibu sebentar dan masuk keruangan dokter
"permisi dok"kata ku sambil mengetuk pintu
"iya masuk nak" kata dokter dengan nada lembutnya
"terimakasih dok, apa yang terjadi pada ibuku dok?" tanyaku
" ibu kamu menderita penyakit kanker usus, penyakit beliau sudah lama, namun beliau mengabaikan nya karena gejalanya belum memberat, namun serang kanker ibumu sudah masuk stadiun akhir, kita menyarankan untuk dioperasi untuk mengetahui apakah sel kankernya ganas atau jinak," penjelasan dari dokter
aku hanya terdiam, dan air mata yang berusaha aku tahan kini tetap membasahi pipiku, yah suasana kaget dan sedih saat mendengar berita itu, tanpa satu katapun aku keluar meninggalkan ruangan dokter dan berlari memeluk ibu dan berusaha tidak menampakkan wajah sedih ku kepada ibu,
" apa kata dokter nak?" tanya ibu kepadaku
" ibu hanya sakit perut biasa, dokter menyarankan ibu untuk beristirahat" jawabku sambil tersenyum kepadanya.
" kalau begitu ayo kita pulang nak, biaya rumah sakit kan mahal" kata ibu yang berusaha terbangun.
"ibu baring saja, ibu harus di sini beberapa hari lagi," ujarku kepada ibu
aku keluar dari kamar,. mencari udara segar, menenangkan sedikit pikiran ku, dan berusaha berfikir, setelah beberapa menit aku kembali menemui dokter
" dok tolong lakukan yang terbaik untuk ibuku" pintaku kepada dokter dengan tangis ku.
" kami akan berusaha yang terbaik"
ibu pun telah di operasi, tak lama hasil nya pun keluar dokter mengatakan kanker ibu ganas, ibu harus menjalani kemoterapi, karena biaya kami terbatas ibu tidak menjalani kemoterapi, ibu hanya mengkonsumsi obat sambil berobat jalan, ibu yang kesehariannya sendiri di rumah ketika aku kuliah
beberapa bulan ini kondisi ibu membaik, namun banyak hal aneh yang ibu tampakkan seperti ibu yang slalu memelukku disaat tertidur, ibu yang slalu menatapku dengan matanya yang berkaca-kaca, memasakkan semua makanan yang begitu ingin aku makan, ibu merapikan pakaianku,
sungguh, aku tak pernah berfikir hari hari itu adalah momen indah yang ibu berikan kepadaku
suatu pagi, seperti biasanya sebelum berangkat ke kampus ibu slalu menyuapiku dan berkata kepadaku
"jadilah orang yang berpendidikan nak, jangan pernah putuskan sekolah mu, doa ibu akan slalu ber samau"
setelah ibu menyuapiku, aku bergegas untuk berangkat, pagi itu hatiku begitu berat meninggalkan ibu, kakiku begitu berat untuk melangkah, ibu yang memelukku begitu hangat serasa aku tingin melepaskan pelukan itu, namun karena ujian akhir ku aku harus pergi, baru kali ini ibu mencium wajahku begitu lama, seperti kata perpisahan padaku. aku pun berangkat, tatapan ibu tak pernah lepas hingga aku jauh dari pandangannya.
tak lama ujian pun di mula, 15 menit sebelum ujian berakhir, dosen pun masuk di kelas
" Gita..." kata dosen memanggil ku.
ya Gita adalah namaku.
"iya Bu" jawabku
"ujian nya sudah selesai?"tanya dosen dengan wajah seperti ingin menyampaikan sesuatu kepadaku.
" sedikit lagi Bu" jawabku penasaran
"selesai kan cepat, ibu menunggu diruangan" kata dosen
aku yang penasaran, aku langsung menyelesaikan ujianku dan menyetor nya, dan langsung bergegas keruangan dosen tadi.
"permisi" ujarku sambil mengetuk pintu.
"iya masuk git" kata dosen
akupun masuk dan duduk di kursi depan ibu dosen. tiba tiba ibu dosen ku memelukku dan berkata
" yang sabar ya, ibumu meninggal dunia"
aku yang kaget, dan langsung bergegas pulang ke rumah dengan deraian air mata.
sesampainya di rumah, aku melihat bendera putih, antara percaya dan tidak aku lansung berlari masuk kedalam rumah. sesampainya di sana aku sudah menemukan ibu yang tidak bernyawa lagi, aku hanya bisa menangis, memeluk ibu
"ibu.....ibu....kenapa ibu meninggal Gita sendirian Bu, kenapa ibu tidak menungguku sedikit lebih lama lagi,. ibu harus melihat mengenakan baju wisudah ku, ibu harus melihat ku mengenakan jas putih ku bu.ibu......." kata ku sambil tersedu sedu
suasana yang memilukan membuat beberapa pelayat tak tahan melihat ku, beberapa diantaranya menagis dan memeluk ku.
tak lama, ibu pun telah di makamkan, aku kembali ke rumah, hanya terdiam membayangkan masih terasa pelukan ibu tadi pagi, masih merasakan aroma mulut ibu yang mencium wajahku,
sungguh aku tak pernah membayangkan ibu akan pergi secepat itu, aku yang hanya tinggal sebatang kara.
beberapa bulan pun berlalu.
hari ini adalah hari dimana aku di wisuda, aku adalah mahasiswi terbaik di kampus ku aku sekarang menyandang gelar dokter dan piagam penghargaan, aku di beri kesempatan naik ke panggung, memberikan sepatah kata
"terimakasih buat kesempatan hari ini, terimakasih kepada dosen yang telah membimbing ku, dan terimakasih ku yang terdalam teruntuk ibuku yang tercinta, yang sekarang tidak bisa mendampingi ku, tak bisa menatapku langsung dan memeluk ku memberi selamat, Bu.... terimakasih atas doa dan perjuangan mu selama ini,. terimakasih atas kasih sayang dan semangat yang slalu beliau berikan kepadaku, aku yang belum mampu memberikan sepercik kebahagiaan, maafkan aku bu, Gita persembahan persembahan piagam kelulusan buat IBU." kataku sambil memeluk foto ibu yang sengaja aku bawa.
air mata yang tak pernah henti mengalir di mataku.
seluruh tamu acara pada hari itu turut bersedih.
sekian dan terimakasih
TAMAT....