Aku adalah salah seorang murid di SMA X, sekolahku memang terkenal dengan kegiatan pendisiplinannya yang ketat, saking ketatnya kami menjadi jengah dan kesal.
Sedikit-sedikit denda, sedikit saja salah langsung dibentak. Aku pun tak luput dari hukuman, padahal saat itu aku hanya terlambat kurang dari 5 menit tapi aku sudah tidak diijinkan masuk kelas. Ada lagi, saat aku secara tidak sengaja membuang sampah sembarangan, aku langsung di bentak oleh OSIS. Sungguh, saat itu barangku hanya terjatuh, bukan berarti sampah kan?
Kejadian itu tidak hanya terjadi padaku, banyak sekali siswa yang kena masalah serupa, itu tidak sengaja loh. Benar-benar menyebalkan, kalau dipikir kenapa dulu aku mau masuk ke sekolah ini ya?
"Kaaaa... ayo pulang" ajak temanku, oh aku lupa kalau sedang berjalan pulang.
"Maaf"
Kami melanjutkan jalan kami, dan aku larut dalam pikiranku sendiri.
"Eh ka! aku dijemput tuh, sorry ya ga bisa nemenin pulang" ujarnya sembari menunjuk motor kakaknya yang memang sudah mendekat.
"Oh.. oke, not problem. Be carefull ya" kataku.
"Kamu juga, dadah Azka. Jangan banyakin ngelamun ya!" ujarnya sebelum pergi menjauh.
Akhirnya aku pulang sendiri. Kini pikiranku kembali fokus ke jalanan, agak rame sih.. ngeri juga kalo ngelamun, bisa mati muda.
"ANJ***"
Saat aku berjalan santai melewati gang sempit, aku mendengar suara umpatan keras disertai suara gaduh lainnya. Ada yang berantem?
Benar saja, saat aku melihat lebih cermat lagi ada 3 siswa seangkatan ku yang lagi berantem sama... eh, itu anak OSIS?
"Heh heh heh, stop stop! woi stop! "
Entah karena apa tiba-tiba tubuhku bergerak otomatis melerai perkelahian itu, aku memang bukan anak OSIS, tapi seenggaknya aku ga mau diem aja.
"Azka... "
"Kalian itu kenapa si urshfsjfxgjdufhfuayrshfg..."
Nah kan, berakhir dengan ceramahanku yang panjang. Anehnya mereka diem aja gitu, bahkan mendengarkan dengan seksama, mereka beneran berandalan kan? kok cupu di depanku?
"Hah... sekarang kalian pulang, PULANG!!! "
"Iyaa! "
Mereka berhamburan pulang, meski sempat kulihat adanya sepercik tatapan tajam, ku balas tatapan itu dengan tegas. Didikan papa lumayan juga.
"Ka"
"APA!!? "
"!? Eh... ketos, halo"
Saking emosinya aku sampai membentak ketua OSIS yang entah sejak kapan sudah duduk di atas pipa besar yang ditumpuk. (bayangannya kaya pipa di lapangan main dor*emon)
Em... ketos sekolahku memang kenal sama aku sih, namanya Tora. Jujur dia juga ga suka sama sistem kedisiplinan sekolah yang terlalu ketat, namun para guru tetap membiarkannya bahkan mengacuhkan usulan Tora yang berhubungan dengan mengganti sistem sekolah.
"Ra... "
"Hm? "
"Aku khawatir dengan sistem kedisiplinan sekolah yang sekarang, aku takut mereka bakal berontak, terlalu ketat. Bahkan aku merasakan dampaknya, kamu harus bertindak ra, harus" saranku entah yang keberapa kalinya.
"Aku tau kok, susah meyakinkan para guru yang sudah seperti itu, menyebalkan saat ucapanku tak digubris" balasnya sedih, meski begitu tangannya mengepal erat.
"..... "
Kalau sudah seperti ini, aku tidak bisa berkomentar lagi. Susah meng atakannya, Tora adalah sahabatku sejak lama, SMP dan SMA kami 1 sekolah, syukur-syukur bisa 1 kelas. Dulu Tora tidak seperti ini, dia ceria, baik, murah senyum dan segar. Sekarang dia lebih seperti panda, lingkar hitam dibawah matanya sangat kontras dengan kulit putihnya, belum matanya yang tampak merah, aku benar-benar khawatir.
"Harus ada yang membuat perubahan, tak peduli caranya. Para murid tertekan sementara guru membiarkannya, terlalu dikekang membuat mereka capek dan kesal, kamu tau maksudku kan? " kataku tiba-tiba.
Tora terdiam mendengarnya, tanpa terasa aku sampai di depan rumahku. Kami berpisah dan... begitulah. Esok paginya, saat jam istirahat aku mendengar rumor bahwa ada tawuran antara murid dengan OSIS, ini mengerikan. Aku harap Tora baik-baik saja.
"Azka, dicariin Tora"
"Oh makasih"
Aku menemui Tora yang berada di lorong sekolah, memang masih istirahat namun status Tora sebagai ketua OSIS membuat suasana lorong menjadi sepi.
"Setelah ini pergilah ke atap, ga usah ikut pelajaran" katanya tiba-tiba, aneh.
"Ha?? kenapa? "
"Rumor itu benar adanya, pergilah ke atap dan kunci pintunya"
Mendengar hal itu membuatku makin khawatir dengan Tora.
"Trus kamu gimana?? ga mungkin lah aku ninggalin kamu! gila apa, gimana kalo nanti kenapa-napa?!! Tora!!"
"Gapapa ka, Azka cukup diam dan turuti kata Tora, oke" katanya sebelum pergi meninggalkan ku.
Kalau sudah begini, aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Uh.. menyebalkan. Aku menuruti permintaan Tora, aku bersama teman-teman ku pergi ke atap, Teman-teman yang cowok akan berjaga di pintu atap, gentle, mereka tak mau kehilangan harga diri sampai akhir.
Kumohon Tuhan... tolong jangan sampai jatuh korban jiwa, jangan sampai ada yang tewas. Ku mohon Tuhan... jaga Tora, jaga teman-teman ku, jagalah sekolahku.
12.00
Tepat jam 12, keadaan menjadi riuh, dimulai dari kelas 11, siswa-siswi yang tidak sempat menyelamatkan diri berhamburan keluar, umpatan kekesalan terjadi dimana-mana, aku khawatir. Tanganku bergetar, tolonglah... jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk. Kumohon... biarkan aksi ini selesai tanpa korban jiwa, kumohon Tuhan.. kumohon...
12.15
15 menit sudah berlalu, kenapa polisi belum datang juga?! kemana mereka??! Tolonglah... tolong datang sebelum jatuh korban, kumohon...
Tak lama setelah itu siswa yang marah mulai datang ke atap, para laki-laki di kelas mulai berjaga, ada yang membawa tongkat bisbol, kayu dari meja yang dipatahkan, payung dan lainnya. Semoga saja mereka tak terluka.
Bruk! Gubrak! Praaangg!
Para gadis menutup telinga rapat-rapat, satu-satunya pertahanan terakhir kami adalah para siswi yang ikut ekskul bela diri. Kumohon... sebentar lagi... bertahanlah sebentar lagi.
12.20
Suasana mulai mereda, suara gaduh di balik pintu menuju atap juga sudah berhenti, ketua kelas memerintahkan kami tetap tenang dan jangan membuka pintu hingga polisi datang. Aku tau, ini bukan pertama kalinya, semua akan baik-baik saja. kumohon...
Wiuu wiuu wiuu
Sirine polisi terdengar dari kejauhan, syukurlah... perasaanku lebih tenang sekarang. Tapi kenapa ada yang janggal ya? seolah ada yang akan pergi. Tora..? kamu gapapa kan?
Kemudian terdengar bahwa polisi mulai menetralkan keadaan, aku bersyukur tawuran terjadi hanya 20 menit. Tapi disisi lain aku benar-benar khawatir dengan yang lainnya terutama Tora.
Tok tok
"Ini polisi, bukalah. Suasana aman terkendali"
Suara cowok terdengar dari balik pintu rooftop yang ku kunci. Aku terdiam, suara itu tak asing. Bukan.. itu bukan polisi.
"Kau bukan polisi, jangan bertindak seperti ini. Cakra, apa yang terjadi diluar? "
Setelah bertanya seperti itu, suara tadi diam. Berarti aku benar, itu Cakra, pentolan SMA kami, memang sering berkelahi dan sangat menentang sistem kedisiplinan sekolah. Dia pasti kesini karena aku, aku dekat dengan Tora, dia ingin memanfaatkanku, aku tau itu.
"Dimana Tora? "
"Memangnya apa yang akan kau lakukan? "
"Apa pedulimu? "
"Tentu aku peduli, dia temanku, dia sahabatku. Jangan macam-macam"
"Heh... Bac*t"
Brak! Brak!
Aku bisa tau bahwa pintu rooftop yang terbuat dari besi di pukuli bertubi-tubi oleh Cakra, dia itu tenaganya kuat banget, bahkan pintu rooftop sampai penyok.
Demi Tuhan! tolonglah... selamatkan kami, polisi! mana kalian!!?
Oh.. Cakra berhenti memukuli pintu, apa dia sudah pergi?
Tok tok
Dia lagi!!?
"Kami dari pihak kepolisian, mohon kerjasamanya"
Akhirnya!! polisi datang, meski ragu aku membuka pintu perlahan. Aku benar-benar terkejut saat melihat polisi lengkap dengan rompi anti peluru, helm serta perlengkapan lainnya berdiri di depan pintu rooftop. Aku juga melihat Cakra terduduk lemas, bersandar di dinding, dia sempat melirik ku dan itu mengerikan.
Akhirnya kami bisa keluar, saat perjalanan keluar sekolah, aku melihat banyak corat-caretan dari pilok yang berisi ungkapan kekesalan dan kekecewaan teman-teman, aku juga melihat bercak darah disana-sini, pasti dari perkelahian.
Kami yang selamat pun diantar pulang, meski sempat dimintai keterangan tapi syukurlah tidak terjadi hal mengerikan lainnya. Tapi... kok aku gak melihat Tora?
Esoknya aku mendapat kabar, bahwa beberapa teman kami baik dari Angkatan kami maupun angkatan di bawah kami telah meninggal dunia, jumlahnya 7 orang dan kabar yang mengejutkannya adalah Tora menjadi salah satu diantara mereka.
Tubuhku lemas seketika, aku menutup mulutku rapat-rapat. Aku tak percaya, air mataku mulai mengalir, gak... gak mungkin! gak mung-
"hiks.. hiks.. huweeeeeeee. Gak mungkin, Tora gak mungkin maaa... "
Hari itu aku menangis sejadi-jadinya, di depan mama dan papa, di depan saudaraku yang lain. Dan hari itu kuputuskan untuk ikut berziarah ke pemakaman Tora, air mataku tak bisa berhenti mengalir. Sedih sekali rasanya.
Kemudian aku mendapat kronologi kejadiannya yang asli, katanya Tora dan Cakra bekerja sama mengubah sistem kedisiplinan sekolah. Aku tak tau apa alasannya, apa mungkin karena ucapanku tempo hari??
Lalu mereka berkelahi dengan anggota OSIS lain yang tak terima dan para guru, puncaknya adalah saat salah satu pak guru yang emosi menyerang dengan sebilah pisau, yang kemudian menancap di perut Tora.
Kata saksi mata terpercaya Tora meminta Cakra pergi ke rooftop kelas 12 untuk melindungiku karena takut aku kenapa-napa, awalnya Cakra menolak tapi entah kenapa dia tiba-tiba luluh dan pergi dari TKP. Astaga... kenapa sampai seperti ini? aku tak pernah mau terjadi hal buruk padanya, kenapa... kenapa aku tak bisa menjaga lisanku? kenapa aku membuat Tora termotivasi ikut sebagai anggota tawuran untuk menentang sistem kedisiplinan sekolah?
Aku minta maaf Tora, aku sungguh minta maaf. Tolong maafkan aku, aku akan menjaga lisanku dengan baik. Ini menjadi pelajaran untukku, pelajaran berharga yang gak pernah bisa kulupakan. Terima kasih, kamu menyadarkanku bahwa semua bisa berubah.
Setelah kejadian itu gedung sekolah dipindahkan dan gedung sekolah yang lama tetap berdiri dengan berbagai sejarahnya, para siswa kini menghormati kejadian itu dan guru yang menjadi tersangka dijatuhi hukuman yang setimpal. Dan kini aku dilindungi Cakra, dia tak seburuk yang kupikirkan, malahan dia cukup baik dan ramah, tak seperti rumor.
Sekali lagi Terima kasih, untuk kalian para korban, untuk kalian yang sudah berjuang. Kami selalu memperingati kejadian ini dengan nyanyian mengheningkan cipta bersama. Dan kejadian itu dinamakan
12 Perma
12 untuk memperingati jamnya
Per untuk perubahan yang kalian berikan dan
Ma untuk SMA.
Salam kedamaian, jagalah lisan dan be carefull.
.
.
By : Letty Purnama