Karya: ~Kay Scarlet~☘️
.
.
.
~ MISTERI TONGKAT NENEK TUA ~
Gunung Halimun salak, terletak di daerah Jawa barat,Sukabumi. Di gunung tersebut memiliki beberapa air terjun yang biasa di sebut Curug oleh penduduk sekitar.
Salah satu Curug, di namakan Curug nangka, memiliki air terjun yang indah.
mengalirkan mata air jernih dari ketinggian, di hiasi tebing yang curam dan di tumbuhi lumut juga rerumputan.
Dan diatas Curug nangka masih banyak air terjun yang lebih indah lagi walaupun jalan menuju kesana cukup sulit.
Tidak jauh dari Curug Nangka, Ada kalanya kamu bisa melihat rumah tua yang di halaman rumahnya ditumbuhi pohon besar yang lebat dan rindang.
Konon, rumah ini ditinggali penghuni yang sering menampakkan dirinya.
Wujud yang diperlihatkan, biasanya hanya bayangan yang bersandar pada bebatuan yang tinggi ,ataupun wujud nenek-nenek.
Tidak jarang juga sosok ini mengeluarkan suara halus yang memanggil orang untuk mengunjungi rumah tua ini.
Mitos yang beredar di masyarakat, orang yang masuk rumah tua ini karena panggilan dari penghuni di dalamnya, maka dirinya akan diikuti oleh makhluk halus.
Dan saat menaiki gunung halimun salak, apabila kamu tidak terperosok ataupun jatuh. Maka kamu di akui sebagai pendaki gunung sejati.
🌿
Pagi itu ,
Fong mengajak teman-temannya untuk pergi hiking ke gunung halimun salak.
Dan berencana pergi ke air terjun.
Kay ,Mey, dan Rei menanggapi ajakan Fong Senpai dengan gembira.
Mereka segera berkemas dan menyiapkan bekal dan juga baju ganti apabila bermain air nanti.
Setelah ragu-ragu agak lama, akhirnya Rivaille, Hiban ,Yao, Akiko, Fynna,Aoi dan Arise ikut . Mereka semua berdesak-desakan di dalam mobil.
Perjalanan 2 jam itu terasa singkat, karena sepanjang perjalanan mereka tidak berhenti berceloteh dan tertawa.
Walaupun berdesakan itu sangat menyiksa. Di tambah lagi, Yao muntah saat masuk tol. Sehingga mereka semua berteriak histeris dan panik.Berhenti di pombensin untuk membersihkan diri,menghirup udara segar dan setelah itu semua ,akhirnya melanjutkan perjalanan kembali.
Setelah Yao dan Hiban bergantian muntah ,akhirnya mereka sampai juga di kaki gunung salak.
Dari kejauhan tampak pohon Pinus berjejer dan angin sejuk berhembus.
Mereka sangat gembira akhirnya sampai di Gunung halimun salak tersebut. Kecuali Hiban dan Yao yang tampak pucat karena berhasil memuntahkan semua makanan yang ada dalam perut mereka.
Turun dari mobil dan membentangkan tikar yang mereka bawa di samping mobil.
"Tidak bisakah kita duduk di tempat yang dekat dengan toilet ?" Seru Yao memelas.
Kay dan Mey berpandangan. "Baiklah, kita bisa duduk dekat sana.Tapi dekat toilet itu aromanya sangat buruk Yao." Ucap Kay khawatir.
"Kita beristirahat dekat air terjun saja. Masih kuat kan Yai?"Tanya Fong Senpai dengan mimik lucu.
"Namaku Yao!"Protes Yao pada Fong Senpai ,disambut tawa Fong Senpai yang Khas."Iya Yai ...."
Akhirnya setelah Yao menarik rambut Fong Senpai karena kesal, mereka mencoba berjalan menuruni anak tangga, menuju Curug nangka.
Tangga yang di maksud adalah jalanan batu gamping yang di susun membentuk tangga ,tapi tidak rapih dan banyak juga jalan yang masih berupa tanah. Sehingga mereka berjalan dengan sangat hati-hati.
"Ingatlah,kita berada di gunung. Jadi kalian jangan berbicara yang aneh-aneh ya?!" Ucap Aoi mengingatkan. "Baik!" Jawab anggota yang lain.
Setelah menuruni anak tangga yang berliku-liku, terjal dan agak licin, mereka sampai di air terjun yang di namakan Curug nangka tersebut.
Tetapi saat sampai ,mereka sangat kecewa. Karena air terjun itu seolah setetes air gula yang di kerubuti semut. Terlalu ramai orang yang bermain air terjun, dikarenakan hari libur.
Mey kesal dan menginginkan air terjun yang lebih sepi. Rei dan Kay juga berpendapat sama. Mereka tidak suka tempat yang terlalu ramai.
Akhirnya Fong Senpai mengajak mereka untuk naik ke atas gunung halimun salak."Seingatku, ada air terjun lagi di atas sana. Apa kalian mau hiking?"Tanya Fong Senpai pada mereka semua.
Yao dengan segera mengerang marah.
"Tidak ! Aku capek. Mau di sini saja." Ucap Yao terlalu malas untuk beranjak dari tikar yang baru saja Rei bentangkan untuk nya duduk.
"Sama." Ucap Hiban mengacungkan tangannya. Wajah Hiban masih pucat pasi,akibat muntah yang banyak ia keluarkan sepanjang perjalanan.
Hiban mual karena Yao muntah di bajunya.Mencium aroma muntah yang menyengat hidung nya. Sungguh mengerikan!
"Aku disini saja.Menikmati udara sejuk saja cukup." Ujar Hiban kembali.
Yao mengangguk setuju.
"Siapa yang akan ikut Hiking?" Tanya Fong senpai kembali.
Dengan segera Kay, Rei,dan Mey tunjuk tangan.
"Rivaille kamu tidak ikut?" Tanya Fong Senpai, menatap penuh harap pada Rivaille. Karena pengikutnya perempuan semua.Membayangkan betapa repotnya mengawal semua gadis itu.
"Aku tidak tertarik. Fong Senpai silahkan mengharem." Ucap Rivaille asal. Fong senpai hanya bisa menghela nafas.
"Aoi , Fynna ,Arise dan Akiko nggak ikut Hiking?"Tanya Fong Senpai lagi.
Aoi dan Akiko dengan segera menggeleng kuat. "Silahkan saja Fong Senpai. Kami menunggu di sini saja sambil makan bekal dan bercerita." Ucap Aoi dan Akiko serempak.
"Arise takut Satya marahin Arise kalau ke tempat berbahaya seperti itu." Ucap Arise menolak .
"Fynna juga tidak mau ikut karena takut masuk hutan". Ujar Fynna sembari menggelengkan kepalanya.
Hanya Kay, Rei, dan Mey yang masih bertahan dan semangat untuk ikut ke air terjun di atas gunung.
Fong menatap tiga gadis di depannya dan menghela nafas kembali.
"Tenang saja Fong Senpai. Kay sering Hiking. Mudah-mudahan kita bisa menemukan air terjun yang indah di atas sana. Dan kembali kesini lagi dengan cepat."
Ucap Kay menyemangati.
"Benar, Kalian kenapa sih? pasti takut iyakan?" Tanya Rei meledek sekelompok orang yang sudah nyaman duduk dengan rapih di atas tikar yang menghadap ke air terjun .
Mereka hanya tersenyum miring menjawab Pertanyaan Rei.
Perkataan Rei tidak salah sama sekali. Mereka memang merasa takut dan juga terlalu capek.Sehingga memilih duduk di tikar, menikmati keindahan alam.
Lain Halnya dengan Kay, Rei dan Mey.
Mereka sangat bersemangat hendak mencari tempat air terjun yang sepi dan lebih indah lagi.
Karena mereka kecewa tidak bisa menikmati mandi air terjun di Curug nangka yang terlalu ramai.
Karena hari telah siang, Fong Senpai mengajak mereka segera berangkat.
Berjalan menuju tangga ke arah gunung halimun salak.
"Kalian hati-hati ... Ingat pesanku tadi!" Pesan Aoi.
"Ganbare Senpai,Kay,Rei,Mey! Mata ne!" Ucap yang lain menyemangati mereka berempat.
Mereka mengangguk mengerti dan berpamitan pada semua yang tidak ikut Hiking.
Jalanan menanjak melewati batuan gamping yang bersusun tidak teratur.
"Senpai tau jalan menuju air terjun nya?" Tanya Mey takjub. Fong Senpai menoleh dengan wajah datar." Senpai nggak tau jalan ke sana Mey."
Ketiga gadis itu terkejut dan menatap Fong Senpai dengan wajah tidak percaya.
"Tapi Senpai tau di sekitar sini ada orang yang bisa menunjukkan kita jalan menuju kesana." Tandas Fong Senpai, sebelum ketiga gadis di hadapannya protes.
Ketiga gadis di hadapannya hanya menatap Fong Senpai curiga. Fong mencari-cari mamang yang biasa duduk di dekat jalan menuju gunung tersebut. Tapi sialnya hari itu terlalu sepi. Tidak ada seorangpun yang duduk ataupun sekedar lewat.
Saat mencari-cari, Fong Senpai melihat sebuah rumah kayu tua, dan mendekat ke rumah tersebut.
Tidak ada tanda-tanda rumah tua itu berpenghuni. Tapi jendela dan pintu rumah itu terbuka lebar.Dan ada asap sisa Bakaran tercium dari dalam rumah tua tersebut.
"Rumah siapa itu Senpai?" Tanya Kay penasaran.
"Senpai tidak tahu, tapi mungkin saja ada orang yang bisa menunjukkan kita jalan ke atas gunung." Jawab Fong.
"PERMISI! ADA ORANG TIDAK?" Teriak Mey tiba-tiba, mengejutkan ketiga sahabatnya yang sedang berjingkat mengintip isi rumah tersebut.
"Weh! Bikin kaget saja!" Protes Rei pada Mey yang tersenyum lebar karena berhasil mengejutkan ketiga sahabatnya.
"Assalamu'alaikum ...." Teriak Kay lantang, dan kemudian tiba-tiba saja ada suara kecil terdengar dari dalam rumah.
"Wah ada orang!" Seru Mey kegirangan.
"Iya aku juga mendengar suara!" Timpal Rei antusias.
5 menit berlalu, tapi tidak seorangpun keluar dari rumah tersebut.
"Apa kita perlu memanggilnya sekali lagi?" Bisik Fong yang merasa tiba-tiba tidak enak.
"Assalamu'alaikum!" Teriak Kay sekali lagi.
Tiba-tiba saja dari jendela di samping mereka terlihat seorang nenek tua menjawab. "Waalaikumsalam."
Sontak mereka berempat kaget bukan main. Keberadaan nenek tersebut yang tiba-tiba dan aura mistis yang menguar dari rumah tua tersebut membuat bulu kuduk mereka berempat meremang.
"Nenek, maaf mengganggu. Kami mau naik ke atas gunung. Apakah ada pemandu untuk kami nek?" Tanya Fong sopan, setelah menstabilkan jantungnya yang hampir copot karena kedatangan nenek tersebut secara tiba-tiba, di jendela sebelah Fong mengintip pintu rumah.
Nenek tersebut hanya diam tidak bergeming dan menatap tajam Kay.
Kay yang merasa nenek tersebut menatapnya mengulangi pertanyaan Fong.
"Nenek bisakah bantu kami mencarikan pemandu untuk naik ke atas gunung?"
Nenek tersebut tanpa ekspresi dan kemudian menjawab dengan suara kecil dan parau." Mau apa ke atas gunung?" Tanya nya.
Mereka berempat berpandang-pandangan. Ada perasaan semakin aneh menguar di sekitar mereka.
"Air terjun di bawah sangat ramai nek.Kami ingin mencari air terjun yang lebih sepi.Untuk bermain air." Ucap Kay .
Hening sesaat. Nenek tersebut tiba-tiba pergi sehingga mereka berempat kebingungan.
"Apa kay salah ngomong?" Tanya Kay merasa tidak enak.
"Nggak salah kok Kay." Jawab Fong Senpai membela.
Rei dan Mey mengangguk setuju.
Lima menit kemudian nenek tersebut datang kembali dengan tiba-tiba. Sehingga sekali lagi mengagetkan mereka berempat.
"Tunggu saja di sini. Nanti anak saya datang menuntun kalian." Ucap nenek itu dengan suara nya yang tiba-tiba saja berubah halus.
"Terimakasih nenek." Ucap Kay gembira. Sekali lagi Nenek tersebut terdiam menatap Kay.
Dan suasana kembali berubah menjadi aneh.
Kay yang merasa tidak enak di tatap oleh nenek tersebut dengan ekspresi datar, menunduk ke bawah dan melihat sebuah tongkat bersandar ke dinding rumah kayu tersebut.
Kay langsung mengambil tongkat tersebut dan menunjukkannya pada nenek di hadapannya. "Kay boleh meminjam tongkat ini nek?" Tanya Kay antusias.
Nenek itu lama terdiam dan kemudian mengangguk. Lalu pergi dan menghilang tiba-tiba.
Kay yang kegirangan mendapatkan tongkat, tidak menggubiris nenek yang tiba-tiba menghilang.
Ia malah mencoba-coba menancapkan tongkat tersebut di tanah dekat rumah tua itu. Mencoba kekokohan si tongkat untuk membantunya saat naik gunung nanti.
"Kay jangan sampai patah lho!" Ucap Rei mengingatkan. Kay mengangguk mengerti.
"Tongkat itu terlihat aneh ya?" Ujar Mey berjongkok di depan Kay, memerhatikan tongkat tersebut dengan seksama.
Tongkat itu seperti tulang besar yang terbuat dari kayu. Dengan pucuk yang membulat dan melingkar seperti tongkat sihir.
"Jangan bicara hal yang aneh Mey." Ucap Fong senpai mengingatkan.
Mey tersadar dan terdiam menatap curiga tongkat tersebut.
30 menit berlalu hingga mereka merasa kebingungan. Bahkan Nenek tersebut tidak kelihatan lagi batang hidungnya.
Akhirnya mereka mendengar suara batuk seorang pria. dari belakang rumah kayu tersebut.
"Dia datang!" Seru Kay tidak sabar. Karena melelahkan menunggu untuk perjalanan menantang menaiki gunung.
Fong Senpai segera memutari rumah kayu tersebut dan menemukan mamang yang sedang mencangkul.
"Permisi mamang, apakah bisa memandu kami menuju air terjun di atas?" Tanya Fong.
"Menuju air terjun?" Tanya mamang tersebut.
"Iya benar." Jawab Fong mengangguk.
"Bisa, bayarannya 150.000 rupiah." Ucap mamang tersebut.
Fong menatap hampa Mamang tersebut dan beralih memandangi dompetnya dengan miris.
"Ini Senpai!" Ucap Kay menyodorkan uang lembaran merah dan biru ke tangan Fong.
Fong jadi tidak enak.
" Eh Senpai ada kok Kay. Simpan aja itu ...."
"Ini pak, bisa pandu kami ke atas pak?" Ucap Kay langsung menyodorkan 2 lembar uang ke tangan mamang pemandu setelah uang itu di tolak oleh Fong.
"Baiklah, saya tukar baju dulu ya neng." Ucap mamang tersebut yang kemudian memasukkan uang ke saku bajunya. "Tunggu di depan saja." Ucap mamang itu lagi.
Kay mengajak Fong kembali ke depan, kumpul bersama Mey dan Rei.
Mereka menunggu 10 menit dan kemudian mamang tersebut keluar dengan pakaian yang lebih bersih.
Mereka jalan mengikuti mamang tersebut menaiki tangga batu gamping kembali dengan jalanan yang lebih licin.
Melewati tanah merah. Sepatu mereka belepotan dengan tanah yang menempel .
Tidak lama berjalan, mereka sampai di hutan yang di penuhi pohon bambu. Jalanan terjal mereka lewati dengan susah payah. Untungnya Kay memiliki tongkat.Saat menaiki bebatuan yang agak licin, mereka bergantian memegangi tongkat sebagai pegangan agar bisa sampai ke atas.
Mamang tersebut jalan paling depan, dan Fong Senpai paling belakang.
Karena kesulitan, Mey, Rei dan Kay saling membantu, yang satu mengulurkan tongkat sebagai pegangan naik ke atas, dan Mey kadang membantu Rei dengan mendorongnya dari belakang agar bisa menaiki tebing curam.
Kay waspada dan melirik kesana kemari, takut di intai oleh ular. Tapi perjalan mereka cukup aman.
Akhirnya mereka sampai di hutan Pinus.
Seolah di dunia khayalan,menapaki tanah berlumut tebal dan deretan pohon Pinus yang menghembuskan udara segar, mereka berempat berseru kegirangan.
"Wah menyesal yang tidak ikut kesini! ini seperti di dunia isekai!" Seru Mey antusias. "Surga Mey ... Bukan isekai." Ucap Fong senpai membetulkan.
"Iyah ... Surga di isekai!" Ucap Mey tidak mau kalah.
Kay,Rei,dan Mey berlompatan gembira. Fong Senpai tersenyum melihat tingkah kekanakkan tiga gadis di depannya.
Setelah melewati hutan Pinus yang indah,mereka tiba-tiba ciut, karena harus melewati tebing dengan jalanan setapak yang kecil.Dan di depan mereka semak-semak curam yang apabila jatuh langsung ke jurang.
"Apakah kalau kita terperosok kita akan ...." Ucapan Rei langsung terhenti karena tangan Kay menutup mulut Rei dengan rapat.
"Jangan bicara macam-macam.Ingat kata Aoi sensei. Kita harus sangat berhati-hati disini." Ucap Kay sedikit berbisik.
Rei tersadar, "Oh iya ... Lupa!"
Ucap Rei sembari meringis.
"Hueee ... ini sangat mengerikan!" Rengek Mey ketakutan. Mereka berjalan menyamping dengan sangat pelan. Dan berpegangan pada batu di belakang punggung mereka.
Kay yang masih memegang tongkat terus menancapkan tongkat tersebut agar seimbang.Sesekali saat harus melewati lubang,Kay memakai tongkatnya untuk yang lain berpegangan.
"Maaf ya, Senpai nggak tau kalau jalanan kesini seberbahaya ini." Ucap Fong senpai merasa bersalah.
"Nggak apa-apa senpai. Ini seru!" Ucap Kay menghibur.
"Ini menakutkan." Protes Mey lagi.
"Iyah,belum pernah merasakan adegan seperti ini! Seolah kita benar-benar ada di isekai." Ucap Rei berkhayal.
"Kalau di isekai kita mungkin sekarang punya sayap ataupun suatu kekuatan .Nggak berjalan miring seperti kepiting begini!" Sahut Fong Senpai.
Mereka tertawa cekikikan.
"Benar! Kita persis seperti kepiting yang berbaris rapih." Ucap Mey nyengir lebar.
Walaupun mereka kesulitan saat berada di tebing curam, akhirnya mereka melewatinya, dan sampai ke bebatuan besar seperti bekas aliran sungai yang mengering.
Pemandu jalan ,mamang yang menunjukkan jalan lama terperangah menatap batuan besar tersebut.
"Kenapa mang? Kok berhenti?" Tanya Fong Senpai menegur.
"Seharusnya kita bertemu aliran sungai yang deras disini.Tapi ini sangat kering." Ucapnya kebingungan.
"Memang beberapa hari ini hujan tidak turun." Ucapnya kembali.
"Lalu bagaimana mamang? Apa di atas ada air terjun?"Tanya Mey khawatir, mengingat mereka sudah jauh berjalan sampai kesana.
"Ada, tapi kalau tiba-tiba hujan turun,kita akan terperangkap di atas." Ucap mamang itu lagi.
Fong Senpai menatap ketiga gadis di depannya dengan khawatir.
"Bagaimana?Apa kita pulang saja?"
Tanya Fong Senpai.
"Tidak bisa! Kita sudah sejauh ini berjalan masa tidak berhasil mencapai air terjun!" Protes Rei.
"Benar,mereka akan menertawai kita kalau kita pulang dengan tangan kosong!" Ucap Mey.
"Iyah, Kay juga ingin sekali main di bawah air terjun! Mamang, kelihatannya langitnya cerah.Bawa kami ke air terjun di atas." Ucap Kay menimpali.
Fong Senpai ikut melihat langit dan langit terlihat biru dengan sedikit awan. "Baiklah, tapi kalau tiba-tiba mendung, kita harus segera kembali." Ucap Fong senpai pada ketiga gadis di depannya yang menyambutnya dengan sorak kemenangan.
"Mamang, tolong bawa kami ke atas. Kalau mendung kita akan segera turun." Ucap Fong senpai pada mamang pemandu jalan.
"Baiklah." Jawab mamang tersebut yang kemudian menunjukkan jalan melewati bebatuan besar yang tidak beraturan dan curam.
Kay berhasil melewati bebatuan tersebut dengan mudah dan menyodorkan tongkatnya pada Mey dan Rei agar bisa melewati bebatuan besar yang menanjak tersebut.
Fong Senpai mengawasi dari belakang dan berhati-hati saat menaiki bebatuan besar tersebut. Sesekali saat Kay ,Rei atau Mey hampir terpeleset, Fong Senpai segera membantu mereka.
Akhirnya mereka sampai di atas dan menemukan batuan tebing yang seharusnya memancarkan air terjun.Tapi sang penunjuk jalan pun terheran-heran karena hanya ada tetesan air saja yang keluar dari ujung tebing tinggi tersebut.
"Biasanya air terjun di sini sangat deras." Ucap mamang penunjuk jalan dengan heran. Mereka semua merasa sangat kecewa. Karena perjalanan jauh yang mereka tempuh dengan susah payah tidak membuahkan hasil.
Kay menatap dinding batu air terjun kering itu. Beberapa gerombolan agas tampak mengitari air yang tergenang di bebatuan dekat situ. Tiba-tiba saja saat menyentuh batu tersebut, bulu kuduk Kay meremang.
"Sedang apa?Ayo kita kembali saja Kay." Ucap Fong senpai mengagetkan Kay yang hampir saja melamun.
Kay mengangguk dan hendak melangkah pergi ketika ia mendengar teriakan Rei.
"Kaaay! Semuanya! Aku dengar suara air!!!" Suara Rei terdengar agak jauh. Kay tersadar bahwa sepertinya ia melamun agak lama, sehingga tidak menyadari teman-temannya telah pergi jauh.
Fong Senpai yang memerhatikan Kay,mengikuti Kay beranjak pergi mencari suara Rei. Mey datang menghampiri Kay, dan menarik tangan Kay. "Ayo cepat, kita dengar suara air yang deras! Pasti itu air terjun!" Ucap Mey antusias.
Tidak lama, Kay melihat Rei yang sedang mencari-cari jalan menuju ke bawah.
"Benar air terjun?" Tanya Kay tidak percaya. Ia sempat kecewa karena perjalanan mereka sia-sia. Tapi mendengar Rei menyebut suara air terjun, Kay jadi bersemangat kembali.
"Iya! Dengarlah! Itu suara air yang cukup deras! Walaupun anehnya air itu adanya di bawah sini!" Seru Rei sembari menunjuk bawah tebing yang seperti jembatan. Hanya saja dari situ tidak bisa melihat persis ke bawah.
Tanpa persetujuan penunjuk jalan, Kay, Rei, Mey dan Fong Senpai berjalan cepat menyusuri tanah merah menuju ke bawah. Mendekat ke suara air deras.
Mereka tidak menyadari penunjuk jalan memanggil mereka dari atas.
Mereka terlalu antusias menemukan suara air terjun.
Mamang penunjuk jalan tidak berani ke bawah, ia hanya melihat 4 remaja tersebut dari atas.
"Kay! Benar air terjun!" Teriak gembira Rei yang sudah berada di bawah.
Fong Senpai juga telah sampai di bawah, tepi air terjun.
Kay yang melihat tidak ada jalan menuju air terjun tersebut kebingungan. "Bagaimana bisa kesana? Tidak ada tangga ataupun jalan di sini?" Ucap Kay mencari-cari jalan menuju ke bawah.
"Meluncur saja Kay! Ini pasti surga tersembunyi dan tidak terjamah!" Seru Mey dari belakang.
Kay yang agak ragu akhirnya hendak meluncur ke bawah, tapi tangannya tersangkut akar dan akhirnya Kay terjatuh dengan cukup keras.
"Kay!" Teriak Mey yang melihat Kay terjatuh. Mey segera meluncur turun dan membantu Kay duduk.
"Ugh..tidak apa, cuma jatuh sedikit." Ucap Kay meringis memandang Mey sembari menyembunyikan sikutnya yang luka.
"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Fong Senpai khawatir. "Tidak apa-apa Senpai!" Jawab Kay yang segera berdiri dan kemudian memandang air terjun di hadapannya.
Air terjun itu sungguh indah! dengan tebing dan gua yang bersembunyi di balik air terjun, di bawahnya batu-batuan bersusun indah seperti kolam air panas di Jepang dengan airnya yang dalamnya se pundak, dan berwarna bening kebiruan.
"Alhamdulillah! Ini melebihi ekspektasi!" Ucap Kay kegirangan.
Dengan tidak sabar Kay menaruh tas ranselnya dan segera masuk ke dalam kolam di bawah air terjun.
Rei,dan Mey tampak sudah berenang ke tengah kolam dengan gembira. Air kolam di bawah air terjun tersebut sangat dingin dan segar. Lelah yang mereka rasakan saat naik menuju air terjun itu tampaknya terbayarkan.
Kay berenang dengan gembira bersama Mey dan Rei. "Fong senpai! sini ikutan berenang!" Ucap Rei mengajak Fong senpai yang hanya memerhatikan Ketiga gadis itu berenang dengan gembira dari tepi kolam.
"Baiklah!" Ucap Fong senpai yang berbalik menaruh Tas ranselnya di tempat yang sama seperti ketiga gadis sahabatnya.
Kay sampai ke ujung dinding air terjun. Dan tiba-tiba saja ia melihat sesuatu! Kay terkejut melihat seekor kodok yang sangat besar dari balik air terjun. Sangat gelap di goa belakang air terjun itu. Sehingga Kodok besar itu tampak sangat mengerikan.
Saat hendak bersuara, Kay melihat mata kodok tersebut membesar dan menatapnya!
Kay yang merasa bulu tengkuknya meremang hendak mengajak teman-temannya menjauh ketika tiba-tiba ia melihat air kolam itu berputar .
Mey yang sedang berenang di tengah kolam, terhisap pusaran air tersebut!
Kay yang masih memegang tongkat itu sembari berenang, segera menaruh tongkat itu di dinding dekat air terjun tersebut dan menangkap tangan Mey dengan segera!
"Bertahanlah Mey!" Ucap Kay yang dengan sekuat tenaga menarik tangan Mey yang hampir tenggelam di hisap pusaran air tersebut. Tapi pusaran itu terlalu kuat sehingga Kay hampir saja ikut ketarik bersama Mey. Tapi Kay tidak melepaskan tangan Mey sama sekali.
"Rei! Tongkat itu! Tarik Kami!" Teriak Kay pada Rei yang telah sampai dekat dinding tempat Kay menaruh tongkat.
Rei yang melihat tongkat itu,segera menyodorkan tongkat ke arah Kay. Dan segera di tangkap oleh Kay.
"Tarik Rei!" Ucap Kay masih menggenggam tangan Mey yang panik dan sebelahnya berpegangan pada tongkat. Kay bisa berenang, tapi anehnya arus itu terlalu kuat menghisap mereka sehingga bahkan berenang pun tidak memungkinkan.
Rei menarik tongkat itu dengan kuat dan Fong senpai yang baru datang ikut membantu menarik Kay dan juga Mey. Akhirnya mereka keluar dari kolam itu dengan selamat.
Mey yang agak trauma ,memilih duduk di batuan di tepi air terjun menenangkan diri. Kolam di depannya telah kembali tenang.
"Bagaimana bisa kalian hampir tenggelam?" Tanya Fong senpai kebingungan. "Mey nggak tau Senpai. Tiba-tiba saja ada pusaran air yang menghisap Mey." Jawab Mey yang masih menetralkan jantungnya.
Kay belum beranjak dari sisi air terjun. Berpegangan pada batuan dan masih bertekad untuk melihat lagi kodok besar tadi. Perasaannya tidak enak ,tapi Kay tetap memberanikan dirinya. Kay mencoba membaca ayat-ayat yang ia hafal.
"Masih mau berenang Kay?" Tanya Rei sangsi. "Tidak apa-apa. Kita berenang saja sebentar lagi. Toh kita sudah susah payah sampai sini!" Ucap Kay menghibur Rei.
Kay menolak peringatan tubuh dan Firasat tidak enaknya. Dan berkeras ingin menikmati air terjun tersebut sebelum mereka harus kembali melewati tebing terjal itu lagi.
Rei mengangguk dan segera berenang di kolam air terjun tersebut. Duduk membelakangi air terjun sehingga otot punggungnya terasa rileks.
Kay yang penasaran, mencoba mengintip di balik air terjun itu lagi. Dan kali ini ... Kay melihat beribu-ribu mata memandangnya dalam kegelapan! Mata yang sangat besar!
Kay terkejut dan mundur menjauhi goa air terjun tersebut. Berenang ke arah Rei.
Saat mendekati Rei, Kay melihat ular berwarna hijau terang berenang mendekati Rei yang tidak tahu apa-apa.
"Rei!" Teriak Kay sembari menghentakkan tongkat yang di bawanya ke air dekat arah ular tersebut .Hampir saja ular tersebut mendekati pundak Rei, tapi karena hentakan tongkat, ular tersebut mundur dan menjauh.
"Ada apa Kay?" Tanya Rei bingung.
"Ular!" Ucap Kay menghela nafas lega,karena ular tadi telah pergi. "Ular?! Mana?" pekik Rei histeris. "Sudah pergi, keluar yuk! Udahan." Ucap Kay.
Rei mengangguk, dan berjalan bersama Kay keluar dari kolam air terjun tersebut.
Mey masih duduk di tepi dan sudah mengganti bajunya dengan pakaian kering. " Mey,are you ok?" Tanya Kay khawatir.
Mey mengangguk," Iyah ,aku baik-baik aja." Jawab Mey tidak seceria biasanya.
Sepertinya ia masih trauma karena hampir saja tenggelam. Padahal kolam itu tidak dalam. Tapi entah kenapa saat pusaran air itu datang kolam itu seperti tidak ada dasarnya!
Kay beralih melihat Rei dan tiba-tiba mendengar suara keras dari tepi seberangnya.
Saat mencari suara keras tersebut, Kay melihat Fong Senpai jatuh dari batu yang di pijaknya dan terkapar di tepi kolam!
"Fong Senpai!" Teriak Kay yang segera berlari menghampiri Fong Senpai. Kay membantu Fong senpai duduk dan melihat apakah ada yang luka.
"Senpai jalan tidak hati-hati. Senpai membaca ayat kursi, dan tiba-tiba saja ada bayangan hitam melintas dan mendorong Senpai hingga jatuh." Ucap Fong senpai sembari meringis kesakitan.
Lutut Fong Senpai mengeluarkan darah, begitu pula sikutnya. Untungnya kepalanya baik-baik saja.
"Apakah Senpai masih bisa jalan?" Tanya Kay khawatir.
Fong senpai mengangguk." Senpai ini kuat lho Kay!" Ucap Senpai memperlihatkan otot tangannya yang rata.
Kay tertawa miring menatap senpai nya yang berusaha melucu itu.
"kita pulang aja yuk Senpai.Udah banyak kejadian hari ini.Dan kita juga udah mendapatkan air terjunnya." Ucap Kay serius.
Fong Senpai melihat Mey dan Rei yang tidak berwajah ceria lagi, kemudian mengangguk setuju.
"Ayo kita pulang " Ucap Fong senpai.
Kay mencari- cari mamang penunjuk jalan, dan baru menyadari mamang tersebut tidak mengikuti mereka sampai ke air terjun.
Kay mendongak ke atas dan melihat kepala mamang tersebut menyembul sedikit. Kelihatannya mamang tersebut hanya menatap mereka dari atas dan tidak berani ke bawah mengikuti mereka.
Setelah mengemasi barang-barang mereka , Kay, Mey , Rei, dan Fong senpai bersiap untuk naik ke bukit menuju jalan setapak yang putus sampai di dekat air terjun tersebut.
Rei mengambil akar tanaman untuk pegangannya dan dengan sekuat tenaga naik ke atas. Sampai di atas Rei bersiap mengulurkan tongkat yang Kay bawa agar mereka bisa naik dengan mudah. Tapi karena jalan itu cukup tinggi, mereka tetap harus bergelantungan memakai akar tanaman ,baru menggapai tongkat yang di pegang Rei dan berhasil ke atas.
Setelah memakan waktu yang cukup lama untuk berhasil naik ke atas, dan baju kering mereka telah kembali belepotan oleh tanah merah ,mereka kembali menyusul mamang penunjuk jalan yang masih tidak bergeming berdiri di dekat jembatan .
"Mamang! Kenapa mamang berdiri di sini saja,tidak ikut ke bawah?" Tanya Kay heran.
"Tadi saya manggil-manggil neng sama yang lain, tapi tidak ada yang dengar. Di bawah itu angker neng." Ucap Mamang tersebut merasa bersalah.
"Untungnya semua baik-baik saja." Ucap Mamang tersebut menyelesaikan kalimatnya.
Kay, Mey, Rei dan Fong senpai berpandang-pandangan.
"Tunjukkan jalan pulang ya mang?" Ucap Fong senpai pada mamang tersebut.
"Iyah ,sebaiknya pulang. Awannya sudah tebal." Ucap mamang tersebut.
Kay menatap langit. Awan tebal mulai menggantung di atas .Menandakan sebentar lagi hujan datang.
Mereka segera bergerak menuju arah pulang,menuruni batuan besar bekas aliran air dari mata air terjun.
Saat menurun tidak sesulit saat mendaki bebatuan besar tersebut. Tapi Kay tetap memakai tongkatnya untuk mencoba pijakan,menghalau binatang yang lewat ataupun menahan tubuhnya saat hampir jatuh.
Sebelum mereka sampai bawah penghabisan batu besar,tetes air hujan mulai berjatuhan.
"Cepat-cepat! Kalau tidak, tebing yang akan kita lewati akan semakin licin!" Seru Mamang dari depan.
Mereka semua semakin panik, membayangkan betapa terjalnya tebing itu. Mereka jalan terburu-buru hingga Rei sempat terjatuh dan melukai telapak tangannya, yang ia gunakan untuk menahan tubuhnya jatuh ke batu yang runcing.
Mereka semua merasa lelah dan ketakutan.Tapi berhasil melewati batuan besar.Dan tiba di tebing terjal.
Hujan turun semakin deras.Mereka masih berpegangan pada batu dan berjalan miring dengan sangat hati-hati.
"Teman-teman Jangan takut! kita baca do'a saja ya! Kita pasti bisa pulang dengan selamat!" Ucap Kay menyemangati.
Rei dan Mey mengangguk lemah karena ketakutan. Kaki mereka bergetar dan jantung mereka berdegup kencang. Ada rasa menyesal karena mereka terlalu naif naik ke atas gunung. Walaupun juga ada rasa puas yang tidak terkatakan.
Yang jelas saat ini mereka semua hanya ingin bisa pulang dengan selamat!
Mamang penunjuk jalan sampai lebih dahulu dan membantu Rei untuk keluar dari jalan mengerikan itu. Kemudian Mey, dan saat Kay hampir sampai, tiba-tiba saja kaki Kay menginjak tanah merah licin!
Kay terperosok tergelincir masuk ke semak-semak!!
Tapi Fong Senpai dengan segera menangkap pergelangan tangan Kay.
"Kay!!!" Teriak Fong Senpai. Rey dan Mey yang mendengar teriakan Fong, segera melihat Kay yang hanya di topang oleh genggaman tangan Fong. Kay tidak sanggup berkata-kata.
Hanya saja Fong Senpai masih berada di jalanan terjal itu juga.Dan apabila Fong Senpai kehilangan keseimbangan ia akan ikut jatuh terperosok!
"Kay bertahan lah!" Ucap Fong senpai khawatir. Kakinya mulai kesulitan menahan beban dan ia berusaha tetap berada di jalan tebing dan sedikit lagi ikut jatuh terperosok.
Tiba-tiba, Kay melihat sesuatu! Bayangan hitam besar di belakang Fong Senpai!
Mamang penunjuk jalan, menghalau Rei dan Mey untuk kembali ke tebing. Mamang itu hanya bisa menatap Kay dan Fong senpai dengan ngeri.
Mamang itu juga melihat bayangan hitam besar di belakang Fong Senpai.
Kay sekuat tenaga menarik tangannya yang memegang tongkat.
"Senpai! Ambil ini!Pakai ini untuk berpijak!" Teriak Kay mengulurkan tangannya yang memegang tongkat ke arah Fong Senpai.
Fong Senpai yang kebingungan mencoba mengambil tongkat tersebut.Dan Kay yang merasa pegangan Fong Senpai mengendor, melepaskan tangannya dari genggaman Fong Senpai.
"Kalian semua harus pulang dengan selamat!" Ucap lirih Kay yang jatuh terperosok ke jurang penuh dengan semak-semak!
"Kaaaay!!!" Teriak Fong Senpai terkejut mendapati ia hanya berhasil memegang tongkat yang di berikan Kay padanya. Mey dan Rei yang berada tidak jauh dari situ juga menjerit memanggil nama Kay.
Tubuh Kay terus meluncur menggelinding di tepian curam.Beberapa kali terbentur dan akhirnya berhenti di batuan yang menjorok. Kay membuka matanya sedikit. Hanya tubuhnya yang terganjal, Wajah Kay menatap jurang yang tinggi.Kakinya menjuntai di udara.
Daratan masih jauh di bawah. Tubuh Kay basah kuyup di guyur hujan.Dan juga darah mengalir dari kepalanya. Tangan, tubuh dan kakinya mati rasa.
Fong Senpai dengan bantuan tongkat tersebut berhasil melewati jalanan tebing dan bergabung dengan Mey ,Rei dan mamang.
"Kita harus segera menolong Kay! Aku yakin Kay masih hidup! Masih bisa selamat!" Ucap Mey panik dan hendak kembali ke jalan jurang tempat Kay terjatuh. Tapi di halau oleh mamang,Fong Senpai dan Rei.
Mereka semua basah kuyup. Dan bibir mereka bergemelutuk karena ketakutan dan kedinginan.
"Kita harus kembali dan mencari bala bantuan!" Ucap Fong senpai pasrah.
"Benar neng, Dengan keadaan cuaca seperti ini tidak ada yang bisa kita lakukan." Ucap mamang penunjuk jalan dengan menyesal.
"Kaaay!!!" Teriak Mey putus asa.
"Mey sudahlah! Kita cari bala bantuan dulu, baru menyelamatkan Kay.Kita juga dalam keadaan luka-luka." Ucap Rei mengingatkan.
Rasanya tidak mungkin seseorang masih selamat setelah jatuh dari ketinggian seperti itu.Kalaupun selamat,ia tidak dalam keadaan baik-baik saja.Mungkin lumpuh seumur hidup.
"Tidak! Aku tidak mau meninggalkan Kay sendirian!" Teriak Mey histeris.
Air mata mulai membanjiri pipinya.
"Kay!" Teriak Mey lagi.
Rei memeluk Mey dan mereka menangis tersedu-sedu.
"Kita akan menemukan Kay! Tapi kita harus selamat dulu Mey." Ucap Rei parau.
Fong Senpai mengangguk dengan lesu. Ia merasa sangat bersalah karena Kay lepas dari genggamannya.
Tapi ia masih memiliki dua tanggung jawab lagi. Mey dan Rei.
"Ayo neng, sebelum kabut menyelimuti gunung,kita harus segera sampai bawah." Ucap mamang mengingatkan.
Mey yang masih menangis, di rangkul Rei yang mengikuti Mamang penunjuk jalan untuk turun ke bawah menuju hutan Pinus. Fong mengawasi mereka dari belakang.
Sesekali mamang penunjuk jalan melirik Fong senpai dan kemudian kembali berjalan.
Mereka berhasil melewati hutan Pinus dan sampai ke hutan bambu.
Fong Senpai terlihat melamun dan terjatuh. Mey dan Rei menoleh kembali melihat Fong Senpai dan membantu memapah Fong Senpai untuk kembali berdiri.
"Senpai! Senpai tidak apa-apa?" Tanya Rei khawatir.
Fong Senpai tidak menjawab dan hanya menatap hampa.
Mamang penunjuk jalan berjalan mundur menjauh.
"Mana tongkat yang di berikan Kay tadi?" Tanya Mey tersadar melihat kedua tangan Fong tidak memegang apapun. Hanya ransel di pundaknya.
Mey mencari-cari tongkat yang Kay tinggalkan untuk mereka dan saat menemukan tongkat itu ,Fong Senpai tertawa mengerikan!
"Senpai!" Teriak Rei ketakutan dan mundur menjauhi Fong yang masih tertawa dengan wajah menghitam.
Mey segera mengambil tongkat itu dan mengucapkan basmalah.
"Bismillahirrahmanirrahim!" Teriak Mey memukulkan tongkat itu dengan keras ke punggung Fong.
Seketika itu juga bayangan hitam besar keluar dan terbang menjauh dari Fong Senpai. Fong Senpai terduduk lemas.
Mamang penunjuk jalan mendekati Fong dan memapahnya.
"Ayo cepat! Kita segera keluar dari sini! Sedikit lagi kita sampai!"
Ucap mamang tersebut dan segera memapah Fong dan mempercepat langkahnya.
Mereka dengan cepat keluar dari hutan bambu dan kembali ke jalan setapak. Mereka berhasil turun.Tapi mereka tidak melihat rumah tua itu lagi dan malah melewati perkebunan teh yang luas.
"Mamang, kita tidak melewati ini waktu berangkat?" Tanya Rei keheranan. Mamang di depan menoleh," Saya cari jalan pintas neng, ini jalanan milik perkebunan teh.
Jalanan tempat neng bertemu saya itu juga mistis. Saya tidak berani membawa kesana. Takutnya diganggu lagi."
Ucap mamang tersebut terlihat letih.
Rei, dan Mey mengagguk setuju.
Hujan berhenti dan tinggal rintik.
Kabut telah turun dan menyelimuti gunung.
Fong yang tersadar menatap sekitarnya dan melepaskan dirinya dari mamang penunjuk jalan yang memapahnya.
"Sudah sadar? Tadi kamu kerasukan." Ucap Mamang memberitahu Fong.
"Kerasukan?" Tanya Fong tidak percaya. Mamang mengangguk.
"Sebenarnya mas nya udah di incar dari tebing itu, hanya saja neng yang jatuh itu cepat memberikan tongkat itu sama mas. Jadinya Bayangan hitam itu pergi lagi. Dia berhasil memasuki mas, saat mas melamun di hutan bambu tadi dan melepaskan tongkat itu." Ucap mamang menjelaskan sembari tetap berjalan melewati jalanan perkebunan teh yang lebar.
Mereka lega, tidak melewati hutan-hutan lagi. Ada beberapa villa dan perumahan di sekitar yang mereka lewati.
"Kalau boleh saya tahu, tongkat itu dapat dari mana?" Tanya mamang itu penasaran.
" Dari nenek nya mamang." Jawab Mey dari belakang.
"Nenek? Nenek saya sudah meninggal neng." Jawab mamang itu kebingungan.
Mey dan Rei berpandang-pandangan.
"Itu di rumah rotan kayu tempat kami bertemu mamang itu, kami bertemu nenek-nenek. Dan Kay menemukan tongkat itu.Lalu meminjam tongkat itu. Lalu nenek itu memperbolehkannya,dan bilang bahwa anaknya yang akan menuntun kami ke atas. Kami kira itu mamang?!" Jelas Rei penuh tanda tanya.
Mamang itu memasang wajah kebingungan. "Rumah rotan kayu?Rumah itu rumah kosong neng.Dan angker.Hanya saja kebun belakangnya subur, jadi saya sering menanam singkong di belakang rumah itu.Tapi tidak berani masuk ke rumah itu." Ucap mamang itu begidik.
Fong, Mey dan Rei berpandang-pandangan. Mereka merasa tubuh mereka meremang.
Mereka melanjutkan jalan menuju tempat teman-teman yang lain menunggu, dalam diam.
Akhirnya mereka sampai di dekat air terjun Curug nangka. Rivaille, Aoi, Yao, Hiban,Fynna,dan Arise menyambut Fong, Rei dan Mey dengan gembira.
"Kami sangat khawatir saat melihat kabut turun menyelimuti gunung! Alhamdulillah kalian selamat sampai bawah." Ucap Aoi gembira.
Fong, Rei dan Mey tersenyum lesu.Baju mereka masih basah kuyup.
"Dimana Kay?" Tanya Rivaille tiba-tiba.
Mey dan Rei kembali menangis.
Aoi segera memeluk Rei dan Mey menenangkan mereka berdua.
"Ada apa? Kenapa?" Tanya Aoi ,tapi Mei dan Rei hanya bisa menangis.
"Senpai, katakan apa yang terjadi!" Tanya Rivaille menatap Fong tajam.
"Kay terjatuh dari tebing." Ucap Fong lesu.
Semua yang menunggu di sana terkejut dan menatap Fong tidak percaya.
"Tidak mungkin! Apa yang terjadi?Di mana Kay terjatuh?!"Tanya Rivaille mengguncangkan tubuh Fong.
Fong menunjuk ke atas gunung. "Kay terjatuh di atas sana.Di tebing curam. Kami tidak mampu menolongnya.Kay terperosok jauh ke bawah." Ucap Fong pahit.
Mereka semua shock ,dan kegembiraan berubah menjadi suram.
"Apakah kita harus menginap di sini, menunggu Kay di temukan?" Tanya Hiban.
Mereka semua terdiam, mereka sangat khawatir dengan keadaan Kay, tapi mereka berjanji akan pulang hari itu juga pada orang tua mereka masing-masing.
"Sebaiknya kita menelpon orang tua masing-masing untuk meminta izin. Kalau di perbolehkan kita akan menunggu di sini sampai Kay di temukan." Ucap Fong senpai.
Mereka pun mengangguk setuju.
Semuanya menelpon orang tua masing-masing dan meminta izin.
Tapi yang diizinkan untuk tetap di sana Hanya Fong Senpai,Rivaille,Mey,dan Rei. Yang lainnya di jemput orang tua masing-masing.
Karena keuangan yang tidak memungkinkan untuk menyewa Villa, mereka akhirnya memasang tenda.
Kebetulan di mobil ada perlengkapan tenda yang lumayan besar, sehingga muat untuk 2 orang dewasa.
Dan ada 2 Tenda.
Sehingga mereka bisa istirahat di tenda terpisah.
Malam itu tim SAR tidak bisa membantu mencari Kay. Karena kabut turun sangat pekat.Dan suhu menjadi dingin.
Mereka tidak bisa tidur sama sekali. Masih terbayang saat Kay jatuh terperosok ke dalam jurang di tebing itu. Terutama Fong Senpai.Ia masih menyalahkan dirinya karena mengendorkan genggamannya dari pergelangan tangan Kay.
Akhirnya mereka keluar dan membuat api unggun. Mengelilingi api unggun dalam diam karena teman mereka masih belum di ketemukan.
Sesekali, Rei dan Mey masih sesegukan karena kehilangan Kay.
Saat mereka hanyut dalam pikiran masing-masing, tiba-tiba bayangan hitam besar datang menyelimuti mereka.
Fong Senpai yang duduk di depan api unggun dan masih menyalahkan dirinya, tiba-tiba saja tertawa terbahak-bahak saat yang lain hening.
Mereka semua terkejut. Terutama Rivaille yang duduk di sebelah Fong Senpai.
"Mey,tongkat itu di mana?" Tanya Rei menatap ngeri Fong Senpai.
"Aku nggak tahu di mana tongkat itu." Ucap Mey juga ketakutan.
Tawa Fong Senpai persis seperti saat di hutan bambu.
Rivaille yang tidak mengetahuinya, hanya menatap Fong Senpai bingung.
Fong senpai tiba-tiba saja berdiri dan aura hitam menyelimuti mereka semua!
Malam itu,genangan darah mengalir di depan api unggun.Tidak ada yang selamat. Semuanya meninggal dalam keadaan mengenaskan.
🌿
Kay membuka matanya.
Pandangannya masih kabur.
Dan sekelilingnya di selimuti kabut pekat. Badannya masih mati rasa.Ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali.
Kay merasa di depannya ada seseorang. "Siapa?" Tanya Kay lirih.
Terdengar suara tawa yang membuat merinding.
Tiba-tiba saja Kay melihat semua hal yang dialami Fong Senpai,Rei,Mey,dan Rivaille.
"Aku memberimu dua pilihan!" Ucap suara di depan Kay.
"Pasrah akan kematian mu yang mengakibatkan teman-teman mu mengalami nasib yang sama dengan mu, atau berusaha mempertahankan hidupmu dan teman-teman mu? Pilih yang mana?" Tanya suara itu.
Kay berusaha mendongak dan melihat apa yang ada di depannya.
Dan Kay melihat seekor ular besar berwarna hitam, yang sedang membuka mulutnya lebar-lebar. Siap menerkam Kay yang tidak berdaya.
"Cepat jawab!" Hardik suara itu lagi.
Kay ingin pasrah mengingat ia dalam keadaan tidak berdaya lagi, tapi ia tidak rela nasib teman-temannya tragis seperti itu.
"Ya Allah, seandainya waktu bisa kembali ...." Bathin Kay perih.
Kay tidak mampu menjawab pertanyaan suara di hadapannya. Lidahnya terasa kelu di hadapan Ular besar yang siap menyantapnya bulat-bulat.
"Ya Allah, tiada daya dan kekuatan selain dengan kekuatanmu. Aku hanyalah orang yang zholim. Dan aku pasrahkan diriku dalam ketentuan Mu ya Allah, Tuhanku yang Maha Mulia ." Bathin kay pasrah.
Seketika itu juga ular besar dihadapan Kay bergerak cepat melahap Kay. Pandangan Kay Gelap.
🌿
"Kay!" Teriak Fong Senpai menggenggam tangan Kay yang tengah bergelantungan di jurang.
"Kay bertahanlah!" Ucap Fong senpai panik.
Kay mengerjab kan matanya dan mendapati tangan nya yang bebas menggenggam tongkat dari nenek di bawah gunung. "Aku masih hidup? Aku kembali hidup?Atau hal yang ku alami tadi hanya Deja vu?" Bathin Kay bertanya-tanya.
Kay menatap Fong senpai yang kesulitan mempertahankan genggaman tangannya di pergelangan tangan Kay.
Dan saat itu Kay melihat Bayangan hitam besar di belakang Fong Senpai.
"Fong senpai! Tolong tarik Kay dengan kuat lagi!" Teriak Kay.
Kali ini ia dan teman-temannya harus selamat sampai bawah!
Tekad Kay.
Fong senpai menarik tangan Kay kuat-kuat.Tangan Kay terasa sakit,tapi di tahannya. Ia harus selamat agar teman-temannya selamat!
Kay menaruh tongkat nya di saku belakang nya dan tangannya yang bebas menggapai pergelangan tangan Fong Senpai.
Setelah bersusah payah, akhirnya Kay berhasil naik ke atas yang di sambut sorak kegirangan Rei dan Mey.
Tepat saat itu bayangan hitam hendak menyelimuti Fong Senpai.
Dan Kay segera membaca surat An-Nas dan mengibaskan sekeliling Fong Senpai sehingga bayangan hitam itu pergi.
"Ayo Fong Senpai,kita harus cepat." Ujar Kay masih berpegangan tangan dengan Fong Senpai. Berjalan cepat menyusuri tebing curam itu dan bergabung dengan Mey,Rei, dan mamang penunjuk jalan.
Mey dan Rei langsung memeluk Kay saat lepas dari tebing curam yang mengerikan itu.
Mey menangis," Aku kira Kay tidak akan selamat tadi! Untungnya Fong senpai berhasil menarik Kay." Ucap Mey tersedu-sedu.
Rey juga menangis. Mereka bertiga berpelukan .
"Ayo neng, kabutnya semakin tebal." Ucap Mamang penunjuk jalan mengingatkan.
Kay, Rei dan Mey mengangguk bersamaan . Tanpa banyak bicara mereka menyusuri hutan Pinus yang menggelap.
"Senpai jalan di depan Kay, kali ini izinkan Kay yang ada di belakang." Ucap Kay waspada.
"Senpai ini kan laki-laki Kay. Senpai yang harusnya ...." Kata-kata Fong terputus karena Kay langsung mendorong Fong senpai untuk jalan di depan nya.
Akhirnya mereka berjalan berbaris dan tiba di hutan bambu.
Kay menggenggam erat tongkat yang tadinya ia selipkan di saku belakangnya. Kay meraih tangan Fong Senpai dengan tangan satunya.
Fong senpai yang risih mundur dan kebingungan. "Ada apa Kay?" Tanya Fong terheran-heran.
"Percaya sama Kay ya Senpai. Khusus disini, jangan lepas tangan Kay. Ok?" Ucap Kay serius dan melihat sekelilingnya dengan waspada.
Fong senpai yang enggan,terpaksa harus bergandengan tangan dengan Kay. Sesekali Fong senpai melirik apakah gadis dalam genggaman tangannya itu blushing atau tidak.
Tapi Kay berwajah serius dan tampak sangat waspada melihat sekelilingnya.
"Ehem ... Ini kemajuan karena Fong Senpai menyelamatkan Kay yah?" Tanya Rei menggoda.
Kay yang terlalu fokus mencari bayangan hitam yang ia lihat di Deja vu nya akan muncul di hutan bambu ,tidak mendengar ucapan Rei. Hanya Fong senpai yang menjadi malu.
Fong senpai melepaskan genggaman tangan Kay.
Kay yang terkejut, menatap Fong Senpai yang dalam sekejab di belakangnya hampir di jangkau bayangan hitam!
Kay kembali mengibaskan tangannya sembari membaca ayat-ayat suci.
Kemudian mengibas-ngibaskan sekeliling Fong Senpai.
"Kay sedang apa?" Tanya Fong Senpai kebingungan. Gadis di hadapannya berperilaku sangat aneh. Seperti menari-nari mengelilingi Fong Senpai dan mulutnya berkomat-kamit.
"Apakah itu tarian model baru Kay?" Tanya Mey melongo. Kay tidak menjawab.
Rei juga menatap Kay dengan aneh. Kay berhenti mengibaskan tangannya saat bayangan itu telah hilang dan kembali menggenggam tangan Fong Senpai,kemudian berjalan lebih cepat menyusuri hutan bambu itu.
"Mamang, tunjukkan jalan, dan teman-teman, kita harus jalan lebih cepat lagi! Kita harus pergi dari sini sebelum gelap!" Ujar Kay panik.
Mereka memandang Kay dengan kebingungan. Tapi tetap mengikuti langkah besar-besar Kay dan mamang penunjuk jalan. Seolah-olah sesuatu mengejar mereka.
Saat hampir keluar dari hutan bambu tiba-tiba kaki Kay tidak bisa di gerakkan!
Kay menatap kebawahnya dan melihat tangan pucat menggenggam kakinya dengan erat!
Seluruh tubuh Kay meremang, dan badannya merespons ketakutan yang amat sangat!
"Kay?" Tanya Fong Senpai merasakan genggaman tangan Kay semakin kuat. Fong merasa bahwa Kay ketakutan. "Kay? Kenapa?" Tanya Fong Senpai lagi.
"Jangan lepas ya Fong Senpai.Tunggu ...." Kay berucap lirih dan menarik nafas kuat-kuat. Ia menghunuskan tongkat di genggamannya ke arah tangan pucat yang mencengkeramnya!
Tapi Tangan itu menarik jaket Kay dan membuat Kay hampir terjatuh, apabila Fong senpai tidak cepat menarik Kay kembali.
Kay memukul arah belakangnya dan seperti menyentuh sesuatu!
Tiba-tiba sosok perempuan berambut panjang berdiri berhadapan dengan Kay!
Bau busuk menguar di sekelilingnya!
Kay menutup matanya, menahan nafasnya dan terdiam ketakutan.
Kemudian kembali mengibaskan tongkatnya seraya membaca ayat-ayat suci, walaupun mulutnya tergagap-gagap saat itu. Kay amat sangat takut!
Akhirnya setelah beberapa lama, tangan itu menghilang menjadi asap hitam!
Kay kembali menarik tangan Fong Senpai dan mengejar Mey dan Rei yang berada di belakang mamang penunjuk jalan. Jauh di depan Kay dan Fong senpai.
Tidak berapa lama, Kay dan Fong senpai berhasil bergabung dalam rombongan. Dan akhirnya mereka berhasil keluar dari hutan itu. Kabut tampak mengejar mereka dari belakang.
Tapi mereka telah sampai di jalan setapak perkebunan teh. Persis seperti yang Kay lihat sewaktu ia hampir saja meninggal.
Kay melepaskan tangannya dari Fong Senpai. "Maaf Senpai, maaf Kay tadi sangat lancang." Ucap Kay tidak enak hati.
Fong senpai yang kebingungan hanya terdiam dan mengangguk .Gadis berambut hitam panjang sepunggung, di depannya hanya terlihat "Aneh" baginya.
Mey kembali bertanya mengenai mengapa mamang penunjuk jalan membawa mereka pulang lewat jalan ini, dan jawabannya semua sama seperti yang di lihat Kay dalam Deja vu nya atau ilusinya atau kenyataan yang ada dalam penglihatannya saat di ujung kematian.
Kay menghela nafas lega. Mereka berhasil keluar dari gunung halimun salak dengan selamat. Kay mengacungkan tongkat yang ia genggam dan memerhatikan tongkat itu. "Memang tongkat yang sangat aneh." Ucap Kay lirih. "Tapi tongkat ini banyak jasanya." Ucap Kay kembali.
Fong senpai ,Rei dan Mey kembali menatap Kay yang terlihat sangat aneh. "Kay, sehat?" Tanya Rei curiga.
Kay yang terkejut saat semua sahabatnya menatapanya curiga, menyengir lebar. " Sehat banget!" Ucap Kay mengacungkan lengan tangannya yang rata.
Kay menatap teman-temannya dengan bahagia. " Alhamdulillah kami semua selamat." Bathin Kay penuh syukur. Kay menoleh ke belakangnya dan melihat gunung itu telah sepenuhnya ditutupi oleh kabut tebal.
Sesampainya di parkiran mereka bertemu dengan Hiban,Rivaille, Aoi,Yao,Fynna, Akiko dan Arise.
Mereka semua bersorak gembira dan memeluk Kay, Rei, Mey dan Fong senpai bergantian.
"Syukurlah kalian semua selamat. Kami sangat khawatir karena melihat kabut tebal turun menyelimuti gunung!" Ucap Aoi. Persis seperti penglihatan Kay sebelumnya.
Deja vu kah? Atau Kay masih di beri kesempatan untuk hidup?
Bathin Kay penuh tanda tanya.
"Apakah kita akan menginap disini?" Tanya Hiban tiba-tiba.
" TIDAK!" jawab Kay cepat.
Suara Kay sangat keras sehingga semua orang menoleh menatap Kay dengan heran.
Kay tertawa ,
"Ahahahha ... Maksud Kay, Kay ingin segera pulang dan tidur di kasur empuk malam ini. Oh ya Kay juga masih harus kerja besok! Jadi kita pulang saja ya teman-teman?" Ucap Kay berusaha menutupi.
"Iyah benar,Arise juga harus pulang malam ini." Ucap Arise yang pendiam menyetujui ucapan Kay.
Akhirnya mereka semua memutuskan untuk berkemas dan segera pulang.
Setelah menaiki mobil,Kay menimang-nimang tongkat di genggamannya.
Apakah akan ku kembalikan? Ah, toh nenek pemilik tongkat ini bukanlah manusia. Nenek, tongkatnya Kay bawa pulang untuk kenang-kenangan ya ....
Bathin Kay, yang kemudian tersenyum.
mereka sangat kelelahan. Hampir semuanya tertidur selama perjalanan pulang. Kay memandang barisan pohon dan kabut pekat di belakangnya. Mengucap syukur karena mereka berhasil keluar dengan selamat.
Kay melirik Mey dan Rei yang tertidur nyenyak Juga Fong senpai yang tampak tertidur dengan wajah kelelahan di kursi sebelah Rivaille menyetir.
Tiba-tiba saja ada sesuatu di kaca luar mobil tempat Fong sempai menyenderkan kepala nya!
Kay Terkejut karena sebuah tangan menempel di jendela mobil!!!
Tangan yang kurus dan panjang!!!!
☘️~The end~☘️