*kring . . . kringgg . . . kring . . .
Saya langsung mematikan alarm yang ada di sebelah tempat tidur. Terlalu lama pandemi ini berlangsung, sampai lupa harus bangun pagi untuk sarapan kemudian ngopi lalu berangkat ke tempat kerja. Menyebalkan rasanya berangkat hari senin, padahal bisa saja saya meminta jadwal besok atau lusa.
Perkenalkan, saya Nata. Seorang pencari rezeki di Ibukota yang setiap harinya senang bermotor karena memang tidak cukup uang untuk beli mobil, tetapi juga tidak suka naik kendaraan umum karena tidak suka menunggu dan berdesak-desakan. Sejak beberapa tahun lalu saya memiliki sesuatu yang sudah tidak dapat ditutupi lagi dan itu membuat saya sedikit terbebani secara mental dan pikiran. Oleh karena itu, saya menuliskan sesuatu yang menjadi pesan untuk mereka yang berada berseberangan dengan kita manusia, menulis di sebuah forum membuat saya berpikir akan melegakan ternyata tidak, mereka juga ikut membaca bersama manusia, ini seperti saya membuka konseling walau terkadang yang datang hanya makhluk iseng saja.
Sepanjang jalan ke kantor saya merasa tidak sendirian, mungkin ini efek dari cerita yang saya buat di salah satu forum kemarin. Tetapi karena ini masih di jalan, tidak mungkin saya buka komunikasi karena bisa berbahaya untuk konsentrasi saya selama membawa kendaraan. Saya tidak tau bagaimana yang saya rasakan, seperti perasaan ingin tersampaikan itu ada, dan juga perasaan bersalah terhadap orang tua. Saya tidak bisa tahu demografi dari pembaca cerita saya di forum tersebut usianya berapa, jenis kelaminnya apa, dan berasal darimana. Satu jam perjalanan ibukota dengan motor itu sangat menyebalkan, tapi mau bagaimana lagi namanya juga tinggal di Ibukota, harus terbiasa dengan hal ini.
Tempat kerja saya ini cukup unik, bangunan arsitektur Belanda dengan sedikit renovasi modern di dalamnya. Jadi untuk hal bersifat kasat mata, Saya sudah mulai terbiasa di sini tetapi yang menyebalkan, tempat ini dekat dengan rumah duka dan kamar mayat. Saya tidak paham kenapa selalu dikelilingi hal seperti ini, padahal kalau boleh pilih saya tidak mau berurusin dengan hal seperti ini.
Pekerjaan saya cukup simpel untuk hari ini, jadi tidak butuh seharian disini. Selesai makan siang, saya membuka komunikasi untuk tak kasat mata yang ikut dengan saya. Kebetulan kerjaan saya sudah selesai dan juga saya di ruangan sendiri.
Seorang perempuan kemudian datang menangis, masalah keluarganya membuat ia harus pergi dari rumah dengan kondisi pikiran yang tidak menentu, adik laki-lakinya masih kecil saat itu tidak tau apa-apa. Dari gambaran yang saya dapat hanya sebatas itu. Karena cerita yang hanya sepotong kemudian saya mulai berusaha mendapatkan informasi itu dan apa yang dia inginkan.
"Mau kamu itu apa ?" Ucap saya dalam hati
"[I]Saya hanya mau kamu sampaikan ini saja[/I]"
"Saya tau, tapi kalau begini untuk apa ? Kalau sampai saya buka ternyata kamu hanya mencuri informasi ini, saya nggak segan untuk melakukan sesuatu" Saya dengan tegas menegur makhluk ini dan kemudian mulai membaca do'a
Lalu tidak lama terdengar suara lengkingan tawa yang seperti anak ayam.
"Hadeh, sial. Ada aja yang begini" saya ngedumel sendiri
Karena hari ini tidka ada instruksi lagi dari atasan, jadi saya langsung pulang ke rumah.
(Sesampainya di rumah)
"Kenapa tadi bukan kamu yang cerita ?" Kata gw
"Saya tidak bisa mencapai kesana, terlalu banyak yang ingin bicara denganmu"
"Baiklah, sekarang sepertinya cuma kamu yg bisa saya dengar dan rasakan. Mau kamu apa ?" Saya menegaskan perkataan ini, karena tidak mau berurusan dengan hal yang tidak ada ujungnya
"Saya membaca ceritamu bersama manusia yang sedang bersama saya. Saya pikir kamu bisa membantu saya dalam hal ini" makhluk ini tampak seperti berkata namun menahan sesuatu
"Boleh tau nama kamu ?"
Kemudian dia menyebutkan namanya, tapi sebaiknya kita sebut saja dia Anggun.
Kemudian saya langsung melihat gambaran apa yang ingin dia sampaikan, saya dibawa mundur ke waktu yang dia maksudkan.
(Sudut pandang Anggun)
Saat itu saya benar-benar sedang banyak masalah. Lingkungan kerja yang sangat gemerlap usai jam kantor dan itu sama sekali tidak sesuai dengan saya, lalu saat di rumah saya harus menghadapi kenyataan pahit kalau ayah punya wanita lain, dan ibu selalu jadi sasaran amarah dari ayah yang baru pulang setelah beberapa hari tidak ada kabar. Kehidupan saya berputar seperti itu, adik saya tidak tau apa-apa karena dia masih kecil.
Saat ini saya berada di sebelah wanita yang kurang lebih nasibnya sama dengan saya. Beban pekerjaan, mental dan perasaannya sangat mudah bagi makhluk seperti saya untuk mendekatinya. Tetapi ini bukan tentang dia, ini tentang saya yang masih mencari sesuatu yang dinamakan ketulusan, atau mungkin dalam kepercayaan kamu, ini disebut ikhlas.
Saya lupa bagaimana saya bisa berada bersama anak ini, tapi seingat saya waktu itu saya tersadar di atas jalan raya. Masyarakat ramai mengerubungi tubuh seseorang penuh darah, saya harus pulang dan cepat pulang karena adik saya sedang menunggu makanan yang saya bawa ini. Lalu ketika sampai di rumah, saya menemui adik saya sedang di menunggu di kamarnya, sementara ibu masih menyiapkan peralatan makan dan membuat minuman hangat karena tadi saya sempat telepon untuk membawakan makanan enak.
"Bu, aku pulang" ucap saya ke ibu
Ibu tidak merespon saya, ah mungkin dia sedang fokus jadi tidak dengar
"Bu, makanan udah aku taruh di meja ya" kata saya dengan suara yang lebih keras
Kemudian suara telepon rumah berdering dan Ibu mendengar tetapi ia terlihat tidak bisa meninggalkannya
"Dek tolong angkat telepon, ibu lagi repot" kata ibu dengan keras
"Iya bu" adik saya keluar dari kamar kemudian berlalu melewati sebelah saya
"Halo, dengan keluarga *** ada yang bisa dibantu ?" Kata adik di telepon
Kemudian adik saya terdiam, lama-lama terduduk sementara gagang telepon masih ditelinganya "betul pak, saya adiknya. Nanti saya dan ibu saya akan kesana" kemudian ia menaruh gagang telepon di tempatnya
"Ibuuuuuu . . . Ibuuuuu . . ." Katanya tiba-tiba teriak dengan tangisan
Saya masih berdiri di tempat sejak awal datang. Ibu saya lari menghampiri adik saya dan menembus tubuh saya.
"Kenapa kamu ?" Kata Ibu
Saya menyentuh badan saya yang baru saja dilewati ibu
"Kak Anggun kecelakaan bu, ka Anggun" katanya sambil menangis
"Terus tadi siapa yang telepon ?"
"Polisi bu, katanya kakak mau diantar ke rumah bu" dia masih menangis
"Gimana kondisinya ?"
"Kakak udah ninggalin aku bu, ninggalin kita bu. Kakakk!!!!" Dia masih menangis dan semakin menjadi
Lalu ibu memeluknya dan mengeluarkan air matanya, kali ini saya yang membuatnya sedih.
"Bu, aku disini bu! Adek, ini kakak dek!" saya mencoba meraih mereka tetapi tidak bisa menyentuh mereka
Esok paginya, saya melihat semua orang datang ke rumah saya. Di hati saya cuma ingin katakan maaf untuk ibu dan adik. Saya masih belum bisa melihat apakah adik atau ibu saya sudah memaafkan saya atau belum. Suatu hari ada orang yang mencoba berbicara dengan saya, katanya saya tidak boleh mengganggu ibu dan adik saya namun belum sempat saya ucapkan apa yang mesti saya sampaikan, mereka memindahkan saya ke tanah lapang pinggir kota, entah sudah berapa lama ini semua berlalu sampai saya melihat anak wanita dengan emosi yang sama dengan saya saat itu. Saya melihat semua yang ia lakukan adalah untuk keluarganya, bahkan rela sampai ia mengorbankan kebahagiaannya, ia hanya senang membaca lalu berkhayal dan berandai-andai dengan bebasnya, saya senang saat ia melakukan itu, karena ia tidak perlu memikirkan beban yang ada padanya.
Sampai beberapa saat lalu, ia membaca cerita yang tidak biasa menurut saya, karena dalam bacaan tersebut ada sesuatu yang terhubung dengan penulis, lalu saya mengikuti penghubung tersebut. Sampai lah saya pada seorang laki-laki yang sedang kedatangan banyak tamu seperti saya.
(Kembali ke masa sekarang)
"Lalu apa yang ingin kamu sampaikan sebenarnya ?" Saya belum mengerti arah dan tujuan dari sosok ini
"Cukup do'akan saya setelah cerita ini selesai" ia mengatakannya dengan perasaan lega
"Oh, kamu ingin saya menyampaikan pesan untuk orang sepertimu saat kamu masih hidup ?" Saya mulai mengerti maksudnya
"Begitulah, maaf kalau lancang" ia menundukkan kepalanya
"Baiklah, tapi berjanjilah setelah ini selesai maka ikhlaskan semua yang berkaitan dengan alam dunia ini"
"Saya janji!" ia menaruh tangan kanannya di dada, menandakan gesture memegang janjinya
"Silahkan, apa yang ingin kamu sampaikan ?" Saya kemudian mulai mendengarkan dan menulis pesan darinya
"Manusia itu unik, harus mengejar dunia tapi terkadang lupa bahwa dunianya juga terabaikan. Mengejar harta, jabatan tapi lupa bahwa bahagia adalah soal hati yang terpuaskan tanpa ada tuntutan sebelum atau setelahnya. Banyak yang menipu dirinya atau membohongi perasaannya seakan ia hidup untuk waktu yang lama, padahal Tuhan telah menetapkan usia mereka sebagaimana mereka percaya pada ketentuan Tuhan"
"Hanya itu saja ?" Saya menghela nafas
"Untuk manusia yang merasa terganggu dengan kami, do'akan saja kami dengan do'a yang kamu yakini, jangan berharap pada kami untuk membantu ini dan itu, sejatinya hanya sang Maha Kuasa yang berkehendak atas itu semua, dan jangan takut terhadap kami karena terkadang kami hanya butuh teman atau bahkan makanan..." katanya dan hendak melanjutkan
"Cukup, biar bagian selanjutnya tidak usah diteruskan, ada lagi yang ingin kamu sampaikan ?" Saya harus memotong perkataannya karena itu bukan hal yang baik untuk beberapa orang
"Tetaplah menjadi manusia yang memanusiakan manusia seperti perkataan manusia paling mulia yang pernah hidup di dunia ini. Terimakasih" katanya menutup perkataannya
Kemudian ada dialog singkat tentang saya dan dia sebelum saya mendo'akannya agar dapat menuju ke tempatnya yang seharusnya. Dialog singkat tentang bagaimana perkataan tersebut bisa keluar dari sosok sepertinya itulah yang menarik buat saya.
"Baik. Terimakasih, saya akan sampaikan ini menjadi sebuah tulisan dan saya harap kamu berada dalam kedamaian selama masa penantianmu" saya kemudian mengucapkan beberapa do'a
Perlahan keberadaannya mulai menghilang, prosesnya seperti ada cahaya yang keluar sesaat kemudian tubuhnya mulai memudar perlahan.
"Terimakasih, semoga kamu tetap dalam kebaikanmu" katanya yang lalu menghilang
...SELESAI...
Pesan:
Setiap orang dapat melakukan apa yang saya lakukan terhadap sosok seperti ini, berdo'a sesuai dengan kepercayaan kalian karena sejatinya do'a adalah ucapan tulus dengan rasa percaya terhadap Tuhan yang Maha Kuasa atas segala ciptaanNya dan atas kehendakNya lah maka semua dapat terjadi.
Jangan lupa kirim do'a terhadap orang tua kalian yang masih hidup dan mereka yang telah mendahului, bukannya menggurui tapi do'a juga bersifat dua arah dimana kita juga merasa lebih tenang setelahnya. Terimakasih