Shraak... shraak. . Shraak...
Terdengar suara dari balik semak-semak di dekat rumah Theo.
Hari ini Dion sedang mengerjakan tugas kampusnya di rumah Theo. Rumah Theo memang jauh dari perkotaan. Rumah di kanan kirinya juga berjarak cukup jauh dari rumahnya. Rumah Theo adalah rumah paling ujung di gang tempat tinggalnya. Teranv saja, Dion selalu merinding begitu datang ke rumah Theo sendirian, apalagi saat malam hari.
"Suara apa itu??", tanya Dion pada Theo dengan nada tinggi.
"Ah,, paling suara kucing. " , sahut Theo menenangkannya.
Theo seringkali di rumah sendirian. Ayah dan ibunya bekerja di kantor dan pulang larut malam. Jadi, saat dirumah sendiri, dia selalu mengajak teman baiknya itu menginap dirumahnya.
"Yon, malam ini km nginep rumahku ya, biar nnti aq yg telepon mamamu."
Dion terdiam sejenak sambil memandangi laptop yang ada di depannya sedari tadi. Masih serius dengan pekerjaan rumahnya. Theo yang mendapati Dion masih sibuk dengan laptopnya menepuk pundak teman baiknya itu.
"Wooyy...!!"
"Ah km ngagetin ajah! Lagi serius ngerjain juga.. malah km gangguin. "
"Kamu serius bgt broo... aq ngajakin ngoming sampe ga denger. " , ujar Theo sambil cengengesan di depan Dion.
" Napa sih? " , tanya Dion padanya.
" Ga,, ntar malem km nginep sini ya. Biar aq yang nelponin mamamu."
"Oh.. iya gpp. Kiraen knpa. Aduh, kmu ganggu konsentrasiku nih. Jadi lupakan aq td mo nulis apaan??" , gumam Dion sembari mengotak atik laptopnya kembali.
Malam ini Dion benar menginap di rumah Theo. Dan dari jendela kamar Theo, tampak seperti ada hutan kecil dan gubug di tengahnya. Dion yang penasaran, mencoba untuk menatap tajam ke arah hutan kecil itu, yang terlihat seperti semak belukar yang tak pernah di bersihkan bertahun-tahun lamanya.
Malam hari sekitar pukul 23.00
Shraak... shraaakk... shraaakk...
Suara itu terdengar lagi. Seperti suara seseorang yang sedang berjalan dan menginjak dedaunan kering.Suara langkah kaki yang semakin mendekat, dan terus mendekat ke arah rumah Theo. Dion yang masih belum tidur itu semakin penasaran. Dia bangkit dari tempat tidurnya m3ninggalkan Theo yang sudah tidur lelap di atas kasurnya yang besar itu.
Dion mencoba melihat dari balik jendela, dan betapa tekejutny ia ketika di dapatinya ada seseorang dengan baju putih lusuh dan rambut berantakan berjalan ke arah rumah Theo. Sesekali ia dapati orang itu menatap tajam ke arahnya.
Degg!!!
Dion menutup kembali tirai jendela itu. Dia menoleh ke arah tempat tidur, masih tertidur pulas rupanya teman baiknya itu.
Dion kembali membuka tirai jendela kamar itu.
"Aaaaaaaaargh....!!!!!"
Dion berteriak begitu kerasnya. Dia melihat di balik jendela itu, dia melihat sosok seorang wanita melewati jendela itu. Rambutnya yang menutupi mukanya yang acak-acakan dengan baju lusuh berwarna putih menempel di tubuhnya.
Theo yang daritadi sudah terlelap bangun seketika dan berlari ke arah Dion.
"Kenapa broo?? Ngagetin aq aja!" , tanya Theo sambil mengucek matanya yang masih merah itu.
Dion masih tak mau bicara, tangannya yang masih memegang tirai jendela yang sedari tadi dipegangnya.
Tak berapa lama kemudian..
"Theo... km tau ga,, kalo di deket rumah km ada orang yang tak pernah kamu lihat sebelumnya?" , ujar Dion.
Theo tak mengerti maksud ucapan temannya itu.
"Maksudnya..??"
"Tadi pas km masih ngorok, aq tu ngeliat bayangan kaya cewe gitu, tp bajunya uda lusuh banget. Warna putih, rambutnya panjang acak-acakan. Kaya ga pernah keurus gitu. Apa itu kuntilanakk?????" , Dion menjelaskan semua dengan begitu panjangnya.
Theo yang masih mengantuk hanya membalas dengan satu kalimat saja..
"Tauk ah... aq masih ngantuk ... hoaaaamm..." , balas Theo smbil menguap dan kembali melangkahkan kaki ke tempat tidurnya.
####
Bruuum......
Deru mobil terdengar dari depan rumah, rupanya orang tua Theo sudah pulang. Dion yang belum tidur itu berjalan ke ruang tamu menunggu mereka masuk.
Ceklek... (suara pintu rumah dibuka)
"Malem, om.. tante.." , sapanya mengangguk sambil menjulurkan tangannya pada orang tua Theo itu untuk berjabat tangan.
"Malem juga, Dion.." balas ayah Theo.
"Theo udah tidur??" , tanya ibu Theo padanya sembari mengambil posisi duduk di kursi ruang tamu itu.
"Udah tante..", sahut Dion dengan wajah sumringahnya.
"Duh.. maafin Theo ya.. tiap ngajain km maen sini malah ditinggal tidur.."
"Gpp kok tante... saya aja yg belum ngantuk..."
Sejenak mereka terdiam. Lalu Dion memulai pembicaraan.
"Om, tante... sebelumnya saya minta maaf. Saya mau tanya.. apa di deket sini ada orang yang ga pernah terlihat sebelumnya? Tadi.. saya sempat melihat seseorang dengan pakaian lusuh dari jendela kamar Theo.."
Orang tua Theo saling bertatapan. Sampai akhirnya ibu Theo membuka mulutnya untuk bercerita pada Dion.
"Sebenernya.. dulu dia adalah pembantu di rumah kami, tapi semenjak dia kehilangan suami dan anaknya saat kecelakaan beberapa tahun lalu, dia menjadi kehilangan semua kewarasannya. Kami tak tega memasukkannya ke rumah sakit jiwa, karena setiap kami mendekat, dia akan berteriak histeris tanpa sebab. Saat siang dia tak pernah terlihat keluar rumah. Tapi menjelang malam, dia akan selalu keluar rumah dengan tampilannya yg seperti itu. Bahkan mungkin, kalo orang lain juga akan mengira dia adalah kuntilanak. Keluar di tengah malam dengan tampilan seperti itu.. " , terang ibu Theo panjang lebar.
"Ooooh.. jadi begitu.. kenapa bisa ada rumah kecil disana. Rupanya itu untuk tinggal orang itu. Tadi aq sempet kaget dan mengira dia adalah kuntilanak. Tapi hanya sekilas lalu dia menghilang lagi. "
"Ya seperti itulah... sudahlah,, ini sudah larut malam.. ada baiknya kamu segera tidur. Besok pagi ada jam kuliah kan?? " , lanjut ibu Theo meminta Dion untuk segera tidur.
"Baik tante. Permisi om, tante, Dion masuk dulu.." , sahut Dion sembari berjalan meninggalkan ayah dan ibu Theo yang masih duduk disana.
"Heem.." , ayah dan ibu Theo mengangguk mengiyakannya.
####
Dan ternyata selama ini orang yang tak terlihat itu adalah orang gila , bekas pembantu di rumah Theo. Dan dia menjadi gila karena ditinggal mati oleh suami dan anaknya yang masih kecil, yang masih berusia 5 tahun.
^^ Terima kasih telah membaca... ^^