Ruangan dengan sedikit penerangan, pintu dan jendela yang tertutup rapat. Salah satu rumah terlihat bagaikan tempat tinggal tanpa penghuni. Namun siapa saja orang yang tinggal di dekat sana tahu, bahwa ada satu keluarga menempati rumah sederhana tersebut. Walaupun...mereka tak pernah melihat batang hidung sang Tuan Rumah...
Siang hari dengan matahari yang terik. Jam menunjukan pukul 13.00. Risya, seorang gadis SMA biasa berjalan bersama dengan teman-teman nya. Untuk pulang ke rumah, mereka selalu melewati rumah misterius tersebut. Risya awalnya menghiraukan rumor-rumor buruk yang beredar. Beda cerita dengan Bela, teman Risya.
"Eh Ris, kamu pernah penasaran ngak sih sebenarnya rumah 699 itu ada penghuni nya atau tidak?"
Tanya Bella dengan wajah penasaran. Wajah Risya menjadi datar dan sempat tidak peduli.
"Gw sih ngak begitu penasaran. Dari angka rumah nya aja sudah seram"
Ucap Arvin, teman Bella dan juga Risya. Karena rumah mereka searah setiap pulang mereka bertiga selalu jalan bersama. Sekaligus melewati rumah 699 tersebut.
"Udahlah guys, jangan begitulah. Toh rumah nya masih ada yang nempati, jangan ngomong sembarangan"
Ucap Risya setengah tak peduli. Ia malah sedang asik memegang handphone nya tanpa memperdulikan Bella dan Arvin.
"Cih, Risya ngak seru"
Namun tak lama, terdengar suara keras dan kencang!
PRAANGG!!
Suara pecahan kaca terdengar jelas. Suara mengarah ke dalam rumah misterius tersebut. Pas sekali mereka bertiga melewati rumah dengan tulisan 699. Bella dengan badan bergetar bertanya kepada mereka berdua.
"G..guys, suara apaan tadi?"
Tanya Bella dengan suara gagap nya. Dengan cepat ia bersembunyi di balik badan Arvin.
"Kalo ngumpet tau tempat lah, gw juga takut(╥﹏╥)"
Ucap Arvin dengan kaki bergetar. Sedangkan Risya hanya diam di tempat dan memperhatikan jendela dengan jelas. Risya kembali diam dengan badan membeku, ia melihat sepasang bola mata terlihat di balik jendela. Di susul dengan bayangan seseorang. Bukan hanya Risya, Bella dan Arvin juga melihat nya.
"Tunggu, bukannya itu..."
Belum juga Risya berbicara, Arvin segera menarik tangan Risya dan berlari. Berlari menjauh dari tempat menyeramkan tersebut. Terasa sudah jauh, Arvin melepas genggaman nya. Terlihat keringat bercucuran di wajah mereka bertiga.
"Eh..lu..hah..LU NAPA SIH VIN!?💢"
Tanya Risya sambil ngos-ngosan.
"Lu ngak lihat tadi?Jelas-jelas ada bola mata yang merhatiin kita"
"Guys, kok jadi ngeri ya"
Ucap Bella dengan badan gemetar.
"Tapi ada orang lho di dalam!? Kalian tidak lihat kah?"
Seseorang dengan rambut berantakan terlihat di balik jendela. Walau tidak nampak jelas, namun aku melihat kekosongan dari dirinya. Mata yang menunjukan seberapa kesepian nya orang itu.
Batin Risya sambil mengingat rupa orang misterius tersebut.
"Itu betulan orang hidup apa arwah penasaran?"
Tanya Arvin dengan nada tak percaya. Pukulan mendarat di kepala pria itu.
BUKKK!
"Jangan bercanda di situasi seperti ini" *serius
"Aww, gw ngak bercanda! Dan lebih baik kita lupakan saja kejadian tadi"
Ucap Arvin sambil memegang kepala yang sakit.Risya diam sesaat, kemudian dengan helaan nafas Risya berbicara.
"Besok sepulang sekolah aku akan masuk ke rumah itu"
Ucap Risya dengan yakin. Kedua teman nya pun terkejut dan tergagap-gagap mendengar penjelasan Risya.
"Lu gila?"
"Jangan Ris terlalu bahaya, kalo hantu gimana?K..kalo bukan hantu mungkin itu orang penjahat, atau lebih parahnya lagi..p..psikopat"
"Huss, aku ngak percaya rumor nyeleneh mu. Besok, aku akan tetap menjalankan misi ku!"
Ucap Risya dengan yakin. Arvin dan Bella hanya menghela nafas. Saling bertatapan dan mengangguk pelan.
"Haah, gw juga ikut deh" ~Arvin
"Aku juga, bahaya kalo sendirian" ~Bella
"Nah gitu dong, heehehe" ~Risya
.
.
.
Dan besok nya, sesuai kesepakatan, mereka sudah ada tepat di depan rumah 699. Mereka hanya menelan ludah, teringat kejadian menyeramkan kemarin. Pintu dan jendela yang selalu di tutup rapat. Mereka bingung bagaimana cara mereka masuk.
"Kita pakai kapak saja"
Ucap Arvin sambil melihat pintu rumah dari jauh.
"Kita mau bertamu Vin, bukan mau maling-_-" ~Bella
Namun tak lama ada seekor kucing dengan mudah nya masuk ke dalam rumah tersebut. Manaiki genteng rumah dan masuk lewat cerobong asap. Risya pun terpikirkan sesuatu.
"Aku akan mengetuk pintu rumah dan beralasan mengambil kucing ku"
Bella dan Arvin mengangguk setuju.Mereka berdua berjaga di depan rumah sambil melihat Risya. Memastikan tidak ada sesuatu yang buruk terjadi. Risya perlahan masuk ke dalam area perumahan. Suasana begitu mencengkam namun tidak menghilangkan rasa penasaran gadis itu. Sampai ke depan pintu, Risya langsung mengetuk pintu rumah.
Tok Tok
"P..permisi, saya mau ambil kucing saya"
Namun tak ada jawaban. Sekali lagi Risya mengetuk pintu.
Tok tok
"Maaf, ada orang di dalam?"
Arvin dan Bella sudah merasakan hawa tidak enak. Dan tak lama...
PRAANGGG!
"WAAAAA, KABOORRR!!"
"HUEE, VIN JANGAN TINGGALKAN AKU!"
Suara benda pecah terdengar kembali. Namun bukan nya membantu atau memastikan Risya baik-baik saja, Bella serta Arvin malah berlari meninggalkan Risya.
"..."
Contoh teman gaada akhlak, kata nya berani-_-
Batin Risya dengan muka datar.
Setelahnya, terdengar suara derit pintu. Risya secara spontan memperhatikan asal suara yang di dengar. Terlihat seorang pria dengan jaket hitam dan menggunakan tudung jaket yang membuat wajah nya tidak terlihat jelas. Di tangan nya terlihat kucing hitam yang sedang ia gendong. Risya langsung mengerti apa yang terjadi.
"A..ah halo, em maafkan kucing ku yang masuk sembarangan di rumah mu,ehehe"
Risya dengan canggung langsung mengambil kucing hitam tersebut ke dalam pelukan nya. Namun karena naluri kucing kuat, ia sadar bahwa Risya bukan pemilik asli nya. Kucing tersebut mendorong wajah Risya dengan kuku panjang nya. Dengan sabar dan muka canggung, gadis itu berusaha menenangkan sang kucing.
Namun pria tersebut hanya diam dan menunduk. Risya yang sadar langsung mengintip tudung pria tersebut. Secara spontan pria itu langsung memalingkan wajah nya.
"Heee, kenapa?"
Tanya Risya tersenyum kecil. Namun terlihat sekali bahwa pria itu gugup. Wajah nya memerah seakan tidak terbiasa bertemu orang lain. Risya hanya tertawa kecil melihat tingkah laku pria itu.
"Hehehe, jangan takut aku tidak akan memakan mu"
Goda Risya.
"A...aku, tidak..."
Suara nya mengecil, dia belum terbiasa berbicara ya? Apakah aku harus mengenalkan diri? Dilihat dari orang nya sepertinya bukan orang jahat. Kaki nya juga menyentuh tanah, walaupun matanya tertutupi dengan tudung dan poni panjang. Hanya menutup jendela dan rumah rapat tetapi kenapa semua orang mengira dia hantu ataupun penjahat?
Batin Risya dengan berbagai pertanyaan.
"Halo aku Risya rumahku juga dekat dari sini. Kamu yang kemarin membuat suara mengerikan itu ya? Yang membuat teman-teman ku takut"
"M..maaf aku tidak tau. Jika kemarin aku memang tanpa sengaja menjatuhkan gelas. Dan j..jika yang tadi, kucing mu yang menjatuhkan vas bibi ku///"
Badan Risya langsung membeku. Kucing yang ada di tangan nya bukan milik nya, namun sudah membuat masalah. Dengan tatapan tajam, ia melihat ke kucing hitam tersebut.
Kucing gak ada akhlak, kalo aku suruh ganti gimana? Aku saja ngak kenal ini kucing punya siapa-_-
Batin Risya. Pria itu yang sadar akan kekhawatiran Risya dan mengatakan...
"Jangan khawatir, hanya sebuah vas kok"
Ucap pria tersebut yang masih saja memalingkan wajah nya. Karena kesal, Risya melepaskan kucing nya dan memegang pipi pria tersebut. Membuat pandangan nya mengarah kepada Risya.
"A..apa yang kau lakukan?///"
"Hei tidak sopan memalingkan wajah ke orang yang sedang bicara, apakah aku menakutkan di mata mu?-_-"
"..."
"Maaf"
Ucap si pria dengan suara lirih.
"Tidak perlu meminta maaf, sepertinya kita seumuran. Siapa namamu?"
Pria tersebut kembali diam, sepertinya belum siap untuk berbicara. Namun tak lama, ia kembali membuka suara nya.
"Farrel"
"Farrel? Nama yang bagus"
"Benarkah?"
Risya mengangguk mengiyakan.
"Tentu saja, banyak sekali rumor yang bilang rumah ini angker, dan sebagainya. Namun jika kulihat pemilik rumah ini tidak nampak seperti hantu tuh"
Senyuman Risya membuat Farrel salah tingkah.
Hanya orang pemalu saja ya, jahat sekali mereka mengatakan sesuatu yang buruk terhadap Farrel. Ternyata benar, saat aku melihat matanya terdapat rasa kesepian yang dia pendam. Farrel...kau mengingatkan diri ku di masa lalu.
Batin Risya dengan mata sayu.
"Farrel sendirian di rumah ini?" ~Risya
"Aku tinggal bersama paman dan bibi, hanya saja mereka sibuk bekerja" ~Farrel
"Oowh" ~Risya
"B..bukan berarti mereka jahat kepada ku" ~Farrel
"Iya kok, aku mengerti. Lah terus, sekolah mu gimana?" ~Risya
"Homeschooling, itu sudah cukup" ~Farrel
"Ah, aku paham" *tersenyum
Yah, sepertinya aku dapat satu teman lagi. Arvin dan Bella sudah lari entah kemana, benar-benar ngak ada akhlak nya mereka berdua. Dan Farrel, sepertinya aku harus sering mengajak nya keluar rumah.
Intinya jangan melihat sesuatu dari luar. Banyak seseorang yang terpengaruh oleh rumor tidak jelas, melihat rupa tanpa tau kebenaran, fisik dan lainnya. Lebih banyak orang diam dan takut daripada mencari tau kebenaran dari rumor tersebut.
Sedangkan di tempat Bella dan Arvin...
"Hosh hosh, haah...suara...apaan dah tadi?" ~Arvin
"Mane..eye..ketehe? Haah" ~Bella
Namun tak lama mereka sadar akan sesuatu.
"RISYA!?"
Ucap mereka secara bersamaan. Mereka pun kembali lari dan berniat menyusul teman nya itu. Sesampai nya, Bella dan Arvin melihat Risya bersama dengan orang misterius. Namun bukan nya takut terhadap orang asing tersebut, mereka berdua malah takut dengan Risya. Senyuman berbagai makna, tangan yang di kepal membuat 2 orang itu merinding. Pukulan mendarat tepat di kepala Bella dan Arvin.
BUUUKK!!
"AWW, sakit Ris(╥﹏╥)"
"Hohoho masih bisa bilang 'sakit Ris'? Padahal tadi kalian lari terbirit-birit, masih punya muka datang lagi ke sini☺️?"
"Aampoon kanjeng Risya"
Farrel yang melihat tingkah ketiga sahabat ini hanya bisa menahan tawa nya.
.
.
.
Jangan lupa Like dan Komen, thanks✋🏻😃