Saat ini, Lea kembali ke tempat dimana ia menyebutnya sebagai, "Neraka". Setelah sampai di tempat itu. Segerombolan anak lelaki sebayanya mulai mendekati dirinya sembari tersenyum sinis. Mereka akan mulai berbicara banyak omong kosong sembari terkadang memukul kepalanya menggunakan penggaris besi.
Segerombolan anak lelaki itu adalah teman sekolahnya di SMA Karunia, tepatnya di Jakarta Pusat.
Karena suatu hal, Lea sedari kecil memang selalu menjadi anak yang di bully. Namun, dengan karakternya yang pemalu dan penakut, Lea tidak pernah bisa pergi untuk membela dirinya. Sudah tahun ketiga ia berada disekolah ini, namun situasinya sama sekali tidak ada yang berubah.
Tunggu, mungkin ada...
Yaitu, tepatnya saat pada tahun pertama ia memasuki sekolah SMA nya ini. Lea bertemu dengan seorang gadis tomboy sebayanya saat MOS di sekolahnya.
Namanya, Yuka, gadis blasteran Jepang - Indonesia. Pernah ada saat dimana Lea sangat iri dengan kemampuan berkomunikasi Yuka dengan teman - teman sebayanya. Lea cukup akrab dan merasa bahwa Yuka orang yang pengertian. Karena Yuka lah, Lea tidak merasa kesepian dan sengsara saat menjadi siswi tahun pertama di SMA Karunia ini.
Saat berbincang ringan dengannya, Lea pernah berkata,
"Yuka keren, ya.. kalau saja aku seperti Yuka, mungkin aku.."
Yuka melirik tajam Lea seakan tidak begitu senang dengan perkataan Lea.
"Lea, tidak semua orang itu sama. Jangan samakan diriku denganmu, kemampuanku dan kemampuanmu itu berbeda. Kamu pasti bisa mencari seorang teman selain diriku nanti. Dan itu pasti!" ujar Yuka menyemangati sembari menasehati cara berpikir Lea.
"Kemampuanku? Aku tidak punya apapun, bagaimana orang bisa menyukaiku? Mereka bahkan membenciku sampai mati hanya karena hasutan teman SD ku yang mengatakan aku seorang pencuri! Mereka seolah ingin membuatku mati secara perlahan, dan memperlakukanku layaknya seorang pembunuh!"
Yuka memeluk Lea yang menangisi hidupnya yang menyedihkan. Hanya karena masalah kecil di masa lalu, rumornya malah berkembang semakin tidak karuan hingga membuat Lea nyaris bunuh diri beberapa kali. Bahkan, karena tidak dapat menanggung malu, orang tua Lea sampai - sampai menyuruh Lea tinggal di kos - kosan sempit dan tidak enak dipandang. Padahal, keluarga Lea adalah pengusaha yang terkenal.
"Lea, tenang saja, selama aku disisimu, aku tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu, bahkan jika aku mati dan menjadi hantu nanti!"
Lea melepaskan pelukan Yuka dan memandang wajah cantik sahabatnya itu dengan cemberut sembari berkata, "Yuka tidak boleh mengatakan hal semacam itu lagi! Kata - kata yang keluar dari mulut seseorang bisa menjadi doa!".
Yuka tertawa terbahak - bahak sembari mencubit gemas hidung mancung Lea. Andai saja orang - orang tahu bahwa Lea itu gadis cantik, polos serta menggemaskan, mungkin mereka akan memiliki pemikiran yang berbeda tentang Lea.
Setelah pembicaraan ringan itu, Lea dan Yuka mulai kembali ke kelas mereka masing - masing. Dan itu menjadi kali terakhir Lea akan berbicara dengan Yuka, karena pasalnya saat Lea akan kembali ke kelas dengan menaiki anak tangga yang biasa ia lalui, Lea menemukan sesuatu yang janggal. Dibawah tangga ada banyak anak - anak bergerombol. Dan saat melihat Lea ada disana untuk menaiki tangga, semua orang melihat kearahnya dan memberinya jalan untuk lewat dan menaiki anak tangga demi anak tangga.
"Si Lea naik tangga tuh!" seru salah seorang siswa perempuan yang berteriak entah pada siapa.
DEG!
'Jangan naik! atau kau akan menyesal seumur hidupmu!' entah mengapa hati nuraninya mengatakan hal seperti itu.
Namun, belum sempat Lea berbalik untuk turun tangga, beberapa barang terlihat muncul dan berjatuhan di anak tangga tempat Lea berdiri.
Lea menutup matanya dan bersiap menerima rasa sakit itu, sedangkan orang lain hanya menonton sembari berdiskusi ria.
Akan tetapi, ada yang aneh...
Kenapa Lea tidak kunjung merasakan rasa sakit?
Tiba - tiba sebuah parfum yang sangat dikenal Lea memasuki indra penciumannya. sebuah tangan hangat memeluknya, melindungi dirinya dari jatuhnya barang - barang di anak tangga.
Setetes air mata meluncur ke pipinya. Disaat ia sendiri, hanya Yuka yang menemaninya. Disaat ia memiliki banyak hal buruk, hanya Yuka yang menerimanya. Dan disaat ia terjatuh kedalam jurang kegelepan dimana ia hanya menunggu akhir hidupnya disetiap detiknya, hanya Yuka yang mengulurkan tangannya. Bahkan ia tidak peduli akan dunia yang membenci dirinya demi untuk menyelamatkan dirinya.
"Semua orang pantas mendapatkan kesempatan untuk berubah, dan mereka juga memiliki hak untuk mendapatkan kehidupan yang baik" bisik Yuka.
Sret!
Sebuah pot batu kecil tidak sengaja tersenggol oleh salah seorang biang keladi kasus jatuhnya semua barang - barang yang ditujukan untuk Lea itu.
PRANK!
Tepat saat jatuh, Lea mendorong Yuka yang tengah memeluknya, lalu pot pun terjatuh menghantam kepalanya. Sedangkan, Yuka yang tengah di selamatkan Lea mengamuk penuh amarah disaat Lea terjatuh ke lantai. Namun, saat akan bergegas menuju keatas, pegangan tangga itu terlepas begitu saja karena beberapa benda membentur pegangan tangga tua itu. Yuka terjatuh dengan kepala mendarat duluan.
KRAK!
Bunyi menyakitkan itu terdengar jelas dan anak - anak yang berada ditempat kejadian mulai berhamburan menjauh dari tempat kejadian, sedangkan Lea malang yang bahkan tidak tahu apa - apa pun dijadikan domba hitam atas semua kejadian yang telah terjadi. Termasuk kematian Yuka yang dirumorkan karena di dorong oleh Lea di tangga.
Benci...
Tentu saja benci, namun, bahkan tidak ada yang mau mempercayainya. Dan kedua orang tua Yuka bahkan yakin kalau Lea memang bukanlah penyebab kejadian yang membuat nyawa putri mereka melayang. Karena mereka berdua tahu kalau Lea itu anak yang dibuang oleh dunia. Sehingga mereka tidak bisa menyalahkan Lea meski Lea yang terus berulang kali berkhotbah bahwa karena dialah Yuka kehilangan nyawanya. Orang tua Yuka bahkan tidak menuntutnya atas hal ini.
Tapi, meski pihak dari keluarga Yuka tidak memperpanjang masalah ini, teman - teman sekolahnya bertindak sok pahlawan dengan mengatasnamakan keadilan perihal kematian Yuka, dan biang kerok insiden tangga itupun bahkan lebih parah lagi. Mereka bahkan tidak merasa bersalah atas hal tersebut.
Kenapa... kenapa harus dia yang menderita?... Yuka kini tidak ada lagi, Lea pun kembali kesepian. Namun, Lea tidak berani mati karena merasa mati itu terlalu mewah setelah apa yang terjadi dengan Yuka. Jadi dia menahan penderitaan itu dengan melukai pergelangan tangannya dengan pisau cutter untuk mengalihkan luka didalam hatinya ke luka tangannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf, Yuka... maafkan aku...
Gumam Lea sembari mengiris tangannya yang kini mulai mulai terbuka lagi luka sayatan yang kemarin belum sembuh. Sudah dua tahun terlewat, namun semua semakin parah dari hari ke hari. Lea sudah tidak kuat lagi.
Guru - guru tidak ada yang memperhatikan dirinya, dan bahkan menyalahkan dirinya karena kesalahan Lea sendirilah yang membuat anak - anak lain mengganggu dirinya. Tidak ada kata - kata motivasi ataupun penyemangat. Hanya hinaan yang ada.
Seperti biasa, sehabis mengiris tangannya, Lea akan pergi ke tempat dimana Yuka terjatuh dulu.
Tempat itu sudah ditutup karena banyak siswa yang trauma apabila pergi ke kelas mereka di lantai atas dengan melewati tangga tersebut, sehingga pihak sekolah memilih untuk membuat tangga di tempat lain dalam satu hari pengerjaan.
"Yuka, aku datang... kamu nggak kesepian disana? Kalau aku kesepian tanpa kamu disini... orang tuamu sering datang ke kosku untuk melihat keadaanku meski cuma sebentar"
Yuka... aku ingin menyusulmu bolehkan? dengan begitu, aku tidak lagi kesepian... tolong.. ijinkan aku ada disisimu lagi, aku sudah tidak punya apa - apa disini...
Lea melepaskan balutan perban barunya dan menampakkan pergelangan tangannya yang kini terlihat daging berwarna pink, disertai darah yang kembali menetes. Kulit Lea pun berangsur - angsur memucat seperti orang yang akan mati kapan saja.
Mata Lea perlahan - Lahan memburam, dan akhirnya tubuhnya terkulai lemah, ia sekarat karena kekurangan darah.
Tetesan darah Lea, perlahan - lahan menguap membentuk suatu siluet gadis yang begitu di kenal Lea. Kepalanya tampak menunduk ke depan dengan cara yang tidak wajar. Seolah - olah lehernya tengah patah. Karena area tangga yang berada di ruang tertutup di samping ruang guru, tempat itu agak jarang terkena cahaya. Sehingga siluet sosok itu tampak begitu mengerikan saat dilihat oleh mata. Bukan karena penampilannya, tapi juga karena tempat ia muncul juga menjadi sebab lainnya, yaitu tempat dimana Yuka menghembuskan napas terakhirnya.
""Apa saja yang terjadi padamu saat aku tidak di sisimu, Lea?""
Suara sosok itu bergetar hebat melihat pemandangan menyedihkan sahabat dekatnya yang selalu ingin dia lindungi itu.
Setetes darah hitam terjatuh diatas tanah, lalu menghilang begitu saja tanpa jejak, dan hal itu terjadi berulangkali, seolah ia juga ikut bersedih atas nasib yang dialami Lea.
""Tunggu dan Lihat.. siapa yang terus - menerus menyakiti Lea - ku!"" ujar sosok tersebut, yang tak lain adalah.... "YUKA".