*SETANGKAI MAWAR DI SEPATUKU*
(Jangan dibully namanya ngarang)
••••
Aku berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruang latihan musik. Namaku Park Yumna panggilanku adalah Yumna. Aku mengikuti ekstrakurikuler teater di kampusku. Aku tidak pernah menyesal mengikuti teater kecil di kampusku karena aku bisa berjumpa dengan laki-laki yang aku sukai.
Aku sangat mencintainya. Namanya sudah memenuhi hatiku, tidak ada sisa tempat dihatiku untuk orang lain lagi. Nama laki-laki pujaanku adalah Yeong Jun. Sang pianis di grup teater kami. Dia tampan dan pemalu. Senyum tipisnya tidak pernah lepas dari bibinya. Aku sangat menyukainya yang begitu perhatian padaku.
Aku melepas sepatu dan memasuki ruang teater dengan nafas ngos-ngosan. Aku benar-benar terlambat mengikuti latihan. Aku menyapukan pandanganku di dalam ruangan yang cukup luas ini, sayangnya sudah tidak ada orang di sana.
“Sial, aku terlambat lagi!” Ujarku geram sambil mengentakkan kaki. Aku duduk di kursi kayu dan meletakan tas selempangku di atas meja yang dipenuhi sampah makanan ringan. Mereka meninggalkanku latihan.
“Terlambat juga?” Tanya suara lembut yang selalu ingin aku dengar. Aku berbalik dan melihat wajah tempan itu tersenyum padaku. Aku membulatkan mata terkejut dengan apa yang aku lihat. Wajahku langsung memerah, aku berusaha menutupinya dengan menundukkan kepala sambil sesekali melirik ke arah Jun yang berjalan ke arah piano.
“Iya!” Jawabku tersipu malu.
“Aku juga terlambat. Kira-kira ketua tadi latihan apa ya?” Tanyanya untuk dirinya sendiri. Aku harus berusaha mendekatinya dengan saling mengobrol bersama, tapi aku malu berbicara dengannya jika dia tidak bertanya. Yumna, kamu harus bisa.
“Mungkin mereka sedang latihan dialog untuk teater ‘Setangkai Mawar Merah’ bulan depan.” Kataku menjawab pertanyaannya, berusaha untuk mengobrol bersama dengannya.
“Mungkin saja benar. Tapi aku hanya mendapat bagian permainan piano. Aku akan latihan memainkan lagu untuk teater ‘Setangkai Bunga Mawar' bulan besok.” Ucapnya sambil jari-jarinya yang piawai mencoba pion nada di piano.
“Aku ingat kalau kamu mendapat bagian menyanyi dan menari kan', ayo latihan denganku!” Imbuhnya mengajakku latihan bersama. Astaga, wajahku memerah terbakar api cinta. Aku tidak akan menolaknya.
Aku berjalan mendekat ke arahnya. Membuka lembaran lirik dan nada di dalam buku lagu. Aku menyanyi dengan semangat diiringi lantunan piano yang mendayu. Tanpa terasa di dalam satu ruangan dipenuhi oleh bunga-bunga bertebaran dimataku. Sungguh sangat bahagia bisa selalu bersama dengan Jun.
Dua jam tanpa terasa kami sudah latihan bersama. Aku harus pergi menghadiri kelas sore hari ini. Aku berpamitan dengan Jun yang masih ingin latihan di sana. Aku meraih jaket dan tasku, lalu keluar dari ruang latihan. Aku terkejut melihat ada setangkai bunga mawar di sepatuku. Aku mengambilnya, mencium aroma harum dari bunga mawar merah itu. Tanpa peduli dengan bau sepatu yang tidak sedap semerbak menusuk hidungku.
Astaga bunga mawar lagi. Siapa yang meletakkannya di sepatuku. Sangat romantis, aku berharap Jun yang melakukannya. Aku tersenyum membayangkan Jun dan aku berpacaran bersama. Astaga aku malu sekali membayangkannya.
•••
Kami terus berlatih sepanjang hari untuk persiapan teater yang akan diadakan seminggu lagi. Aku datang sedikit terlambat karena ada kelas siang. Untung saja aku tidak terlambat latihan, tapi sayangnya aku tidak melihat Jun ikut latihan dengan kami. Aku sedikit kecewa tidak melihat Jun barang sehari pun.
Aku akhirnya berpamitan pada semua rekan kerja timku yang belum selesai latihan. Hari aku latihan ini adalah hari yang tidak tepat. Aku banyak mendapatkan jam kuliah yang padat. Aku terburu-buru melangkah keluar ruangan untuk kembali ke kelas, aku terkejut saat melihat seseorang sedang meletakkan setangkai mawar merah di sepatuku.
Aku tersenyum melihat dia melakukan itu. Dia dengan wajah canggung menghampiriku. Dia juga menunduk malu-malu melihatku. Aku sangat bahagia saat dia yang melakukan semua itu.
“Maaf, apakah bungaku mengganggumu?” Tanya Jun tersenyum kikuk. Jun benar-benar romantis. Apakah sekarang cintaku terbalas oleh Jun. Apakah Jun juga mencintaiku. Akhh, aku sangat bahagia sekali.
“Tidak! Justru aku sangat menyukainya. Terima kasih, bunganya sangat indah.” Ucapku tersenyum manis di depannya.
“Untukmu. Hari libur nanti mau kencan denganku?” Ajaknya memberikan setangkai mawar padaku. Jun menembakku. Astaga, aku sangat senang sekali.
“Iya!” Jawabku tersenyum bahagia sambil menerima setangkai bunga mawar merah dari Jun. Akhirnya cintaku terbalas. Jun mencintaiku juga.
“Jun cepat sini latihan!” Panggil ketua grup yang membuat Jun harus masuk ke dalam ruang latihan. Aku berjingkrak, melompat berkali-kali dengan bahagia. Sampai suara lembut itu menghentikan tingkahku yang konyol.
“Jangan melompat-lompat, nanti jatuh!” Ujar Jun Memperingatiku. Aku berbalik melihat ke belakang, ternyata Jun belum masuk ke dalam ruang latihan. Aku tersenyum malu, lalu mengambil sepatuku dan berlari menjauh dari ruangan latihan. Akhirnya aku kencan dengan Laki-laki pujaanku.
••••
Aku tidak sabar menantikan hari di mana kita berdua akan kencan bersama. Kira-kira kita akan pergi ke mana. Ke bioskop, taman, mol, restoran. Astaga aku tidak sabar.
Tanpa terasa besok adalah hari libur, kami sudah berencana akan berkencan ke taman bermain. Aku harus cepat tidur, besok tidak boleh terlambat berkencan.
Sayangnya tadi malam aku malah bermimpi buruk tentang Jun jatuh ke jurang yang gelap dan dalam. Mimpi buruk yang mengerikan. Aku berharap hanya bunga tidur yang tidak ada artinya. Aku bergegas bangun dan berdandan secantik mungkin untuk bertemu dengan Jun. Ini hari pertamaku berkencan dengan Jun, aku harus tampil cantik di depannya.
••••
Aku turun dari bus. Berjalan ke arah seberang jalan di mana taman bermain berada. Aku berdiri sambil menyapukan mataku mencari keberadaan Jun. Sampai aku menemukan sosok laki-laki tampan itu berada di seberang jalan sambil melambaikan tangan ke arahku. Aku pun tersenyum manis dan membalas lambaikan tangannya. Dia berjalan pelan lalu berlari ke arahku. Aku dengan senang hati menyambut kedatangannya.
BRUAKKK! Aku terduduk lemas. Mataku membulat tidak percaya. Laki-laki yang selama ini aku puja terbaring lemah bersimpuh darah di jalanan. Banyak orang berkumpul menutupi tubuh Jun yang terbaring di aspal. Tangisku pecah, merasakan luka dihatiku. Aku tidak percaya di hari yang bahagia ini Jun meninggalkanku. Aku mendongak ke atas dan berteriak dengan lantang sampai kesedihan ini hilang. Tanganku terus-menerus mengusap air mataku yang terus mengalir tanpa henti. Teriakkanku terasa hampa ditelingaku. Kenapa tuhan memisahkan kami. Tolong, jangan bawa Jun pergi.
••••
Seminggu berlalu, kematian Jun membuatku terpukul. Bahkan besok adalah hari di mana kami akan tampil di acara kampus. Aku sudah tidak ingin mengikuti teater lagi. Jun membuat hatiku sakit. Aku tidak ingin merasakan sakit dihatiku lagi. Tuhan tolong cabut rasa sakit di hati ini yang membuatku menderita.
Kenapa air mataku terus mengalir saat aku mengingat Jun. Tangisan ini membuat mataku perih. Tanpa sadar aku perlahan mengantuk dan menutup mata. Aku dapat tertidur dari sekian lama aku terus bermimpi buruk tentang Jun yang meninggalkanku. Aku berharap jika semua ini hanya mimpi. Ketika bangun, aku ingin melihat Jun kembali.
••••
“Nona, sudah pagi, waktunya berangkat!” Suara beberapa wanita yang terus saja memanggilku. Aku terusik dengan panggilan mereka. Tidak biasanya aku dipanggil nona di rumahku sendiri.
Mendengar panggilan yang tidak akan berhenti jika aku bangun, aku pun memaksa kedua mata ini untuk terbuka. Aku lupa jika ada kelas pagi hari ini. Aku bergegas bangun, tapi alangkah terkejut saat aku melihat pakaian dan ruangan di kamarku berubah menjadi berbeda. Aku mengenakan pakaian kuno jaman dulu. Siapa yang mendandaniku saat aku tidur dan siapa yang menggendongku pergi dari kamarku. Seketika pintu geser terbuka, menampakkan dua pelayanan menunduk memberi hormat. Mereka berdua memakai pakaian jaman dulu.
Aku terbengong menatap mereka berdua. Aku masih mencerna apa yang sedang terjadi denganku. Mereka membantuku berdiri dan mengganti pakaianku. Aku hanya terheran menyaksikan keanehan yang aku rasakan. Aku di bawa berjalan keluar dari kamar. Aku membuka pintu dengan kasar, sampai aku dapat melihat seorang laki-laki memakai pakaian kuno terkejut saat aku memergokinya meletakkan setangkai bunga di sebuah sepatu berwarna pink. Momen seperti ini sangat familier diingatkanku.
“Tuan Junha sangat romantis, walaupun terkenal sebagai panglima yang kejam dia tetap romantis.”
“Tuan Junha sangat mencintai nona Yumna. Mereka berdua sangat romantis.”
Bisik dua pelayanan yang bisa aku dengar dengan jelas. Apakah aku berinkarnasi ke jaman dulu. Melihat keadaanku sekarang sudah dapat di pastikan jika aku sedang melintasi dimensi waktu ke jaman dahulu. Aku mendengus pasrah dengan apa yang sedang aku alami, mungkin aku akan mendapatkan kehidupan baru di dunia ini.
Tingkah Laki-laki yang bernama Junha ini mirip dengan Jun, membuatku mengingat kenangan pahit itu. Junha, dia tidak seburuk yang aku lihat. Tingkahnya terlihat sama dengan Jun. Hatiku tiba-tiba tersentak dipenuhi bunga mawar bermekaran. Perasaan cinta itu tumbuh kembali. Jika di masa depan aku tidak bisa bersama dengan Jun, setidaknya di masa lalu ini aku bisa bersama Jun. Aku tidak akan membiarkan Jun pergi dariku lagi. Aku mencintaimu Jun.
Aku berlari dengan gembira ke arah Junha, lalu memeluk tubuh tinggi dan gagah itu. Tidak berharap akan berpisah kembali
_TAMAT_