Vino terbangun di pagi karena sinar matahari memancarkan panas tepat di wajahnya. Rasanya Vino enggan membuka mata, ia akan dihadapkan dengan berbagai keluhan orangtua dan adiknya. Mengeluhkan iuran sekolah yang menunggak, buku yang harus diganti, kaus kaki yang bolong, tunggakan listrik, air dan segala yang berhubungan dengan uang. Vino lelah seolah masalah hidupnya tak habis-habis.
Tok... Tok...
"Hmmm," Vino masih menutup matanya, malas. Ibunya pasti akan berteriak menyuruhnya bekerja menutup mata bahwa selama ini ia sudah berusaha keras membiayai semuanya tapi masih dianggap beban keluarga.
"Tuan, Anda sudah bangun? Nyonya menunggu di meja makan!" seorang wanita dengan suara yang maaih asing di telinganya. Vino membuka mata. Astagaaaa... sudah siang. Pasti ia mimpi.
Vino berjalan dan membuka pintu kamar dan melihat seorang gadis dengan baju pelayan di depannya.
"Kamu siapa?" tanya Vino bingung.
"Saya pelayan baru di sini Tuan Muda Vino," ia membungkuk saat berbicara.
"Pelayan? Tuan Muda?" Vino bergumam bingung lalu melihat sekeliling. Rumahnya megah dan mewah. Pelayan dimana-mana. Vino bingung benarkah ini dirinya dan rumahnya? rumahnya yang bobrok dan bocor dimana-mana hilang berganti rumah mewah bertingkat. Ini seperti mimpi.
"Hari ini Tuan pakai jas yang mana?" tanya beberapa pelayan yang membawakan berbagai jenis dan warna jas.
"Hitam," tunjuk Vino menatap mereka yang berjalan melewatinya dan asal menunjuk.
"Ini warna navy, Tuan" pelayan itu menjelaskan.
"Ah ya itu maksudku," kata Vino. Ia berbalik dan menuju ke kamarnya lagi. Kamarnya juga dilengkapi kamar mandi modern seperti yang diinginkannya. Bagaimana mungkin dalam semalam rumahnya bisa berubah menjadi istana. Ia membasuh wajahnya dengan air, segar. Bahkan kini wajahnya putih mulus. Sulit dipercaya. Biasa wajahnya hitam dipenuhi jerawat. Rambutnya kini berwarna semi kelabu dan lurus terbelah samping. Padahal rambut aslinya hitam sedikit ikal dan agak kasar.
Tok... Tok...
"Tuan sudah selesai? Nyonya masih menunggu di meja makan," panggil seorang pelayan.
"Ya, sebentar," setelah memakai pakaiannya, Vino turun ke lantai bawah. Ruang makan itu hanya ada ayah dan ibunya.
"Pagi bu, pagi yah," sapa Vino.
"Yah? Ibu?" tanya kedua orangtuanya berbarengan.
"Kamu itu ya, sejak pacaran dengan gadis desa iti ikut-ikutan udik. Mami nggak suka kamu pacaran dengan Fera itu!" protes ibunya yang menyebut dirinya mami.
"Papi juga nggak setuju mam, dia nggak bisa sederajat dengan keluarga kita," ungkap ayahnya yang juga mengubah panggilannya menjadi papi.
"Tapi aku sayang Fera," bantah Vino.
"Udahlah, nanti kamu pikirkan lagi baik-baik. Cepat sarapan, kamu harus ke kantor," mami akhirnya mengambil keputusan.
"Kantor?" tanya Vino.
"Tuh kan kelamaan nginep di desa, kamu jadi lemot. Kamu kan pemilik perusahaan dan hari ini kalian ada meeting katanya," komentar mami
"Ooh... iy... iya," Vino mengangguk menghabiskan sarapan terlezat yang pernah ia makan. Selama ini sarapan dan makan siang pasti di rangkap. Belum lagi lauknya kadang telur, kadang tempe, kalau lagi apes ya pake garem.
Vino segera keluar menuju garasi, supirnya telah menunggu dan membukakan pintu untuknya.
"Selamat pagi pak!" sapa supirnya.
"Hmmm," sikap Vino menjadi cuek dan sedikit angkuh, maklum OKB.
Mereka meluncur membelah jalanan dan sampai di depan perusahaannya Vino keluar dari mobil. Semua orang menunduk menyapanya dan para gadis aaah ya para gadis tersenyum malu menatapnya bahkan ada yang terang-terangan menatapnya kagum. Vino membenarkan jas yang dipakainya lalu berjalan masuk. Mencoba mengabaikan semua orang yang menatapnya kagum. Begini rasanya jadi sultan.
Tak banyak yang Vino lakukan di kantornya. Ia tak mengerti apa yang harus dikerjakan. Ia hanya menonton televisi di kantornya, bermain di komputernya dan membuatnya jenuh sampai jam rapat tiba. Berulang kali ia menyuruh OB memesan makanan dan minuman untuknya. Ia juga memarahi orang-orang yang selalu meminta pendapatnya membuatnya pusing. Ia tak mengerti apa yang mereka tanyakan, bagaimana bisa ia memberika solusi yang baik.
Bahkan pagi itu sekretarisnya menangis dibentak oleh Vino karena menjelaskan terlalu cepat apa yang tak dimengertinya.
"Permisi pak! Ini pesanan bapak air putih hangat, kopi pahit dan roti lembutnya," OB masuk saat sekretarisnya baru saja keluar.
"Loh? Fera? Kamu OB? kenapa kamu kerja begini? Nanti kulit kamu kasar. Kamu jadi sekertarisku saja ya," kata Vino menarik tangan Fera dan mengajaknya duduk di sofa.
"Nggak usah Vin, aku kerja ini aja. Dan aku pamit dulu, permisi,"
"Fer! Fera! Fera jangan pergi! Aku akan menikahimu! Aku sekarang udah kaya, aku bisa membuat ayah ibumu merestui kita. Fera! Sayang!" teriakan Vino bagai angin lalu. Fera pergi begitu saja tanpa menoleh.
"Feraaaaaaaaaaa!" teriak Vino.
BYYYUUUUURRRRR!
"Buaaaaaaahhhh...!" Vino menarik napas, karena seseorang menyiramnya dengan banyak air.
"Bangun! Mimpi itu kira-kira! Ini siang bolong! Makanya cari kerja Pin!" teriak seseorang di telinganya.
"Kamu mau saya pecat?" bentak Vino. "Pin? emangnya aku pin ATM? aku Vino atasan kamu!" bentak Vino lagi.
"Heh sadar! Vino dari mana! Bangun Daipino! Ngaku-ngaku Vino. Banguuuuun!" seseorang mengacak mimpi indahnya. Baru saja ia terbangun menjadi seorang sultan, kini ia kembali ke gubuk reotnya. Dan sahabatnya membangunkannya karena ia berteriak-teriak dalam tidur. Inilah kenyataannya. Ia kembali ke dunia nyatanya yang pahit. Sepahit kopi hitam diatas meja dapur. Tentu saja pahit karena dua minggu ini tak ada lagi gula di dalam toples. Apes. Semua hanya mimpi.
Renjana, 25 November 2021