Pagi yang indah ketika nyanyian burung saling bersahutan. Mentari yang mulai berani menampakkan senyumnya, menambah keindahan pagi. Kesibukan di kampus pun telah menunggu Rio. Rio pun pergi ke kampus dengan penuh semangat. Setibanya di kampus, Rio melihat beberapa sepeda motor yang tersusun rapi.
"Mengapa hanya ada sedikit sepeda motor di sini? Kemana ya para panitia seminar? Katanya harus datang pagi-pagi" pikirnya.
Rio menoleh ke kiri dan ke kanan. Dia bermaksud ingin melihat teman-teman yang lain. Tapi bukan teman teman yang ia lihat. Ternyata yang ia lihat adalah seorang gadis berjilbab merah muda dengan kaca mata yang menghiasi wajahnya. Ia hanya tersenyum. Rio terdiam sejenak. Tiba-tiba seorang teman menyapa Rio.
"Rio..."Ucap unknown.
"Eh Rizki, baru datang?" jawab Rio.
"Iya, ke dalam yuk, kita lihat keadaan di dalam" ajaknya.
Mereka pun beranjak pergi. Semakin jauh Rio melangkah, semakin tak terlihat senyum manis gadis itu.
Oke, berlalu sudah kisah pagi itu. Tak lama kemudian seminar pun di mulai dan berjalan sukses sampai akhir acara.
Seperti air yang mengalir, hari demi hari tanpa pernah akan kembali. Bayangan tentangnya pun berlalu sudah samar-samar di benak Rio. Sampai pada suatu acara yang di lakukan oleh salah satu UKMF(Unit Kegiatan Kemahasiswaan Fakultas), Rio tidak pernah menyangka akan dipertemukan lagi dengan dirinya. Meski Rio berharap bertemu lagi dengannya.
Sesekali Rio menoleh ke belakang hanya untuk melihat dirinya. Rio seperti rumput yang sangat bahagia saat hujan mengguyur ketika musim kemarau. Ketika sebuah pertanyaan di ajukan oleh pembawa acara, Rio ingin sekali menjawabnya agar gadis itu mengenal siapa dirinya.
"Jawab atau tidak ya, jawab atau tidak ya" kebimbangan ini terus-menerus bermunculan di otaknya. Akan tetapi, sifat Rio yang pemalu tak bisa ia lawan. Rio tak berkutik meski Rio coba melawan dengan sekuat pikirannya. Tanpa terasa acarapun selesai.
Kesempatan pun berlalu.
Rio menceritakan semua yang terjadi kepada teman-temannya.
"Ki, semalam aku bertemu dengan seorang wanita berkaca mata yang manis sekali, pakaiannya muslimah lagi. Dirinya membuatku kagum Ki" cerita Rio pada Rizki.
"Memangnya dia dari Fakultas mana? tanya Rizki.
"Fakultas Tarbiyah dan Keguruan mungkin." Jawab Rio.
"Kapan-kapan tunjukkan ke kami orangnya ya" sahut Gibran.
"Sip deh"Jawab Rio.
Semenjak saat itu Rio pun berharap untuk bertemu dengannya kembali. Ternyata harapannya itu benar benar terjadi, lagi-lagi ia di pertemukan dengan dirinya dalam suatu acara di kampus. Rio menghadiri acara itu bersama Rizki.
"Ki, itu gadis yang aku ceritakan kemaren" Ucap Rio.
"Mana?" tanya Rizki.
"Itu yang pakai jilbab hitam." jawab Rio.
"Ohh itu, aku dengan Gibran juga pernah melihatnya di Bank dekat Fakultas kita."Kata Rizki.
Kali ini muncul rasa yang tak biasa, susah rasanya untuk melepaskan pandangan dari dirinya. Jilbab hitam yang melingkar menutupi kepalanya, kaca mata yang menghiasi wajahnya. Senyuman manisnya, busana muslimah nan anggun, mencerminkan seorang wanita muslimah.
Ketika Rio terhanyut dalam lamunan, adzan pun berkumandang. Mereka berangsur-angsur pergi ke luar untuk menunaikan ibadah. Setelah selesai beribadah, Rio dan Rizki duduk di dalam ruangan sambil menunggu teman-teman yang lain memasuki ruangan untuk melanjutkan acara. Mereka duduk di dekat pintu masuk. Ketika asyik bercerita, panitia acara menyuruh para peserta untuk segera bergegas ke tempat duduk masing-masing karena acara akan dilanjutkan kembali.
Rio mulai melangkahkan kaki, tiba-tiba gadis berjilbab hitam itu pun muncul dari pintu masuk. Rasa aneh pun mulai Rio rasakan. Jantungnya berdegup kencang saat Rio berjalan di dekatnya. Ayunan langkah kakinya dan dirinya yang serentak menuju tempat duduk, sungguh Rio tak pernah menyangka hal ini akan terjadi.
"Cie, cie Rio" sindir Rizki.
"Apa Ki?" tanya Rio.
"Bagaimana rasanya berjalan disampingnya?" kata Rizki.
"Jantungku serasa mau jatuh Ki. Untung saja aku gak jatuh pingsan. Hahaha" canda Rio.
"Lebayyyyy kamu." kata Rizki.
"Hehehe" Rio hanya tersenyum.
Rio tidak bisa fokus rasanya mengikuti acara tersebut. Selalu saja ia mencari kesempatan untuk melihatnya. *Bukannya menyimak acara, malah memperhatikan dia. Bagi teman-teman, jangan sampai hal ini terjadi pada kalian ya. Dalam mengikuti suatu acara harus fokus terhadap acara tersebut😃👍
Tak lama kemudian acara pun selesai. Rio dan Rizki pun bergegas pulang. Sesampainya di halaman luar gedung, ternyata dia tepat di depan mereka.
"Ki, Ki, itu dia." Ucap Rio.
"Udah lah, dari tadi dia aja yang kamu perhatikan." nasehat Rizki.
Tiba-tiba seseorang memanggilnya dengan ucapan "Si".
"Si?" kira-kira siapa ya namanya?" pikir Rio.
Rio pun pulang dengan seribu tanda tanya. Di dalam pikirannya, ada seribu tanda tanya. Tanda tanya tentang siapa nama gadis berjilbab hitam itu sebenarnya.
Rio mulai mencari namanya di facebook dengan kata kunci "Si". Ternyata usahanya tidak sia-sia. Rio menemukan akun facebooknya. Mereka pun berteman di jejaring sosial tersebut dan kemudian berlanjut ke twitter.
Semua seperti sebuah skenario yang telah tersusun rapi. Semakin hari semakin Rio tak bisa lepas dari dekapan bayang-bayang tentangnya. Rio selalu teringat pada dirinya, sering menyebut namanya serta membicarakan dirinya.
Sikapnya yang mungkin biasa-biasa saja bahkan tiba-tiba menjadi terasa lebih mengesankan dari pada sikap seorang sahabat yang bersusah payah membantu dirinya dalam menyelesaikan masalah. Aneh bukan? Ya, memang aneh, but, it is real friend. Rio merasa dirinya telah jatuh cinta padanya. Ini adalah anggapan awalnya. Tetapi ternyata Rio salah. Ini bukan cinta. Rio hanya terperangkap nafsu yang telah memenjarakan akal sehatnya. Nafsu untuk selalu memikirkannya, membayangkan sesuatu tentang dirinya.
"Jika aku memilikinya pun, apa yang bisa ku beri untuknya? Apa yang bisa ku lakukan untuk membahagiakannya? Baru juga mahasiswa, pikirannya udah jauh menerawang tanpa kejelasan arah dan tujuan. Think again! Masa depan masih panjang. Masih banyak hal-hal besar yang bisa ku lakukan. Masih banyak tantangan dan rintangan kehidupan yang belum ku rasakan. Lagi-lagi masih banyak persiapan yang ku butuhkan untuk bisa memilikinya dengan cara yang halal bukan dengan cara biasa yang sebenarnya tak biasa dan seharusnya tak pernah ada seperti fenomena sekarang ini." Ucap Rio.
"Tak bisa ku mengkhianati hatiku sendiri. Tak bisa ku berkata tidak untuk tidak memikirkannya dan tak bisa ku berkata tidak jika aku berharap bisa memilikinya. Jujur, aku ingin memilikinya, menjadikannya seseorang yang memiliki arti dan makna yang spesial. Seseorang yang akan menemani hari-hari ku hingga dunia tak akan terlihat lagi. Tetapi aku belum siap. Secara masih mahasiswa. Apa-apa masih minta sama orang tua. Jadi lebih baik aku memendam keinginan itu, membiarkannya dalam diam dan jika keinginanku ini tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata, akan kucoba untuk membiarkannya tetap diam. Jika memang ia bukan jodohku, aku yakin Allah tahu. Seiring mengalirnya air, ia akan membawa setitik demi setitik rintihan hujan mengikuti alirannya menempuh jalan nan panjang untuk sekedar melepas lelah di ujung perjalanan. Perlahan-lahan keinginan itu akan hilang dengan sendirinya dan Allah akan menggantinya dengan rasa yang lebih indah dan tepat. Akan kucoba untuk menyimpannya rapat-rapat, menjadikannya memori nan indah di sudut hati. Percayalah sesungguhnya Allah itu lebih mengetahui apa yang tidak kita ketahui." Ucap Rio lagi.
~TAMAT😗✌️~
~Jangan lupa like & komen!~